Pekerja turun dari area pengelasan, mengeluh kulit terasa perih seperti terbakar dan mata berair. Supervisor menganggapnya “panas biasa”. Beberapa hari kemudian keluhan yang sama muncul lagi, kali ini disertai sakit kepala. Pola berulang seperti ini sering diabaikan, padahal bisa menjadi sinyal bahwa paparan radiasi ultraviolet di area kerja sudah melampaui ambang yang seharusnya. Untuk memastikan seberapa besar paparan tersebut, cara mengukur intensitas sinar UV di tempat kerja perlu dilakukan secara berkala dengan alat yang sesuai.
Daftar Isi
- Mengapa Area Kerja Terasa Menyengat? Mengenali Gejala Awal Paparan UV Berlebih
- Dari “Sinar UV” ke “Iradiansi”: Memahami Apa yang Sebenarnya Diukur
- Sumber UV di Tempat Kerja: Dari Sinar Matahari hingga Lampu Disinfeksi
- Dasar Hukum: Kewajiban Pengukuran UV Menurut Permenaker No. 5 Tahun 2018
- Cara Mengukur Intensitas Sinar UV di Tempat Kerja: Prosedur Langkah demi Langkah
- Langkah 1: Identifikasi Sumber UV Utama
- Langkah 2: Siapkan Alat Ukur UV Meter
- Langkah 3: Tentukan Titik Pengukuran yang Mewakili
- Langkah 4: Arahkan Sensor Menghadap Sumber UV
- Langkah 5: Catat Pembacaan pada Titik dan Waktu Berbeda
- Langkah 6: Dokumentasikan Hasil
- Langkah 7: Bandingkan dengan NAB yang Berlaku
- Memilih Alat Ukur UV yang Tepat: Environmental Meter PCE-UV34
- Contoh Pengukuran di Lapangan: Studi pada Pekerja Pengelasan
- Konteks Keselamatan Kerja UV-C: Pelajaran dari Studi Kasus Fasilitas Kesehatan
- Langkah Tindak Lanjut Jika Hasil Pengukuran Melebihi NAB
- Perbandingan Cepat: Gejala vs. Tindakan Pengukuran
- FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pengukuran UV di Tempat Kerja
- Berapa nilai ambang batas (NAB) paparan sinar UV yang aman di tempat kerja?
- Apakah sinar UV bisa terdeteksi tanpa alat ukur?
- Kapan waktu terbaik untuk melakukan pengukuran UV di area kerja?
- Apakah Environmental Meter PCE-UV34 bisa digunakan untuk mengukur UV dari lampu disinfeksi?
- Bagaimana cara mengetahui apakah alat ukur UV saya masih akurat?
- Apa yang harus dilakukan jika hasil pengukuran UV melebihi NAB?
- Kesimpulan
Masalahnya, sensasi menyengat di kulit bukan alat ukur. Persepsi subjektif tidak bisa membedakan apakah keluhan berasal dari radiasi UV, panas konveksi, atau kelelahan. Satu-satunya cara memastikan adalah mengukur intensitas sinar UV secara objektif dengan alat ukur sinar UV yang tepat, lalu membandingkan hasilnya dengan nilai ambang batas yang berlaku.
Mengapa Area Kerja Terasa Menyengat? Mengenali Gejala Awal Paparan UV Berlebih
Keluhan yang paling sering muncul dari pekerja di area paparan UV tinggi adalah kulit terasa perih, mata berair atau perih, dan sakit kepala setelah bekerja. Gejala ini sering dianggap “panas biasa” atau “kelelahan”, padahal bisa menjadi indikasi awal paparan UV yang melebihi ambang batas.
Paparan langsung UV-C pada manusia berpotensi menyebabkan iritasi mata, photokeratitis, serta gangguan pada kulit. [1] Paparan radiasi UV juga dapat menyebabkan fotokeratitis (radang kornea), penuaan dini pada kulit, serta meningkatkan risiko karsinoma kulit akibat kerusakan sel secara kumulatif. [1]
Pada studi pengelasan, penulis melaporkan risiko watery eye dan headache pada pengelas yang tidak mematuhi penggunaan APD. [2] Perlu dicatat, studi tersebut melaporkan risiko yang dialami pekerja, bukan menetapkan hubungan sebab-akibat antara paparan UV dan keluhan tersebut.
