Analis laboratorium Indonesia mengukur konduktivitas air menggunakan meter konduktivitas dengan elektroda kaca platinum Bante K10 yang dicelupkan ke dalam beaker sampel di meja kerja lab pengolahan air minum.

Bante K10: Elektroda Konduktivitas Platinum Serbaguna Untuk Kontrol Kualitas Air

Daftar Isi

Pengukuran konduktivitas adalah salah satu parameter paling praktis untuk menilai kualitas air dan larutan proses. Dari instalasi pengolahan air minum, laboratorium QA/QC pabrik makanan dan minuman, hingga teaching lab di kampus, konduktivitas sering menjadi “angka pertama” yang dilihat sebelum analisis lebih lanjut. Di titik inilah pemilihan elektroda menjadi krusial—karena seakurat apa pun meter konduktivitas, hasilnya tetap bergantung pada kualitas sensor.

Bante K10 Conductivity Electrode dirancang sebagai elektroda konduktivitas serbaguna berbahan platinum untuk aplikasi umum. Artikel ini mengulas secara mendalam bagaimana K10 menjawab tantangan pengukuran di lapangan dan laboratorium, terutama bagi pengguna di industri air, farmasi, F&B, proses kimia, akuakultur, hingga hidroponik.

Tantangan Pengukuran Konduktivitas di Industri dan Laboratorium

Di banyak laboratorium dan instalasi pengolahan air, masalah yang muncul bukan sekadar “bisa mengukur” atau tidak, melainkan:

  • Data konduktivitas tidak konsisten antar hari atau antar operator.

  • Elektroda cepat rusak karena salah pemilihan material atau rentang pengukuran.

  • Sulit mendapatkan satu elektroda yang cukup fleksibel untuk berbagai jenis sampel.

  • Kalibrasi sering berulang karena elektroda tidak stabil, sehingga menyita waktu tim QA/QC.

Bayangkan sebuah WTP (Water Treatment Plant) yang harus memantau konduktivitas air baku, air proses, dan air produk. Bila elektroda yang digunakan terlalu sempit rentangnya, operator harus sering mengganti sensor. Sebaliknya, jika elektroda tidak cukup akurat, perbedaan kecil dalam kualitas air bisa terlewat sehingga berpotensi mengganggu proses koagulasi, filtrasi, atau desinfeksi.

Di pabrik minuman atau dairy, konduktivitas juga dipakai untuk memantau sisa deterjen setelah CIP (cleaning in place). Jika pengukuran terlambat atau tidak akurat, risiko kontaminasi atau pemborosan air bilasan menjadi lebih besar. Sementara di akuakultur dan hidroponik, konduktivitas larutan nutrisi berpengaruh langsung pada pertumbuhan ikan dan tanaman; kesalahan pembacaan dapat menyebabkan stres organisme dan menurunkan produktivitas.

Jadi, tantangannya bukan hanya soal angka, tetapi soal:

  • Kecepatan mengetahui perubahan kualitas air.

  • Kemudahan operator lapangan yang mungkin tidak berlatar belakang kimia.

  • Keandalan jangka panjang agar biaya kepemilikan tetap terkendali.

Di sinilah pemilihan elektroda konduktivitas yang tepat—dengan rentang pengukuran yang luas, material yang tahan, dan desain yang mudah dirawat—menjadi investasi penting, bukan sekadar pembelian alat.

Prinsip Kerja Elektroda K10 dan Teknologi Konduktivitas Platinum

Konduktivitas listrik dalam larutan menggambarkan seberapa baik ion-ion (seperti Na⁺, Cl⁻, Ca²⁺) membawa arus listrik. Semakin banyak ion, semakin tinggi konduktivitas. Elektroda konduktivitas bekerja dengan cara:

  1. Dua pelat konduktor dicelupkan ke dalam larutan.

  2. Meter mengalirkan arus AC kecil di antara pelat tersebut.

  3. Besarnya arus yang lewat digunakan untuk menghitung konduktivitas, dengan memperhitungkan geometri elektroda (dinyatakan sebagai “cell constant”).

