Pada Oktober 1996, penerbangan Aeroperu 603 jatuh ke Samudra Pasifik, yang menewaskan 70 orang. Investigasi mengungkap akar penyebabnya yang terlihat sepele: selotip pelindung yang tidak dilepas, menutupi static ports pesawat Boeing 757 tersebut [1]. Pilot kehilangan semua indikasi ketinggian dan kecepatan yang andal, terbang tak terkendali. Tragedi ini bukanlah insiden tunggal. Namun mengingatkan kita bahwa di jantung keselamatan penerbangan modern, ada sebuah sistem yang begitu mendasar dan kritis: sistem pitot-static. Bagi para teknisi, inspektur, dan staf QA, dituntut memenuhi standar FAA, ICAO, atau EASA, dengan alat yang terbatas, panduan berbahasa Inggris yang kompleks, dan waktu yang mendesak.
Artikel ini hadir sebagai panduan operasional definitif untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Kami akan membedah tidak hanya teori, tetapi prosedur yang dapat langsung Anda terapkan. Dari memahami prinsip dasar dan regulasi, hingga melakukan uji pitot-static yang akurat, troubleshooting sistematis, dan memilih alat ukur yang tepat—semuanya dikontekstualisasikan untuk operasi pemeliharaan pesawat di Indonesia. Tujuannya satu: memastikan setiap indikasi kecepatan dan ketinggian di kokpit lebih akurat, sehingga keselamatan penerbangan bukanlah sebuah harapan, tetapi hasil yang terjamin dari kerja teknis yang presisi.
- Fungsi Kritis dan Prinsip Dasar Sistem Pitot-Static
- Standar Global dan Regulasi Penerbangan
- Prosedur Lengkap Pengujian Pitot-Static: Dari Setup hingga Verifikasi
- Troubleshooting Sistematis: Diagnosa dan Perbaikan Masalah Umum
- Memilih, Menggunakan, dan Merawat Alat Ukur Pitot-Static
- Integrasi dengan Avionik Modern dan Strategi Pemeliharaan Preventif
- Referensi
Fungsi Kritis dan Prinsip Dasar Sistem Pitot-Static
Sistem pitot-static adalah “indera peraba” fundamental sebuah pesawat. Tanpa data yang akurat darinya, pilot dan sistem navigasi pesawat modern kehilangan referensi dasar tentang posisi mereka di udara. Prinsip kerjanya berdasar pada hukum fisika sederhana, namun implikasi kegagalannya bersifat katastropik.
Intinya, sistem ini mengukur dua jenis tekanan udara: tekanan dinamis (ram air) dan tekanan statis (ambient air). Perbedaan antara kedua tekanan ini diterjemahkan menjadi tiga data penerbangan paling kritis:
- Kecepatan Udara (Airspeed): Diperoleh dari perbedaan tekanan dinamis (dari pitot tube) dan tekanan statis.
- Ketinggian (Altitude): Diperoleh secara langsung dari pengukuran tekanan statis.
- Kecepatan Vertikal (Vertical Speed): Diperoleh dari laju perubahan tekanan statis.
Seperti yang dianalisis dalam studi kasus Aeroperu 603, penyumbatan pada static ports menyebabkan semua instrumen yang bergantung pada data tekanan statis—penunjuk ketinggian, kecepatan udara, dan kecepatan vertikal—memberikan pembacaan yang salah dan menyesatkan [1]. Ini menggambarkan betapa sentralnya integritas sistem ini bagi keselamatan penerbangan.
Tiga Komponen Utama: Pitot Tube, Static Port, dan Indikator
- Pitot Tube: Tabung yang menghadap ke aliran udara di bagian luar pesawat (biasanya di sayap atau hidung). Fungsinya menangkap tekanan dinamis (ram pressure) dari udara yang “ditabrak” pesawat saat bergerak. Tabung ini sering dilengkapi dengan pemanas (pitot heat) untuk mencegah pembekuan.
- Static Port(s): Lubang kecil yang terletak di sisi badan pesawat (biasanya di area yang tidak terganggu aliran udara, seperti di fuselage). Fungsinya mengukur tekanan udara ambien (statis) di sekeliling pesawat.
- Indikator dan Pengolah Data: Pada pesawat konvensional, tekanan langsung dihubungkan ke instrumen mekanis seperti Airspeed Indicator (ASI), Altimeter, dan Vertical Speed Indicator (VSI). Pada pesawat modern, tekanan ini dibaca oleh Air Data Computer (ADC) yang mengonversinya menjadi sinyal digital untuk ditampilkan di glass cockpit dan digunakan oleh Flight Management System (FMS) serta autopilot.
