Teknisi memeriksa torque wrench menggunakan torque tester untuk memastikan akurasi torsi pada pengencangan baut.

Baut Sudah Dikencangkan, Kenapa Masih Bisa Kendor?

Daftar Isi

Baut sudah dikencangkan sesuai nilai yang ditentukan, tetapi beberapa waktu kemudian kembali longgar. Penyebab baut kendor tidak selalu karena kurang kuat saat dikencangkan. Gesekan saat pemasangan, preload yang terbentuk, kondisi ulir, dan vibrasi selama mesin bekerja dapat mengubah kestabilan sambungan.

Artinya, pertanyaan yang tepat bukan hanya “berapa besar torsinya?”, tetapi juga “apakah gaya jepit yang dihasilkan cukup dan mampu bertahan selama komponen digunakan?”

Kenapa Baut Bisa Kendor Padahal Sudah Dikencangkan?

Saat baut atau mur diputar, torque atau torsi digunakan untuk menghasilkan gaya jepit pada komponen yang disambungkan. Gaya jepit awal tersebut dikenal sebagai preload.

Masalahnya, torsi yang diberikan tidak seluruhnya berubah menjadi preload. Sebagian besar harus terlebih dahulu mengatasi gesekan pada ulir dan permukaan di bawah kepala baut atau mur.

Penelitian Dario Croccolo, Massimiliano De Agostinis, dan Nicolò Vincenzi memperlihatkan besarnya pengaruh kondisi tersebut. Mereka meneliti hubungan antara tightening torque, friction coefficient, dan preloading force pada sambungan baut aluminium untuk komponen suspensi sepeda motor.

Dalam salah satu contoh perhitungannya, baut M8 × 1,25 dengan koefisien gesekan 0,15 menggunakan sekitar 38% input torque untuk melawan gesekan pada ulir dan sekitar 50% untuk gesekan di bawah kepala baut. Pada kondisi tersebut, sekitar 88% torsi digunakan untuk mengatasi gesekan dan hanya sekitar 12% menjadi komponen yang membentuk preload.

Angka itu bukan aturan universal untuk semua baut. Justru hasil tersebut menunjukkan bahwa perubahan gesekan dapat menghasilkan preload berbeda meskipun angka torsi yang diberikan sama.

Torsi Sama Belum Tentu Menghasilkan Gaya Jepit yang Sama

Bayangkan dua baut dengan ukuran sama. Baut pertama memiliki ulir bersih dan terlumasi, sedangkan baut kedua sudah digunakan berulang kali dan kondisi permukaannya berubah.

Jika keduanya dikencangkan pada nilai torsi yang sama, preload yang terbentuk belum tentu identik. Pelumasan, finishing permukaan, kondisi ulir, dan material memengaruhi besarnya friction selama proses pengencangan.

KondisiApa yang Dapat TerjadiYang Perlu Diperhatikan
Gesekan berubahPreload dapat berbeda pada nilai torsi yang samaKondisi ulir, pelumasan, dan permukaan kontak
Torsi terlalu rendahGaya jepit mungkin tidak mencukupiSpesifikasi pengencangan sambungan
Torsi terlalu tinggiBaut atau komponen dapat menerima tegangan berlebihanBatas torsi yang ditentukan
Vibrasi berulangPreload dapat berkurang selama penggunaanKondisi operasi dan sumber getaran

Inilah alasan pengencangan pada assembly yang kritis tidak sebaiknya hanya mengandalkan feeling operator. Nilai torsi perlu mengikuti spesifikasi teknis untuk sambungan yang digunakan.

Vibrasi Bisa Mengurangi Preload

Pengencangan hanya menentukan kondisi awal. Setelah mesin mulai bekerja, sambungan menghadapi vibrasi dan beban yang terus berubah.

Ying Li dan rekan-rekannya menguji bolted joints yang menerima vibrasi aksial dan transversal. Penelitian mereka menemukan pola preload relaxation yang serupa pada kedua arah tersebut. Penurunannya berlangsung melalui tahap awal yang lebih cepat, kemudian bergerak menuju tahap yang lebih stabil.

Eksperimen tersebut juga menguji pengaruh tightening torque, amplitude, dan frequency. Hasilnya memperkuat bahwa vibrasi mekanis dapat menyebabkan preload pada sambungan baut berkurang seiring waktu.

