Angka rendah di layar EMF meter sering langsung diterjemahkan sebagai “aman”. Padahal, satu pembacaan pada satu titik hanya menceritakan kondisi medan elektromagnetik tepat di titik dan waktu itu saja. Beberapa sentimeter dari sumbernya, nilai yang sama bisa berbeda puluhan kali lipat. Jenis medan yang tertangkap — magnetik atau listrik — juga menentukan apakah angka tersebut relevan dengan sumber risiko yang sebenarnya ingin diperiksa. Ditambah lagi, nilai ambang batas yang dijadikan pembanding ternyata tidak tunggal: berbeda populasi (pekerja atau masyarakat umum) dan berbeda frekuensi sumber, berbeda pula angka acuannya.
Bagi teknisi K3, HSE officer, maupun peneliti yang menangani pemeriksaan instalasi listrik, transformator, atau peralatan bermotor, pemahaman ini penting agar hasil pengukuran tidak disalahartikan — baik terlalu menenangkan maupun terlalu mengkhawatirkan. Artikel ini membahas apa yang sebenarnya menentukan validitas sebuah pembacaan medan elektromagnetik, dengan bukti dari data pengukuran nyata di lapangan.
- Mengapa jarak pengukuran bisa membuat hasil EMF berubah drastis?
- Apa sebenarnya yang diukur EMF meter — medan magnet atau medan listrik?
- Berapa nilai ambang batas medan magnet yang berlaku, dan kenapa jawabannya tidak tunggal?
- Kenapa kipas angin dan peralatan bermotor bisa menghasilkan medan magnet yang signifikan?
- Kenapa area yang terlihat berisiko justru bisa terukur rendah?
- Bagaimana prosedur pengukuran EMF yang representatif?
- Apa kesalahan umum saat mengukur medan elektromagnetik?
- Instrumen apa yang sesuai untuk mengukur medan magnet ELF?
- Kesimpulan
- FAQ
- Referensi
Mengapa Jarak Pengukuran Bisa Membuat Hasil EMF Berubah Drastis?
Medan magnet dari sumber berarus listrik meluruh sangat cepat seiring bertambahnya jarak. Sifat ini membuat posisi probe saat pengukuran menjadi variabel yang jauh lebih menentukan hasil dibandingkan jenis alat yang dipakai.
Penelitian di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas PGRI Palembang memberi gambaran konkret soal ini. Tim peneliti mengukur kuat medan listrik dan medan magnet dari sejumlah peralatan elektronik — komputer, TV, CPU, printer, kipas angin, dan dispenser — pada dua jarak, yaitu menempel langsung (0 cm) dan pada jarak 15 cm yang dianggap mewakili jarak normal pengguna terhadap alat. Hasilnya, salah satu unit komputer yang diuji tercatat memancarkan medan magnet hingga 677 µT ketika probe menempel langsung, namun begitu jarak diperbesar menjadi 15 cm, angka itu turun menjadi 0 µT. Pola serupa terjadi pada kipas angin, yang tercatat 166–219 µT pada jarak 0 cm dan juga jatuh ke 0 µT pada 15 cm.
Yang menarik, pola ini tidak berlaku sama untuk semua sumber. TV justru menjadi satu-satunya alat dalam penelitian tersebut yang masih menyisakan medan magnet terukur (10,24–17,03 µT) bahkan pada jarak 15 cm. Artinya, kecepatan peluruhan medan terhadap jarak berbeda-beda tergantung konstruksi internal sumbernya, bukan mengikuti satu kurva yang sama untuk semua peralatan.
Implikasinya bagi siapa pun yang melakukan pengukuran: sebuah angka EMF tanpa keterangan jarak pengukuran pada dasarnya tidak bisa dibandingkan dengan angka lain, termasuk dengan nilai ambang batas sekalipun. Dua laporan yang menyebut “medan magnet terukur 5 µT” bisa menggambarkan kondisi yang sangat berbeda jika satu diambil menempel ke casing dan satu lagi diambil dari jarak satu meter.
Apa Sebenarnya yang Diukur EMF Meter — Medan Magnet atau Medan Listrik?