Bante K10 menggunakan pelat platinum sebagai material aktif. Platinum dipilih karena:

  • Tahan korosi dan stabil secara kimia pada berbagai pH dan jenis larutan.

  • Memiliki sifat permukaan yang mendukung pengukuran konduktivitas yang konsisten.

  • Cocok untuk aplikasi jangka panjang di air minum, air limbah, dan berbagai larutan proses.

Cell constant K=1 pada K10 berarti elektroda ini dirancang untuk rentang konduktivitas menengah hingga tinggi. Dengan rentang pengukuran dari 0 hingga 150 mS/cm, K10 mampu mencakup:

  • Air proses dan air limbah industri.

  • Larutan pembersih dan CIP.

  • Larutan elektrolit di proses kimia dan plating.

  • Larutan nutrisi pada hidroponik dan akuakultur dengan konduktivitas cukup tinggi.

Dibanding metode konvensional seperti pengukuran TDS dengan gravimetri atau analisis kimia yang memakan waktu, pengukuran konduktivitas menggunakan elektroda seperti K10 menawarkan:

  • Respon sangat cepat; perubahan kualitas air bisa dipantau hampir real-time.

  • Prosedur sederhana; tidak perlu banyak reagen kimia.

  • Bisa diintegrasikan ke sistem pemantauan online melalui meter dan PLC.

Untuk jangka panjang, teknologi elektroda platinum dengan cell constant terkalibrasi membantu menjaga jejak data (data traceability). Hasil pengukuran dari tahun ke tahun lebih mudah dibandingkan, selama prosedur kalibrasi terjaga.

K10: Elektroda Konduktivitas Serbaguna untuk Pengendalian Kualitas Air

Bante K10 Conductivity Electrode diposisikan sebagai elektroda general purpose dengan spesifikasi utama sebagai berikut:

  • Jenis: elektroda konduktivitas umum (general purpose).

  • Sensor: pelat platinum.

  • Rentang konduktivitas: 0 hingga 150 mS/cm.

  • Rentang suhu operasi: 0 hingga 50 °C.

  • Cell constant: K = 1.

  • Bahan badan (body): kaca.

  • Dimensi fisik: diameter 12 mm, panjang 120 mm.

Kombinasi ini menjadikan K10 cukup fleksibel untuk banyak jenis aplikasi, terutama:

  • Laboratorium QA/QC di industri air minum, air limbah, F&B, dan kimia.

  • Laboratorium riset di kampus maupun lembaga pengujian yang memerlukan elektroda serbaguna.

  • Proses pemantauan konduktivitas di sistem plating/galvanis, bath monitoring, dan sirkuit pendingin.

  • Pengukuran larutan nutrisi di hidroponik dan akuakultur, selama masih berada dalam rentang suhu dan konduktivitas yang sesuai.

Yang membedakan K10 dari banyak elektroda murah generik adalah kombinasi antara:

  • Material platinum pada pelat pengukuran, bukan logam murah yang lebih mudah teroksidasi.

  • Body kaca yang lazim digunakan di laboratorium karena tahan terhadap banyak bahan kimia dan mudah dibersihkan.

  • Cell constant K=1 yang menjadi standar umum di banyak meter konduktivitas, sehingga kompatibilitasnya luas.

Bagi laboratorium yang menginginkan satu elektroda yang bisa digunakan untuk berbagai jenis sampel tanpa sering mengganti sensor, K10 memberikan kompromi yang seimbang antara rentang, ketahanan, dan kepraktisan.

Desain dan Ergonomi K10 di Lingkungan Kerja

Secara fisik, K10 memiliki desain yang sederhana dan fungsional. Diameter sekitar 12 mm membuatnya kompatibel dengan sebagian besar beaker, botol sampel, dan holder elektroda standar. Panjang 120 mm cukup untuk menjangkau volume larutan yang agak dalam, sambil tetap nyaman dipegang saat digunakan manual di beaker kecil.

