Di banyak laboratorium dan instalasi pengolahan air, air murni sering dianggap “aman” begitu nilai konduktivitas terlihat rendah di layar meter. Namun, siapa pun yang bekerja di QA/QC, validasi sistem RO/DI, atau teaching lab tahu bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu. Fluktuasi kecil pada konduktivitas – misalnya dari 1 ke 5 µS/cm – sudah cukup untuk mengindikasikan adanya kontaminasi ionik, kebocoran resin, atau masalah pembilasan yang berpotensi mengganggu hasil uji dan stabilitas proses.
Masalahnya, banyak sensor konduktivitas didesain untuk air “biasa” dengan konduktivitas jauh lebih tinggi. Saat dipaksa mengukur air murni, pembacaannya sering tidak stabil, lambat, bahkan melenceng karena resolusi dan desain sel yang kurang sensitif untuk rentang ultra-rendah. Di sisi lain, penggunaan metode manual seperti titrasi atau gravimetri untuk memantau kualitas air murni jelas tidak realistis untuk monitoring harian: memakan waktu, boros reagen, dan sulit diintegrasikan ke rutinitas produksi.
Bagi industri farmasi, biotek, F&B, hingga pabrik komponen elektronik, kualitas air murni bukan hanya soal kejelasan visual, tetapi parameter proses yang berdampak langsung pada mutu produk dan kepatuhan regulasi. Di titik inilah elektroda konduktivitas khusus air murni seperti CON-0.1 menjadi relevan: alat yang tampak sederhana, tapi berperan sebagai “indera” penting untuk memantau kesehatan sistem air dan keandalan data.
Prinsip Kerja Elektroda Konduktivitas Platinum K=0,1
CON-0.1 adalah elektroda konduktivitas berbasis platinum dengan konstanta sel K=0,1, dirancang khusus untuk mengukur air murni dengan rentang 0–100 µS/cm. Dalam pengukuran konduktivitas, inti teknologinya sebenarnya cukup elegan: dua permukaan elektroda konduktif dimasukkan ke dalam larutan, kemudian meter mengalirkan arus AC kecil dan mengukur seberapa mudah arus tersebut melewati larutan. Semakin banyak ion terlarut, semakin besar konduktivitasnya.
Konstanta sel (cell constant) K=0,1 di sini sangat penting. Nilai ini menggambarkan geometri elektroda (jarak dan luas permukaan) yang dioptimalkan untuk konduktivitas rendah. Bandingkan dengan sel K=1 atau K=10 yang dipakai untuk air proses atau air limbah dengan konduktivitas jauh lebih tinggi; jika dipakai di air murni, resolusinya kurang halus dan noise relatif menjadi besar. Dengan K=0,1, CON-0.1 mampu menangkap perubahan kecil pada air murni yang penting untuk QA dan validasi sistem.
Selain itu, sensor platinum memberikan stabilitas kimia dan ketahanan korosi yang sangat baik. Dalam jangka panjang, material ini mengurangi drift dan frekuensi penggantian elektroda, terutama bila digunakan secara rutin di sistem RO/DI, loop air murni farmasi, atau laboratorium yang sering melakukan pengukuran air deionisasi. Dibanding metode konvensional seperti penguapan/gravimetri atau pengukuran TDS berbasis perhitungan teoritis, pendekatan konduktivitas dengan elektroda khusus seperti CON-0.1 jauh lebih cepat, tidak destruktif, dan mudah diotomasi untuk logging dan trending.
Mengapa CON-0.1 Menjadi Pilihan Spesifik untuk Air Murni
Secara praktis, CON-0.1 bisa dipandang sebagai “lensa pembesar” bagi air murni. Dibanding elektroda konduktivitas serbaguna, model ini sengaja disetel untuk area kerja sempit yang justru sangat kritis: 0–100 µS/cm. Rentang ini mencakup air murni, air deionisasi, hingga air umpan boiler bertekanan rendah, di mana setiap perubahan kecil bisa membawa konsekuensi proses.
Beberapa hal yang membuat CON-0.1 menarik bagi pengguna:
-
Rentangnya dimulai dari 0 µS/cm, sehingga cocok untuk memantau air sangat murni dan mendekati standar ultrapure.
