Bayangkan sebuah sungai di hilir tiba-tiba berubah warna, ikan naik ke permukaan, dan dalam beberapa hari muncul laporan kematian massal. Investigasi sering kali baru dimulai setelah kejadian, padahal perubahan kualitas air biasanya sudah berlangsung lebih dulu. Salah satu parameter yang paling cepat berubah dan paling sering luput dari pengamatan rutin adalah pH.
Daftar Isi
- Mengapa Deteksi Dini Perubahan pH Air Sungai Penting di Lapangan?
- Memahami Perubahan pH Air Sungai dan Dampaknya pada Ekosistem
- Cara Deteksi Dini Perubahan pH Air Sungai dengan pH Meter Bluetooth: Langkah demi Langkah
- 1. Persiapan alat dan bahan
- 2. Kalibrasi dua titik (minimal) sebelum mengukur
- 3. Pengukuran di lokasi
- 4. Pencatatan dan pelaporan
- 5. Interpretasi cepat dan tindakan
- Parameter Pengukuran dan Interpretasi Data pH Air Sungai
- Ketidakpastian pengukuran: angka yang sering dilupakan
- Batasan metode elektroda gelas
- Jangan mencampur parameter yang berbeda
- Studi Kasus: Pengukuran pH In Situ di Sungai Indonesia
- Sungai Gajah Wong, Yogyakarta (Januari 2020)
- Sungai Kelinjau, Kutai Timur
- Praktik Terbaik dan Pemeliharaan pH Meter Portabel di Lapangan
- Celah Bukti dan Batasan Klaim: Bluetooth, Deteksi Dini, dan Pencegahan Kerusakan Ekosistem
- Pertanyaan yang Sering Diajukan
- Berapa standar pH air sungai yang aman untuk ekosistem?
- Apakah pH meter portabel Bluetooth akurat untuk pengukuran di lapangan?
- Seberapa sering pH meter harus dikalibrasi saat digunakan di lapangan?
- Bagaimana cara mencatat data pH secara real-time di lapangan?
- Apa yang harus dilakukan jika pH air sungai terdeteksi di luar ambang batas?
- Apakah TDS meter bisa mengukur pH air?
- Penutup: Data Cepat, Interpretasi yang Jujur
Masalahnya bukan sekadar alat yang tidak tersedia, melainkan kecepatan memperoleh angka. Kertas lakmus hanya memberi indikasi kasar, sedangkan pengujian laboratorium memerlukan waktu pengiriman sampel dan antrean analisis. Padahal pH, suhu, TDS, daya hantar listrik (DHL), dan oksigen terlarut (DO) termasuk parameter yang cepat berubah dan tidak dapat diawetkan, sehingga idealnya diukur langsung di lokasi. [1]
Di sinilah pH meter portabel berperan. Dengan pembacaan digital dan opsi pencatatan nirkabel, petugas lapangan bisa mendapatkan angka pH saat itu juga, membandingkannya dengan baku mutu setempat, dan memutuskan apakah perlu verifikasi tambahan. Panduan berikut menjelaskan cara melakukannya secara benar, sekaligus menjelaskan dengan jujur di mana batas bukti ilmiahnya.
Mengapa Deteksi Dini Perubahan pH Air Sungai Penting di Lapangan?
PH adalah ukuran keasaman atau kebasaan suatu larutan dengan rentang 0–14. Larutan bersifat asam memiliki pH kurang dari 7, netral tepat 7, dan basa lebih dari 7. [2] Perubahan yang tampak kecil, misalnya dari 7 menjadi 5,5, sudah berarti pergeseran satu setengah orde ke arah asam.
ASTM E70 menempatkan pengukuran pH sebagai salah satu variabel penting dalam pengendalian pencemaran. [3] Artinya, pH bukan sekadar angka laboratorium, melainkan indikator yang dipantau dalam kerangka pengelolaan lingkungan.
Perubahan pH dapat berasal dari berbagai sumber: pembuangan limbah industri, limbah domestik, limpasan pertanian, hingga proses dekomposisi bahan organik di badan air. Karena pH memengaruhi ketersediaan nutrien dan bentuk kimia senyawa di air, pergeserannya dapat mengubah kondisi yang dialami organisme akuatik.