Body kaca memberikan beberapa keuntungan praktis:

  • Permukaan halus yang mudah dibilas, sehingga residu larutan lebih mudah dibersihkan.

  • Transparansi yang memudahkan operator melihat apakah ada gelembung udara yang terperangkap di sekitar pelat sensor.

  • Kecocokan dengan berbagai bahan kimia umum di laboratorium QA/QC.

Karena informasi resmi yang tersedia tidak mencantumkan berat dan jenis konektor secara spesifik, kedua parameter ini tidak disebut sebagai spesifikasi formal. Secara umum, elektroda kaca dengan ukuran tersebut relatif ringan sehingga tidak membebani holder atau tangan operator saat digunakan berulang kali. Untuk jenis konektor, pengguna perlu memastikan kesesuaian dengan meter konduktivitas yang digunakan—biasanya BNC atau tipe khusus pabrikan.

K10 dirancang untuk bekerja pada suhu 0 hingga 50 °C. Artinya:

  • Aman untuk pengukuran air suhu ruang, air chiller, maupun air proses yang sedikit hangat.

  • Tidak direkomendasikan untuk larutan di atas 50 °C, misalnya proses CIP yang masih sangat panas.

Tidak ada informasi resmi mengenai IP rating atau tekanan maksimum, sehingga K10 idealnya digunakan sebagai elektroda laboratorium atau proses ringan (dip-dip), bukan untuk pemasangan permanen di pipa bertekanan tinggi.

Pengalaman Pengguna Saat Menggunakan K10 Bersama Meter Konduktivitas

Sebagai elektroda pasif, K10 tidak memiliki layar atau tombol. Antarmuka dan navigasi menu sepenuhnya bergantung pada meter konduktivitas yang dipasangkan. Namun, desain K10 memengaruhi pengalaman pengguna dengan cara lain:

  • Diameter dan panjang yang standar memudahkan pemasangan pada clamp, statif, atau flow cell kecil.

  • Body kaca yang ramping memudahkan pencelupan ke dalam botol sampel tanpa menumpahkan cairan.

  • Permukaan sensor platinum yang terlindungi di ujung elektroda membantu mengurangi risiko benturan langsung.

Dalam penggunaan sehari-hari, alur kerja tipikal dengan K10 biasanya seperti berikut:

  1. Elektroda dibilas dengan air deionisasi.

  2. Dikeringkan ringan (tanpa menggosok kuat) dengan tisu bebas serat.

  3. Dicelupkan ke dalam larutan standar untuk kalibrasi (misalnya 12,88 mS/cm atau standar lain yang sesuai rentang).

  4. Setelah nilai stabil di meter, dilakukan konfirmasi/penyimpanan kalibrasi.

  5. Elektroda kemudian digunakan untuk mengukur sampel lapangan secara berurutan dengan prosedur bilas di antara sampel.

Fitur seperti Auto-Read, Auto-Hold, atau auto-off berada pada sisi meter. Namun, elektroda yang stabil seperti K10 membantu fitur-fitur tersebut bekerja lebih efektif karena sinyal yang diterima meter tidak terlalu “bergerak” atau berfluktuasi liar.

Keunggulan Fungsi K10 untuk Kualitas Data yang Konsisten

Beberapa poin yang menjadi nilai tambah K10 dalam penggunaan sehari-hari:

  1. Rentang konduktivitas luas (0–150 mS/cm)
    Rentang ini cukup untuk mencakup air minum hingga larutan proses yang kaya elektrolit. Laboratorium tidak perlu mengganti elektroda hanya karena pindah dari sampel air limbah ke larutan proses yang lebih pekat (selama masih dalam rentang).

  2. Cell constant K=1 yang serbaguna
    K=1 adalah standar umum di banyak meter, sehingga:

    • Kalibrasi lebih mudah karena banyak larutan standar dikalibrasikan untuk cell constant ini.

