PCE-PH 228 pH meter untuk mengukur pH air rendah konduktivitas dengan elektroda laboratorium

Indikator PMV Hijau Belum Tentu Berarti Hasil pH di Air Rendah Konduktivitas Sudah Stabil

Daftar Isi

Pada pH meter berstandar GLP, indikator Permanent Measurement Verification (PMV) hanya memberi tahu satu hal: apakah nilai yang sedang terbaca berada di dalam rentang kalibrasi yang baru saja dilakukan. Bar berwarna itu tidak memberi tahu apakah angka tersebut sudah berhenti bergerak. Pada sampel dengan konduktivitas rendah—air hasil RO/DI, air umpan boiler, air demineralisasi, atau air ultra murni laboratorium—kedua hal itu bisa sangat berbeda. Layar bisa menunjukkan angka yang tampak masuk akal dengan bar PMV hijau, padahal di baliknya pembacaan masih hanyut pelan-pelan karena elektroda belum benar-benar setimbang dengan sampel, atau karena sampel sedang menyerap CO2 dari udara sekitar.

Penyebabnya bersifat elektrokimia, bukan sekadar soal “alat kurang bagus”. Pada larutan berkekuatan ion rendah, sinyal yang ditangkap elektroda kaca jauh lebih lemah dibanding saat elektroda berada dalam larutan buffer kalibrasi yang pekat. Akibatnya, potensial liquid junction pada elektroda referensi—yang selama kalibrasi diasumsikan konstan—tidak lagi bisa dianggap sama ketika elektroda dipindah ke sampel. Efek ini bukan sekadar teori: studi yang mengevaluasi bias ini pada air alami berkekuatan ion rendah mencatat bias rata-rata sekitar 0,043 pH, dengan ketidakpastian gabungan yang bisa membesar ke kisaran 0,10–0,14 pH pada rentang pH 3,5–7,5 (Kadis & Leito, 2010)—jauh lebih besar daripada akurasi ±0,002 pH yang biasa tercantum pada spesifikasi meter kelas laboratorium.

Implikasinya praktis: pada air rendah konduktivitas, kepercayaan terhadap sebuah pembacaan pH tidak bisa hanya bersandar pada indikator “dalam rentang kalibrasi”. Yang perlu diperiksa adalah tren dari waktu ke waktu—apakah angka benar-benar sudah datar, atau baru terlihat datar karena laju perubahannya melambat sesaat sebelum melanjutkan hanyutan. Di sinilah fitur logging pada meter GLP berperan lebih jauh dari sekadar arsip kepatuhan: rekaman interval pendek justru menjadi alat untuk memverifikasi kestabilan itu sendiri.

Daftar Isi

  • Kenapa Pengukuran pH di Air Rendah Konduktivitas Dianggap Bermasalah?
  • Apa yang Sebenarnya Diverifikasi oleh Indikator PMV?
  • Kenapa CO2 di Udara Bisa Mengubah pH Air yang Nyaris Tidak Berbufer?
  • Bagaimana Desain Elektroda Menentukan Kecepatan dan Kejujuran Respons?
  • Studi Kasus: Air Umpan Boiler dan Kenapa Kestabilan Bacaan Lebih Penting daripada Presisi Digit
  • Bagaimana Data Logger dengan Interval 1 Detik Membantu Memverifikasi Kestabilan?
  • Kesalahan Umum Saat Mengukur pH di Air Rendah Konduktivitas
  • PCE-PH 228LAB-LC-ICA: Elektroda Ionenarme dengan Pencatatan Data GLP
  • Kesimpulan
  • Pertanyaan yang Sering Diajukan
  • Referensi

Kenapa Pengukuran pH di Air Rendah Konduktivitas Dianggap Bermasalah?

Air dengan konduktivitas sangat rendah—hasil RO, deionisasi, demineralisasi, atau air ultra murni laboratorium—pada dasarnya adalah larutan dengan kapasitas buffer yang nyaris nol. Sedikit saja kontaminan ionik yang masuk, nilai pH-nya bisa bergeser signifikan. ASTM D5464, standar yang secara khusus mengatur pengukuran pH air berkonduktivitas 2–100 µS/cm, menyebut air murni menyerap gas CO2 dari atmosfer dengan cepat, dan penyerapan ini menurunkan pH sampel. Standar ini juga menjelaskan kenapa metode grab-sample (mengambil sampel ke wadah lalu diukur) lebih rentan terhadap kontaminasi dan galat akibat suhu dibanding metode flowing-sample (sampel dialirkan terus-menerus melewati sel ukur)—karena ada jeda waktu antara sampel diambil dari sistem dan saat benar-benar dibaca.