Karena itu, baut yang kembali kendor bisa menjadi bagian dari masalah yang lebih luas pada mesin. Jika tingkat getaran juga berubah, teknisi perlu mengevaluasi sumber vibrasi, bukan sekadar mengencangkan baut berulang kali. Alat-Test membahas pendekatan tersebut lebih jauh dalam panduan monitoring getaran mesin menggunakan vibration meter.

Baut Bisa Mulai Longgar Tanpa Langsung Terlepas

Self-loosening tidak selalu berarti mur langsung berputar bebas atau baut terlihat jelas longgar.

Yan Chen, Qiang Gao, dan Zhenqun Guan menganalisis bolted joint yang menerima transverse cyclic loading. Model tiga dimensi mereka menunjukkan adanya fenomena creep slip pada contact surface.

Dalam kondisi tersebut, sebagian area kontak dapat mengalami pergeseran kecil sementara bagian lainnya masih berada dalam kondisi menempel. Penelitian itu menunjukkan bahwa creep slip dapat memicu self-loosening meskipun sebagian contact surface masih dalam kondisi stuck.

Ini menjelaskan mengapa perubahan pada sambungan dapat berkembang sedikit demi sedikit sebelum baut benar-benar terasa longgar saat diperiksa.

Kalau Begitu, Apakah Baut Harus Dikencangkan Lebih Kuat?

Tidak.

Mengencangkan baut lebih kuat tanpa melihat spesifikasi justru dapat menciptakan masalah baru. Torsi yang terlalu rendah dapat menghasilkan preload yang kurang, tetapi torsi berlebihan juga dapat meningkatkan tegangan pada fastener, merusak ulir, atau membebani komponen yang dijepit.

Targetnya bukan membuat baut “sekencang mungkin”. Targetnya adalah mendapatkan kondisi pengencangan yang sesuai dengan desain sambungan.

Karena itu, jika baut terus mengalami kelonggaran, pemeriksaan sebaiknya mencakup beberapa hal:

  • nilai torsi yang digunakan saat pemasangan;
  • kondisi ulir dan permukaan kontak;
  • pelumasan yang digunakan;
  • vibrasi atau beban berulang selama operasi;
  • kondisi komponen yang dijepit;
  • konsistensi alat yang digunakan untuk mengencangkan baut.

Torque Wrench Sudah Dipakai, Apakah Masalah Selesai?

Torque wrench membantu operator memberikan nilai torsi yang lebih terkontrol daripada menggunakan kunci biasa. Namun torque wrench sendiri tetap merupakan alat ukur mekanis yang digunakan berulang kali.

Jika pekerjaan membutuhkan konsistensi tinggi, pertanyaan berikutnya adalah apakah nilai yang diberikan torque wrench masih sesuai dengan pengaturannya.

Di sinilah torque tester memiliki fungsi yang berbeda. Torque tester bukan alat untuk mencari semua penyebab baut kendor. Perangkat ini digunakan untuk mengukur torsi sehingga pengguna dapat memeriksa atau melakukan preset pada torque wrench.

Bagaimana Mengecek Torque Wrench?

Torque wrench dapat diuji dengan memberikan beban pada torque tester kemudian membandingkan nilai aktual yang terbaca dengan nilai pengaturan pada wrench.

Pada proses pengujian, setup juga perlu stabil. Jika objek atau fixture ikut bergerak ketika torsi diberikan, proses pengukuran dapat terganggu. Prinsip ini dibahas pada artikel Alat-Test mengenai pengaruh kestabilan penjepitan saat melakukan pengukuran torsi.

Untuk pemeriksaan dan preset torque wrench dengan kebutuhan hingga 500 Nm, salah satu perangkat yang tersedia di Alat-Test adalah Torque Meter / Torque Tester PCE-TWT 500.

PCE-TWT 500 memiliki rentang pengukuran 0,01 hingga 500 Nm, resolusi 0,01 Nm, dan akurasi ±1% dari nilai pembacaan. Perangkat ini mendukung continuous measurement dan peak value serta menyediakan memori internal untuk menyimpan hingga 99 nilai pengukuran.

Fungsi tersebut membuatnya relevan untuk pemeriksaan torque wrench pada kegiatan maintenance, mechanical engineering, otomotif, maupun quality control yang membutuhkan nilai pengencangan terukur.

Torque Tester Tidak Bisa Menjawab Semua Penyebab Baut Kendor

Hal ini penting dibedakan agar diagnosis tidak salah arah.