-
Konstanta sel K=0,1 memastikan sensitivitas tinggi di rentang ultra-rendah, berbeda dengan sel K=1 yang biasanya lebih cocok untuk air minum atau air limbah.
-
Body kaca memberikan sifat inert dan mudah dibersihkan, mengurangi risiko kontaminasi silang antar sampel.
-
Elektroda ini kompatibel dengan flow cell CON-FC untuk pengukuran air murni dengan konduktivitas di bawah 10 µS/cm, sebuah konfigurasi yang umum dipakai di loop air farmasi dan sistem RO industri.
Dibanding kompetitor yang menawarkan satu tipe sensor untuk berbagai rentang, pendekatan spesialis CON-0.1 memudahkan QA/QC untuk memisahkan antara sensor air limbah, air proses, dan air murni. Ini bukan hanya soal akurasi, tetapi juga soal kebersihan jalur dan pengurangan risiko kontaminasi silang dari sampel dengan kandungan ion tinggi.
Desain dan Ergonomi
Sekilas, CON-0.1 tampak seperti elektroda konduktivitas laboratorium pada umumnya: batang kaca silindris dengan ujung sensor di satu sisi dan konektor di sisi lain. Namun, jika dilihat lebih dekat, desainnya cukup ringkas dan praktis untuk penggunaan sehari-hari. Elektroda ini memiliki panjang sekitar 120 mm dengan diameter 12 mm, sehingga mudah ditempatkan pada beaker, botol sampel, maupun dipasang di flow cell.
Body kaca bukan hanya soal estetika; material ini inert terhadap sebagian besar larutan laboratorium dan tidak mudah bereaksi dengan sampel, sehingga menjaga integritas pengukuran. Di dalam ujung sensor terdapat platinum conductivity element dengan lapisan khusus (platinum black) yang meningkatkan luas permukaan efektif dan sensitivitas terhadap ion terlarut. Panduan pengguna menekankan agar permukaan ini tidak disentuh langsung dan selalu dijaga kebersihannya.
Kabel sepanjang 1 meter memberikan fleksibilitas yang cukup untuk melakukan pengukuran di meja kerja tanpa membuat area kerja berantakan. Di ujung kabel, tersedia konektor 6-pin mini-DIN yang kompatibel dengan berbagai meter konduktivitas Bante. Elektroda ini sendiri tidak memiliki catu daya, karena berfungsi sebagai sensor pasif; semua suplai daya dan pengolahan sinyal dilakukan oleh meter yang terhubung.
Batas lingkungan operasi elektroda berada pada suhu 0–80°C. Ini berarti ia dapat digunakan untuk sampel pada suhu ruang hingga suhu yang agak tinggi (misalnya air proses hangat atau outlet sistem RO yang belum sepenuhnya dingin), selama tidak melebihi batas tersebut. Tidak terdapat informasi IP rating khusus karena elektroda dirancang terutama untuk penggunaan laboratorium, bukan instalasi lapangan yang terekspos cuaca.
Antarmuka dan Pengalaman Pengguna
Sebagai elektroda, CON-0.1 tidak memiliki layar, tombol, maupun menu internal. Seluruh antarmuka pengguna berada pada meter konduktivitas yang digunakan. Namun, desain konektor 6-pin mini-DIN membuat proses pemasangan menjadi sederhana: cukup menyelaraskan posisi pin, menekan, dan mengunci. Tidak ada sekrup atau terminal terbuka yang perlu dikencangkan.
Dari sudut pandang operator, pengalaman penggunaan yang “mudah” sangat ditentukan oleh kombinasi elektroda dan meter. CON-0.1 dirancang untuk memberikan respons stabil dan cepat dalam rentang kerja air murni, sehingga fitur seperti Auto-Read atau Auto-Hold pada meter dapat berfungsi optimal: meter bisa lebih cepat mendeteksi saat pembacaan sudah stabil. Di laboratorium pengajaran, ini membantu mahasiswa yang baru belajar pengukuran konduktivitas agar tidak kebingungan dengan angka yang terus bergerak.