Konteks aplikasinya jelas: pengukuran pH air berkonduktivitas rendah paling sering dijumpai pada air proses pembangkit listrik dan kondensat uap untuk mencegah korosi dan kerak, serta pada sistem pengolahan air murni multi-tahap membran untuk mengoptimalkan kinerja. Area lain yang sama pentingnya mencakup pemantauan air hujan, air permukaan, dan air minum—semuanya sampel dengan kekuatan ion yang jauh berbeda dari larutan buffer kalibrasi standar (pH 4/7/10), yang justru sengaja diformulasikan pada kekuatan ion sedang (0,02–0,1 mol/kg) agar potensial liquid junction-nya kecil dan stabil. Begitu elektroda pindah dari buffer semacam itu ke sampel yang kekuatan ionnya berbeda dua orde besaran atau lebih, asumsi “potensial junction tidak berubah” mulai runtuh.

Detail teknis mengenai desain elektroda kaca untuk media ionenarme—termasuk kenapa diafragma klasik mudah tersumbat pada air semacam ini—sudah dibahas lebih dalam di artikel elektroda pH kaca untuk air rendah konduktivitas. Bagian berikut berfokus pada sisi yang sering terlewat: bagaimana meter itu sendiri—termasuk indikator dan fitur pencatatan datanya—bisa membantu atau justru menyembunyikan masalah stabilitas ini.

Apa yang Sebenarnya Diverifikasi oleh Indikator PMV?

PMV bekerja dengan membandingkan posisi nilai terukur terhadap rentang yang dibentuk oleh titik-titik kalibrasi sebelumnya (2, 3, 4, atau 5 titik), lalu menampilkannya sebagai bar berwarna. Fungsinya membantu operator mengetahui apakah pengukuran dilakukan di “zona yang benar”—misalnya bila kalibrasi dilakukan pada pH 4, 7, dan 10, PMV menunjukkan apakah sampel yang sedang diukur berada dalam rentang itu atau sudah keluar dari area yang tervalidasi kalibrasi.

Yang tidak dilakukan PMV adalah menilai stabilitas nilai terhadap waktu. Sebuah pembacaan bisa saja berada tepat di tengah rentang kalibrasi—sehingga PMV hijau—namun angka itu masih dalam proses menurun 0,01–0,02 pH per menit karena diafragma elektroda belum mencapai kesetimbangan difusi dengan sampel ionenarme, atau karena permukaan sampel yang terbuka mulai menyerap CO2. Dua kondisi ini kasat mata sama-sama “hijau”, tetapi hanya satu yang benar-benar mewakili nilai pH sampel yang sesungguhnya.

Ini bukan cacat desain PMV—fungsinya memang untuk mendeteksi ekstrapolasi di luar rentang kalibrasi, bukan mendeteksi drift kinetik. Konsekuensinya, pada sampel berkonduktivitas normal (larutan proses, air baku, sampel makanan cair) di mana waktu respons elektroda cepat, PMV hijau nyaris selalu berarti “aman dibaca”. Pada sampel ionenarme, PMV hijau perlu dilengkapi satu langkah lagi: memeriksa tren angka, bukan hanya nilai sesaatnya.

Kenapa CO2 di Udara Bisa Mengubah pH Air yang Nyaris Tidak Berbufer?

Air murni yang terbuka ke udara menyerap CO2 dan membentuk asam karbonat, yang menurunkan pH-nya secara bertahap. Efek ini kecil dan bisa diabaikan pada air dengan kapasitas buffer memadai, tetapi pada air dengan konduktivitas serendah beberapa µS/cm, penambahan ion H⁺ dari asam karbonat dalam jumlah sangat kecil pun sudah cukup mengubah pH secara terukur. Fenomena inilah yang mendasari kenapa elektroda kaca berimpedansi rendah direkomendasikan untuk air murni—desain ini mempercepat respons elektroda sehingga pembacaan sempat “menangkap” kondisi sampel sebelum kontaminasi CO2 sempat menggeser nilainya terlalu jauh.