Proses Tekanan Udara Diterjemahkan Menjadi Data Penerbangan
Prinsip dasarnya sederhana. Airspeed Indicator pada dasarnya adalah pengukur tekanan diferensial. Dia membandingkan tekanan dari pitot tube (tekanan total) dengan tekanan dari static port (tekanan statis). Selisihnya adalah tekanan dinamis, yang sebanding dengan kuadrat kecepatan udara.
Sementara itu, Altimeter adalah barometer yang dikalibrasi. Dia mengukur tekanan absolut dari static port. Karena tekanan atmosfer berkurang seiring bertambahnya ketinggian, perubahan tekanan ini dapat dikonversi menjadi bacaan ketinggian. Penjelasan prinsip ini didukung oleh sumber pengetahuan keselamatan penerbangan seperti SKYbrary, yang menggarisbawahi ketergantungan fundamental instrumen penerbangan pada pengukuran tekanan yang akurat [2].
Memahami hubungan langsung antara integritas fisik tabung/port dan kebenaran angka di kokpit ini adalah langkah pertama untuk menganalisa prosedur uji pitot-static yang benar.
Standar Global dan Regulasi Penerbangan
Operasi penerbangan yang aman dan legal mensyaratkan kepatuhan terhadap kerangka regulasi yang ketat. Untuk sistem pitot-static, standar ini didefinisikan oleh otoritas penerbangan global, dengan FAA (AS) dan EASA (Eropa) sebagai dua rujukan utama yang sering diadopsi atau diharmonisasikan oleh otoritas nasional, termasuk Indonesia.
Regulasi Inti:
- FAA 14 CFR § 91.411 & 91.413: Regulasi ini mewajibkan pengujian dan inspeksi altimeter serta sistem ketinggian dan kecepatan setiap 24 bulan kalender untuk penerbangan IFR (Instrument Flight Rules) di wilayah udara terkontrol. FAA Advisory Circular AC 43-6D memberikan metode yang dapat diterima untuk memenuhi kewajiban ini, menyatakan bahwa pengujian harus memastikan integritas kebocoran sistem dan akurasi instrumen [3].
- EASA PART-M: Memiliki persyaratan serupa untuk kelayakan terbang terus-menerus (Continuing Airworthiness). EASA juga secara proaktif mengeluarkan panduan khusus, seperti imbauan untuk inspeksi ekstra terhadap sistem pitot-static setelah pesawat menjalani penyimpanan lama, menyusul laporan insiden yang disebabkan sarang serangga atau kontaminan lain yang menyumbat sistem [4].
- ICAO Annex 6: Menetapkan Standar dan Praktik yang Direkomendasikan (SARPs) internasional untuk operasi pesawat, yang menjadi dasar bagi regulasi nasional di banyak negara, termasuk persyaratan kinerja dan akurasi peralatan penerbangan.
Tabel Perbandingan Standar Penerbangan
| Aspek | FAA (14 CFR § 91.411) | EASA (PART-M) | Konteks Indonesia (Umum) |
|---|---|---|---|
| Interval Pengujian | 24 bulan kalender | 24 bulan (sesuai program pemeliharaan terus-menerus) | Mengacu pada sertifikat kelayakan terbang dan manual pemeliharaan pesawat; umumnya selaras dengan interval 24 bulan. |
| Akurasi Altimeter | Harus dalam toleransi ±20 feet (pada tekanan setara 29.92″ Hg) | Persyaratan akurasi serupa, terperinci dalam dokumen Acceptable Means of Compliance (AMC). | Mengadopsi toleransi serupa; verifikasi terhadap altimeter kalibrasi standar. |
| Akurasi Indikasi Kecepatan | Harus dalam toleransi yang ditentukan (umumnya ±3 knots atau ±3%) | Persyaratan akurasi terperinci untuk berbagai rentang kecepatan. | Mengadopsi toleransi serupa. |
| Dokumen Bukti | Entri logbook dan Form 337 (jika modifikasi/perbaikan besar). | Certificate of Release to Service (CRS) yang ditandatangani personel berizin. | Laporan hasil pengujian, entri logbook pesawat, dan sertifikat kalibrasi alat uji. |
Dokumentasi dan Sertifikasi: Kunci Lolos Audit
Kepatuhan tidak hanya soal melakukan uji, tetapi juga mendokumentasikannya dengan benar. Setelah proses troubleshooting pitot-static atau pengujian rutin, dokumentasi berikut harus lengkap:
- Entri Logbook Pesawat: Mencatat tanggal pengujian, jenis uji yang dilakukan, hasil (misal, “sistem lolos uji kebocoran dan akurasi”), nama dan tanda tangan teknisi/inspektur berizin.
