Petugas mengukur pH air sungai setelah hujan menggunakan pH meter portabel dan elektroda, dengan latar aliran air serta limpasan permukaan.

Mengapa pH Air Bisa Berubah Setelah Hujan Deras?

Daftar Isi
pH air dapat berubah setelah hujan deras karena air hujan bukan sekadar menambah volume air. Hujan membawa air dengan karakter kimianya sendiri, melarutkan material dari tanah dan permukaan, mengangkut pupuk, bahan organik, debu, limbah, serta sedimen menuju badan air. Pada saat yang sama, hujan juga dapat mengencerkan zat yang sebelumnya terkonsentrasi. Hasil akhirnya bisa berupa pH yang turun, naik, atau bahkan hampir tidak berubah sama sekali.Karena itu, tidak ada aturan sederhana bahwa “setelah hujan pH pasti turun”. Air dengan kapasitas buffer tinggi dapat mempertahankan pH meskipun menerima air hujan yang lebih asam. Sebaliknya, kolam, sungai kecil, atau sumber air dengan alkalinitas rendah dapat mengalami perubahan lebih jelas.BMKG menggunakan pH 5,6 sebagai nilai ideal air hujan dalam pemantauan kimia air hujan. Secara ilmiah, air hujan normal memang cenderung sedikit asam karena karbon dioksida di atmosfer larut dalam tetesan air dan membentuk asam karbonat lemah. U.S. Geological Survey atau USGS juga menjelaskan bahwa hujan normal mempunyai pH sekitar 5,6.Namun ketika tetesan hujan mencapai tanah, atap, jalan, lahan pertanian, saluran drainase, sungai, dan danau, komposisinya dapat berubah lagi. Inilah yang membuat respons pH setelah hujan sangat bergantung pada karakter daerah tangkapan air.

Apa Sebenarnya pH Air?

pH menggambarkan tingkat keasaman atau kebasaan suatu larutan berdasarkan aktivitas ion hidrogen. Skala pH umumnya ditulis dari 0 sampai 14. Nilai 7 dianggap netral pada kondisi tertentu, nilai di bawah 7 bersifat asam, dan nilai di atas 7 bersifat basa atau alkalis.

Yang sering terlupakan adalah bahwa skala pH bersifat logaritmik. Perubahan satu unit pH mewakili perubahan sekitar sepuluh kali pada aktivitas ion hidrogen. Jadi perubahan dari pH 7 menjadi pH 6 bukan sekadar “turun satu angka”. Secara kimia, perubahan tersebut cukup berarti.

pH juga bukan parameter yang berdiri sendiri. Nilainya berinteraksi dengan suhu, alkalinitas, karbon dioksida terlarut, proses biologis, mineral, bahan organik, dan zat kimia lain. Karena itu, pengukuran pH menjadi sangat berguna untuk mendeteksi perubahan sistem, tetapi tidak langsung menjelaskan penyebabnya.

Perubahan yang diamatiKemungkinan prosesParameter pendukung yang berguna
pH turun setelah hujanMasuknya air hujan lebih asam, runoff asam, bahan organik, atau air dengan alkalinitas rendahAlkalinitas, EC, TDS, turbidity, suhu
pH naik setelah hujanRunoff membawa material alkalis atau mineral karbonat, pengenceran air yang sebelumnya lebih asamAlkalinitas, EC, hardness, ion utama
pH hampir tidak berubahKapasitas buffer tinggi atau volume air sangat besarAlkalinitas, debit, EC
pH berubah beberapa jam setelah hujanRunoff tertunda, perubahan CO2, aktivitas biologis, pencampuran kolom airDO, suhu, alkalinitas, turbidity

Mengapa Air Hujan Cenderung Sedikit Asam?

Air murni yang berada dalam kesetimbangan dengan atmosfer menyerap karbon dioksida. CO2 yang terlarut bereaksi dengan air membentuk asam karbonat lemah. Proses alami inilah yang membuat air hujan normal tidak harus mempunyai pH 7.