Praktiknya, ini berarti wadah sampel yang terbuka lama, pengadukan berlebihan yang memperluas kontak dengan udara, atau menunda pembacaan setelah sampel diambil dari sistem tertutup, semuanya mempercepat pergeseran pH ke arah lebih asam. ASTM D5464 secara eksplisit mensyaratkan langkah-langkah untuk mencegah kontaminasi gas atmosfer dan mencegah komponen volatil sampel lepas ke udara—bukan sekadar anjuran umum, melainkan bagian dari metode ujinya sendiri.

Bagaimana Desain Elektroda Menentukan Kecepatan dan Kejujuran Respons?

Waktu respons elektroda kaca berbanding lurus dengan kekuatan ion sampel: makin rendah konduktivitas, makin lambat elektroda mencapai kesetimbangan potensial dengan larutan. Riset elektroanalitik mencatat bahwa desain liquid junction turut menentukan besarnya galat—pada larutan buffer pH 7, ketidakpastian pengukuran (k=2) bisa membesar dari sekitar 0,02 pH pada elektroda dengan junction kapiler menjadi sekitar 0,09 pH pada elektroda dengan junction keramik (Kadis & Leito, 2010). Semakin jauh kekuatan ion sampel dari larutan kalibrasi, semakin besar pula potensi galat ini muncul.

Karena itu, ASTM membedakan dua pendekatan pengukuran untuk air rendah konduktivitas, dengan preferensi yang jelas:

AspekFlowing Sample (ASTM D5128)Static Grab-Sample (ASTM D5464)
Cara pengambilan sampelSampel mengalir langsung dari sistem ke sel ukur secara real-timeSampel diambil ke wadah, dibawa ke titik pengukuran, baru dibaca
Risiko kontaminasi atmosferRendah—minim kontak dengan udara terbukaLebih tinggi—ada jeda waktu dan kontak udara saat pemindahan sampel
Batas konduktivitas berlakuTidak dibatasi ketat seperti metode grab-sampleBerlaku untuk konduktivitas serendah 2,0 µS/cm
Kapan dipilihBila tata letak plant dan peralatan memungkinkan pengukuran real-timeBila pengukuran real-time tidak praktis dilakukan

Untuk instrumen genggam atau meja seperti pH meter laboratorium, pengukuran pada dasarnya selalu mengikuti pola grab-sample—sampel dipindahkan ke wadah atau langsung dicelup elektroda. Konsekuensinya, teknisi perlu mengompensasi keterbatasan metode ini dengan cara lain: meminimalkan waktu sampel terbuka ke udara, mencelup elektroda secepat mungkin setelah sampel diambil, dan yang terpenting, memverifikasi bahwa angka benar-benar berhenti bergerak sebelum dicatat sebagai hasil akhir.

Studi Kasus: Air Umpan Boiler dan Kenapa Kestabilan Bacaan Lebih Penting daripada Presisi Digit

Air umpan boiler adalah salah satu contoh paling nyata kenapa isu ini bukan sekadar perdebatan akademis. Pada penelitian di sebuah pembangkit anak perusahaan PLN di Sumatera Utara, air laut diproses melalui pretreatment, desalinasi, demineralisasi, dan deaerasi sebelum menjadi air umpan boiler—rangkaian proses yang hasil akhirnya adalah air dengan konduktivitas sangat rendah. Standar pabrik menetapkan pH air umpan harus berada pada rentang sempit 9,2–9,6 untuk menekan laju korosi pipa dan boiler; di luar rentang itu, korosi bisa terjadi lebih cepat. Untuk mencapai target tersebut, injeksi amonia dilakukan dengan laju sekitar 0,0843 kg/jam, dan penelitian mencatat bahwa semakin tinggi frekuensi bukaan pompa injeksi, kenaikan pH yang dihasilkan justru semakin menurun—menunjukkan betapa sensitifnya sistem ini terhadap perubahan kecil (Simatupang & Ramadhani, 2021).

Bayangkan skenario ini: operator mengukur pH air umpan segera setelah sampel diambil dari jalur proses. Bar PMV hijau muncul dalam beberapa detik pada angka 9,3—tampak sesuai target. Namun bila elektroda belum benar-benar setimbang dengan sampel berkonduktivitas sangat rendah tersebut, angka itu bisa jadi masih dalam perjalanan menuju nilai sebenarnya, katakanlah 9,1, yang sudah berada di luar rentang aman. Karena rentang toleransi hanya 0,4 unit pH, kekeliruan sekecil ini cukup untuk membuat keputusan dosis amonia berikutnya keliru—entah kelebihan atau kekurangan—yang berdampak langsung pada laju korosi jangka panjang di pipa dan boiler. Ini persis jenis situasi yang oleh literatur elektroanalitik disebut sebagai salah satu area penting penerapan pengukuran pH air berkekuatan ion rendah, berdampingan dengan pemantauan air hujan dan air minum.