- Laporan Hasil Pengujian: Berisi data aktual pembacaan tekanan, kesalahan (error) yang terukur, dan pernyataan kesesuaian dengan toleransi. Dokumen ini menjadi bukti fisik untuk audit internal atau eksternal.
- Sertifikat Kalibrasi Alat Uji: Salinan sertifikat kalibrasi yang masih berlaku (biasanya 12 bulan) dari laboratorium terakreditasi untuk pitot-static test set yang digunakan. Ini membuktikan bahwa alat ukur Anda sendiri akurat dan traceable ke standar nasional/internasional.
Tanpa rantai dokumentasi yang lengkap dan tertib, semua kerja keras pengujian di hanggar tidak memiliki nilai hukum dan dapat mengancam sertifikasi kelayakan terbang pesawat.
Prosedur Lengkap Pengujian Pitot-Static: Dari Setup hingga Verifikasi
Berikut adalah panduan operasional langkah-demi-langkah untuk melaksanakan uji pitot-static. Panduan ini disusun dengan mengacu pada metode yang dapat diterima dalam FAA Advisory Circular AC 43-6D [3].
Langkah 1: Persiapan Alat, Pesawat, dan Safety
Sebelum menyentuh alat, pastikan:
- Alat Siap: Pitot-static test set telah dikalibrasi (cek tanggal sertifikat). Periksa selang, konektor, dan segel untuk keretakan atau keausan. Nyalakan dan lakukan self-test jika ada.
- Pesawat Siap: Pesawat dalam kondisi aman untuk dikerjakan (chocked, parking brake on). Akses ke pitot tube dan static port harus jelas. Jika memungkinkan, lingkungan hanggar tenang dan stabil untuk meminimalkan gangguan.
- Safety Briefing: Pahami lokasi alternate static source (biasanya di dalam kokpit) jika diperlukan selama uji. Pastikan tidak ada sumber api di dekatnya.
Langkah 2: Prosedur Pengujian Static System dan Leak Check
Ini adalah inti dari pengujian kebocoran sistem udara.
- Koneksi: Hubungkan selang static dari test set ke static port pesawat menggunakan adapter yang sesuai. Tutup semua static port lainnya sesuai prosedur manual pesawat (AMM).
- Aplikasi Tekanan/Vakum: Menggunakan test set, terapkan tekanan (atau vakum) bertahap ke sistem static hingga mencapai nilai yang ditentukan (misal, setara dengan ketinggian tertentu).
- Observasi Leak Rate: Setelah tekanan stabil, amati penurunan tekanan selama periode waktu tertentu (biasanya 1 menit). Penurunan yang melebihi batas toleransi (misal, lebih dari 100 feet per menit) mengindikasikan kebocoran sistem tekanan statis.
- Verifikasi Altimeter: Sejalan dengan itu, verifikasi bahwa pembacaan altimeter kokpit sesuai dengan nilai tekanan yang diterapkan dari test set, dalam toleransi ±20 feet.
FAA AC 43-6D menekankan bahwa pengujian ini “akan memastikan integritas kebocoran komponen dan bahwa tidak ada kebocoran yang terjadi saat membuat koneksi” [3].
Langkah 3: Prosedur Pengujian Pitot System dan Indikasi Kecepatan
Tahap ini menguji akurasi pengukur kecepatan udara.
- Koneksi: Hubungkan selang pitot dari test set ke pitot tube pesawat. Pastikan sambungan rapat.
- Simulasi Tekanan Dinamis: Dengan test set, terapkan serangkaian tekanan yang mensimulasikan berbagai kecepatan udara (misal, 60 knots, 120 knots, 180 knots).
- Baca dan Bandingkan: Pada setiap set point, baca nilai yang ditunjukkan oleh Airspeed Indicator (ASI) di kokpit. Bandingkan dengan nilai tekanan yang diterapkan (yang sudah dikonversi ke satuan knots oleh test set).