    • Penggantian elektroda dari merek lain ke K10 relatif sederhana, selama meter mendukung pengaturan K=1.

  3. Pelat platinum yang stabil
    Platinum mempertahankan karakteristik permukaan lebih lama dibanding logam yang mudah teroksidasi. Bagi tim QA/QC yang mengejar konsistensi antar batch, kestabilan ini mengurangi kebutuhan kalibrasi berulang.

  4. Body kaca yang kompatibel dengan lingkungan laboratorium
    Kaca tahan terhadap banyak pelarut dan bahan kimia, cocok untuk proses pembersihan menggunakan larutan pembersih ringan. Untuk sampel air, nutrisi hidroponik, atau effluent, ini biasanya cukup.

  5. Fleksibilitas lintas sektor
    Satu elektroda K10 bisa dipakai di:

    • Laboratorium pengolahan air untuk memantau kualitas air baku dan air olahan.

    • Pabrik minuman untuk memantau CIP dan air proses.

    • Teaching lab untuk praktikum konduktivitas.

    • Laboratorium proses kimia untuk bath monitoring pada konsentrasi menengah.

Keunggulan-keunggulan ini tidak selalu “spektakuler”, tetapi justru sangat penting dalam pekerjaan sehari-hari: pengukuran yang dapat diandalkan, perawatan yang sederhana, dan kompatibilitas yang luas.

Integrasi K10 dalam Sistem Pemantauan dan Otomasi

K10 sendiri tidak memiliki fitur transfer data digital; fungsinya adalah sebagai sensor yang mengubah sifat listrik larutan menjadi sinyal yang kemudian dibaca oleh meter. Namun, dari sudut pandang sistem, pemilihan elektroda yang tepat menjadi fondasi integrasi data yang baik.

Dalam workflow modern, biasanya:

  • K10 dihubungkan ke meter konduktivitas bench-top atau portable.

  • Meter tersebut kemudian mengirim data ke komputer melalui USB, RS-232, atau antarmuka lain, atau bahkan ke sistem SCADA/PLC di pabrik.

  • Data dari K10 melalui meter dapat:

    • Diekspor ke Excel untuk tren harian.

    • Dimasukkan ke LIMS untuk keperluan audit dan pelaporan.

    • Digunakan sebagai sinyal kontrol di proses (misalnya membuka/menutup valve di WTP berdasarkan konduktivitas).

Fleksibilitas ini bergantung pada kompatibilitas K10 dengan berbagai meter. Dengan cell constant K=1 dan dimensi fisik standar, K10 mudah “masuk” ke berbagai sistem, selama konektor fisiknya sesuai atau tersedia adaptor yang tepat.

Bagi organisasi yang sedang meningkatkan sistem pemantauan kualitas air dari manual ke semi-otomatis, langkah awal yang baik adalah memilih elektroda seperti K10 yang tidak mengunci pada satu jenis meter saja.

Spesifikasi Teknis Bante K10

Parameter Nilai
Model K10
Jenis Elektroda konduktivitas umum
Rentang konduktivitas 0 hingga 150 mS/cm
Rentang suhu 0 hingga 50 °C
Material pelat Platinum
Cell constant K = 1
Material body Kaca
Dimensi 12 mm (diameter) × 120 mm (panjang)
Sensor utama Platinum sensor
Keterangan tambahan General purpose conductivity electrode

Beberapa cara mudah untuk “membaca” angka di atas bagi pengguna pemula:

  • Rentang 0–150 mS/cm berarti K10 tidak hanya untuk air sangat murni, tetapi justru ideal untuk air minum, air proses, dan larutan yang cukup konduktif. Untuk air ultrapure sangat rendah (mikroSiemens per cm), biasanya dibutuhkan cell constant yang lebih kecil.

  • Rentang suhu 0–50 °C sudah mencakup sebagian besar aplikasi lapangan, karena banyak sampel air diuji pada suhu ruang atau sedikit di atasnya.