Kelebihan lain dari elektroda pasif seperti ini adalah fleksibilitas. Satu meter konduktivitas portabel atau benchtop bisa dipasangi beberapa jenis elektroda (K=0,1, K=1, K=10), dan CON-0.1 tinggal dipasang saat pekerjaan berhubungan dengan air murni atau konduktivitas sangat rendah. Transisi antar aplikasi menjadi lebih rapi dan ekonomis dibanding memiliki beberapa meter terpisah.
Fitur Kunci yang Paling Penting untuk Pengguna Lab
Walaupun terlihat sederhana, ada beberapa fitur yang membuat CON-0.1 sangat relevan bagi praktisi QA/QC dan riset:
-
Rentang pengukuran 0–100 µS/cm
Dirancang khusus untuk air murni dan ultramurni, bukan sekadar “bisa ukur rendah”. Hal ini penting untuk farmasi, elektronik, dan lab kimia yang memerlukan pemantauan ketat terhadap kontaminasi ionik. -
Konstanta sel K=0,1
Geometri sel dengan K kecil memberikan resolusi lebih tinggi di konduktivitas rendah. Bagi pengguna, ini berarti perubahan kecil pada kondisi air (misalnya setelah pergantian resin DI) bisa terlihat dengan lebih jelas dan meyakinkan. -
Body kaca dengan sensor platinum
Kombinasi ini memberikan ketahanan kimia yang baik, mudah dibersihkan, dan relatif stabil terhadap aging. Panduan perawatan menyarankan untuk merendam elektroda sekitar 10 menit dalam air keran sebelum pemakaian pertama untuk menghilangkan kotoran dan minyak, lalu dibilas dengan air suling sebelum digunakan. -
Kompatibilitas dengan flow cell CON-FC
Untuk aliran air murni kontinyu (misalnya loop air farmasi atau outlet sistem RO), elektroda dapat dipasang pada flow cell sehingga pengukuran dapat dilakukan secara in-line tanpa harus mengambil sampel berulang. Flow cell ini khusus direkomendasikan untuk air dengan konduktivitas kurang dari 10 µS/cm.
Semua fitur ini, jika dikombinasikan dengan meter konduktivitas yang andal, membantu mengurangi waktu sampling, meminimalkan variasi akibat teknik operator, dan memudahkan dokumentasi tren kualitas air dari hari ke hari.
Kontrol Eksternal dan Integrasi Sistem
Secara teknis, CON-0.1 adalah sensor analog yang mengirimkan sinyal ke meter. Ia tidak memiliki antarmuka digital sendiri, port USB, ataupun memori internal. Integrasi ke PC, LIMS, atau sistem akuisisi data dilakukan lewat meter yang terhubung dengannya.
Bagi pengguna, implikasinya adalah:
-
Pilih meter konduktivitas yang mendukung logging, ekspor ke Excel/LIMS, atau konektivitas PC jika ingin menerapkan trending jangka panjang.
-
CON-0.1 dapat dianggap sebagai “kepala sensor” khusus air murni yang diganti sesuai kebutuhan, sementara sistem pencatatan data tetap berada di satu platform yang sama.
-
Pendekatan ini memudahkan skalabilitas: satu sistem data bisa menerima input dari berbagai titik pengukuran (air murni, air proses, air limbah) dengan hanya mengganti tipe elektroda yang terpasang di meter untuk tiap aplikasi.
Spesifikasi Teknis Lengkap
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Model | CON-0.1 |
| Jenis | Elektroda konduktivitas laboratorium |
| Rentang pengukuran | 0–100 µS/cm |
| Konstanta sel (K) | K = 0,1 |
| Sensor | Platinum |
| Material body | Kaca |
| Suhu operasi | 0–80°C (32–176°F) |
| Panjang elektroda | ±120 mm |
| Diameter | ±12 mm |
| Panjang kabel | 1 m |
| Jenis konektor | 6-pin mini-DIN |
| Kompatibilitas flow cell | CON-FC |
| Aplikasi utama | Pengukuran air murni |
Bagi pemula, angka-angka di atas dapat dibayangkan sebagai berikut: rentang 0–100 µS/cm adalah “wilayah halus” dari dunia konduktivitas, setara dengan mendengar bisikan di ruangan yang relatif sunyi. Sensor K=0,1 ibarat mikrofon yang didesain khusus untuk suara pelan; jika memakai mikrofon yang biasa dipakai di konser (analogi sel K=10), bisikan itu akan tenggelam dalam noise.