Istilah “EMF meter” sering dipakai secara umum, padahal alat-alat di bawah label ini bisa mengukur besaran yang sangat berbeda. Gelombang elektromagnetik pada dasarnya tersusun dari dua komponen: medan listrik (diukur dalam V/m) dan medan magnet (diukur dalam µT atau mG). Sebagian instrumen genggam yang beredar di pasaran — termasuk kategori gauss meter seperti PCE-G28 — dirancang khusus untuk menangkap komponen medan magnet pada rentang frekuensi extremely low frequency (ELF), bukan medan listrik, dan bukan pula frekuensi radio (RF) yang jauh lebih tinggi seperti sinyal WiFi atau seluler.
Perbedaan ini penting karena rentang frekuensi yang mampu ditangkap sebuah alat menentukan sumber apa saja yang relevan diperiksa dengannya. Instrumen dengan rentang frekuensi 30–300 Hz, misalnya, secara spesifik mencakup frekuensi jala-jala listrik PLN (50 Hz) beserta harmonik rendahnya — cocok untuk memeriksa panel, motor, trafo, dan instalasi kelistrikan, tetapi tidak dirancang untuk mengevaluasi paparan dari pemancar radio, jaringan seluler, atau access point WiFi yang bekerja pada rentang megahertz hingga gigahertz. Rangka acuan pengukuran ini sejalan dengan standar IEC 61786-1, yang secara khusus mengatur persyaratan instrumen untuk mengukur medan magnet dan medan listrik pada rentang 1 Hz sampai 100 kHz terkait paparan pada manusia.
Perlu dibedakan pula antara medan magnet statis (DC) dan medan magnet yang berubah terhadap waktu (AC/time-varying). Medan magnet sisa pada logam ferromagnetik akibat proses pengelasan atau clamping magnetis — seperti yang dibahas pada pengukuran magnet sisa pada komponen kendaraan — tergolong medan statis dan memerlukan instrumen berbeda dari yang dipakai untuk memantau medan magnet bolak-balik hasil arus listrik AC. Sebuah pembacaan rendah dari instrumen ELF karena itu hanya bisa disimpulkan sebagai “medan magnet frekuensi daya di titik tersebut rendah” — bukan sebagai kesimpulan umum bahwa lokasi itu bebas dari seluruh jenis paparan elektromagnetik.
Berapa Nilai Ambang Batas Medan Magnet yang Berlaku, dan Kenapa Jawabannya Tidak Tunggal?
Tidak ada satu angka universal yang bisa dipakai sebagai batas “aman” untuk seluruh situasi. Nilai ambang batas medan magnet bergantung pada frekuensi sumber, bagian tubuh yang terpapar, dan apakah yang dievaluasi adalah pekerja (occupational) atau masyarakat umum (public).
Sebagai acuan internasional, pedoman dari International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection tahun 2010 menetapkan reference level untuk paparan pada frekuensi 50 Hz sebesar 200 µT untuk medan magnet dan 5 kV/m untuk medan listrik pada populasi umum, sementara untuk pekerja di lingkungan terkendali nilainya naik menjadi 1.000 µT dan 10 kV/m.
Di Indonesia, Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja mengatur nilai ambang batas medan magnet yang berbeda-beda menurut bagian tubuh dan rentang frekuensi, sebagaimana dirangkum pada tabel berikut.
| Bagian Tubuh | Nilai Ambang Batas (TWA) | Rentang Frekuensi |
|---|---|---|
| Seluruh tubuh | 60/f mT | 1 – 300 Hz |
| Lengan dan paha | 300/f mT | 1 – 300 Hz |
| Tangan dan kaki | 600/f mT | 1 – 300 Hz |
| Anggota tubuh dan seluruh tubuh | 0,2 mT | 300 Hz – 30 kHz |
Keterangan: f adalah frekuensi dalam Hz. Formula ini berarti nilai ambang batas justru menurun seiring naiknya frekuensi. Pada 30 Hz, batas untuk seluruh tubuh mencapai 2.000 µT, sedangkan pada 300 Hz turun menjadi 200 µT — rentang yang persis mencakup frekuensi kerja alat ukur ELF pada umumnya. Ini menunjukkan bahwa dua pembacaan dengan angka mentah yang sama pada instrumen yang sama pun bisa berstatus berbeda tergantung frekuensi dominan sumbernya.