Bagaimana Data Logger dengan Interval 1 Detik Membantu Memverifikasi Kestabilan?

Di sinilah kapasitas logging pada meter GLP berperan lebih jauh dari sekadar dokumentasi audit. Rekaman dengan interval sesingkat 1 detik memungkinkan operator memplot tren nilai selama 30–60 detik terakhir sebelum mencatat hasil akhir—bukan hanya melihat angka sesaat di layar. Bila tren menunjukkan garis yang benar-benar datar, itu tanda kuat bahwa elektroda sudah setimbang dan sampel belum terkontaminasi berarti. Bila tren masih menunjukkan penurunan (atau kenaikan) konsisten meski kecil, itu sinyal bahwa nilai belum boleh dianggap final, terlepas dari status PMV.

Pendekatan ini juga berguna untuk kebutuhan yang berbeda: mendiagnosis kondisi elektroda itu sendiri. Elektroda yang responsnya melambat drastis di air ionenarme—dibanding riwayat pemakaian sebelumnya pada sampel yang sama—biasanya mengindikasikan diafragma mulai tersumbat atau elektrolit referensi mulai habis, dan perlu dibersihkan atau diisi ulang. Tanpa data historis dari logger, gejala ini mudah disalahartikan sebagai “sampelnya memang lambat stabil”, padahal sumber masalahnya ada pada elektroda. Prinsip dasar kalibrasi dan interpretasi slope elektroda yang mendukung diagnosis semacam ini dibahas lebih rinci pada panduan kalibrasi pH meter.

Kesalahan Umum Saat Mengukur pH di Air Rendah Konduktivitas

  • Mencatat angka begitu PMV hijau muncul. Tanpa memeriksa tren beberapa detik terakhir, teknisi berisiko mencatat nilai yang masih dalam proses drift.
  • Membiarkan sampel terbuka terlalu lama sebelum diukur. Makin lama kontak dengan udara, makin besar peluang CO2 terserap dan menggeser pH ke arah asam.
  • Mengaduk sampel secara berlebihan saat pengukuran. Pengadukan memperluas permukaan kontak dengan udara, mempercepat kontaminasi atmosfer alih-alih mempercepat kestabilan.
  • Menggunakan elektroda dengan diafragma yang sudah tersumbat. Diafragma yang alirannya tersendat memperlambat respons dan bisa menghasilkan bias yang konsisten ke satu arah.
  • Menyamakan protokol pengukuran air proses biasa dengan air ionenarme. Waktu tunggu yang cukup untuk air keran atau larutan buffer belum tentu cukup untuk air RO/DI atau air umpan boiler.
  • Tidak membandingkan hasil dengan riwayat pengukuran pada titik sampel yang sama. Perubahan mendadak pada waktu stabilisasi sering jadi indikator dini bahwa elektroda perlu perawatan.

PCE-PH 228LAB-LC-ICA: Elektroda Ionenarme dengan Pencatatan Data GLP

Untuk kebutuhan pengukuran pH pada air berkonduktivitas rendah yang sekaligus menuntut dokumentasi tertelusur, Environmental Meter PCE-PH 228LAB-LC-ICA menggabungkan dua elemen yang dibahas di atas dalam satu paket: elektroda yang memang dirancang untuk media ionenarme, dan sistem pencatatan data yang cukup rapat untuk memverifikasi kestabilan sebelum nilai dianggap final.

Elektroda bawaannya, PCE-PH-LAB-LC, punya rentang ukur 0–14 pH dengan rentang suhu kerja 0–60 °C, memakai elektrolit referensi Ag/AgCl dengan sistem penukar ion, dan bersifat dapat diisi ulang dengan diafragma yang bisa dibersihkan—cocok untuk sampel dengan konduktivitas sangat rendah atau kontaminasi berat (misalnya residu cat) yang berpotensi menyumbat diafragma konvensional. Meternya sendiri mencatat pH pada rentang -2 hingga +20 pH dengan resolusi 0,001 pH dan akurasi ±0,002 pH + 2 digit; untuk redoks, rentang ukurnya -2000 hingga +2000 mV dengan akurasi ±2 mV (memakai elektroda opsional), dan untuk suhu memakai sensor Pt1000 pada rentang -20 hingga +100 °C dengan akurasi ±0,5 °C pada 20 °C.

