Mengapa Resolusi 0,001 pH Tidak Menjamin Akurasi pH Meter? Memahami Kalibrasi, Elektroda, dan Ketertelusuran Pengukuran

Daftar Isi

Angka pH dengan tiga desimal di layar meter, misalnya 7,004, terlihat sangat presisi. Tetapi presisi tampilan bukan jaminan bahwa angka tersebut benar. Resolusi 0,001 pH hanya menunjukkan seberapa halus sebuah meter dapat membedakan dua nilai yang berdekatan, bukan seberapa dekat nilai tersebut dengan pH sebenarnya dari sampel. Yang menentukan keabsahan sebuah pembacaan pH adalah tiga hal yang jarang dibahas bersamaan: apakah kalibrasi masih tertelusur ke larutan referensi yang sah, apakah elektroda merespons mendekati perilaku Nernstian yang seharusnya, dan apakah nilai yang terbaca benar-benar berada dalam rentang yang sudah diverifikasi lewat kalibrasi — bukan hasil ekstrapolasi di luar titik-titik kalibrasi tersebut.

Kerangka acuan internasional untuk pengukuran pH menegaskan hal ini sejak definisinya. Dalam rekomendasi IUPAC 2002 tentang definisi, standar, dan prosedur pengukuran pH, kuantitas pH dijelaskan sebagai besaran konvensional, bukan besaran yang bisa diukur secara langsung dan mutlak seperti panjang atau massa. Ketertelusurannya hanya bisa dijaga lewat rantai pembanding tak terputus menuju standar primer tertentu, dan standar primer itu sendiri hanya mencakup enam larutan bersertifikat pada rentang pH 3 sampai 10, pada suhu 5-50 °C. Di luar rentang dan kondisi itu, ketidakpastian pengukuran pH menjadi lebih besar dan tidak lagi terdefinisi seketat standar primernya.

Bagi teknisi laboratorium maupun petugas pemantauan lingkungan, perbedaan ini bukan sekadar detail akademis. Keputusan seperti apakah air limbah memenuhi baku mutu, apakah sebuah proses produksi masih dalam kendali, atau apakah hasil pengujian bisa dipertahankan saat audit, semuanya bertumpu pada satu angka pH yang ditampilkan meter. Bagian berikut membahas apa yang sebenarnya membuat angka itu bisa dipercaya, dan bagaimana memilih serta mengoperasikan instrumen yang mendukung ketertelusuran tersebut — bukan sekadar menampilkan angka dengan banyak desimal.

Pertanyaan-pertanyaan yang dijawab dalam artikel ini:

Mengapa Resolusi 0,001 pH Tidak Sama dengan Akurasi Tinggi?

Elektroda pH bekerja dengan mengukur beda potensial listrik yang timbul akibat perbedaan aktivitas ion hidrogen antara sampel dan larutan referensi di dalam elektroda — prinsip elektrokimia yang sama, apa pun rentang atau resolusi tampilan sebuah meter, sebagaimana pernah dibahas dari sisi jenis dan cara merawat elektroda pada panduan kalibrasi dan perawatan pH meter. Resolusi 0,001 pH berarti sirkuit dan layar meter mampu membedakan perubahan sinyal sekecil itu. Namun kemampuan membedakan sinyal bukan hal yang sama dengan kebenaran nilai yang diwakili sinyal tersebut.

Akurasi instrumen, misalnya ±0,002 pH + 2 digit, menyatakan batas kesalahan elektronik meter terhadap sinyal yang diterimanya, dengan asumsi elektroda dalam kondisi ideal dan kalibrasi baru saja dilakukan dengan benar. Begitu elektroda mulai menua, buffer kalibrasi sudah tidak lagi tertelusur, atau suhu sampel berbeda jauh dari suhu saat kalibrasi, kesalahan aktual pada hasil pengukuran bisa jauh lebih besar daripada angka akurasi yang tertera pada spesifikasi — meski resolusi tampilannya tidak berubah sama sekali.

Apa yang Sebenarnya Menentukan Keabsahan Sebuah Pembacaan pH?