Karena gejala bersifat subjektif dan tumpang tindih dengan penyebab lain, pengukuran objektif menjadi langkah wajib untuk memastikan apakah keluhan benar disebabkan oleh UV atau faktor lain seperti panas lingkungan, ventilasi buruk, atau kelelahan kerja.
Dari “Sinar UV” ke “Iradiansi”: Memahami Apa yang Sebenarnya Diukur
Sinar UV adalah radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang lebih pendek dari cahaya tampak. Secara umum, spektrum ini terbagi menjadi UVA (315–400 nm), UVB (280–315 nm), dan UVC (100–280 nm). Pembagian ini penting karena setiap jenis memiliki karakteristik penetrasi dan risiko biologis yang berbeda.
Yang diukur oleh alat bukan “tingkat menyengat”, melainkan iradiansi, yaitu daya radiasi UV yang diterima per satuan luas. Permenaker No. 5 Tahun 2018 menyatakan bahwa Radiasi Sinar UV berbahaya bila di atas Nilai Ambang Batas (NAB), dengan NAB dalam satuan mW/cm². [3]
Dalam praktik pengukuran, UV Meter digunakan untuk membaca nilai iradiansi dalam satuan mW/cm². [2] Alat ini mengonversi energi UV yang diterima sensor menjadi angka yang bisa dibaca langsung, sehingga pengguna tidak perlu menafsirkan sensasi kulit atau mata.
Inilah kesalahpahaman paling umum di lapangan: “terasa menyengat” dianggap sama dengan “melebihi ambang batas”. Padahal keduanya tidak selalu berbanding lurus. Hanya pengukuran yang dapat memastikan.
Sumber UV di Tempat Kerja: Dari Sinar Matahari hingga Lampu Disinfeksi
Setiap sumber UV memiliki karakteristik paparan yang berbeda, sehingga strategi pengukuran juga harus disesuaikan.
- Sinar matahari — sumber UV utama di area kerja terbuka seperti konstruksi, pertambangan, dan pertanian. Intensitasnya berfluktuasi sepanjang hari dan dipengaruhi kondisi cuaca.
- Proses pengelasan — menghasilkan radiasi UV intens yang dapat mencapai area mata, siku, dan betis pekerja. [2]
- Lampu disinfeksi UV-C — digunakan untuk sterilisasi ruangan di fasilitas kesehatan dan laboratorium. Selama alat beroperasi, ruangan wajib dalam kondisi kosong dan tidak boleh terdapat aktivitas manusia di dalamnya. [1]
- Arc light dan lampu tanning — sumber UV buatan lain yang perlu diwaspadai. IEC 60335-2-27 membahas keselamatan peralatan listrik dengan emitor yang memaparkan kulit ke radiasi ultraviolet atau inframerah untuk penggunaan rumah tangga dan sejenis, termasuk peralatan untuk salon tanning dan tempat serupa. [4]
Perlu ditegaskan: IEC 60335-2-27 adalah standar keselamatan peralatan, bukan dasar normatif untuk menetapkan ambang batas paparan UV pekerja. Standar ini tidak dapat dijadikan acuan pengukuran UV area kerja secara umum.
Dasar Hukum: Kewajiban Pengukuran UV Menurut Permenaker No. 5 Tahun 2018
Di Indonesia, pengukuran UV di tempat kerja bukan sekadar praktik baik, melainkan kewajiban normatif. Permenaker No. 5 Tahun 2018 mengatur bahwa pengukuran dan pengendalian Radiasi Ultra Ungu (Ultra Violet) harus dilakukan pada Tempat Kerja yang memiliki sumber bahaya Radiasi Ultra Ungu. [3]
Regulasi yang sama menegaskan bahwa Radiasi Sinar UV berbahaya bila di atas Nilai Ambang Batas (NAB). [3] Selain itu, pemeriksaan dan/atau pengujian berkala dilakukan secara eksternal paling sedikit 1 tahun sekali atau sesuai dengan penilaian risiko atau ketentuan peraturan perundang-undangan. [3]
Satu hal penting yang perlu dipahami tim K3: nilai NAB UV spesifik tidak tercantum dalam teks regulasi yang tersedia. Untuk nilai pasti, selalu merujuk langsung ke lampiran resmi Permenaker No. 5 Tahun 2018. Jangan mengutip angka dari sumber sekunder sebagai NAB resmi.