- Analisis Error: Hitung kesalahan (error) antara indikasi kokpit dan nilai acuan dari test set. Kesalahan tidak boleh melebihi toleransi yang diizinkan (misal, ±3 knots). Kesalahan indikasi kecepatan yang konsisten di berbagai titik dapat mengindikasikan masalah kalibrasi instrumen atau penyumbatan parsial.
Setelah semua uji selesai dan hasil memenuhi toleransi, lepaskan koneksi dengan hati-hati dan kembalikan semua penutup pelindung (caps) pada port dan tube.
Troubleshooting Sistematis: Diagnosa dan Perbaikan Masalah Umum
Ketika uji gagal atau ada laporan kesalahan indikasi kecepatan dari pilot, pendekatan sistematis diperlukan. Sekitar 80% masalah pitot-static disebabkan oleh penyumbatan fisik.
Flowchart Diagnosis: Isolasi Blokade, Kebocoran, atau Kalibrasi
Diagnosis dimulai dengan mengidentifikasi gejala utama. Misalnya, jika indikasi kecepatan udara nol atau sangat rendah saat lepas landas, kemungkinan besar pitot tube tersumbat (es, serangga, tutup tidak dilepas). Jika altimeter tidak bergerak atau bergerak tidak wajar disertai indikasi kecepatan yang salah, kemungkinan besar static port tersumbat atau kebocoran besar pada sistem statis. Jika terdapat kesalahan konsisten pada semua instrumen tetapi uji kebocoran sistem statis baik, kemungkinan masalah pada kalibrasi alat ukur tidak akurat atau kesalahan pada Air Data Computer (ADC).
Analisis Kasus Aeroperu 603 dan Air France 447
Aeroperu 603 (1996): Penyebab langsung adalah static ports yang masih tertutup selotip pelindung setelah pencucian pesawat. Sistem tidak bisa membaca tekanan atmosfer yang benar, menyebabkan indikasi ketinggian dan kecepatan yang liar dan kontradiktif. Analisis mendalam oleh ahli keselamatan menyimpulkan bahwa penyumbatan semua static ports adalah “salah satu dari sedikit mode kegagalan umum yang mengakibatkan kegagalan total beberapa instrumen penerbangan dasar dan, dengan demikian, dianggap sebagai salah satu kesalahan paling serius yang dapat terjadi dalam sistem avionik” [1]. Pelajarannya: inspeksi visual pra-penerbangan (walkaround) yang cermat dan prosedur checklist yang disiplin adalah pertahanan pertama yang vital.
Air France 447 (2009): Dipicu oleh pembekuan pitot tube dalam badai, yang menyebabkan hilangnya indikasi kecepatan udara yang andal. Meskipun lebih kompleks (melibatkan respon pilot), insiden ini menyoroti kerentanan sistem terhadap kondisi icing dan pentingnya pitot heat yang berfungsi serta pelatihan prosedur darurat.
Prosedur Darurat untuk Pilot dan Rekomendasi untuk Teknisi
Jika kegagalan terjadi di udara, pilot diajarkan untuk:
- Menggunakan alternate static source (jika tersedia) untuk mendapatkan pembacaan tekanan statis alternatif.
- Mengaktifkan pitot heat untuk mencairkan kemungkinan es.
- Mengandalkan instrumen lain (mesin, attitude indicator) dan berkomunikasi dengan ATC.
Bagi teknisi, setelah menerima laporan insiden:
- Quarantine sistem: Jangan gunakan pesawat hingga penyebab ditemukan dan diperbaiki.
- Lakukan Inspecti Mendalam: Periksa fisik pitot tube, static port, dan seluruh jalur tubing untuk penyumbatan, kerusakan, atau kelembapan.
- Ulangi Pengujian Lengkap: Setelah perbaikan, lakukan seluruh prosedur uji pitot-static dari awal untuk memastikan integritas dan akurasi telah pulih sepenuhnya.
Memilih, Menggunakan, dan Merawat Alat Ukur Pitot-Static
Keakuratan hasil uji sangat bergantung pada alat yang digunakan. Alat ukur akurasi sistem pitot yang tepat dan terawat adalah investasi penting bagi keselamatan dan kepatuhan.
Jenis-Jenis Alat Uji yang Relevan
- Portable Pitot-Static Test Set: Solusi paling umum untuk hanggar yang menangani berbagai jenis pesawat ringan hingga menengah. Alat ini portabel, relatif terjangkau, dan dapat melakukan uji kebocoran serta akurasi dasar. Cocok untuk operator dengan armada campuran.