Perbandingan sederhana: bila dihitung pada 50 Hz, batas Permenaker untuk seluruh tubuh berada di kisaran 1.200 µT — angka ini berada pada orde besaran yang sama dengan reference level occupational ICNIRP (1.000 µT), meski tidak identik. Selisih semacam ini wajar terjadi karena kedua kerangka regulasi memiliki dasar penurunan rumus dan faktor keselamatan yang berbeda. Konsekuensinya, menyebut suatu hasil pengukuran “di bawah ambang batas” tanpa menyebutkan acuan mana yang dipakai sebenarnya adalah pernyataan yang belum lengkap. Prinsip ini sejalan dengan yang berlaku pada pengukuran getaran di lingkungan kerja, di mana tingkat bahaya juga tidak bisa disimpulkan hanya dari satu angka tanpa mempertimbangkan frekuensi dan durasi paparan.
Kenapa Kipas Angin dan Peralatan Bermotor Bisa Menghasilkan Medan Magnet yang Signifikan?
Intuisi umum sering mengasosiasikan risiko medan elektromagnetik dengan peralatan “elektronik canggih” seperti komputer atau televisi. Data lapangan justru menunjukkan pola yang lebih rumit. Pada penelitian di Universitas PGRI Palembang yang dikutip sebelumnya, kipas angin tercatat menghasilkan medan magnet 166–219 µT pada jarak 0 cm — lebih tinggi dibanding mayoritas unit komputer, CPU, printer, maupun dispenser yang diuji dalam penelitian yang sama.
Penjelasannya terletak pada konstruksi internal. Motor penggerak kipas angin memakai kumparan berbentuk toroida yang dialiri arus untuk menghasilkan gaya putar. Besarnya medan magnet yang dihasilkan kumparan semacam ini dipengaruhi oleh jumlah lilitan, besar arus, jari-jari toroida, dan permeabilitas bahan intinya — parameter yang umumnya tidak dimiliki oleh rangkaian elektronik non-motor seperti printer atau CPU biasa. Prinsip yang sama berlaku pada motor listrik, pompa, dan peralatan bermotor lain di lingkungan industri, yang menjadi salah satu alasan mengapa pemeriksaan medan magnet sering diarahkan pada motor dan trafo, bukan sekadar perangkat elektronik pada umumnya.
Namun, satu unit komputer dalam penelitian yang sama justru tercatat sebagai sumber tertinggi secara keseluruhan (606–677 µT pada 0 cm) — kemungkinan besar karena trafo internal atau komponen catu daya yang terletak dekat dengan titik pengukuran. Ini menegaskan bahwa kategori “jenis alat” saja tidak cukup untuk memprediksi besar medan magnet suatu sumber; posisi komponen pembangkit medan di dalam alat, dan seberapa dekat probe diletakkan terhadap komponen tersebut, sama-sama menentukan hasil.
Kenapa Area yang Terlihat Berisiko Justru Bisa Terukur Rendah?
Jika kesalahan pertama adalah menyimpulkan “aman” dari satu titik bacaan rendah, kesalahan sebaliknya juga sama seringnya terjadi: menganggap suatu area otomatis berisiko tinggi hanya karena tampak berbahaya secara visual, seperti gardu induk atau ruang trafo.
Studi pemetaan distribusi medan magnet di sekitar Gardu Induk PT PLN (Persero) P3B Sumatra, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung, mengukur medan magnet pada berbagai titik pemantauan dan pada waktu berbeda — pagi, siang, dan saat beban puncak malam hari. Hasilnya, nilai medan magnet tertinggi yang tercatat pada malam hari (kondisi beban puncak) hanya mencapai 10,71 µT untuk komponen arus searah dan 3,42 µT untuk komponen arus bolak-balik — jauh di bawah nilai baku mutu medan magnet yang mereka jadikan acuan pembanding, yang berkisar antara 1.000 hingga 5.000 µT tergantung sumber referensi yang digunakan.
Temuan ini konsisten dengan kajian di tingkat Eropa yang merangkum berbagai studi eksposimetri: rata-rata medan magnet ELF di area publik perkotaan umumnya berada pada kisaran 0,05–0,2 µT, dan nilai yang lebih tinggi (orde beberapa µT) baru muncul tepat di bawah saluran udara tegangan tinggi, di dinding bangunan trafo, atau di pagar batas gardu induk — bukan pada jarak yang biasa dilalui masyarakat umum sehari-hari.