Yang perlu ditegaskan sejak awal: tidak ada satu pun sumber dalam kumpulan bukti yang menetapkan hubungan kausal langsung antara deteksi dini pH dan pencegahan kerusakan ekosistem. Klaim semacam itu harus dihindari. Yang bisa dikatakan secara aman adalah bahwa pengukuran pH yang tertelusur dan tepat waktu memberi data yang lebih cepat untuk pengambilan keputusan.
Memahami Perubahan pH Air Sungai dan Dampaknya pada Ekosistem
Untuk menilai apakah sebuah angka pH “bermasalah”, kita perlu pembanding. Pembanding yang paling umum adalah baku mutu air, yang besarnya berbeda antar wilayah dan antar kelas peruntukan.
Contohnya, baku mutu kelas II dalam PerGub DIY No. 20/2008 menetapkan rentang pH 6–8,5, sedangkan PP No. 22/2021 menetapkan pH 6–9 untuk kelas 1–4. [1][4] Kedua angka ini tidak boleh dicampur, karena konteks peruntukan dan regulasinya berbeda.
Perbedaan konteks ini penting. Ambang batas pH untuk sistem akuakultur, misalnya, tidak sama dengan ambang batas sungai. Sumber produsen menyebut rentang pH ideal nitrifikasi 6,8–7,8 dan pH optimal udang vaname 7,8–8,5, tetapi angka-angka tersebut berasal dari literatur teknis akuakultur dan tidak dapat diterapkan ke ekosistem sungai. [5][6]
Kesimpulan praktisnya: tidak ada ambang batas pH universal untuk “air sungai”. Setiap angka harus dikaitkan dengan peruntukan, regulasi, dan sumbernya.
Cara Deteksi Dini Perubahan pH Air Sungai dengan pH Meter Bluetooth: Langkah demi Langkah
Bagian ini adalah inti panduan lapangan. Urutannya sengaja dibuat dari persiapan hingga interpretasi, karena kesalahan paling umum terjadi di tahap kalibrasi.
1. Persiapan alat dan bahan
Pastikan pH meter menyala stabil sebelum digunakan. Panduan BSN merekomendasikan pemanasan alat (warming up) selama 30 menit sebelum kalibrasi elektroda dan pengukuran sampel, meskipun waktu ini dapat berbeda antar alat sehingga manual instrumen perlu dibaca lebih dulu. [2]
Siapkan larutan buffer kalibrasi, air suling untuk membilas elektroda, serta wadah sampel.
2. Kalibrasi dua titik (minimal) sebelum mengukur
Kalibrasi elektroda pH meter dilakukan minimal dengan teknik dua titik menggunakan dua larutan standar buffer CRM, salah satunya pH 7 untuk menyesuaikan titik 0 mV atau offset. [2] Pengukuran sampel tanpa didahului kalibrasi akan menghasilkan hasil yang tidak akurat. [2]
Dalam contoh yang dilaporkan panduan BSN, larutan sampel pH 4,00 yang diukur tanpa kalibrasi menghasilkan pembacaan 4,31 hingga 4,68 dan cenderung meningkat dari hari ke hari. Setelah dikalibrasi, pembacaan kembali mendekati nilai sebenarnya, yaitu 4,00; 4,00; 3,99; 4,00; dan 4,01. [2]
Dua kriteria kinerja elektroda yang dirujuk panduan ini, berdasarkan USP 791, adalah offset 0 ± 30 mV untuk buffer pH 7 dan slope 95–105%. Jika offset dan slope tidak memenuhi rekomendasi tersebut, elektroda harus dibersihkan, diperbaiki, atau diganti, lalu dikalibrasi ulang. [2]
3. Pengukuran di lokasi
Kondisikan sampel pada suhu yang sama dengan suhu CRM saat kalibrasi, yaitu 25°C. [2] Pada elektroda kombinasi isi ulang, pastikan ketinggian larutan elektrolit (umumnya KCl 3 M) lebih tinggi dari permukaan larutan sampel, sekitar 0,5 inci atau 1,27 cm dari lubang pengisi, dan lubang pengisi harus terbuka saat pengukuran agar potensial dapat dijaga konstan. [2]
Matikan pengaduk magnet saat pengukuran karena dapat menyebabkan pembacaan tidak stabil. [2]
4. Pencatatan dan pelaporan
Di titik ini, instrumen dengan konektivitas nirkabel memberi nilai tambah operasional. Environmental Meter PCE-PHB 10 dirancang untuk mengukur pH cairan pada rentang -2,0 hingga 20,0 pH, dilengkapi kompensasi suhu otomatis 0–100°C, dan mengirim data via Bluetooth ke aplikasi Android untuk pemantauan serta perekaman real-time, termasuk pembuatan laporan PDF. Alat ini mendukung kalibrasi standar 3-titik menggunakan larutan dan bubuk buffer yang disertakan.