United States Environmental Protection Agency atau EPA menjelaskan bahwa hujan normal mempunyai pH sekitar 5,6 karena CO2 larut membentuk asam karbonat lemah. EPA menyebut hujan asam umumnya berada sekitar pH 4,2 sampai 4,4 pada konteks pemantauan di Amerika Serikat.

BMKG juga menggunakan pH 5,6 sebagai titik acuan dalam pemantauan kimia air hujan Indonesia. Pada klasifikasi yang ditampilkan BMKG, pH 5,6 sampai 6 dikategorikan sebagai air hujan ideal, sedangkan 4,1 sampai 5,5 masuk kategori hujan asam.

Namun komposisi air hujan dapat berubah menurut lokasi, musim, aerosol, debu mineral, emisi sulfur dan nitrogen, aktivitas industri, kendaraan, laut, kebakaran biomassa, dan sumber alami lain. Debu yang kaya kalsium, misalnya, dapat membantu menetralkan keasaman hujan.

Artinya, nilai pH air hujan yang jatuh di satu kota tidak harus sama dengan kota lain dan tidak harus sama pada setiap kejadian hujan.

Apa yang Membuat pH Air Berubah Setelah Hujan Deras?

1. Penambahan Air Hujan dengan pH yang Berbeda

Jika sebuah kolam memiliki pH 7,5 dan menerima volume besar air hujan dengan pH lebih rendah, pencampuran dapat mendorong pH ke arah yang lebih rendah. Besarnya perubahan bergantung pada volume hujan dibandingkan volume kolam dan terutama pada kapasitas buffer air.

Pada danau besar atau sungai dengan debit tinggi, tambahan hujan mungkin hanya memberikan perubahan kecil karena volume air badan air jauh lebih besar. Pada kolam kecil, bak penampung, akuakultur, atau sistem hidroponik, efek pengenceran dan pencampuran dapat lebih cepat terlihat.

2. Pengenceran Ion dan Mineral Terlarut

Hujan deras menambah air yang umumnya mempunyai konsentrasi mineral lebih rendah dibandingkan sebagian air tanah atau air sungai. Akibatnya, konduktivitas, TDS, hardness, dan alkalinitas dapat turun karena pengenceran.

Jika alkalinitas ikut turun, kemampuan air untuk menahan perubahan pH juga dapat berkurang. Dengan demikian, efek hujan tidak hanya berasal dari pH air hujan, tetapi juga dari perubahan kapasitas buffer sistem.

3. Limpasan Membawa Material dari Daratan

Hujan deras menghasilkan aliran permukaan. Air bergerak melewati tanah, jalan, atap, area industri, kebun, peternakan, dan permukiman sebelum masuk ke sungai atau kolam.

Sepanjang perjalanan tersebut air dapat melarutkan atau membawa material yang bersifat asam maupun basa. Karena itu, runoff dapat menurunkan atau meningkatkan pH tergantung karakter daerah tangkapannya.

4. Bahan Organik dan Karbon Dioksida

Daun, tanah organik, limbah domestik, dan sedimen dapat masuk ke badan air saat hujan. Proses penguraian bahan organik oleh mikroorganisme menghasilkan CO2. Ketika CO2 larut dalam air, sebagian membentuk asam karbonat dan dapat mendorong pH turun.

Pada sistem dengan beban organik tinggi, efek hujan dapat terlihat bersama penurunan dissolved oxygen atau DO karena mikroorganisme menggunakan oksigen untuk menguraikan bahan organik.

5. Sedimen Teraduk dan Tersuspensi Kembali

Debit tinggi dapat mengaduk dasar sungai atau kolam. Sedimen yang sebelumnya mengendap dapat kembali masuk ke kolom air. Mineral dan zat yang terikat pada sedimen kemudian ikut memengaruhi kimia air.

Fenomena ini menjelaskan mengapa air setelah hujan sering lebih keruh dan mengapa perubahan pH kadang muncul bersamaan dengan perubahan turbidity, EC, DO, serta konsentrasi nutrien atau logam.