Poin pentingnya bukan berarti gardu induk dan trafo tidak perlu dipantau — justru sebaliknya, pemantauan berkala tetap diperlukan justru karena persepsi visual tidak bisa dijadikan pengganti data. Ketakutan tanpa pengukuran menghasilkan kesimpulan yang sama tidak akuratnya dengan keyakinan berlebihan dari satu bacaan rendah tanpa konteks. Keduanya sama-sama diselesaikan dengan cara yang sama: mengukur dengan metode yang benar, bukan menebak dari tampilan fisik sumbernya.
Bagaimana Prosedur Pengukuran EMF yang Representatif?
Mengacu pada prinsip yang diatur dalam standar IEC 61786-1 serta praktik pada studi-studi di atas, ada beberapa langkah yang membuat hasil pengukuran medan magnet lebih dapat diandalkan dan dibandingkan dari waktu ke waktu:
- Identifikasi seluruh sumber potensial di area yang diperiksa — panel listrik, motor, trafo, jalur kabel bertegangan tinggi — sebelum menentukan titik ukur.
- Tetapkan titik ukur yang konsisten dan relevan dengan skenario paparan sebenarnya, misalnya posisi kerja normal operator, bukan menempelkan probe langsung ke casing kecuali tujuannya memang memeriksa kebocoran medan dari dalam selungkup.
- Catat jarak pengukuran secara eksplisit setiap kali data direkam, karena tanpa keterangan ini angka tidak bisa dibandingkan dengan hasil lain maupun dengan nilai ambang batas.
- Gunakan sensor multi-sumbu, atau bila menggunakan probe satu sumbu, lakukan rotasi ke tiga arah untuk menemukan nilai resultan maksimum, bukan hanya nilai pada satu orientasi saja.
- Lakukan pengukuran pada kondisi beban operasional normal, dan ulangi pada waktu berbeda bila beban listrik pada instalasi diketahui bervariasi sepanjang hari.
- Bandingkan hasil dengan nilai ambang batas yang sesuai dengan frekuensi sumber dan status populasi yang terpapar — pekerja atau masyarakat umum.
- Dokumentasikan seluruh kondisi pengukuran (waktu, jarak, orientasi, beban) sehingga data dapat dijadikan baseline untuk pemantauan berikutnya.
Apa Kesalahan Umum saat Mengukur Medan Elektromagnetik?
Beberapa kesalahan berikut relatif sering terjadi di lapangan dan secara langsung memengaruhi validitas hasil:
- Mengukur pada satu titik saja tanpa mencatat jarak, sehingga hasil tidak dapat direplikasi atau dibandingkan.
- Tidak merotasi probe untuk menemukan orientasi dengan pembacaan tertinggi, terutama bila memakai sensor satu sumbu.
- Membandingkan hasil dengan nilai ambang batas yang salah — misalnya memakai acuan populasi umum untuk mengevaluasi paparan pekerja, atau sebaliknya.
- Mengabaikan variasi beban listrik pada instalasi, padahal medan magnet dari peralatan berarus tinggi umumnya berubah mengikuti besar beban operasional.
- Menyimpulkan keamanan terhadap seluruh spektrum elektromagnetik hanya dari satu instrumen yang sebenarnya hanya mencakup rentang frekuensi ELF, tanpa mempertimbangkan bahwa sumber RF memerlukan instrumen berbeda.
- Menganggap penampilan fisik sumber (misalnya ukuran trafo atau kedekatan dengan gardu) sebagai indikator langsung tingkat paparan, tanpa validasi data pengukuran.
Instrumen yang Sesuai untuk Mengukur Medan Magnet ELF pada Instalasi dan Peralatan Listrik
Untuk kebutuhan memantau komponen medan magnet pada rentang frekuensi daya — baik untuk pemeriksaan rutin instalasi, evaluasi motor dan trafo, maupun dokumentasi kepatuhan K3 — Electromagnetic Field (EMF) Meter PCE-G28 dirancang khusus untuk kebutuhan tersebut.