Perlu ditegaskan: Bluetooth adalah fitur transmisi data, bukan peningkatan metrologis. Tidak ada bukti dalam kumpulan sumber yang menunjukkan bahwa Bluetooth meningkatkan akurasi atau kualitas kalibrasi pH. Yang ia perbaiki adalah kecepatan pencatatan dan kerapian dokumentasi.
5. Interpretasi cepat dan tindakan
Bandingkan hasil dengan baku mutu setempat. Jika pH berada di luar rentang yang berlaku, lakukan verifikasi: cek ulang kalibrasi, ulangi pengukuran, dan ambil sampel tambahan di titik yang sama serta di hulu/hilir untuk melihat pola. Koordinasikan dengan instansi terkait sesuai prosedur internal Anda.
Parameter Pengukuran dan Interpretasi Data pH Air Sungai
Tabel berikut merangkum cara membaca angka pH dan tindakan yang wajar diambil. Kolom “tindakan” bersifat praktik lapangan umum, bukan persyaratan normatif dari standar mana pun.
| Rentang pH | Status relatif | Tindakan lapangan yang disarankan |
|---|---|---|
| < 6,0 | Asam, di bawah baku mutu kelas II DIY (6–8,5) dan PP 22/2021 (6–9) | Verifikasi kalibrasi, ulangi pengukuran, ambil sampel tambahan hulu–hilir, laporkan |
| 6,0 – 8,5 | Dalam rentang baku mutu kelas II DIY dan PP 22/2021 | Catat, lanjutkan pemantauan rutin |
| > 8,5 – 9,0 | Di atas baku mutu kelas II DIY, masih dalam rentang PP 22/2021 | Cek konteks peruntukan, verifikasi, catat sebagai anomali |
| > 9,0 | Di atas kedua baku mutu yang dikutip | Verifikasi, sampling tambahan, eskalasi ke instansi terkait |
Rentang baku mutu pada tabel mengacu pada PerGub DIY No. 20/2008 kelas II dan PP No. 22/2021 kelas 1–4. [1][4] Karena baku mutu bersifat regional dan bergantung peruntukan, selalu gunakan regulasi yang berlaku di wilayah Anda.
Ketidakpastian pengukuran: angka yang sering dilupakan
Target ketidakpastian pengukuran yang direkomendasikan untuk teknik kalibrasi dua titik, berdasarkan IUPAC 2002, adalah 0,02–0,03. [2] Artinya, selisih pH di bawah kisaran ini sebaiknya tidak langsung ditafsirkan sebagai perubahan nyata kualitas air.
Dalam contoh perhitungan panduan BSN, hasil pengukuran dituliskan sebagai 4,91 ± 0,02 dengan faktor cakupan k = 2 pada tingkat kepercayaan 95%. [2] Melaporkan hasil beserta ketidakpastiannya adalah praktik yang membedakan data profesional dari sekadar angka mentah.
Batasan metode elektroda gelas
ASTM E70 menetapkan metode uji elektrometrik pH larutan akuatik dengan elektroda gelas. Secara umum, metode ini tidak memberikan pengukuran aktivitas ion hidrogen yang akurat kecuali pH berada antara 2 dan 12 dan konsentrasi elektrolit maupun nonelektrolit tidak melebihi 0,1 mol/L. [3][7]
Pada larutan dengan konsentrasi elektrolit atau senyawa organik larut air yang tinggi, pengukuran pH hanya bersifat semikuantitatif. [3] Selain itu, hasil yang akurat hanya diperoleh bila komposisi medium mendekati komposisi larutan standar referensi. [3]
Catatan penting soal edisi: ASTM E70-19 kini berstatus historis, dan edisi terkini dari keluarga standar ini adalah ASTM E70-24. [3][7] Rujukan normatif sebaiknya menggunakan E70-24.