- Air Data Test Set: Lebih canggih dan akurat, sering digunakan untuk pesawat komersial besar atau di fasilitas MRO besar. Dapat mensimulasikan kondisi penerbangan yang lebih kompleks (seperti Mach number) dan sering terintegrasi dengan perangkat lunak untuk dokumentasi otomatis.
- Digital Pressure Calibrator/Controller: Dapat digunakan sebagai sumber tekanan presisi tinggi dan untuk mengkalibrasi alat uji lain. Fleksibel tetapi membutuhkan pengetahuan lebih untuk konfigurasi.
Pertimbangkan volume pekerjaan, tipe pesawat, dan anggaran. Untuk sebagian besar kebutuhan hanggar di Indonesia, pitot-static test set portabel berkualitas dari merek terpercaya (seperti PCE atau merek lain yang memenuhi spesifikasi) seringkali sudah memadai.
Kalibrasi: Mengapa Wajib dan Bagaimana Prosesnya?
Alat ukur tekanan adalah perangkat mekanis/elektronik yang dapat mengalami drift atau penyimpangan dari waktu ke waktu. Kalibrasi berkala (biasanya setiap 12 bulan) adalah kewajiban mutlak untuk:
- Memastikan Akurasi: Memastikan tekanan yang dibangkitkan atau dibaca oleh alat Anda sesuai dengan standar nasional/internasional.
- Memenuhi Regulasi: Audit regulator (seperti DGCA) akan meminta sertifikat kalibrasi yang masih berlaku untuk alat uji yang digunakan.
- Membangun Kepercayaan: Memberikan kepastian bahwa hasil uji pitot-static Anda valid.
Proses kalibrasi harus dilakukan oleh laboratorium yang terakreditasi (misalnya, mengikuti standar ISO/IEC 17025). Sertifikat yang dikembalikan akan menunjukkan traceability ke standar nasional (seperti SNI), kesalahan (error) yang terukur, dan ketidakpastian pengukuran. Selalu simpan sertifikat ini sebagai bagian dari dokumentasi kepatuhan Anda.
Integrasi dengan Avionik Modern dan Strategi Pemeliharaan Preventif
Pada pesawat generasi baru, peran sistem pitot-static melampaui instrumen analog. Data tekanan menjadi masukan digital untuk seluruh ekosistem sistem navigasi pesawat modern.
Dari Tabung Pitot ke Digital: Peran Air Data Computer (ADC)
ADC adalah “otak” yang menerima sin tekanan mentah dari pitot dan static ports. Dia melakukan koreksi suhu, mengonversi tekanan menjadi data digital (kecepatan udara, ketinggian, kecepatan vertikal, suhu statis), dan mengirimkannya melalui bus data (seperti ARINC 429) ke:
- Display (PFD, ND): Menampilkan informasi di glass cockpit.
- Flight Management System (FMS): Untuk perhitungan navigasi dan performa.
- Autopilot/Flight Director: Untuk kontrol penerbangan otomatis.
- Sistem Lainnya: Seperti Traffic Collision Avoidance System (TCAS) dan Transponder Mode S.
Ini berarti kesalahan data pitot-static tidak hanya membingungkan pilot, tetapi dapat menyebabkan sistem otomatis mengambil keputusan yang salah. Pesawat komersial biasanya memiliki 2 atau 3 sistem pitot-static independen dengan ADC terpisah untuk redundansi.
Checklist Pemeliharaan Preventif untuk Teknisi
Mencegah masalah lebih baik daripada memperbaikinya. Terapkan strategi ini:
- Inspeksi Visual Harian/Mingguan (Pre-flight/Post-flight):
- Periksa kebersihan pitot tube dan static port dari serangga, debu, atau cat.
- Pastikan tidak ada penyok atau kerusakan fisik pada pitot tube.
- Verifikasi bahwa semua penutup pelindung (caps) telah dilepas sebelum penerbangan.
- Inspeksi Berkala (Sesuai AMM):
- Lakukan pengujian pitot-static lengkap setiap 24 bulan, atau sesuai interval yang ditentukan manual.
- Uji fungsi pitot heat secara berkala.
- Periksa kondisi fisik selang dan konektor di dalam badan pesawat untuk retak atau kekakuan.
- Inspeksi Khusus Kondisi:
- Selalu lakukan inspeksi menyeluruh sistem pitot-static setelah pesawat keluar dari penyimpanan panjang, seperti yang direkomendasikan EASA untuk mencegah insiden akibat sarang serangga [4].
- Periksa sistem setelah pesawat terbang melalui cuaca buruk atau kondisi icing yang parah.