6. Pencampuran Air dari Sumber yang Berbeda

Hujan dapat menghubungkan jalur air yang biasanya terpisah. Saluran drainase, parit, mata air, aliran permukaan, overflow kolam, dan aliran anak sungai dapat bercampur dalam satu badan air utama.

Jika masing-masing sumber mempunyai pH dan alkalinitas berbeda, pencampuran akan menghasilkan nilai baru pada titik pengukuran.

Runoff: Hujan Tidak Hanya Jatuh ke Air, tetapi Mencuci Daerah Tangkapan

Konsep runoff merupakan kunci untuk memahami perubahan kualitas air setelah hujan deras.

Bayangkan sebuah sungai sebelum hujan. Sebagian besar alirannya mungkin berasal dari mata air, pelepasan air tanah, atau aliran dasar. Setelah hujan lebat, komposisi air sungai dapat berubah karena proporsi air permukaan meningkat.

Air permukaan tersebut membawa jejak kimia daerah yang dilaluinya.

Daerah yang dilalui runoffMaterial yang mungkin ikut terbawaDampak potensial terhadap kualitas air
Lahan pertanianPupuk, tanah, bahan organik, pestisidaNutrien dan turbidity dapat meningkat, pH dapat berubah sesuai jenis tanah dan input
PermukimanLimbah domestik, tanah, sampah, air drainaseBOD, COD, mikrobiologi, turbidity dapat berubah
Jalan rayaDebu, material ban dan rem, minyak, sedimenEC, turbidity dan kontaminan lain dapat berubah
Kawasan industriMaterial permukaan, limbah atau residu prosespH dan berbagai parameter kimia dapat berubah signifikan
Daerah batu kapurKarbonat dan bikarbonatDapat meningkatkan alkalinitas dan menahan penurunan pH
Tanah organik atau gambutAsam organik dan dissolved organic carbonDapat mendorong pH lebih rendah

Karena itu, hujan yang sama dapat menghasilkan respons berbeda pada dua sungai yang jaraknya tidak terlalu jauh jika penggunaan lahan dan geologinya berbeda.

Mengapa Alkalinitas Menentukan Besar Perubahan pH?

Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan penambahan asam dan mempertahankan pH relatif stabil. Menurut USGS, alkalinitas merupakan kemampuan buffering badan air dan banyak dipengaruhi bicarbonate, carbonate, serta hydroxide.

Air dengan alkalinitas tinggi biasanya tidak mengalami perubahan pH besar ketika menerima sejumlah air hujan asam. Sebaliknya, air dengan alkalinitas rendah dapat berubah lebih cepat.

Contoh Sederhana

Dua kolam memiliki pH awal sama-sama 7,2.

Kolam A berada pada daerah batu kapur dan mempunyai alkalinitas tinggi. Kolam B mendapatkan air terutama dari hujan dan mempunyai alkalinitas rendah. Setelah hujan besar dengan pH lebih rendah, Kolam B dapat menunjukkan penurunan pH yang lebih jelas meskipun pH awal keduanya sama.

Inilah alasan nilai pH awal tidak cukup untuk memprediksi kestabilan pH. Untuk sistem yang sensitif seperti akuakultur, pengolahan air, kolam proses, atau budidaya, alkalinitas sering sama pentingnya dengan pH.

USGS menjelaskan bahwa air dengan alkalinitas tinggi mengalami perubahan keasaman yang lebih kecil ketika air asam seperti hujan asam masuk. Geologi daerah tangkapan menjadi faktor penting karena batuan seperti limestone dapat menambah calcium carbonate ke runoff dan meningkatkan alkalinitas.

Apakah pH Selalu Turun Setelah Hujan?

Tidak. Ini merupakan kesalahpahaman paling umum.

pH dapat turun jika input hujan dan runoff lebih asam daripada badan air serta kapasitas buffer rendah. Tetapi pH juga dapat naik apabila runoff membawa material alkalis, carbonate, atau air lain dengan pH lebih tinggi daripada kondisi awal.

Hujan juga dapat mengencerkan polutan asam yang sebelumnya terkonsentrasi. Dalam skenario seperti itu, pH badan air justru dapat bergerak mendekati netral.