Setidaknya ada lima lapis yang menentukan apakah sebuah angka pH bisa dipercaya, dan kelimanya independen dari resolusi tampilan meter:

AspekApa yang DitunjukkanApa yang Tidak Dijaminnya
Resolusi (mis. 0,001 pH)Perbedaan nilai terkecil yang bisa dibedakan pada layarKedekatan nilai tersebut dengan pH sebenarnya pada sampel
Akurasi instrumen (mis. ±0,002 pH + 2 digit)Batas kesalahan elektronik meter terhadap sinyal elektroda, pada kondisi kalibrasi idealPengaruh kondisi elektroda, suhu sampel, atau posisi nilai terhadap titik kalibrasi
Efisiensi/slope elektroda (%)Seberapa dekat respons elektroda dengan perilaku Nernstian teoretis, dievaluasi lewat kalibrasi multititikApakah buffer yang dipakai untuk mendapatkan angka itu masih tertelusur, atau justru sudah terkontaminasi/kedaluwarsa
Rentang kalibrasi tervalidasiInterval pH tempat elektroda benar-benar sudah diverifikasi lewat titik kalibrasiKeabsahan nilai di luar bracket tersebut, yang pada dasarnya adalah hasil ekstrapolasi
Ketertelusuran (traceability)Rantai pembanding hingga larutan referensi bersertifikat atau standar primerTidak otomatis ada hanya karena layar menampilkan banyak desimal

Kelima aspek ini saling melengkapi. Sebuah meter bisa memiliki resolusi tinggi dan akurasi instrumen yang bagus di atas kertas, tetapi tetap menghasilkan angka yang tidak sahih jika elektrodanya sudah menua, kalibrasinya tidak mengapit nilai sampel yang diukur, atau catatan ketertelusurannya terputus.

Bagaimana Suhu Mengubah Nilai yang Ditampilkan, Bahkan dengan Kompensasi Otomatis?

Respons elektroda kaca pH mengikuti persamaan Nernst, dan slope atau kepekaan elektroda terhadap perubahan pH bergantung pada suhu. Pada 25 °C, slope teoretisnya adalah 59,16 mV per unit pH; pada suhu lebih rendah nilainya mengecil, dan pada suhu lebih tinggi nilainya membesar.

SuhuSlope Nernstian Teoretis
0 °C54,20 mV/pH
25 °C59,16 mV/pH
30 °C60,15 mV/pH
60 °C66,10 mV/pH
100 °C74,04 mV/pH

Automatic Temperature Compensation (ATC) mengoreksi perubahan slope elektroda ini secara elektronik menggunakan sensor suhu yang ditempatkan bersama elektroda pada sampel. Namun ATC hanya mengoreksi respons elektroda terhadap suhu, bukan pengaruh suhu terhadap kimia sampel itu sendiri. Nilai pH suatu larutan buffer maupun sampel nyata dapat sedikit bergeser seiring suhu karena kesetimbangan kimianya sendiri, terlepas dari elektroda yang dipakai untuk mengukurnya (HORIBA; Reagecon). Akibatnya, dua pembacaan pH pada suhu berbeda — meski keduanya sudah dikompensasi suhu secara otomatis — tidak selalu bisa dibandingkan begitu saja sebagai angka yang setara, kecuali suhu buffer kalibrasi dan suhu sampel benar-benar diketahui dan dicatat.

Pengaruh suhu juga tidak seragam di sepanjang skala pH. Galat akibat suhu cenderung membesar semakin jauh nilai sampel dari titik isopotensial elektroda, yang pada kebanyakan elektroda kaca berada di sekitar pH 7 (Metrohm). Untuk instrumen dengan rentang ukur yang diperluas, seperti -2 hingga +20 pH, ini berarti sampel-sampel ekstrem — sangat asam atau sangat basa — justru lebih rentan terhadap kesalahan terkait suhu dibanding sampel mendekati netral. Mencatat suhu sampel bersamaan dengan nilai pH karena itu bukan sekadar praktik pelengkap, melainkan bagian dari data yang dibutuhkan untuk menilai validitas hasil, terutama pada sampel yang jauh dari pH netral.

Mengapa Efisiensi Elektroda Bisa Menurun Padahal Meternya Sama?

Slope atau efisiensi elektroda, yang dinyatakan dalam persen terhadap nilai Nernstian teoretis, adalah indikator kondisi elektroda — bukan kondisi meter. Elektroda baru umumnya menunjukkan efisiensi di kisaran atas, mendekati 100%, dan nilai ini berangsur menurun seiring pemakaian akibat penuaan membran kaca, kontaminasi permukaan, atau tersumbatnya diafragma referensi. Karena perubahan ini biasanya bertahap, penurunan efisiensi elektroda sering tidak disadari sampai hasil pengukuran menyimpang cukup jauh dari nilai yang diharapkan.