  • Dimensi 12 × 120 mm kurang lebih setara dengan diameter spidol kecil dan panjang sedikit lebih dari 10 cm—mudah dibayangkan dalam genggaman tangan.

Panduan Memilih Komponen Tambahan dan Aksesori Pendukung

Agar K10 bekerja optimal, beberapa komponen pendukung perlu diperhatikan.

Tabel Rentang Konduktivitas dan Contoh Aplikasi

Tabel berikut memberi gambaran rentang konduktivitas yang umum ditemui dan kecocokan dengan K10:

Rentang Konduktivitas (mS/cm) Contoh Aplikasi Kesesuaian dengan K10
0,1 – 1 Air minum yang sudah diolah, air boiler make-up Dapat digunakan, perhatikan kalibrasi
1 – 20 Air proses industri, air limbah terolah Sangat sesuai
20 – 80 Larutan pembersih CIP, beberapa larutan nutrisi Sangat sesuai
80 – 150 Larutan elektrolit pekat, bath plating tertentu Sesuai selama masih dalam rentang

Aksesori yang Umum Diperlukan

  • Meter konduktivitas (bench-top atau portable) yang kompatibel dengan cell constant K=1.

  • Larutan standar kalibrasi konduktivitas (misalnya 1,41 mS/cm; 12,88 mS/cm; 111,8 mS/cm, sesuai kebutuhan).

  • Statif dan holder elektroda untuk penggunaan di laboratorium.

  • Beaker atau flow cell kecil bila digunakan pada aliran proses ringan.

  • Botol penyimpanan elektroda dan larutan penyimpan (jika direkomendasikan oleh pabrikan meter).

Faktor yang Mempengaruhi Hasil Pengukuran

Beberapa faktor yang sering menyebabkan data “loncat-loncat” atau tidak konsisten:

  • Gelembung udara di sekitar pelat sensor.

  • Suhu sampel berbeda jauh dari suhu kalibrasi tanpa kompensasi suhu otomatis.

  • Elektroda tidak dibersihkan dengan benar setelah digunakan pada larutan pekat.

  • Larutan kalibrasi sudah kadaluwarsa atau terkontaminasi.

Dengan K10, prosedur perawatan yang disiplin (membilas, menghindari benturan, dan menyimpan sesuai petunjuk meter) cukup untuk menjaga performa.

Studi Kasus Penerapan K10 di Lapangan

1. QA/QC Air Minum di Instalasi Pengolahan

Bayangkan sebuah instalasi pengolahan air minum yang harus memantau beberapa titik: air baku, air setelah koagulasi, air filtrasi, dan air produk akhir. Sebelum menggunakan K10, tim QA/QC menggunakan elektroda lama dengan rentang sempit, sehingga sering muncul pesan “out of range” untuk air baku yang sangat keruh maupun air produk yang cukup konduktif.

Setelah beralih ke K10:

  • Satu elektroda digunakan untuk seluruh titik pengambilan sampel karena rentang 0–150 mS/cm memadai.

  • Operator tidak perlu membawa beberapa elektroda yang berbeda; risiko salah pasang berkurang.

  • Waktu total pengambilan sampel menurun karena kalibrasi cukup dilakukan sekali di awal shift, lalu elektroda dibilas antar sampel.

Secara operasional, downtime karena penggantian elektroda dan pengulangan kalibrasi berkurang, sehingga tim dapat fokus pada interpretasi data dan penyesuaian proses.

2. Riset Hidroponik di Teaching Lab Kampus

Di sebuah teaching lab agronomi, praktikum hidroponik menggunakan beberapa jenis nutrisi dengan konsentrasi berbeda. Sebelumnya, mahasiswa menggunakan elektroda tua yang tidak jelas cell constant-nya; hasil pengukuran antar kelompok sering kali jauh berbeda.

Saat lab mengganti elektroda ke K10:

  • Dosen dapat memberikan prosedur kalibrasi baku menggunakan standar konduktivitas tertentu untuk cell K=1.