Selain itu, badan air besar dengan alkalinitas tinggi dapat menunjukkan perubahan sangat kecil meskipun hujan deras. Jadi respons pH dapat dikelompokkan menjadi tiga:

  • pH turun karena input asam, pengenceran alkalinitas, runoff organik, atau proses lain.
  • pH naik karena runoff alkalis atau pengenceran air yang sebelumnya lebih asam.
  • pH relatif stabil karena buffering dan pencampuran yang kuat.

Karena itu, satu-satunya cara mengetahui apa yang benar-benar terjadi adalah melakukan pengukuran sebelum, selama memungkinkan, dan setelah kejadian hujan.

Apa Bedanya pada Sungai, Kolam, Air Sumur, dan Air Hujan?

Sungai

Sungai bereaksi cepat terhadap runoff. Debit, turbidity, DO, suhu, dan beban polutan dapat berubah dalam hitungan jam. Namun sungai besar juga memiliki pencampuran yang kuat sehingga perubahan pH tertentu dapat cepat terdistribusi.

Kolam dan Danau Kecil

Kolam mempunyai waktu tinggal air lebih panjang. Hujan deras dapat mengubah volume, stratifikasi, suhu, dan kimia air. Pada akuakultur, perubahan pH juga dipengaruhi aktivitas fotosintesis dan respirasi organisme.

Air Tanah dan Sumur

Respons air tanah umumnya lebih lambat karena air hujan harus melalui proses infiltrasi dan interaksi dengan tanah serta batuan. Pada sumur dangkal, perubahan dapat terjadi lebih cepat jika konstruksi sumur memungkinkan air permukaan masuk secara langsung.

Jika air sumur tiba-tiba berubah setelah hujan, jangan hanya memeriksa pH. Kekeruhan, TDS/EC, mikrobiologi, nitrat, dan kondisi sanitasi sumur juga relevan. Artikel sebelumnya membahas alasan air jernih belum tentu memiliki kualitas yang baik.

Air Hujan yang Ditampung

Air hujan langsung dan air hujan dari atap bukan sampel yang sama. Air yang menyentuh atap dapat melarutkan debu, material atap, kotoran burung, daun, partikel atmosfer, dan residu lain. Karena itu, pH serta kualitas air tangki hujan dapat berbeda dari pH hujan yang dikumpulkan menggunakan rain sampler khusus.

Studi Kasus Indonesia 2026: Sungai Palopo Lebih Tercemar pada Musim Hujan, tetapi pH Tetap Relatif Stabil

Penelitian terbaru yang sangat relevan diterbitkan pada Mei 2026 oleh Suaedi Fachrudin dan Rismawati dalam jurnal Discover Environment. Studi menilai kualitas sungai di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, pada musim kering dan musim hujan.

Peneliti mengambil sampel dari lima lokasi yang mewakili area permukiman, pertanian, industri, perkotaan, dan penggunaan lahan campuran. Pengambilan dilakukan setiap bulan selama satu tahun hidrologi, dari Mei 2023 sampai April 2024. Parameter yang dianalisis meliputi pH, dissolved oxygen, BOD, COD, turbidity, nitrat, fosfat, amonia, serta logam Pb, Cd, Hg, dan As.

Hasilnya memperlihatkan bahwa beban pencemaran secara keseluruhan sekitar 30 persen lebih tinggi pada musim hujan. Turbidity, BOD, COD, nutrien, dan beberapa logam meningkat karena runoff serta resuspensi sedimen. Dissolved oxygen cenderung turun pada lokasi dengan beban organik lebih besar.

Namun pH sungai berada pada rentang sekitar 6,8 sampai 7,1. Artinya, meskipun kualitas air berubah nyata pada musim hujan, pH relatif bertahan dekat kondisi netral.

Mengapa Studi Ini Penting?

Kasus Palopo menunjukkan bahwa hujan dapat mengubah kualitas air secara besar tanpa harus menghasilkan perubahan pH yang dramatis. Ini sangat penting untuk praktik monitoring.