Panduan Memilih Komponen Tambahan
Agar sistem pengukuran air murni bekerja optimal, elektroda hanyalah salah satu komponen. Pengguna perlu mempertimbangkan rentang konduktivitas aplikasi dan skema instalasi.
Tabel berikut memberikan gambaran sederhana:
| Rentang Konduktivitas Air | Contoh Aplikasi | Rekomendasi Sensor/Setup |
|---|---|---|
| < 10 µS/cm | Air murni farmasi, loop air RO final | CON-0.1 + flow cell CON-FC |
| 10–50 µS/cm | Air demineralisasi, air umpan boiler | CON-0.1 dalam beaker atau flow cell |
| 50–100 µS/cm | Air DI untuk laboratorium umum | CON-0.1 dalam beaker/point sampling |
Beberapa aksesori yang umum dipertimbangkan:
-
Flow cell CON-FC untuk pengukuran in-line air murni berkonduktivitas sangat rendah.
-
Stand elektroda atau holder untuk penggunaan di beaker agar posisi sensor stabil.
-
Larutan standar konduktivitas rendah untuk kalibrasi berkala (misalnya 10 µS/cm, 84 µS/cm).
Faktor yang memengaruhi hasil pengukuran antara lain:
-
Suhu sampel (konduktivitas meningkat seiring kenaikan suhu).
-
Kebersihan elektroda, terutama permukaan platinum.
-
Adanya gelembung udara yang menempel di sekitar sensor.
-
Kontaminasi silang dari beaker atau botol sampel yang kurang bersih.
Memahami faktor ini membantu pengguna menginterpretasi data dengan lebih kritis dan mengurangi kesalahan yang terlihat seperti “anomali” padahal berasal dari teknik pengukuran.
Studi Kasus Penggunaan
Untuk menggambarkan peran CON-0.1 dalam konteks nyata, berikut dua skenario yang sering ditemui.
1. Teaching Lab Kimia Fisik di Kampus
Sebuah laboratorium pengajaran kimia fisik memiliki sistem RO kecil untuk menyediakan air murni bagi praktikum mahasiswa. Sebelum memakai elektroda khusus air murni, nilai konduktivitas yang dibaca saat praktikum sering tidak konsisten: di satu sesi tercatat 3–5 µS/cm, di sesi lain melonjak hingga 20 µS/cm tanpa penjelasan yang jelas. Sensor yang digunakan saat itu adalah elektroda K=1 yang sebenarnya dirancang untuk air minum dan air limbah.
Ketika lab mengganti sensor dengan CON-0.1, dua hal langsung terasa. Pertama, pembacaan di rentang 1–10 µS/cm menjadi lebih stabil dan mudah diulang antar sesi. Kedua, staf lab dapat membuat log sederhana kualitas air dari hari ke hari dan mendeteksi kapan resin DI mulai jenuh. Hasilnya, jadwal regenerasi resin menjadi lebih tepat, downtime sistem berkurang, dan mahasiswa mendapatkan data eksperimen yang lebih konsisten untuk dianalisis.
2. Sistem RO untuk Produksi Minuman
Sebuah pabrik minuman menggunakan air hasil RO sebagai bahan baku utama. Mereka memantau kualitas air di beberapa titik: raw water, setelah filtrasi, dan setelah RO. Untuk titik setelah RO, targetnya adalah konduktivitas di bawah 30 µS/cm. Pada awalnya mereka memakai satu sensor serbaguna untuk semua titik, sehingga di titik air limbah dan air baku sensornya bekerja baik, tetapi di air murni setelah RO hasilnya sering “loncat” dan perlu waktu lama untuk stabil.
Dengan memasang CON-0.1 khusus di jalur setelah RO (dipadukan dengan flow cell CON-FC), tim QA mulai mendapatkan grafik tren konduktivitas yang halus dan mudah dianalisis. Mereka bisa melihat pola kenaikan gradual saat membran menua dan merencanakan pembersihan kimia sebelum kualitas air turun melewati batas. Meskipun angka peningkatan downtime atau efisiensi akan berbeda di tiap pabrik, pendekatan ini jelas membantu menghindari kejutan berupa batch produk yang harus ditahan karena air tidak memenuhi spesifikasi.