Torque tester dapat membantu memastikan apakah torque wrench memberikan nilai yang sesuai. Namun alat tersebut tidak secara langsung menentukan apakah baut akan mengalami self-loosening setelah mesin bekerja.

Jika torque wrench sudah memberikan nilai yang benar tetapi baut tetap kendor, investigasi perlu dilanjutkan ke kondisi sambungan, friction, preload, vibrasi, beban transversal, kondisi ulir, atau faktor desain lainnya.

Dengan kata lain, pemeriksaan torsi merupakan salah satu bagian dari troubleshooting, bukan satu-satunya jawaban.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Jika Baut Terus Kendor?

Jangan langsung menaikkan nilai torsi. Mulai dari spesifikasi sambungan dan cari faktor yang berubah.

  1. Periksa spesifikasi torsi. Pastikan nilai pengencangan memang sesuai rekomendasi desain atau produsen.
  2. Periksa kondisi baut dan ulir. Cari kerusakan, kontaminasi, keausan, atau perubahan pelumasan.
  3. Pastikan metode pengencangan konsisten. Gunakan torque wrench dengan prosedur yang sesuai.
  4. Evaluasi torque wrench jika diperlukan. Periksa apakah nilai aktualnya masih sesuai pengaturan.
  5. Periksa kondisi mesin. Vibrasi atau pembebanan abnormal dapat menjadi penyebab preload terus berkurang.

Untuk sambungan yang berhubungan dengan keselamatan atau fungsi kritis, selalu gunakan spesifikasi engineering atau petunjuk produsen dan lakukan pemeriksaan oleh personel yang kompeten.

Kesimpulan

Baut yang sudah dikencangkan masih dapat kendor karena torsi hanyalah bagian dari proses pembentukan gaya jepit. Gesekan menentukan berapa banyak input torque yang benar-benar menghasilkan preload, sedangkan vibrasi dan pergerakan pada contact surface dapat mengurangi preload selama komponen digunakan.

Karena itu, solusi tidak selalu berupa mengencangkan baut lebih kuat. Kondisi sambungan, vibrasi, ulir, metode pemasangan, serta konsistensi torque wrench perlu diperiksa secara sistematis.

Jika kebutuhan pemeriksaannya adalah mengevaluasi dan melakukan preset torque wrench hingga 500 Nm, detail Torque Meter / Torque Tester PCE-TWT 500 dapat dilihat langsung di Alat-Test.com.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Kenapa baut tetap kendor meski sudah menggunakan torque wrench?

Torque wrench membantu mengontrol nilai torsi saat pemasangan, tetapi kestabilan sambungan juga dipengaruhi oleh friction, preload, kondisi ulir, vibrasi, dan pembebanan selama komponen digunakan.

Apakah torsi yang sama selalu menghasilkan preload yang sama?

Tidak. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi gesekan sangat memengaruhi hubungan antara tightening torque dan preloading force. Pelumasan dan kondisi permukaan dapat membuat hasilnya berbeda.

Apakah torque tester bisa mengetahui baut akan kendor?

Tidak secara langsung. Torque tester digunakan untuk mengukur torsi dan memeriksa kinerja torque wrench. Self-loosening tetap harus dievaluasi dari kondisi sambungan dan lingkungan operasinya.

Apakah baut yang sering kendor boleh langsung dikencangkan lebih kuat?

Tidak disarankan tanpa mengacu pada spesifikasi. Over-torque dapat menimbulkan tegangan berlebihan atau merusak fastener dan komponen.

Referensi

  1. Croccolo, D., De Agostinis, M., & Vincenzi, N. (2011). Failure analysis of bolted joints: Effect of friction coefficients in torque-preloading relationship. Engineering Failure Analysis, 18(1), 364–373. DOI: 10.1016/j.engfailanal.2010.09.015.
  2. Li, Y., Liu, Z., Wang, Y., Cai, L., & Zheng, M. (2020). Experimental study on behavior of time-related preload relaxation for bolted joints subjected to vibration in different directions. Tribology International, 142, 106005. DOI: 10.1016/j.triboint.2019.106005.
  3. Chen, Y., Gao, Q., & Guan, Z. (2017). Self-Loosening Failure Analysis of Bolt Joints under Vibration considering the Tightening Process. Shock and Vibration, 2017, 2038421. DOI: 10.1155/2017/2038421.

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.