Sebagai pembanding, layanan pengukuran UV tersedia di institusi seperti Balai K3 Provinsi Jawa Tengah, yang mencantumkan pengukuran paparan sinar ultraviolet di lingkungan kerja sebagai salah satu layanan pengujiannya. [5] Alur layanan mencakup permohonan online/offline, kaji ulang, pengambilan sampel di lokasi, analisis laboratorium terakreditasi, dan laporan hasil uji. [5]
Cara Mengukur Intensitas Sinar UV di Tempat Kerja: Prosedur Langkah demi Langkah
Pengukuran UV dapat dilakukan sendiri oleh tim internal sebagai pemantauan rutin, sementara pengujian berkala tetap merujuk pada ketentuan eksternal. Berikut kerangka prosedural yang dapat diterapkan.
Langkah 1: Identifikasi Sumber UV Utama
Petakan sumber UV di area kerja: sinar matahari, proses pengelasan, lampu disinfeksi, atau arc light. Setiap sumber memerlukan pendekatan pengukuran yang berbeda.
Langkah 2: Siapkan Alat Ukur UV Meter
Gunakan UV meter dengan sensor eksternal agar pengukuran fleksibel di lokasi sulit dijangkau. Pastikan alat dalam kondisi terkalibrasi sebelum digunakan.
Langkah 3: Tentukan Titik Pengukuran yang Mewakili
Fokuskan pada area paparan tertinggi, misalnya pada ketinggian mata, lengan, dan kaki pekerja. Sebagai contoh, dalam studi pengelasan yang dirujuk, pengukuran difokuskan pada area mata, siku, dan betis dengan 10 repetisi di setiap area. [2] [2]
Langkah 4: Arahkan Sensor Menghadap Sumber UV
Hindari menghalangi sensor dengan tubuh atau objek lain. Pastikan permukaan sensor benar-benar terpapar sumber UV yang diukur.
Langkah 5: Catat Pembacaan pada Titik dan Waktu Berbeda
Lakukan pengukuran pada pagi, siang, dan sore untuk menangkap variasi paparan, terutama untuk sumber UV dari sinar matahari yang berfluktuasi.
Langkah 6: Dokumentasikan Hasil
Catat tanggal, waktu, lokasi, kondisi cuaca, dan nilai yang terbaca. Dokumentasi ini penting untuk audit K3 dan kepatuhan regulasi.
Langkah 7: Bandingkan dengan NAB yang Berlaku
Bandingkan hasil dengan NAB yang berlaku. Jika melebihi, segera lakukan tindakan pengendalian. [3]
Catatan penting: prosedur di atas adalah kerangka praktis, bukan standar baku. Untuk prosedur rinci yang mengikat, selalu merujuk pada standar dan regulasi resmi terkini.
Memilih Alat Ukur UV yang Tepat: Environmental Meter PCE-UV34
Setelah memahami apa yang harus diukur, pertanyaan berikutnya adalah alat apa yang tepat. Environmental Meter PCE-UV34 adalah alat ukur radiasi UV yang dirancang untuk mengukur intensitas sinar UVA dan UVB pada rentang panjang gelombang 290 hingga 390 nm.
Alat ini dilengkapi sensor eksternal yang terpisah, sehingga pengguna dapat melakukan pengukuran fleksibel di lokasi yang sulit dijangkau. Kalibrasi standar yang dimiliki alat ini mendukung keandalan data yang dihasilkan, membuatnya cocok untuk penggunaan profesional.