  • Mahasiswa belajar bahwa perubahan kecil pada dosis pupuk akan terlihat langsung pada angka konduktivitas.

  • Karena rentang K10 mencakup larutan nutrisi hidroponik yang cukup konduktif, praktikum berjalan tanpa kendala “out of range”.

Hasilnya, praktikum bukan hanya berjalan lebih lancar, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara nutrisi, konduktivitas, dan pertumbuhan tanaman.

Langkah Praktis Menggunakan K10 untuk Uji Konduktivitas Air

Sebagai contoh, berikut langkah penggunaan K10 untuk pengujian konduktivitas air di instalasi pengolahan air minum:

  1. Persiapan alat dan bahan

    • Meter konduktivitas yang kompatibel (bench-top atau portable).

    • Elektroda K10 terpasang dengan konektor yang sesuai.

    • Larutan standar konduktivitas (misalnya 12,88 mS/cm).

    • Air deionisasi untuk pembilasan.

    • Beaker bersih dan botol sampel dari lapangan.

  2. Kalibrasi awal

    • Nyalakan meter dan tunggu hingga stabil.

    • Bilas K10 dengan air deionisasi, lalu keringkan ringan.

    • Tuang larutan standar ke beaker, celupkan K10, dan pastikan tidak ada gelembung di sekitar sensor.

    • Aduk perlahan atau gunakan stirrer lembut sampai pembacaan stabil.

    • Ikuti instruksi meter untuk menyimpan nilai kalibrasi pada cell K=1.

  3. Pengambilan sampel dari lapangan

    • Ambil sampel air dari beberapa titik proses (misalnya air baku, setelah filtrasi, air produk).

    • Catat waktu, lokasi, dan kondisi operasi proses (debit, dosis bahan kimia, dan sebagainya).

  4. Pengukuran sampel

    • Bilas K10 dengan air deionisasi dan sedikit sampel pertama.

    • Celupkan ke dalam beaker berisi sampel; hindari menyentuh dinding beaker dengan ujung sensor.

    • Tunggu hingga angka konduktivitas stabil, lalu catat hasil atau gunakan fungsi Auto-Hold pada meter bila tersedia.

    • Ulangi prosedur bilas dan ukur untuk sampel berikutnya.

  5. Pembersihan dan penyimpanan

    • Setelah semua sampel diukur, bilas K10 dengan air deionisasi.

    • Jika digunakan pada larutan yang cukup pekat, lakukan pembersihan sesuai rekomendasi meter (misalnya dengan larutan pembersih ringan).

    • Simpan elektroda pada kondisi yang disarankan; beberapa sistem menyarankan penyimpanan kering, yang lain dengan larutan tertentu—ikuti panduan meter/pabrikan.

Dengan prosedur ini, tim WTP atau laboratorium QA dapat memperoleh data konduktivitas yang konsisten, yang kemudian dipakai untuk:

  • Memantau stabilitas kualitas air baku.

  • Menyetel dosis bahan kimia koagulasi.

  • Mengecek apakah air produk memenuhi spesifikasi pelanggan atau regulasi.

Ringkasan dan Rekomendasi Penggunaan K10

Bante K10 Conductivity Electrode adalah pilihan yang masuk akal untuk banyak organisasi yang membutuhkan satu elektroda serbaguna untuk pengukuran konduktivitas menengah hingga tinggi. Keunggulan utamanya:

  • Material pelat platinum dengan cell constant K=1 yang stabil.

  • Rentang 0–150 mS/cm yang mencakup berbagai jenis air dan larutan proses.

  • Body kaca berdiameter 12 mm dan panjang 120 mm yang nyaman dan kompatibel dengan banyak setup laboratorium.

K10 sangat cocok untuk:

  • Laboratorium QA/QC di pengolahan air, F&B, dan proses kimia.

  • Teaching lab yang membutuhkan elektroda yang mudah dijelaskan dan digunakan mahasiswa.