ParameterSpesifikasi
Rentang pH-2 … +20 pH, resolusi 0,001 pH, akurasi ±0,002 pH + 2 digit
Elektroda pH (PCE-PH-LAB-LC)0–14 pH, suhu kerja 0–60 °C, elektrolit Ag/AgCl + penukar ion, diafragma dapat dibersihkan & diisi ulang, panjang batang 120 mm, diameter 12 mm
Redoks (ORP)-2000 … +2000 mV, resolusi 1 mV, akurasi ±2 mV (elektroda opsional)
Sensor suhuPt1000, -20 … +100 °C, resolusi 0,1 °C, akurasi ±0,5 °C @20 °C
Kalibrasi2, 3, 4, atau 5 titik, dengan pengingat kalibrasi dan indikator PMV
Data loggerMemori internal 32 GB; hingga 100 rekaman, masing-masing hingga 100.000 titik data; interval pencatatan 1 detik–12 jam
KonektivitasUSB-C untuk transfer data dan pengisian daya
BateraiLiPo internal 3,7 V, 2500 mAh
Proteksi & dimensiIP52; 178 x 85 x 32 mm; 252 gram

Kombinasi ini menjawab dua sisi masalah sekaligus. Elektroda ionenarme mengurangi sumber galat dari sisi hardware—diafragma yang tidak mudah tersumbat berarti waktu respons yang lebih konsisten dari satu pengukuran ke pengukuran berikutnya. Sementara itu, interval logging hingga 1 detik memberi operator alat untuk memeriksa tren, bukan sekadar nilai sesaat, sebelum sebuah pembacaan dicatat sebagai hasil resmi—baik untuk kebutuhan laporan harian di WTP/WWTP, validasi proses farmasi, maupun riset di teaching lab. Fitur manajemen pengguna dan sampel dengan proteksi kata sandi, serta sertifikat kalibrasi ISO yang sudah termasuk dalam paket, melengkapi kebutuhan dokumentasi tanpa mengharuskan pengiriman alat ke laboratorium kalibrasi eksternal terlebih dahulu sebelum digunakan.

Perlu dicatat, dengan test current dan desain elektrokimia yang mengikuti prinsip elektroda kaca konvensional, instrumen ini paling relevan untuk sampel cair dalam rentang suhu kerja elektroda 0–60 °C; untuk sampel bersuhu jauh lebih tinggi atau matriks semi-padat seperti lumpur, jenis elektroda lain dalam keluarga 228LAB lebih sesuai. Bagi laboratorium yang sudah memiliki rutinitas kalibrasi dan perawatan elektroda pH, penyesuaian utama saat beralih ke sampel ionenarme hanyalah menambah satu kebiasaan: menunggu tren logger benar-benar datar, bukan berhenti begitu PMV berubah hijau. Panduan umum perawatan dan jenis-jenis pH meter untuk berbagai kebutuhan laboratorium bisa dilihat lebih lanjut di panduan lengkap pH meter.

Kesimpulan

Indikator PMV pada pH meter GLP menjawab pertanyaan “apakah nilai ini berada dalam rentang kalibrasi”, bukan pertanyaan “apakah nilai ini sudah berhenti berubah”. Pada air berkonduktivitas normal, dua pertanyaan itu hampir selalu sejalan. Pada air rendah konduktivitas, keduanya bisa bercerai—dan justru di titik itulah kesalahan pengukuran paling sering lolos tanpa disadari.

Sumber ketidakstabilan terbesar pada sampel semacam ini bukan berasal dari akurasi meter, melainkan dari dua hal yang terjadi selama proses pengukuran berlangsung: waktu yang dibutuhkan elektroda untuk benar-benar setimbang dengan sampel berkekuatan ion rendah, dan laju kontaminasi CO2 atmosfer yang berjalan sejak sampel pertama kali terbuka ke udara. Data logger dengan interval pencatatan rapat bukan sekadar bukti kepatuhan GLP untuk keperluan audit—ia adalah alat diagnostik untuk membedakan pembacaan yang benar-benar stabil dari pembacaan yang hanya terlihat stabil sesaat.