Jangan mencampur parameter yang berbeda
PH dan TDS adalah dua parameter berbeda. TDS mengukur padatan terlarut total, bukan keasaman atau kebasaan. Dalam studi Sungai Kelinjau, pH dan TDS sama-sama dibandingkan dengan baku mutu, tetapi keduanya dinilai secara terpisah. [4] TDS meter tidak dapat menggantikan pH meter.
Studi Kasus: Pengukuran pH In Situ di Sungai Indonesia
Dua studi lapangan berikut memberi gambaran bagaimana pH sungai diukur dan dibandingkan dengan baku mutu di Indonesia. Keduanya adalah bukti eksternal, bukan pengalaman perusahaan, dan keduanya memiliki keterbatasan yang harus disebutkan.
Sungai Gajah Wong, Yogyakarta (Januari 2020)
Pengambilan sampel mengikuti SNI 6989.57:2008 untuk metode pengambilan sampel air permukaan. Parameter in situ seperti suhu, TDS, DHL, pH, dan DO diuji langsung di lokasi karena cepat berubah dan tidak dapat diawetkan. [1]
Hasilnya, pH di titik GW1 (Jembatan Santo Thomas) tercatat 5,520, di bawah baku mutu 6–8,5. Titik GW2 hingga GW5 berada dalam rentang baku mutu, yaitu 6,590; 6,630; 6,720; dan 6,750. DO di GW1 tercatat 4,76 mg/L, di bawah baku mutu kelas II sebesar 5 mg/L. [1]
Studi ini menunjukkan bahwa pengukuran in situ dapat mengungkap titik dengan pH menyimpang yang mungkin tidak terlihat bila hanya satu titik sampel diambil. Namun studi ini tidak menggunakan pH meter Bluetooth, tidak menyediakan panduan deteksi dini, dan tidak mengidentifikasi sumber pencemar spesifik penyebab pH rendah di GW1. Temuannya juga tidak dapat digeneralisasi ke sungai atau musim lain.
Sungai Kelinjau, Kutai Timur
Pengukuran dilakukan di tiga lokasi: hulu, tengah, dan hilir. pH tercatat 7,18; 7,48; dan 7,46, mendekati netral. Berdasarkan PP No. 22/2021, pH dan TDS masuk kelas 1, DO masuk kelas 2, sehingga kelas air keseluruhan adalah kelas 2. Indeks Pencemaran (Pij) berada di 1,25; 1,24; dan 1,32, kategori cemar ringan. [4]
Studi ini juga tidak menggunakan pH meter Bluetooth atau pengukuran kontinu, tidak menetapkan hubungan kausal antara sumber pencemar tertentu dan perubahan pH, dan tidak dapat digeneralisasi ke sungai atau musim lain. Sumber juga menunjukkan inkonsistensi tipografi pada nilai DO yang dilaporkan, sehingga angka tersebut sebaiknya tidak dikutip tanpa verifikasi.
Praktik Terbaik dan Pemeliharaan pH Meter Portabel di Lapangan
Akurasi pH meter lapangan sangat ditentukan oleh perawatan, bukan hanya oleh spesifikasi alat.
- Penyimpanan elektroda. Elektroda tidak boleh disimpan kering atau dalam air suling, karena air suling tidak mengandung ion sementara bagian dalam elektroda berisi larutan elektrolit. Penyimpanan yang disarankan adalah KCl 3 M atau buffer pH 4/pH 7. [2]
- Masa pakai elektroda. Elektroda yang disimpan pada suhu ruang memiliki masa pakai sekitar 1–3 tahun, bergantung pada cara penanganan, jenis sampel, dan frekuensi pemakaian. Pemakaian pada suhu 90°C memperpendek masa pakai menjadi 3–9 bulan, dan pada 120°C menjadi 6–12 minggu. [2]
- Frekuensi kalibrasi. Bila pH meter digunakan terus-menerus selama satu hari, kalibrasi direkomendasikan setiap 2–3 jam, dilakukan pada suhu yang sama dengan saat mengukur sampel. [2]
- Kalibrasi pembacaan potensial dan suhu. pH meter genggam dan benchtop yang memiliki kemampuan pengukuran potensial dan suhu sebaiknya dikalibrasi minimal satu tahun sekali ke laboratorium kalibrasi yang kompeten. [2]
- Resolusi instrumen. pH meter benchtop dan genggam umumnya memiliki resolusi suhu minimal 0,1°C dan potensial minimal 0,1 mV. [2]
- Daya dan mobilitas. Untuk kerja lapangan panjang, instrumen dengan baterai yang dapat diganti seperti PCE-PHB 10 yang menggunakan baterai AAA memudahkan rotasi daya tanpa menghentikan sesi pengukuran.