Panduan Cara Menggunakan Produk Langkah demi Langkah
Bayangkan sebuah laboratorium pengujian kualitas air minum yang harus memeriksa air murni dari sistem RO/DI sebelum dipakai sebagai air pencampur reagen. Berikut langkah praktis menggunakan CON-0.1 dalam skenario tersebut:
-
Persiapan awal
-
Siapkan beaker bersih yang khusus untuk air murni.
-
Pastikan meter konduktivitas dalam kondisi siap pakai dan mendukung sel K=0,1.
-
-
Aktivasi dan pembersihan elektroda
-
Sebelum penggunaan pertama, rendam elektroda sekitar 10 menit dalam air keran untuk menghilangkan kotoran dan minyak pada permukaan sensor.
-
Bilas dengan air suling atau air murni sebelum digunakan agar tidak ada sisa air keran yang terbawa.
-
-
Kalibrasi
-
Lakukan kalibrasi menggunakan larutan standar konduktivitas rendah yang direkomendasikan untuk sel K=0,1.
-
Ikuti instruksi meter untuk titik kalibrasi (misalnya 10 µS/cm atau 84 µS/cm).
-
-
Pengambilan sampel
-
Ambil sampel air murni langsung dari outlet sistem RO/DI ke beaker bersih.
-
Hindari menyentuh bagian dalam beaker dengan tangan untuk mengurangi kontaminasi.
-
-
Pengukuran
-
Celupkan CON-0.1 ke dalam sampel, pastikan ujung sensor terendam sepenuhnya dan tidak ada gelembung udara terperangkap.
-
Aduk perlahan atau gunakan stirrer lembut jika diperlukan.
-
Tunggu hingga pembacaan stabil; manfaatkan fitur Auto-Read/Auto-Hold pada meter bila tersedia.
-
-
Pencatatan hasil
-
Catat nilai konduktivitas dan suhu, atau gunakan fitur logging pada meter untuk menyimpan data.
-
-
Setelah penggunaan
-
Bilas elektroda dengan air suling.
-
Lap body kaca dengan tisu bebas serat jika perlu, tanpa menyentuh permukaan platinum black.
-
Simpan di tempat kering dan sejuk jika tidak digunakan dalam waktu lama.
-
Dengan prosedur sederhana ini, laboratorium dapat memasukkan pengukuran konduktivitas air murni sebagai bagian rutin dari checklist harian tanpa menambah beban kerja secara signifikan.
Kesimpulan dan Rekomendasi
CON-0.1 menempati posisi yang jelas di dunia instrumen laboratorium: elektroda konduktivitas khusus untuk air murni dengan rentang 0–100 µS/cm dan konstanta sel K=0,1. Kombinasi sensor platinum, body kaca, dan desain ringkas menjadikannya pilihan logis bagi laboratorium yang serius memantau kualitas air, baik untuk riset, QA/QC industri, maupun pengajaran.
Produk ini paling menguntungkan untuk:
-
Laboratorium farmasi, biotek, dan F&B yang mengandalkan air murni dalam formulasi dan pencucian.
-
Instalasi WTP/WWTP yang memiliki unit RO/DI dan perlu memantau kualitas air hasil olahan secara ketat.
-
Teaching lab dan laboratorium pengujian air yang ingin memberikan data konsisten kepada mahasiswa dan klien.
-
Industri elektronik dan proses kimia presisi yang sensitif terhadap kontaminasi ionik.
Jika kebutuhan Anda lebih banyak berkutat di air limbah atau larutan proses dengan konduktivitas tinggi, model elektroda lain dengan K=1 atau K=10 akan lebih tepat. Namun, jika fokus Anda adalah memahami dan mengendalikan kualitas air murni, CON-0.1 adalah investasi yang sejalan dengan kebutuhan tersebut.
FAQ Singkat
-
Apakah CON-0.1 bisa digunakan untuk mengukur air limbah?