Prinsip kerjanya didasarkan pada deteksi energi sinar UV oleh sensor, yang kemudian dikonversi menjadi nilai numerik yang mudah dibaca. Hasil pengukuran ditampilkan langsung, sehingga pengguna dapat memahami tingkat paparan di area kerja, laboratorium, atau luar ruangan tanpa istilah teknis yang rumit.
Alat ini dapat digunakan untuk memantau radiasi dari proses pengelasan atau pencahayaan berbasis arc light. Aplikasi lainnya meliputi sterilisasi menggunakan sinar UVA, penelitian DNA di laboratorium virologi, serta fotokimia. Desainnya yang portabel dan mudah digunakan memungkinkan teknisi atau peneliti melakukan pengukuran dengan cepat, didukung baterai 9V yang tahan lama.
Untuk area kerja dengan paparan UV tinggi, alat ukur sinar UV seperti PCE-UV34 membantu tim K3 memverifikasi tingkat radiasi secara objektif dan memastikan kepatuhan terhadap standar keselamatan yang berlaku.
Contoh Pengukuran di Lapangan: Studi pada Pekerja Pengelasan
Studi Subagiada dan Natalisanto memberikan gambaran konkret bagaimana pengukuran UV diterapkan di lapangan. Pengukuran dilakukan di beberapa bengkel menggunakan UV Meter, difokuskan pada area mata, siku, dan betis pengelas dengan 10 repetisi di setiap area. [2]
Hasil pengukuran menunjukkan nilai 0,0749 mW/cm² pada area mata, 0,0843 mW/cm² pada siku, dan 0,0934 mW/cm² pada betis. [2] Dalam studi tersebut, seluruh hasil pengukuran pada area mata, siku, dan betis melebihi nilai pembanding yang digunakan penulis, yang dirujuk dari Permenaker No. 05 Tahun 2018 dan tidak dapat dikonfirmasi sebagai isi resmi regulasi. [2]
Penulis mengaitkan nilai tinggi tersebut dengan kondisi lingkungan terbuka dan pengaruh sinar matahari yang tidak menentu. [2] Studi ini juga melaporkan risiko watery eye dan headache pada pengelas yang tidak mematuhi penggunaan APD. [2]
Perlu dicatat, NAB pembanding yang digunakan dalam studi ini adalah 0,0008 mW/cm² yang dirujuk dari Permenaker No. 05 Tahun 2018. [2] Nilai ini tidak dapat dikonfirmasi sebagai isi resmi Permenaker. Untuk nilai pasti, selalu merujuk langsung ke lampiran regulasi resmi.
Selain itu, nilai hasil pengukuran tersebut spesifik untuk studi ini dan tidak boleh digeneralisasi sebagai kondisi semua area kerja. Statistik yang digunakan (rata-rata, median, atau maksimum) juga tidak dispesifikasikan dalam abstrak studi.
Konteks Keselamatan Kerja UV-C: Pelajaran dari Studi Kasus Fasilitas Kesehatan
UV-C digunakan untuk sterilisasi ruangan di fasilitas kesehatan. Paparan langsung terhadap manusia berpotensi menyebabkan iritasi mata, photokeratitis, serta gangguan pada kulit. [1]
Selama alat beroperasi, ruangan wajib dalam kondisi kosong dan tidak boleh terdapat aktivitas manusia di dalamnya. [1] Jika akses ke ruangan diperlukan sebelum proses selesai, APD yang sesuai meliputi pelindung wajah (face shield) dengan filter UV, kacamata pelindung khusus UV, serta pakaian pelindung yang menutupi seluruh permukaan kulit. [1]
Wawancara dalam studi kasus di UPTD Puskesmas Pandanaran menunjukkan perlunya peningkatan edukasi mengenai bahaya paparan UV-C, peningkatan penggunaan APD, dan penerapan SOP yang lebih jelas. [1]
Pelajaran pentingnya: pengukuran UV bukan hanya soal angka, tetapi juga memastikan prosedur keselamatan benar-benar dijalankan di lapangan. Pelajaran pentingnya: pengukuran UV perlu disertai penerapan SOP dan penggunaan APD yang konsisten di lapangan, karena hasil pengukuran hanya menjadi dasar penilaian risiko bila tindakan pengendalian benar-benar dijalankan.