Perlu dicatat bahwa panduan BSN menyatakan pH meter pena tidak direkomendasikan untuk pengukuran pH yang akurat karena akurasinya rendah dengan pembacaan dua angka desimal dan waktu stabilisasi yang lama. [2] Sebaliknya, pH meter genggam biasa digunakan untuk pemantauan lingkungan, pertanian, dan pengolahan air. [2]
Celah Bukti dan Batasan Klaim: Bluetooth, Deteksi Dini, dan Pencegahan Kerusakan Ekosistem
Bagian ini sengaja ditempatkan di depan, bukan sebagai catatan kaki, karena menentukan seberapa jauh kesimpulan boleh ditarik.
Tidak ada sumber otoritatif yang secara langsung membahas deteksi dini perubahan pH air sungai menggunakan pH meter portabel Bluetooth. Panduan SNSU PK.K-01:2022 dari BSN, yang menjadi rujukan metrologis utama, secara eksplisit tidak membahas penggunaan pH meter portabel Bluetooth, deteksi dini perubahan pH air sungai, maupun pencegahan kerusakan ekosistem. [2]
ASTM E70-24 menetapkan metode uji pH larutan akuatik dengan elektroda gelas, tetapi tidak mencakup prosedur lapangan, ambang batas ekosistem, atau instrumen Bluetooth. [3]
ISO/IEC 17025:2017 menetapkan persyaratan umum untuk kompetensi, imparsialitas, dan operasi yang konsisten dari laboratorium pengujian dan kalibrasi. [8] Standar ini tidak memuat persyaratan teknis pH, air sungai, atau instrumen Bluetooth. Relevansinya di sini adalah sebagai kerangka kompetensi laboratorium, bukan sebagai prosedur pengukuran lapangan.
Soal SNI: katalog BSN mengonfirmasi keberadaan standar cara uji derajat keasaman (pH) air dan air limbah dengan pH meter, berstatus “Berlaku” dan terklasifikasi ICS 13.030. [9] Namun katalog tersebut hanya memuat judul dan status; isi teknis, ambang batas, dan prosedurnya tidak tersedia dalam sumber yang diberikan.
Terakhir, klaim bahwa Bluetooth meningkatkan akurasi atau kalibrasi pH tidak didukung bukti apa pun dalam kumpulan sumber ini. Bluetooth adalah fitur transmisi data. Manfaatnya nyata pada kecepatan pencatatan dan dokumentasi, bukan pada ketertelusuran metrologis.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa standar pH air sungai yang aman untuk ekosistem?
Tidak ada satu angka universal. Baku mutu berbeda antar wilayah dan peruntukan. Contohnya, PerGub DIY No. 20/2008 kelas II menetapkan pH 6–8,5, sedangkan PP No. 22/2021 menetapkan pH 6–9 untuk kelas 1–4. [1][4] Gunakan regulasi yang berlaku di wilayah Anda dan kaitkan dengan kelas peruntukan sungai tersebut.
Apakah pH meter portabel Bluetooth akurat untuk pengukuran di lapangan?
Akurasi tidak ditentukan oleh Bluetooth, melainkan oleh kalibrasi, kondisi elektroda, dan kesesuaian matriks sampel. Panduan BSN menekankan bahwa kalibrasi minimal dua titik dengan CRM buffer yang tertelusur sangat direkomendasikan sebelum mengukur sampel, dan pengukuran tanpa kalibrasi menghasilkan hasil yang tidak akurat. [2] Selain itu, ASTM E70 mencatat bahwa metode elektroda gelas umumnya tidak akurat di luar rentang pH 2–12 atau bila konsentrasi elektrolit/nonelektrolit melebihi 0,1 mol/L. [3]
Seberapa sering pH meter harus dikalibrasi saat digunakan di lapangan?