Sebagian besar SOP laboratorium menetapkan batas penerimaan slope setelah kalibrasi multititik, meski nilai batasnya bervariasi tergantung jenis elektroda dan prosedur yang dipakai — ada yang mensyaratkan sekitar 90 sampai 105% dari nilai teoretis, ada pula yang menetapkan batas berbeda untuk elektroda tertentu (Hach). Yang konsisten di berbagai sumber adalah prinsipnya, bukan angka tunggalnya: efisiensi elektroda perlu dipantau dan dicatat setiap kali kalibrasi, bukan hanya diperiksa saat meter mulai menunjukkan hasil yang tampak janggal.

Studi Kasus: Seberapa “Sehat” Sebenarnya Elektroda yang Lolos Kalibrasi Harian?

Sebuah studi metrologi kimia menguji proses kalibrasi pH meter menggunakan kalibrator pH dan larutan referensi bersertifikat pada pH 4,00; 7,00; dan 10,00. Selain memverifikasi spesifikasi kalibrasi yang dinyatakan pada instrumen, penelitian ini memeriksa linearitas respons elektroda pada rentang tersebut dan menghitung efisiensinya secara terpisah dari kalibrasi rutin harian. Hasilnya, efisiensi elektroda tercatat 98,39%, dengan model kalibrasi antara respons instrumen dan nilai pH referensi menghasilkan slope 1 dan intercept 0 — menunjukkan performa yang baik meski tidak sepenuhnya ideal dibanding respons Nernstian teoretis (Metrology Chemistry I: Calibration of a pH Meter and Quality Control).

Yang penting dicermati dari studi ini bukan hanya angka akhirnya, melainkan metodenya: verifikasi dilakukan dengan larutan referensi bersertifikat yang independen dari kalibrasi harian, bukan sekadar membaca hasil self-check meter. Praktik semacam ini yang membedakan kalibrasi rutin — menyesuaikan pembacaan meter terhadap buffer yang dipakai saat itu — dengan verifikasi, yaitu membuktikan bahwa hasil kalibrasi tersebut, dan riwayatnya dari waktu ke waktu, masih bisa dipertanggungjawabkan. Sertifikat kalibrasi ISO yang menyertai sebuah instrumen baru berperan sebagai titik awal ketertelusuran ini; verifikasi berkala setelahnya tetap diperlukan karena performa elektroda, bukan meter secara elektronik, yang paling sering menjadi sumber penyimpangan seiring waktu.

Mengapa Rentang Kalibrasi yang Divalidasi Penting untuk Sampel Ekstrem?

Praktik kalibrasi pH yang baik mensyaratkan penggunaan minimal dua larutan buffer yang mengapit (bracket) nilai pH sampel yang akan diukur (HORIBA). Di dalam rentang yang diapit titik-titik kalibrasi itu, respons elektroda sudah diverifikasi terhadap nilai referensi yang diketahui. Di luar rentang tersebut, nilai yang ditampilkan meter adalah hasil ekstrapolasi dari model slope-offset yang terbentuk dari titik kalibrasi — valid secara matematis, tetapi tidak lagi didukung titik referensi nyata.

Standar primer pH sendiri, sebagaimana ditetapkan lewat konvensi Bates-Guggenheim dalam rekomendasi IUPAC, hanya mencakup rentang pH 3 sampai 10 pada suhu 5-50 °C, dengan ketidakpastian sekitar 0,01 unit pH. Di luar rentang itu, penetapan nilai pH bergantung pada standar sekunder yang diturunkan dengan ketidakpastian lebih besar (IUPAC 2002). Bagi instrumen dengan rentang ukur yang diperluas hingga -2 atau +20 pH — dipakai misalnya untuk sampel proses industri yang sangat asam atau basa — bagian penting dari mengetahui apakah sebuah pembacaan bisa dipercaya adalah mengetahui apakah nilai tersebut masih berada dalam bracket kalibrasi yang benar-benar dilakukan, atau sudah menjadi ekstrapolasi di luar itu.

Kebutuhan ini semakin nyata pada pengukuran lapangan yang hasilnya harus bisa dipertanggungjawabkan saat audit, seperti pada pengukuran pH tanah untuk keperluan QA dan riset lapangan, di mana kondisi sampel jauh lebih bervariasi dibanding kondisi terkendali di laboratorium.

Apa Konsekuensinya bagi Pengujian Lingkungan dan Kepatuhan terhadap Baku Mutu?