Jika seorang operator hanya mengukur pH dan mendapatkan 6,9 sebelum hujan serta 6,8 setelah hujan, ia mungkin menyimpulkan bahwa kondisi hampir sama. Padahal turbidity, nutrient load, BOD, COD, logam, dan DO bisa saja berubah lebih besar.

Dengan kata lain, pH adalah indikator penting tetapi bukan indikator tunggal kualitas air.

Apa Kata Meta-Analisis 2025? Musim Hujan Tidak Selalu Mengubah pH Secara Signifikan

Temuan Palopo sejalan dengan sebuah meta-analisis yang diterbitkan pada 2025 dalam Jurnal Biologi Tropis oleh Eva Oktaviani, Sutan Sahala Muda Marpaung, Hendra Kurniawan, dan Firman Syah.

Peneliti mengumpulkan lebih dari 40 studi dan memilih artikel yang mempunyai data pH lengkap antara musim kering dan musim hujan. Analisis menggunakan random-effects model untuk membandingkan kondisi musim.

Hasil gabungan menunjukkan tidak terdapat perbedaan pH musiman yang signifikan secara statistik. Heterogenitas antarstudi tinggi, yang berarti respons tiap lokasi berbeda, tetapi secara umum penelitian tersebut menyimpulkan bahwa badan air tropis dan subtropis tertentu dapat mempertahankan pH relatif stabil karena pencampuran, iklim, vegetasi, dan faktor lingkungan lainnya.

Peneliti juga menekankan bahwa dataset yang digunakan masih terbatas dan diperlukan lebih banyak data, terutama dari Indonesia.

Pelajaran praktisnya: hujan deras memang dapat mengubah pH, tetapi tidak boleh diasumsikan selalu terjadi. Bahkan ketika pH stabil, parameter lain tetap dapat berubah.

Mengapa pH Tidak Boleh Diukur Sendirian Setelah Hujan?

Jika tujuan monitoring adalah mengetahui dampak hujan terhadap kualitas air, minimal pertimbangkan beberapa parameter pendamping.

ParameterApa yang dapat berubah setelah hujan?Mengapa penting?
pHNaik, turun, atau stabilMenunjukkan perubahan kondisi asam-basa
EC / conductivityDapat turun karena pengenceran atau naik karena runoff ionikMembantu melihat perubahan material terlarut
TDSDapat berubah mengikuti ion terlarutBerguna untuk melihat perubahan mineralisasi
TurbiditySering meningkat akibat sediment runoffMenunjukkan partikel tersuspensi
DODapat naik karena aerasi atau turun akibat beban organikPenting untuk ekosistem dan proses biologis
SuhuDapat turun akibat input air hujanMemengaruhi reaksi kimia dan pembacaan sensor
AlkalinitasDapat terdilusi atau berubah akibat runoff mineralMenentukan stabilitas pH
Nitrat dan fosfatDapat meningkat karena runoff pertanian atau domestikIndikator nutrient loading

Studi Palopo 2026 menunjukkan contoh nyata bahwa saat musim hujan pH tidak berubah ekstrem tetapi turbidity, nutrient load, BOD, COD, dan logam dapat meningkat.

Bagaimana Mengukur pH Sebelum dan Sesudah Hujan dengan Benar?

Jika ingin mengetahui pengaruh hujan, buat pengukuran seperti eksperimen kecil. Jangan hanya mengambil satu sampel setelah hujan lalu membandingkannya dengan ingatan tentang kondisi sebelumnya.

  1. Tentukan titik tetap. Gunakan lokasi pengambilan sampel yang sama sebelum dan sesudah hujan.
  2. Buat baseline. Ukur pH pada beberapa hari tanpa hujan agar mengetahui variasi normal.
  3. Catat waktu hujan. Bedakan sampel sebelum hujan, awal hujan, puncak runoff, beberapa jam setelah hujan, dan 24 jam kemudian jika relevan.
  4. Ukur suhu bersama pH. Elektroda dan keseimbangan kimia dipengaruhi suhu. Gunakan automatic temperature compensation bila tersedia.
  5. Kalibrasi pH meter. Gunakan buffer yang sesuai, lazimnya minimal dua titik yang mengapit rentang sampel.
  6. Bilas elektroda di antara sampel. Hindari kontaminasi silang.
  7. Tunggu pembacaan stabil. Jangan mencatat angka saat display masih berubah cepat.
  8. Catat EC, TDS, turbidity, DO, atau alkalinitas jika tersedia. Parameter ini membantu menjelaskan mengapa pH berubah atau tetap stabil.
  9. Dokumentasikan kondisi lapangan. Warna air, sediment runoff, bau, debit, aktivitas pertanian, drainase, dan kondisi cuaca dapat membantu interpretasi.