Bila alat digunakan terus-menerus selama satu hari, kalibrasi direkomendasikan setiap 2–3 jam pada suhu yang sama dengan pengukuran sampel. [2] Untuk pembacaan potensial dan suhu, kalibrasi ke laboratorium kalibrasi yang kompeten disarankan minimal satu tahun sekali. [2]
Bagaimana cara mencatat data pH secara real-time di lapangan?
Instrumen dengan konektivitas Bluetooth seperti PCE-PHB 10 mengirim hasil pengukuran ke aplikasi Android, yang menampilkan hasil sekaligus menyimpan data dan memungkinkan pembuatan laporan PDF. Ini mempercepat dokumentasi dibandingkan pencatatan manual, meskipun tidak mengubah ketertelusuran metrologis hasil pengukuran.
Apa yang harus dilakukan jika pH air sungai terdeteksi di luar ambang batas?
Verifikasi dulu sebelum menyimpulkan. Cek status kalibrasi dan kondisi elektroda, ulangi pengukuran, lalu ambil sampel tambahan di titik yang sama serta di hulu dan hilir untuk melihat apakah penyimpangan bersifat lokal atau menyebar. Setelah itu laporkan sesuai prosedur internal dan koordinasikan dengan instansi terkait. Perlu diingat bahwa tidak ada sumber dalam kumpulan bukti ini yang menetapkan hubungan kausal antara pemantauan pH dan pencegahan kerusakan ekosistem.
Apakah TDS meter bisa mengukur pH air?
Tidak. TDS mengukur padatan terlarut total, sedangkan pH mengukur derajat keasaman atau kebasaan. Keduanya parameter berbeda dan dinilai terpisah terhadap baku mutu. [4] Untuk pH, diperlukan pH meter dengan elektroda gelas.
Penutup: Data Cepat, Interpretasi yang Jujur
Deteksi dini perubahan pH air sungai bertumpu pada dua hal: kecepatan memperoleh angka di lapangan, dan kejujuran dalam menafsirkannya. Instrumen portabel dengan konektivitas Bluetooth mempercepat bagian pertama. Bagian kedua tetap bergantung pada kalibrasi yang benar, pemahaman batas metode, dan pelaporan ketidakpastian.
Environmental Meter PCE-PHB 10 menyediakan kombinasi portabilitas, kompensasi suhu otomatis 0–100°C, dan pencatatan real-time via Bluetooth untuk mendukung alur kerja pemantauan lapangan. Untuk informasi lebih lanjut dan konsultasi gratis, kunjungi alat-test.com, hubungi WhatsApp 6285717112222, atau email contact@alat-test.com.
Rekomendasi Environmental Meter
Untuk mendukung deteksi dini perubahan pH di lapangan, pemilihan alat ukur yang sesuai dengan kebutuhan pengamatan menjadi bagian penting dalam alur kerja petugas. Instrumen seperti pH meter portabel dengan kemampuan pencatatan real-time dapat membantu proses dokumentasi data secara lebih terstruktur, meskipun hasil pengukuran tetap perlu dibaca dengan memperhatikan kondisi lapangan dan prosedur yang berlaku. Beberapa pilihan alat ukur lingkungan yang tersedia dapat Anda telusuri pada kategori berikut.
-

Environmental Meter PCE-THB 40-ICA incl. ISO Calibration Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-P01-ICA Differential Pressure Incl. ISO Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-VA 20
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-PH20WINE-ICA incl. ISO Calibration Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-GA 10
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-IR 80
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-428-ICA incl. ISO Calibration Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-354
Lihat Produk★★★★★
Sumber Rujukan
- Pengambilan Sampel Air Sungai Gajah Wong di Wilayah Kota Yogyakarta
- Panduan Pengukuran pH dengan Teknik Kalibrasi Dua Titik
- E70 Standard Test Method for pH of Aqueous Solutions With the Glass Electrode
- Contamination Level Analysis of the Kelinjau River in Dun Village, Muara Ancalong District, East Kutai Regency, East Kalimantan Province
- E70 Standard Test Method for pH of Aqueous Solutions With the Glass Electrode
- ISO/IEC 17025:2017 – General requirements for the competence of testing and calibration laboratories
- Pemesanan Online :: bsn.go.id

