Di Indonesia, pengujian pH air dan air limbah mengacu pada metode elektrometri/potensiometri sebagaimana diatur dalam SNI 6989.11:2019, yang setara dengan metode APHA 4500-H+ dalam Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater — metode yang diakui dalam ruang lingkup akreditasi ISO/IEC 17025:2017 pada laboratorium pengujian (BRIN). Baku mutu yang harus dipenuhi pun sering berupa rentang yang sempit. Sebagai contoh, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.68/MENLHK-SETJEN/2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik menetapkan rentang pH 6 sampai 9 sebagai syarat sebelum air limbah dibuang ke badan air (Kementerian LHK).

Pada rentang sesempit itu, kesalahan kalibrasi atau drift elektroda yang tampak kecil di atas kertas — misalnya beberapa persepuluh unit pH akibat elektroda yang belum diverifikasi ulang, atau kalibrasi yang tidak mengapit kondisi sampel sebenarnya — bisa menjadi penentu apakah sebuah hasil dinyatakan memenuhi atau melanggar baku mutu. Di titik inilah manajemen data GLP menjadi relevan: bukan sekadar fitur tambahan, melainkan bagian dari bukti bahwa nilai yang dilaporkan memang dihasilkan dari kalibrasi yang tertelusur, bukan sekadar angka pada satu waktu pengukuran yang tidak bisa direkonstruksi ulang. Kebutuhan menjaga jejak data semacam ini pula yang mendorong berkembangnya pH meter portabel dengan data logger otomatis untuk laboratorium dan lapangan, sehingga tren pengukuran dan kondisi pengujian bisa ditelusuri kembali saat dibutuhkan — termasuk untuk parameter kualitas air lain yang turut dipantau pada banyak instalasi pengolahan dan pemantauan kualitas air.

Kesalahan yang Membuat Presisi Tinggi Jadi Tidak Berarti

  • Mengkalibrasi hanya di satu titik lalu mengukur sampel jauh di luar titik itu. Kalibrasi satu titik (misalnya hanya pH 7) tidak memberi informasi slope; nilai jauh dari titik tersebut sepenuhnya bergantung pada asumsi slope teoretis, bukan yang sudah diverifikasi.
  • Tidak mencatat suhu buffer dan sampel saat kalibrasi maupun pengukuran. Tanpa catatan suhu, penyimpangan hasil di kemudian hari sulit ditelusuri penyebabnya.
  • Menyamakan kompensasi suhu otomatis dengan koreksi penuh terhadap karakter kimia sampel. ATC hanya mengoreksi respons elektroda, bukan pengaruh suhu terhadap kesetimbangan kimia sampel itu sendiri.
  • Tidak memantau tren efisiensi elektroda dari waktu ke waktu. Penurunan slope yang gradual sering baru disadari setelah hasil menyimpang jauh, bukan sejak awal terjadi.
  • Menggunakan larutan buffer yang sudah kedaluwarsa atau terkontaminasi sebagai titik kalibrasi. Buffer yang sudah menyerap CO2 dari udara atau tercampur sisa sampel sebelumnya akan menggeser titik acuan kalibrasi itu sendiri.
  • Menganggap seluruh desimal yang tampil di layar sebagai kebenaran mutlak. Tanpa verifikasi berkala terhadap larutan referensi independen, angka presisi tinggi hanya menunjukkan resolusi tampilan, bukan akurasi hasil.

Sebagian pola kesalahan ini sejalan dengan yang sering ditemukan pada penggunaan pH meter secara umum, namun akar masalah yang dibahas di sini lebih spesifik: bukan sekadar kebersihan elektroda, melainkan apakah rentang dan riwayat kalibrasi benar-benar mendukung nilai yang dilaporkan.

Apa yang Perlu Dimiliki Instrumen agar Mendukung Kebutuhan Ini?

Dari seluruh pembahasan di atas, ada tiga kemampuan yang idealnya dimiliki sebuah pH meter untuk mendukung pengukuran yang tertelusur: kalibrasi multititik dengan indikasi apakah nilai yang terukur masih berada dalam rentang yang sudah diverifikasi, manajemen data sesuai prinsip GLP yang bisa diaudit, dan sertifikat kalibrasi dari pabrik sebagai titik awal ketertelusuran sebelum instrumen dipakai di lapangan atau laboratorium.