Instrumen ini bekerja pada rentang frekuensi 30 hingga 300 Hz — mencakup persis frekuensi jala-jala listrik beserta harmonik rendahnya — sehingga paling relevan digunakan untuk objek pengujian yang memang beroperasi pada rentang tersebut, seperti trafo, panel, motor listrik, saluran kabel, dan monitor komputer. Sensor eksternal 3-sumbu (X, Y, Z) yang disertakan memungkinkan penangkapan medan dari berbagai arah sekaligus, mengurangi kebutuhan merotasi probe secara manual untuk menemukan nilai maksimum seperti yang dibahas pada bagian prosedur di atas.
| Parameter | Spesifikasi |
|---|---|
| Measurement range | 0–20 / 0–200 / 0–2000 µT 0–200 / 0–2000 / 0–20000 mG |
| Resolution | 0,01 / 0,1 / 1 µT 0,1 / 1 / 10 mG |
| Accuracy | ±4% + 3 digit (range 20 µT / 200 mG) ±5% + 3 digit (range 200 µT / 2000 mG) ±10% + 5 digit (range 2000 µT / 20000 mG) |
| Frequency | 30 – 300 Hz |
| Sampling rate | ± 0,4 detik |
| Display | LCD 3,5 digit |
| Power | Baterai 9V |
| Dimensi | Meter: 200 x 68 x 30 mm Sensor: 225 x 75 x 55 mm |
| Berat | 470 g (termasuk baterai) |
Spesifikasi akurasi di atas berlaku pada kondisi pengukuran 50–60 Hz dengan asumsi interferensi frekuensi radio di bawah 3 V/m — sejalan dengan fokus instrumen ini pada komponen medan magnet frekuensi daya, bukan medan RF. Fitur data hold memudahkan pencatatan nilai puncak saat probe digerakkan menyusuri permukaan panel atau selungkup peralatan, sementara kemampuannya mendeteksi medan magnet menembus casing dan penutup memungkinkan pemeriksaan tanpa perlu membongkar komponen — relevan untuk inspeksi trafo atau motor yang tertutup rumah pelindung. PCE-G28 dirancang memenuhi standar IEC 801-1 (EN 50081-1) dan IEC 204 (EN 60204).
Paket pembelian PCE-G28 sudah mencakup unit utama, sensor eksternal 3-sumbu, baterai 9V, hardcase pelindung, dan buku manual. Bagi tim HSE atau teknisi yang perlu mendokumentasikan tingkat medan magnet di titik-titik instalasi secara rutin — sejalan dengan kebutuhan yang sama pada inventarisasi alat ukur kontrol K3 lingkungan kerja — detail lebih lengkap mengenai PCE-G28 dapat dilihat pada halaman produknya di alat-test.com.
Kesimpulan
Nilai pengukuran adalah data mentah. Kondisi keamanan suatu area ditentukan melalui interpretasi data tersebut dalam konteks yang tepat — jarak dari sumber, jenis medan yang tertangkap, rentang frekuensi instrumen, dan nilai ambang batas mana yang relevan dijadikan pembanding.
Data dari lapangan menunjukkan bahwa intuisi visual sering menyesatkan ke dua arah sekaligus: peralatan rumah tangga yang tampak biasa saja, seperti kipas angin atau unit komputer tertentu, bisa menghasilkan medan magnet yang cukup tinggi pada jarak dekat, sementara instalasi besar yang tampak mengintimidasi seperti gardu induk kerap terukur jauh di bawah nilai ambang batas begitu diukur dengan metode yang benar dan pada jarak yang representatif.
Bagi teknisi, HSE officer, maupun peneliti, konsekuensi praktisnya adalah disiplin dalam mencatat kondisi pengukuran — bukan sekadar mencatat angka. Jarak, orientasi sensor, waktu, dan beban operasional sama pentingnya dengan pembacaan itu sendiri.
Satu angka pada layar tidak pernah menceritakan keseluruhan kondisi suatu ruangan. Yang menceritakannya adalah rangkaian pengukuran yang dilakukan dengan metode yang konsisten dan dibandingkan dengan acuan yang tepat.
FAQ
Apakah medan elektromagnetik dari peralatan rumah tangga berbahaya bagi kesehatan?
Tingkat medan magnet dari kebanyakan peralatan rumah tangga pada jarak penggunaan normal umumnya berada jauh di bawah nilai ambang batas yang berlaku, baik acuan ICNIRP maupun Permenaker No. 5/2018. Nilai yang perlu diwaspadai biasanya hanya muncul pada jarak sangat dekat (menempel) dan dalam durasi terus-menerus, bukan pada jarak penggunaan sehari-hari.
Berapa jarak aman dari sumber medan elektromagnetik seperti kipas angin atau trafo?