Kesimpulan
Sistem pitot-static mungkin terlihat sederhana—hanya tabung dan lubang—tetapi fungsinya sebagai pemberi informasi vital menjadikannya salah satu sistem paling kritis dalam keselamatan penerbangan. Uji pitot-static yang benar, terdokumentasi, dan berkala bukanlah pekerjaan rutin belaka; itu adalah ritual penjagaan nyawa yang memastikan setiap angka di kokpit adalah kebenaran yang tak terbantahkan.
Panduan ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara standar global yang kompleks dan realitas operasional di hanggar-hanggar Indonesia. Dengan mengikuti prosedur sistematis, melakukan troubleshooting yang cermat, serta memelihara alat ukur dan sistem itu sendiri dengan disiplin, Anda tidak hanya memenuhi kotak dalam checklist regulasi. Anda secara langsung membangun fondasi yang kokoh bagi keselamatan setiap penerbangan. Konsistensi dalam pendekatan ini adalah investasi paling nyata untuk keandalan armada dan kepatuhan yang tak tergoyahkan.
Sebagai mitra teknis bagi industri di Indonesia, CV. Java Multi Mandiri memahami tantangan operasional dan kebutuhan peralatan yang presisi. Kami menyediakan berbagai solusi instrumentasi pengukuran dan pengujian, termasuk peralatan pendukung untuk pemeliharaan sistem avionik yang dapat membantu bisnis Anda meningkatkan keandalan dan efisiensi operasi. Untuk konsultasi gratis solusi bisnis yang sesuai dengan kebutuhan spesifik perusahaan Anda, silakan hubungi tim kami melalui halaman kontak.
Rekomendasi Alat Anemometer
-

Alat Ukur Kecepatan Angin LUTRON AM-4222
Lihat Produk★★★★★ -

Alat Ukur Kecepatan Angin LUTRON YK-2005AM
Lihat Produk★★★★★ -

Alat Ukur Kecepatan Angin AMTAST AM4836C
Lihat Produk★★★★★ -

Alat Ukur Kecepatan Angin AMTAST AMF081
Lihat Produk★★★★★ -

Alat Ukur Kecepatan Angin Fluke 925 Vane Anemometer
Lihat Produk★★★★★ -

Alat Ukur Kecepatan Angin LUTRON AM-4205A
Lihat Produk★★★★★ -

Alat Ukur Kecepatan Angin AMTAST AMF029
Lihat Produk★★★★★ -

Alat Ukur Kecepatan Angin Landtek AM4826
Lihat Produk★★★★★
Disclaimer: Panduan ini dibuat untuk tujuan edukasi dan referensi teknis. Untuk keputusan operasional dan pemeliharaan yang mengikat, selalu merujuk pada regulasi resmi (FAA, EASA, Kementerian Perhubungan RI), manual pesawat (Aircraft Maintenance Manual/AMM), dan berkoordinasi dengan inspektur berwenang. Penulis tidak bertanggung jawab atas kerugian akibat penggunaan informasi ini.
Referensi
- Albright, J. (N.D.). AeroPerú 603 – Case Study. Code7700. Retrieved from https://code7700.com/case_study_aeroperu_603.htm
- SKYbrary. (N.D.). Pitot Static System. Retrieved from https://www.skybrary.aero/articles/pitot-static-system
- Federal Aviation Administration (FAA). (2018). Advisory Circular AC 43-6D: Altitude Reporting Equipment and Transponder System Maintenance and Inspection Practices. U.S. Department of Transportation. Retrieved from https://www.faa.gov/documentLibrary/media/Advisory_Circular/AC_43-6D_Ed_Update.pdf
- Wyvern Ltd. (2020). EASA Outlines Guidance To Inspect Pitot Static Systems After Long Storage. Retrieved from https://www.wyvernltd.com/wyvern-press-room/easa-outlines-guidance-to-inspect-pitot-static-systems-after-long-storage/
- Federal Aviation Administration (FAA). (2016). Pilot’s Handbook of Aeronautical Knowledge (Chapter 8: Flight Instruments). Retrieved from https://www.faa.gov/sites/faa.gov/files/10_phak_ch8.pdf
- Aircraft Owners and Pilots Association (AOPA). (2019, April 10). Aircraft Maintenance: Pitot-static system failures. Retrieved from https://www.aopa.org/news-and-media/all-news/2019/april/10/pitot-static-system-failures