Kapan Sebaiknya Sampel Diambil?

Tidak ada satu waktu terbaik untuk semua tujuan. Jika ingin mengetahui efek “first flush”, sampel perlu diambil pada fase awal runoff. Jika ingin mengetahui kondisi badan air setelah bercampur, pengukuran beberapa jam setelah hujan mungkin lebih relevan.

Untuk penelitian yang serius, pengukuran berulang selama satu kejadian hujan lebih informatif daripada hanya sampel “sebelum” dan “sesudah”.

Kesalahan Umum Saat Mengukur pH Setelah Hujan

1. Menggunakan Kertas Lakmus untuk Perubahan Kecil

Kertas indikator berguna untuk screening kasar, tetapi sulit digunakan untuk membedakan perubahan kecil seperti pH 6,8 menjadi 6,5. Untuk monitoring perubahan, pH meter digital yang terkalibrasi lebih sesuai.

2. Tidak Mengkalibrasi Elektroda

Elektroda pH mengalami drift, penuaan, dan kontaminasi. Meter dengan resolusi 0,01 pH tidak otomatis mempunyai akurasi 0,01 jika kalibrasinya buruk.

3. Menyimpan Elektroda dalam Air Murni

Banyak elektroda kaca membutuhkan larutan penyimpanan khusus. Menyimpan elektroda dalam air deionisasi untuk waktu lama dapat mengganggu performa. Ikuti petunjuk produsen.

4. Membandingkan Sampel dengan Suhu Sangat Berbeda

Suhu memengaruhi respons elektroda dan kesetimbangan kimia larutan. Automatic temperature compensation membantu karakteristik elektroda, tetapi tidak “mengubah” semua sampel ke komposisi kimia yang sama.

5. Mengukur Air Sangat Rendah Mineral tanpa Memahami Keterbatasan Elektroda

Air hujan, RO, dan air sangat rendah konduktivitas dapat menghasilkan pembacaan pH yang lebih lambat atau tidak stabil menggunakan elektroda umum. Pengukuran low ionic strength water membutuhkan teknik dan elektroda yang sesuai.

6. Menganggap Perubahan 0,1 pH Pasti Disebabkan Hujan

Perubahan kecil dapat berasal dari variasi alat, suhu, sampling, aktivitas biologis, waktu pengukuran, atau variasi normal sistem. Baseline dan pengulangan diperlukan sebelum menyimpulkan sebab.

Bagaimana Menafsirkan Beberapa Skenario Setelah Hujan?

Skenario A: pH Turun, EC dan Alkalinitas Turun

Pola ini konsisten dengan pengenceran air bermineral lebih tinggi oleh input hujan yang lebih rendah mineralnya. Jika badan air mempunyai buffer rendah, penurunan pH bisa lebih terlihat.

Skenario B: pH Turun, Turbidity dan BOD Naik

Kondisi tersebut dapat mengarah pada masuknya runoff yang membawa bahan organik dan sedimen. Namun penyebab spesifik tetap perlu diuji.

Skenario C: pH Stabil, Turbidity Naik Tajam

Ini sangat mungkin terjadi. Air mempunyai buffer cukup baik sehingga pH bertahan, tetapi runoff membawa banyak sedimen. Studi Palopo memberikan contoh bahwa beban polusi musim hujan dapat meningkat sementara pH tetap sekitar netral.

Skenario D: pH Naik dan Alkalinitas Naik

Runoff dapat membawa mineral carbonate atau material alkalis. Kondisi geologi seperti batu kapur dapat berperan.