Langkah Tindak Lanjut Jika Hasil Pengukuran Melebihi NAB
Jika hasil pengukuran melebihi NAB, pengendalian risiko harus segera dilakukan dengan hierarki K3: eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif, dan APD. [3]
Rekayasa teknik dapat mencakup pemasangan tirai las, enclosure, atau ventilasi yang memadai untuk mengurangi paparan di sumbernya.
Pengendalian administratif meliputi rotasi kerja, pembatasan durasi paparan, dan penjadwalan kerja di luar jam puncak UV.
APD yang sesuai meliputi pelindung wajah dengan filter UV, kacamata pelindung khusus UV, dan pakaian pelindung yang menutupi seluruh permukaan kulit. [1]
Setelah pengendalian diterapkan, lakukan pengukuran ulang secara berkala untuk memastikan tindakan tersebut efektif. Pemeriksaan dan/atau pengujian berkala dilakukan secara eksternal paling sedikit 1 tahun sekali atau sesuai dengan penilaian risiko. [3]
Dokumentasikan semua tindakan untuk keperluan audit K3 dan kepatuhan regulasi.
Perbandingan Cepat: Gejala vs. Tindakan Pengukuran
| Gejala / Kondisi Lapangan | Kemungkinan Penyebab | Tindakan Pengukuran |
|---|---|---|
| Kulit perih seperti terbakar setelah bekerja | Paparan UV melebihi ambang batas atau panas konveksi | Ukur iradiansi UV (mW/cm²) pada area kulit terpapar |
| Mata berair atau perih | Iritasi UV, photokeratitis, atau iritasi debu/asap | Ukur UV pada ketinggian mata pekerja |
| Sakit kepala berulang di area tertentu | Paparan UV, panas, atau kualitas udara buruk | Ukur UV pada beberapa titik dan waktu berbeda |
| Area kerja terbuka dengan sinar matahari langsung | UV alami berfluktuasi sepanjang hari | Ukur pada pagi, siang, dan sore untuk menangkap variasi |
| Ruangan sterilisasi UV-C beroperasi | UV-C intens untuk inaktivasi mikroorganisme | Pastikan ruangan kosong; ukur hanya saat aman |
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pengukuran UV di Tempat Kerja
Berapa nilai ambang batas (NAB) paparan sinar UV yang aman di tempat kerja?
Permenaker No. 5 Tahun 2018 menyatakan bahwa Radiasi Sinar UV berbahaya bila di atas Nilai Ambang Batas (NAB), dengan NAB dalam satuan mW/cm². [3] Namun, nilai NAB UV spesifik tidak tercantum dalam teks regulasi yang tersedia. Untuk nilai pasti, selalu merujuk langsung ke lampiran resmi Permenaker No. 5 Tahun 2018.
Apakah sinar UV bisa terdeteksi tanpa alat ukur?
Tidak. Sinar UV tidak terlihat oleh mata manusia, dan sensasi menyengat di kulit tidak dapat membedakan UV dari panas konveksi. Hanya alat ukur sinar UV yang dapat memberikan nilai iradiansi objektif dalam satuan mW/cm².
Kapan waktu terbaik untuk melakukan pengukuran UV di area kerja?
Untuk sumber UV dari sinar matahari, lakukan pengukuran pada beberapa waktu berbeda (pagi, siang, sore) karena intensitasnya berfluktuasi. Untuk sumber buatan seperti lampu disinfeksi atau proses pengelasan, ukur saat sumber beroperasi pada kondisi normal.
Apakah Environmental Meter PCE-UV34 bisa digunakan untuk mengukur UV dari lampu disinfeksi?