Bagi operator yang menangani air RO/DI, air umpan boiler, air demineralisasi, atau sampel ionenarme lainnya, kebiasaan yang perlu dibangun sederhana: jangan berhenti pada bar hijau, periksa dulu trennya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apa itu PMV pada pH meter dan apa fungsinya?
PMV (Permanent Measurement Verification) adalah indikator berupa bar berwarna yang menunjukkan posisi nilai terukur relatif terhadap rentang kalibrasi yang sudah dilakukan. Fungsinya membantu operator mengenali apakah pengukuran masih berada dalam area yang tervalidasi kalibrasi.

2. Kenapa air dengan konduktivitas rendah sulit diukur pH-nya secara stabil?
Karena kapasitas buffernya sangat kecil, sedikit kontaminasi ionik atau paparan CO2 atmosfer sudah cukup menggeser nilai pH secara terukur, sementara elektroda kaca juga butuh waktu lebih lama untuk mencapai kesetimbangan potensial dengan sampel berkekuatan ion rendah.

3. Berapa batas konduktivitas yang dianggap “rendah” untuk pengukuran pH?
ASTM D5464 mendefinisikan air rendah konduktivitas pada rentang 2–100 µS/cm. Di bawah nilai ini, pengukuran pH memerlukan perhatian ekstra terhadap kontaminasi atmosfer dan desain elektroda.

4. Apakah PCE-PH 228LAB-LC-ICA bisa dipakai untuk air proses biasa, bukan hanya air murni?
Bisa. Elektroda PCE-PH-LAB-LC bekerja pada rentang 0–14 pH untuk sampel cair pada umumnya; keunggulannya terutama terasa pada sampel ionenarme yang biasanya menyulitkan elektroda standar.

5. Kenapa harus menunggu lebih lama saat mengukur pH di air RO/DI dibanding air keran biasa?
Karena sinyal elektrokimia yang ditangkap elektroda jauh lebih lemah pada air berkekuatan ion rendah, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kesetimbangan potensial lebih panjang dibanding pada air dengan mineral terlarut yang lebih banyak.

6. Apa bedanya metode grab-sample dan flowing-sample untuk air rendah konduktivitas?
Flowing-sample mengalirkan sampel langsung ke sel ukur secara real-time sehingga meminimalkan kontak dengan udara, sementara grab-sample mengambil sampel ke wadah terlebih dahulu sehingga lebih rentan terhadap kontaminasi atmosfer dan galat suhu akibat jeda waktu.

7. Bagaimana cara mengetahui elektroda PCE-PH-LAB-LC perlu dibersihkan atau diisi ulang?
Tanda paling umum adalah waktu stabilisasi yang jadi jauh lebih lama dibanding riwayat pemakaian sebelumnya pada sampel yang sama, atau slope kalibrasi yang mulai menurun signifikan dari kondisi elektroda baru.

8. Apakah data logger pada meter ini bisa membantu proses audit GLP?
Bisa. Kapasitas memori 32 GB dengan hingga 100 rekaman dan interval pencatatan sesingkat 1 detik memungkinkan penelusuran riwayat pengukuran secara rinci, sekaligus memberi bukti bahwa nilai yang dilaporkan sudah melalui verifikasi kestabilan, bukan sekadar pembacaan sesaat.

Rekomendasi Environmental Meter Unggulan untuk Kebutuhan Anda

Referensi

  1. ASTM International. D5464 – Standard Test Method for pH Measurement of Water of Low Conductivity. https://www.astm.org/standards/d5464.htm
  2. Kadis, R., & Leito, I. (2010). Evaluation of the residual liquid junction potential contribution to the uncertainty in pH measurement: A case study on low ionic strength natural waters. Analytica Chimica Acta, 664(2), 129–135. https://doi.org/10.1016/j.aca.2010.02.007
  3. Simatupang, D. F., & Ramadhani, R. (2021). Penentuan Kebutuhan Injeksi Ammonia untuk Meningkatkan pH pada Air Umpan Boiler: Studi Kasus di PT. XYZ Sumatera Utara. Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia. https://doi.org/10.52436/1.jpti.42
  4. Yokogawa Electric Corporation. Understanding Ultrapure Water and the Difficulties with pH Measurement. https://www.yokogawa.com/us/library/resources/white-papers/understanding-ultrapure-water-and-the-difficulties-with-ph-measurement/

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.