Skenario E: pH Sumur Berubah Setelah Hujan Disertai Air Lebih Keruh

Kondisi ini perlu perhatian lebih karena dapat menunjukkan masuknya air permukaan ke sumur. Selain pH, lakukan pemeriksaan turbidity dan mikrobiologi sesuai kebutuhan. Perubahan mendadak pada sumur setelah hujan tidak sebaiknya diperlakukan hanya sebagai persoalan keasaman.

Instrumen yang Berkaitan dengan Pemantauan pH Setelah Hujan

Untuk membandingkan perubahan sebelum dan sesudah hujan, instrumen portabel dengan kalibrasi yang baik, kompensasi suhu, dan kemampuan penyimpanan data akan lebih praktis daripada indikator warna.

1. Milwaukee MW106 MAX untuk pH, ORP, Suhu, dan Logging Lapangan

Milwaukee MW106 MAX Waterproof merupakan meter portabel untuk pH, ORP, dan suhu dengan kemampuan data logging. Perangkat mempunyai rating IP67, kompensasi suhu otomatis, kalibrasi hingga beberapa titik, serta akurasi pH hingga ±0,002 pada spesifikasi produk.

Fitur logging relevan ketika teknisi perlu membandingkan hasil sebelum hujan, beberapa jam setelah hujan, dan pada hari berikutnya tanpa bergantung pada pencatatan manual.

Lihat spesifikasi Milwaukee MW106 MAX di Alat-Test.Com

2. Bante903P-CN untuk Monitoring pH dan Dissolved Oxygen

Jika perubahan setelah hujan juga perlu dievaluasi bersama kondisi oksigen terlarut, Bante903P-CN Portable pH/Dissolved Oxygen Meter menggabungkan pengukuran pH dan DO dalam satu perangkat portabel.

Perangkat ini menyediakan kalibrasi pH multi-titik, kompensasi suhu, koreksi tekanan dan salinitas untuk pengukuran DO, memori data, serta komunikasi USB. Kombinasi pH dan DO relevan untuk monitoring sungai, danau, akuakultur, WTP, WWTP, dan investigasi perubahan kualitas air akibat runoff.

Lihat spesifikasi Bante903P-CN di Alat-Test.Com

3. Bante220-UK untuk Pengukuran pH Portabel Harian

Untuk kebutuhan pengukuran pH yang lebih sederhana, Bante220-UK Portable pH Meter dirancang untuk monitoring pH lapangan dan laboratorium dengan akurasi hingga 0,01 pH, kalibrasi multi-titik, automatic temperature compensation, dan fungsi penstabil pembacaan.

Alat semacam ini cocok ketika tujuan utama adalah membuat rangkaian data pH pada beberapa titik dan waktu setelah hujan tanpa membutuhkan parameter tambahan seperti DO.

Lihat spesifikasi Bante220-UK di Alat-Test.Com

Catatan: alat pH menunjukkan kondisi asam-basa, bukan penyebab perubahan. Jika pH berubah setelah hujan, pengukuran parameter lain atau analisis laboratorium mungkin diperlukan untuk menentukan apakah penyebabnya berasal dari runoff pertanian, limbah, mineral, bahan organik, atau sumber lain.

Kesimpulan

pH air dapat berubah setelah hujan deras karena badan air menerima lebih dari sekadar tambahan volume. Air hujan yang sedikit asam, pengenceran mineral, runoff, bahan organik, sedimen, pencampuran air dari berbagai sumber, serta perubahan alkalinitas semuanya dapat menggeser keseimbangan kimia.

Namun pH tidak selalu turun. Runoff dari daerah kaya carbonate dapat meningkatkan alkalinitas dan bahkan menaikkan pH. Pada air dengan kapasitas buffer tinggi, perubahan pH juga dapat sangat kecil meskipun hujan lebat.

Penelitian sungai di Palopo yang diterbitkan pada 2026 memperlihatkan contoh penting. Beban pencemaran musim hujan sekitar 30 persen lebih tinggi dan berbagai parameter memburuk, tetapi pH masih berada sekitar 6,8 sampai 7,1. Meta-analisis 2025 juga tidak menemukan perbedaan pH musiman yang signifikan secara keseluruhan pada dataset yang dianalisis.