Environmental Meter PCE-PH 228HHD-ICA: pH-ORP Meter dengan Verifikasi Rentang Kalibrasi Bawaan

Environmental Meter PCE-PH 228HHD-ICA mengukur pH pada rentang -2 sampai +20 pH dengan resolusi 0,001 pH dan akurasi ±0,002 pH + 2 digit, serta redoks (ORP) pada rentang -2000 sampai +2000 mV dengan resolusi 1 mV dan akurasi ±2 mV. Kalibrasi dapat dilakukan secara fleksibel dari 2 hingga 5 titik, dengan proses yang dipandu secara grafis di layar.

Salah satu fitur yang berkaitan langsung dengan pembahasan di atas adalah Permanent Measurement Verification (PMV): sebuah bilah warna pada layar yang menunjukkan posisi nilai yang sedang diukur relatif terhadap titik-titik kalibrasi yang telah dilakukan. Dengan indikator ini, operator dapat langsung melihat apakah pembacaan berada dalam rentang yang sudah diverifikasi lewat kalibrasi, atau sudah berada di luar bracket kalibrasi sehingga nilainya merupakan hasil ekstrapolasi — persis konsep yang membedakan presisi tampilan dari keabsahan hasil, seperti dibahas pada bagian rentang kalibrasi tervalidasi di atas.

Untuk keperluan ketertelusuran dan audit, instrumen ini menyediakan manajemen data sesuai prinsip GLP: akun pengguna dengan proteksi kata sandi, manajemen sampel, serta pencatatan otomatis yang tersimpan pada memori internal 32 GB — cukup untuk hingga 100 rekaman dengan maksimum 100.000 titik data per rekaman, dengan interval penyimpanan yang dapat diatur dari 1 detik hingga 12 jam. Data dipindahkan melalui port USB-C, dan instrumen mendukung pengukuran suhu melalui sensor eksternal sehingga nilai pH dan suhu dapat dicatat bersamaan — relevan dengan pembahasan mengenai pengaruh suhu sebelumnya.

Sebagai varian handheld (HHD) dari lini PCE-PH 228, unit ini dikirim tanpa elektroda pH/redoks; elektroda dipilih dan dipesan terpisah sesuai jenis sampel serta kondisi suhu kerja yang dihadapi, sehingga pengguna bisa mencocokkan jenis membran, badan elektroda, dan diafragma referensi dengan karakteristik sampelnya — baik untuk air limbah dan air permukaan, larutan proses industri, maupun sampel laboratorium riset. Bodi meter memiliki tingkat perlindungan IP52, ditenagai baterai lithium polymer 2500 mAh yang dapat diisi ulang lewat USB-C, dengan kondisi operasi -20 sampai 65 °C dan kelembapan relatif 10-95%. Setiap unit dilengkapi sertifikat kalibrasi ISO dari pabrik sebagai titik awal ketertelusuran, yang perlu dijaga kelanjutannya lewat verifikasi rutin di lokasi penggunaan.

Detail teknis lengkap, kelengkapan pengiriman, dan opsi elektroda yang kompatibel dapat dilihat pada halaman produk Environmental Meter PCE-PH 228HHD-ICA.

Kesimpulan

Resolusi 0,001 pH pada layar sebuah meter menunjukkan kehalusan pembacaan, bukan kebenaran nilai yang ditampilkan. Akurasi instrumen menunjukkan batas kesalahan elektronik dalam kondisi kalibrasi ideal, tetapi tetap bergantung pada kondisi elektroda, kompensasi suhu, dan yang paling sering diabaikan: apakah nilai yang diukur masih berada dalam rentang yang benar-benar diverifikasi lewat kalibrasi.

Ketertelusuran bukan sesuatu yang otomatis didapat karena angka di layar memiliki banyak desimal. Ia dibangun lewat kalibrasi multititik yang mengapit nilai sampel, pemantauan efisiensi elektroda dari waktu ke waktu, pencatatan suhu yang konsisten, dan rekaman data yang bisa ditelusuri ulang saat dibutuhkan — baik untuk keperluan riset, kendali mutu, maupun kepatuhan terhadap baku mutu lingkungan.

Instrumen dengan fitur verifikasi rentang kalibrasi, manajemen data GLP, dan sertifikat kalibrasi dari pabrik, seperti pada Environmental Meter PCE-PH 228HHD-ICA, membantu menjawab kebutuhan ini. Namun fitur tersebut tetap memerlukan disiplin penggunaan: buffer yang masih valid, jadwal verifikasi yang konsisten, dan pencatatan kondisi pengukuran yang lengkap.