Secara teknis bisa, tetapi rentangnya hanya sampai 100 µS/cm. Untuk air limbah yang biasanya jauh lebih konduktif, lebih tepat menggunakan elektroda dengan K=1 atau K=10. -
Seberapa sering elektroda perlu dikalibrasi?
Frekuensi kalibrasi bergantung pada intensitas pemakaian dan kebijakan QA, tetapi untuk penggunaan rutin harian, banyak laboratorium melakukan kalibrasi mingguan atau saat mulai mengukur batch baru yang krusial. -
Apakah elektroda ini tahan terhadap asam atau basa kuat?
Body kaca dan sensor platinum relatif stabil terhadap banyak larutan, tetapi karena CON-0.1 ditujukan untuk air murni, sebaiknya tidak digunakan untuk larutan asam/basa kuat secara rutin agar umur pakai tetap panjang. -
Bagaimana jika permukaan sensor terlihat kotor atau ada endapan?
Endapan padat sebaiknya dibersihkan dengan hati-hati, kemudian elektroda dikalibrasi ulang sebelum digunakan kembali. Jangan menggosok platinum black secara kasar. -
Apakah CON-0.1 dapat dipasang permanen di pipa?
Secara desain, ini adalah elektroda laboratorium. Untuk instalasi in-line jangka panjang, lebih baik menggunakan elektroda industri seperti seri IE-50T dan menggunakan CON-0.1 terutama untuk verifikasi laboratorium.
Sebagai pemasok dan distributor alat laboratorium terkemuka, CV. Java Multi Mandiri memahami pentingnya pengukuran konduktivitas air murni dalam mendukung berbagai proses penelitian dan produksi Anda. Kami mengkhususkan diri dalam melayani klien bisnis dan aplikasi industri, menyediakan instrumen berkualitas tinggi seperti elektroda konduktivitas CON-0.1 dan perangkat laboratorium lainnya untuk membantu perusahaan Anda mengoptimalkan pengendalian kualitas air, memastikan konsistensi proses, dan memenuhi standar tertinggi.
Jika Anda ingin meningkatkan akurasi dan efisiensi pemantauan air murni pada utilitas maupun proses produksi, mari diskusikan kebutuhan perusahaan Anda bersama kami untuk menemukan solusi yang tepat.
Rekomendasi Water Quality Meter Unggulan untuk Kebutuhan Anda
-

Portable Multiparameter Water Quality
Lihat Produk★★★★★ -

Portable Multiparameter Water Quality Meter
Lihat Produk★★★★★ -

Portable Multiparameter Water Quality System
Lihat Produk★★★★★ -

Pocket Multiparameter Water Quality PC-5
Lihat Produk★★★★★ -

Portable Datalogging pH-mV-ORP-Cond-TDS-Salinity-Temperature Meter
Lihat Produk★★★★★ -

Bante904P-CN Portable Multi-parameter Water Quality Meter
Lihat Produk★★★★★ -

Bante903P-CN Portable Multi-parameter Water Quality Meter
Lihat Produk★★★★★ -

Bante902P-CN Portable Multi-parameter Water Quality Meter
Lihat Produk★★★★★
Referensi
- Kayisi, L. A., & Ratu, P. (2025). SPESIFIKASI DAN INTERPRETASI DEMIN WATER PADA PROSES PRODUKSI GAS DI CPP GUNDIH. Action Research Literate, 9(10), 2195–2207. Retrieved from https://arl.ridwaninstitute.co.id/index.php/arl/article/download/3050/1477/9723
- Suhartono, J., Salsabilla, A., & Rosalina, D. (2024). PENGURANGAN KANDUNGAN TOTAL DISSOLVED SOLID (TDS), KONDUKTIVITAS DAN NATURAL ORGANIC MATTER (NOM) PADA AIR BAKU BENDUNGAN JATILUHUR MENGGUNAKAN KOMBINASI MEMBRAN DAN ION EXCHANGE. Jurnal Ilmiah Teknik Kimia, 8(2), 106–115. Retrieved from https://openjournal.unpam.ac.id/index.php/JITK/article/download/38730/20469/98408