Karena itu, ketika ingin mengetahui dampak hujan terhadap kualitas air, jangan hanya bertanya “berapa pH setelah hujan?”. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: bagaimana pH berubah dibandingkan baseline, bagaimana alkalinitasnya, apa yang terjadi pada EC, turbidity, DO, dan parameter lain, serta sumber runoff apa yang masuk ke badan air?

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah hujan selalu menurunkan pH air?

Tidak. Hujan dapat menurunkan, menaikkan, atau hampir tidak mengubah pH. Hasilnya bergantung pada pH air hujan, volume air, runoff, geologi, alkalinitas, dan kondisi badan air.

Berapa pH normal air hujan?

Air hujan normal umumnya sedikit asam dengan pH sekitar 5,6 karena karbon dioksida larut membentuk asam karbonat lemah. BMKG juga menggunakan pH 5,6 sebagai acuan ideal pada pemantauan kimia air hujan.

Mengapa pH kolam turun setelah hujan?

Kemungkinan penyebabnya antara lain input air hujan yang lebih asam, pengenceran alkalinitas, masuknya bahan organik dari runoff, atau kapasitas buffer kolam yang rendah. Alkalinitas perlu diperiksa untuk memahami kestabilan pH.

Kenapa pH sungai tidak berubah padahal air menjadi sangat keruh setelah hujan?

Kekeruhan dan pH mengukur hal berbeda. Runoff dapat membawa sedimen dalam jumlah besar sehingga turbidity naik, sementara sistem carbonate dan alkalinitas sungai tetap mampu mempertahankan pH relatif stabil.

Apakah air hujan pH 5,6 berarti berbahaya?

Tidak. pH sekitar 5,6 merupakan kondisi alami hujan yang berinteraksi dengan karbon dioksida atmosfer. Keamanan penggunaan air hujan tetap bergantung pada kontaminan lain, cara penangkapan, penyimpanan, dan tujuan penggunaannya.

Berapa lama setelah hujan pH sebaiknya diukur?

Tergantung tujuan. Untuk mempelajari first flush, pengukuran dilakukan pada fase awal runoff. Untuk menilai kondisi setelah pencampuran, pengukuran beberapa jam kemudian dapat lebih relevan. Monitoring terbaik menggunakan beberapa titik waktu.

Apakah pH meter perlu dikalibrasi setiap kali hujan?

Tidak karena hujannya, tetapi pH meter perlu dikalibrasi secara rutin sesuai SOP, frekuensi penggunaan, kondisi elektroda, dan kebutuhan akurasi. Untuk studi sebelum-sesudah hujan, kalibrasi yang konsisten sangat penting agar perubahan kecil tidak berasal dari drift alat.

Apakah pH air sumur bisa berubah setelah hujan?

Bisa, terutama pada sumur dangkal atau sumur dengan perlindungan sanitasi kurang baik. Tetapi perubahan pH perlu dilihat bersama turbidity, EC/TDS, dan mikrobiologi karena masuknya air permukaan dapat membawa lebih banyak masalah daripada sekadar perubahan pH.

Sumber dan Referensi

  1. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. 2026. Pemantauan Kimia Air Hujan.
  2. U.S. Geological Survey. pH and Water.
  3. U.S. Geological Survey. Alkalinity and Water.
  4. United States Environmental Protection Agency. What is Acid Rain?
  5. Fachrudin, S., dan Rismawati, R. 2026. Assessment of Anthropogenic Impacts on River Water Quality in Palopo City Indonesia Using Physicochemical Parameters and Pollution Indices. Discover Environment, 4, Article 214.
  6. Oktaviani, E., Marpaung, S. S. M., Kurniawan, H., dan Syah, F. 2025. Meta-Analysis: Seasonal Variations in pH Concentration and Their Impact on River Water Quality. Jurnal Biologi Tropis, 25(4), 4758–4764.
  7. Pemerintah Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.