Tidak ada satu jarak universal, karena kecepatan peluruhan medan berbeda antar jenis sumber. Cara paling akurat untuk mengetahuinya adalah mengukur langsung pada beberapa jarak menggunakan instrumen yang sesuai, sebagaimana dicontohkan pada studi kasus di atas.
Apakah PCE-G28 bisa mengukur radiasi WiFi atau sinyal seluler?
Tidak. PCE-G28 bekerja pada rentang frekuensi 30–300 Hz, yaitu rentang medan magnet frekuensi daya. Sinyal WiFi dan seluler berada pada rentang megahertz hingga gigahertz dan memerlukan instrumen RF yang berbeda.
Kenapa hasil pengukuran EMF bisa berbeda-beda meski di lokasi yang sama?
Beberapa faktor bisa menyebabkan variasi: perubahan jarak probe terhadap sumber, orientasi sensor, perubahan beban listrik pada instalasi dari waktu ke waktu, serta ada atau tidaknya peralatan lain yang sedang aktif di sekitar titik ukur.
Apakah nilai ambang batas medan magnet di Indonesia sama dengan standar internasional?
Tidak selalu identik. Permenaker No. 5/2018 dan pedoman ICNIRP 2010 sama-sama menjadi acuan yang sah, namun keduanya diturunkan dengan basis dan faktor keselamatan yang berbeda, sehingga angkanya bisa berdekatan namun tidak selalu sama persis.
Apakah PCE-G28 cocok digunakan untuk memeriksa trafo distribusi?
PCE-G28 dirancang untuk mendeteksi medan magnet dari trafo, motor listrik, dan instalasi kelistrikan pada rentang frekuensi daya, termasuk kemampuan mendeteksi medan menembus casing atau penutup tanpa perlu membongkar komponen.
Apa saja yang termasuk dalam paket pembelian PCE-G28?
Paket pembelian mencakup unit utama PCE-G28, sensor eksternal 3-sumbu, baterai 9V, hardcase pelindung, dan buku manual.
Apakah pengukuran EMF perlu dilakukan berulang kali pada waktu berbeda?
Untuk instalasi yang bebannya bervariasi sepanjang hari — seperti gardu induk atau panel produksi — pengukuran pada beberapa waktu berbeda (misalnya kondisi beban rendah dan beban puncak) memberikan gambaran yang lebih representatif dibanding satu kali pengukuran saja, sebagaimana terlihat pada studi kasus gardu induk di atas.
Rekomendasi Environmental Electromagnetic Field Unggulan untuk Kebutuhan Anda
Referensi
- International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection (ICNIRP). (2010). Guidelines for Limiting Exposure to Time-Varying Electric and Magnetic Fields (1 Hz–100 kHz). Health Physics, 99(6), 818–836. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21068601/
- Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia. (2018). Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja, beserta Pedoman Teknis Penerapannya. https://jdih.kemnaker.go.id/asset/data_puu/Permen_5_2018.pdf
- International Electrotechnical Commission. IEC 61786-1:2013, Measurement of DC magnetic, AC magnetic and AC electric fields from 1 Hz to 100 kHz with regard to exposure of human beings – Part 1: Requirements for measuring instruments. https://cdn.standards.iteh.ai/samples/19061/02e17d237db44b16b5d51f18269db60a/IEC-61786-1-2013.pdf
- Jumingin, Atina, Iswan, J., Haziza, N., & Ashari, B. (2022). Radiasi Gelombang Elektromagnetik yang Ditimbulkan Peralatan Listrik di Lingkungan Universitas PGRI Palembang. JoP, 7(2), 48–53. https://online-journal.unja.ac.id/jop/article/view/17267
- Riza, dkk. (2016). Analisis Distribusi Medan Magnet Pada Daerah Sekitar Gardu Induk (GI) PT PLN (Persero) P3B Sumatra Teluk Betung Selatan-Bandar Lampung Menggunakan Surfer. Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika, Universitas Lampung, 4(1). https://jtaf.fmipa.unila.ac.id/index.php/jtaf/article/view/105/103
- Gajšek, P., Ravazzani, P., Grellier, J., Samaras, T., Bakos, J., & Thuróczy, G. (2016). Review of Studies Concerning Electromagnetic Field (EMF) Exposure Assessment in Europe: Low Frequency Fields (50 Hz–100 kHz). International Journal of Environmental Research and Public Health, 13(9), 875. https://www.mdpi.com/1660-4601/13/9/875


