PCE-UV34 dirancang untuk mengukur intensitas sinar UVA dan UVB pada rentang panjang gelombang 290–390 nm, sehingga tidak mencakup UV-C (100–280 nm). Untuk lampu disinfeksi UV-C yang beroperasi, pastikan ruangan dalam kondisi kosong dan tidak ada aktivitas manusia sebelum melakukan pengukuran. [1]
Bagaimana cara mengetahui apakah alat ukur UV saya masih akurat?
Pastikan alat dalam kondisi terkalibrasi. Kalibrasi standar yang dimiliki PCE-UV34 mendukung keandalan data yang dihasilkan. Untuk pengujian berkala yang bersifat formal, pemeriksaan dan/atau pengujian dilakukan secara eksternal paling sedikit 1 tahun sekali atau sesuai penilaian risiko. [3]
Apa yang harus dilakukan jika hasil pengukuran UV melebihi NAB?
Segera lakukan pengendalian risiko dengan hierarki K3: eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, pengendalian administratif, dan APD. [3] Contoh APD yang sesuai meliputi pelindung wajah dengan filter UV, kacamata pelindung khusus UV, dan pakaian pelindung yang menutupi seluruh permukaan kulit. [1] Setelah itu, lakukan pengukuran ulang untuk memastikan pengendalian berjalan efektif.
Kesimpulan
Keluhan kulit perih, mata berair, dan sakit kepala di area kerja tidak boleh diabaikan sebagai “panas biasa”. Paparan UV berlebih dapat menyebabkan iritasi mata, photokeratitis, dan gangguan kulit, serta meningkatkan risiko jangka panjang. [1]
Pengukuran objektif dengan alat ukur sinar UV diperlukan untuk menilai apakah paparan UV di area kerja melebihi ambang batas yang berlaku. Permenaker No. 5 Tahun 2018 mewajibkan pengukuran dan pengendalian Radiasi Ultra Ungu di tempat kerja yang memiliki sumber bahaya UV. [3]
Untuk kebutuhan pengukuran rutin di area kerja, laboratorium, atau luar ruangan, Environmental Meter PCE-UV34 menawarkan solusi praktis dengan sensor eksternal, rentang 290–390 nm, dan tampilan hasil langsung yang mudah dipahami.
Butuh rekomendasi alat ukur UV yang sesuai dengan kebutuhan area kerja Anda? Konsultasi gratis dengan tim CV. Java Multi Mandiri melalui WhatsApp 6285717112222 atau email contact@alat-test.com. Kami menyediakan pengiriman cepat dengan kualitas terjamin dan harga kompetitif.
Rekomendasi Environmental Meter
Untuk memperoleh gambaran yang objektif mengenai tingkat iradiansi ultraviolet di area kerja, diperlukan instrumen pengukuran yang andal dan sesuai peruntukannya. Alat ukur yang tepat memungkinkan pencatatan nilai paparan secara langsung pada titik dan waktu yang berbeda, sehingga hasilnya dapat didokumentasikan sebagai dasar evaluasi kondisi lingkungan kerja. Instrumen pengukuran lingkungan yang dirancang untuk membaca parameter UV dapat membantu proses verifikasi lapangan secara lebih terukur.
-

Environmental Meter incl. ISO Cal Certificate PCE-007-ICA
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-THD 50
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-LMD 5-ICA incl. ISO Calibration Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter GS 2
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-HT 72-ICA incl. ISO Calibration Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-AM 45
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-HT 70-ICA incl. ISO Calibration Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-HT 300
Lihat Produk★★★★★
Sumber Rujukan
- ANALISIS PENGGUNAAN UV ROOM STERILIZER DAN OZONE GENERATOR DALAM STERILISASI RUANGAN DI UPTD PUSKESMAS PANDANARAN
- Menentukan Intensitas Radiasi UV yang Diterima Pekerja Pengelasan dengan Titik Area Mata, Siku, dan Betis
- jdih.kemnaker.go.id
- IEC 60335-2-27:2009+AMD1:2012+AMD2:2015 CSV Household and similar electrical appliances – Safety – Part 2-27: Particular requirements for appliances for skin exposure to optical radiation
- Services – Balai Keselamatan dan Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
