Angka pH adalah data. Keabsahannya ditentukan oleh bagaimana data itu diperoleh dan ditelusuri, bukan oleh banyaknya desimal yang tampil di layar.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa perbedaan resolusi dan akurasi pada pH meter?

Resolusi adalah nilai desimal terkecil yang bisa dibedakan meter di layar, misalnya 0,001 pH. Akurasi adalah seberapa dekat nilai yang ditampilkan dengan nilai pH sebenarnya, dan dipengaruhi oleh kalibrasi, kondisi elektroda, serta suhu — bukan hanya kemampuan tampilan meter.

Apakah kompensasi suhu otomatis (ATC) membuat pengukuran pH sepenuhnya bebas dari pengaruh suhu?

Tidak. ATC mengoreksi perubahan slope elektroda akibat suhu, tetapi tidak mengoreksi perubahan pH sampel itu sendiri akibat suhu. Untuk perbandingan hasil yang ketat, suhu sampel dan buffer kalibrasi tetap perlu dicatat.

Seberapa sering elektroda pH perlu dikalibrasi ulang?

Frekuensinya tergantung intensitas pemakaian dan jenis sampel, namun banyak SOP laboratorium mensyaratkan kalibrasi sebelum penggunaan harian, dengan verifikasi efisiensi elektroda pada setiap kalibrasi tersebut.

Apa yang dimaksud rentang kalibrasi yang divalidasi?

Rentang pH di antara titik-titik buffer yang benar-benar dipakai saat kalibrasi. Nilai di dalam rentang ini didukung oleh titik referensi nyata; nilai di luar rentang tersebut adalah hasil ekstrapolasi dari model slope-offset yang terbentuk.

Apakah sertifikat kalibrasi ISO menjamin hasil pengukuran akan selalu akurat?

Sertifikat kalibrasi ISO menunjukkan bahwa instrumen sudah diverifikasi terhadap standar tertelusur pada saat kalibrasi tersebut dilakukan. Ia adalah titik awal ketertelusuran, bukan jaminan permanen; kondisi elektroda dan praktik kalibrasi selanjutnya di lokasi penggunaan tetap menentukan keabsahan hasil dari waktu ke waktu.

Apakah Environmental Meter PCE-PH 228HHD-ICA sudah termasuk elektroda?

Tidak. Sebagai varian handheld (HHD), unit ini dikirim tanpa elektroda pH/redoks sehingga elektroda perlu dipesan terpisah sesuai kebutuhan sampel.

Berapa nilai pH yang harus dipenuhi air limbah domestik menurut regulasi di Indonesia?

Berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.68/MENLHK-SETJEN/2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik, rentang pH yang disyaratkan adalah 6 sampai 9 sebelum air limbah dibuang ke badan air.

Bagaimana cara mengetahui elektroda pH sudah mulai menurun performanya?

Salah satu indikatornya adalah efisiensi atau slope elektroda yang ditampilkan setelah kalibrasi multititik. Penurunan bertahap dari nilai mendekati 100% menandakan elektroda mulai menua, terkontaminasi, atau diafragma referensinya mulai tersumbat.

Rekomendasi Environmental Meter Unggulan untuk Kebutuhan Anda

Referensi

  1. Buck, R. P., Rondinini, S., Covington, A. K., et al. (2002). Measurement of pH: Definition, Standards, and Procedures (IUPAC Recommendations 2002). Pure and Applied Chemistry, 74(11), 2169-2200. publications.iupac.org
  2. Direktorat Pengelolaan Laboratorium, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Standar Pelayanan Analisis pH (SNI 6989.11:2019 dan APHA 4500-H+ 2017). elsatur.brin.go.id
  3. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri LHK Nomor P.68/MENLHK-SETJEN/2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik. Berita Negara Republik Indonesia No. 1323/2016. peraturan.go.id
  4. HORIBA Advanced Techno. Automatic Temperature Compensation in pH Measurement. horiba.com
  5. Metrohm. (2023). How Temperature Influences the pH Value. metrohm.com
  6. Reagecon. The Effects of Temperature on pH Measurement (Technical Paper). knowledge.reagecon.com
  7. Hach Company. pH Electrode Calibration Application Note (IntelliCAL PHC805), mengacu pada ISO 10523:2008 — Water Quality: Determination of pH. cdn.hach.com
  8. Metrology Chemistry I: Calibration of a pH Meter and Quality Control. Universitas. DOI: 10.5377/universitas.v1i1.1627. camjol.info

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.