  • Instalasi pengolahan air limbah dan air minum yang menginginkan sensor sederhana namun andal.

  • Aplikasi hidroponik dan akuakultur dengan konduktivitas nutrisi di rentang menengah hingga tinggi.

Bagi organisasi yang membutuhkan pengukuran pada air ultrapure atau suhu sangat tinggi, mungkin perlu mempertimbangkan elektroda dengan cell constant dan desain berbeda. Namun untuk mayoritas aplikasi kualitas air dan proses industri umum, K10 menawarkan kombinasi fungsionalitas dan kepraktisan yang solid.

FAQ Bante K10 Conductivity Electrode

1. Apakah K10 bisa digunakan untuk air ultrapure (konduktivitas sangat rendah)?
K10 memiliki cell constant K=1 dan rentang 0–150 mS/cm, sehingga lebih ideal untuk air minum, air proses, dan larutan konduktif. Untuk air ultrapure dengan konduktivitas sangat rendah, biasanya lebih cocok menggunakan elektroda dengan cell constant lebih kecil (misalnya K=0,1).

2. Bisakah K10 dipakai untuk aplikasi online di pipa bertekanan?
Informasi resmi yang tersedia tidak mencantumkan rating tekanan atau IP. K10 lebih aman digunakan sebagai elektroda laboratorium atau dip-dip pada proses ringan. Untuk pemasangan permanen di pipa bertekanan, sebaiknya menggunakan sensor proses khusus dengan spesifikasi mekanik yang jelas.

3. Larutan standar apa yang direkomendasikan untuk kalibrasi K10?
Secara umum, larutan standar di rentang 1–100 mS/cm cocok untuk K10. Pilih nilai yang mendekati konduktivitas sampel yang paling sering diukur. Pastikan juga meter diatur pada cell constant K=1.

4. Seberapa sering K10 perlu dikalibrasi?
Frekuensi kalibrasi bergantung pada ketelitian yang dibutuhkan dan intensitas pemakaian. Untuk QA/QC rutin, banyak laboratorium melakukan kalibrasi harian atau setiap kali shift baru dimulai. Jika K10 digunakan pada larutan yang kotor atau pekat, kalibrasi lebih sering mungkin diperlukan.

5. Apakah K10 dapat digunakan di larutan yang mengandung pelarut organik?
Body kaca cukup tahan terhadap beberapa pelarut organik ringan, namun ketahanan jangka panjang juga tergantung pada jenis pelarut dan konsentrasinya. Untuk aplikasi dengan pelarut organik kuat, sebaiknya konsultasikan pada pemasok alat atau gunakan sensor yang secara khusus dirancang untuk kondisi tersebut.

6. Bagaimana cara penyimpanan K10 saat tidak digunakan?
Karena detail larutan penyimpan tidak tercantum pada sumber resmi, ikuti rekomendasi pada manual meter konduktivitas yang digunakan atau petunjuk dari pemasok alat. Secara umum, hindari penyimpanan kering berkepanjangan di lingkungan yang sangat panas atau sangat dingin.

Sebagai pemasok dan distributor alat laboratorium terkemuka, CV. Java Multi Mandiri memahami pentingnya pengukuran konduktivitas yang andal dalam mendukung berbagai proses penelitian dan produksi Anda. Kami mengkhususkan diri dalam melayani klien bisnis dan aplikasi industri, menyediakan instrumen berkualitas seperti Bante K10 Conductivity Electrode dan perangkat laboratorium lainnya untuk membantu perusahaan Anda mengoptimalkan pemantauan kualitas air, menjaga kestabilan proses, dan memenuhi standar regulasi.

Jika Anda ingin meningkatkan akurasi dan efisiensi pengujian konduktivitas pada utilitas maupun proses industri, mari diskusikan kebutuhan perusahaan Anda bersama kami untuk menemukan konfigurasi elektroda dan meter yang paling sesuai.

Rekomendasi Ion Selective Electrode Unggulan untuk Kebutuhan Anda

Referensi

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.