Angka besar di layar gauss meter sering dianggap sebagai bukti bahwa sebuah magnet permanen, relay, atau komponen bermagnet lain masih layak pakai. Kenyataannya, satu angka pada satu titik pengukuran belum cukup untuk menyimpulkan hal tersebut. Jarak probe terhadap permukaan magnet, kutub mana yang diukur, arah sensor terhadap garis medan, sampai variasi kecil antar-unit dari batch produksi yang sama, semuanya bisa membuat dua pengukuran pada magnet yang secara teknis identik menghasilkan angka berbeda di layar.
Hal ini penting karena banyak keputusan quality control—magnet ini lolos atau ditolak, relay ini masih normal atau harus diganti—sering didasarkan pada satu pembacaan tunggal yang dibandingkan dengan angka “aman” yang sebenarnya tidak punya dasar jelas. Standar pengukuran magnet permanen maupun berbagai penelitian yang menguji sensor Hall secara konsisten menunjukkan bahwa posisi pengukuran memberi kontribusi variasi yang jauh lebih besar dibanding akurasi instrumen itu sendiri. Artinya, memahami dari mana variasi itu berasal jauh lebih penting daripada sekadar menghafal angka referensi.
Artikel ini membahas faktor-faktor yang membuat pembacaan gauss meter bisa berbeda pada objek yang sama, apa kata standar dan penelitian tentang hal ini, serta bagaimana menyusun prosedur pengukuran yang membuat hasil benar-benar bisa dibandingkan dari waktu ke waktu.
- Mengapa satu titik pengukuran tidak mewakili kekuatan magnet secara keseluruhan?
- Bagaimana jarak probe terhadap permukaan magnet mengubah angka yang terbaca?
- Apakah kutub utara dan kutub selatan pada magnet yang sama menunjukkan angka yang sama?
- Mengapa arah sensor menentukan apa yang muncul di layar?
- Kenapa dua unit magnet dari batch produksi yang sama bisa berbeda hasil ukurnya?
- Apa kata standar pengukuran magnet permanen tentang variasi ini?
- Studi kasus: variasi pembacaan akibat jarak dan posisi kutub
- Bagaimana prosedur pengukuran medan magnet permanen yang tepat di lapangan?
- Kesalahan umum yang membuat hasil pengukuran menyesatkan
- Instrumen apa yang sesuai untuk pengukuran ini?
- Kesimpulan
- Pertanyaan yang sering diajukan
- Referensi
Mengapa satu titik pengukuran tidak mewakili kekuatan magnet secara keseluruhan?
Medan magnet di sekitar magnet permanen tidak seragam. Kerapatan fluksnya paling tinggi di dekat permukaan kutub dan meluruh secara cepat—bukan linear—seiring bertambahnya jarak, serta bervariasi tergantung sudut dan posisi terhadap kutub. Konsekuensinya, angka yang muncul di layar gauss meter bukan “kekuatan magnet” secara utuh, melainkan nilai kerapatan fluks pada satu titik geometris yang sangat spesifik: jarak tertentu, sudut tertentu, dan orientasi sensor tertentu.
Ini berbeda dari, misalnya, mengukur berat benda dengan timbangan, di mana hasilnya tidak bergantung pada dari sisi mana benda diletakkan. Pada pengukuran medan magnet, mengubah sedikit saja posisi probe dapat mengubah angka secara signifikan meski magnet yang diuji sama sekali tidak berubah kondisinya. Karena itu, menilai “baik atau tidaknya” sebuah magnet dari satu angka tunggal sama seperti menilai kualitas seluruh permukaan sebuah pelat logam hanya dari satu titik pengukuran ketebalan.
Bagaimana jarak probe terhadap permukaan magnet mengubah angka yang terbaca?
Semakin jauh sensor dari permukaan kutub, semakin cepat pula penurunan nilai medan yang terukur. Sebuah penelitian yang menganalisis hubungan kuantitatif antara jarak sensor dan besar medan magnet pada solenoida menggunakan sensor magnetik digital menemukan bahwa nilai medan berubah secara sistematis dan terukur seiring perubahan jarak, sehingga ketelitian sebuah sensor pun perlu dibuktikan lewat eksperimen jarak semacam ini, bukan hanya dipercaya dari spesifikasi datasheet sensor itu sendiri.
Temuan serupa muncul pada eksperimen lain yang menguji sensor efek Hall untuk mengukur kekuatan kutub magnet permanen pada variasi jarak 1 cm hingga 5 cm dari permukaan magnet. Pada jarak 1 cm, hasil sensor sudah cukup dekat dengan alat ukur terkalibrasi, namun begitu jarak berubah, nilai yang terbaca ikut bergeser mengikuti pola peluruhan medan terhadap jarak, bukan mengikuti perubahan kondisi magnetnya (Bilal, Syifa, & Yuliantoro, 2024).
Implikasi praktisnya jelas: dua teknisi yang mengukur magnet yang sama namun salah satunya menempelkan probe lebih rapat ke permukaan akan mendapatkan dua angka berbeda, padahal magnetnya identik. Jika salah satu hasil dibandingkan dengan angka “standar” tanpa mencatat jarak pengukuran, kesimpulan tentang baik-buruknya magnet tersebut bisa keliru total.
Apakah kutub utara dan kutub selatan pada magnet yang sama menunjukkan angka yang sama?
Tidak selalu, bahkan pada magnet yang secara desain seharusnya simetris. Pada pengujian dua kutub magnet permanen menggunakan sensor magnetik, nilai gauss pada kutub utara tercatat lebih tinggi dibanding kutub selatan pada magnet dan jarak pengukuran yang sama—44,04 G pada kutub utara berbanding 36,41 G pada kutub selatan (Bilal, Syifa, & Yuliantoro, 2024). Perbedaan ini bukan berarti magnetnya cacat, melainkan mencerminkan bahwa distribusi medan pada kedua kutub tidak selalu simetris sempurna akibat variasi kecil pada geometri, proses magnetisasi, atau posisi probe saat pengujian.
Artinya, membandingkan hasil dari kutub utara satu unit dengan kutub selatan unit lain—atau bahkan kutub yang berbeda dari magnet yang sama—tanpa mencatat kutub mana yang diukur, berpotensi membuat perbandingan menjadi tidak setara. SOP pengukuran yang baik perlu menetapkan secara eksplisit kutub mana yang dijadikan titik acuan agar hasil dari waktu ke waktu benar-benar bisa dibandingkan.
Mengapa arah sensor menentukan apa yang muncul di layar?
Sensor Hall hanya sensitif terhadap komponen medan magnet yang tegak lurus terhadap permukaan sensornya. Probe transversal—seperti yang digunakan pada gauss meter dengan sensor pelat tipis—dirancang untuk membaca medan yang memotong permukaan datar probe, sehingga cocok dipakai pada celah sempit atau saat probe perlu diselipkan sejajar dengan permukaan objek uji. Probe aksial bekerja sebaliknya, membaca medan yang sejajar dengan sumbu panjang probe.
Konsekuensinya, jika probe transversal dimiringkan atau diputar dari orientasi yang seharusnya terhadap garis medan, angka yang terbaca akan turun—bukan karena magnetnya melemah, tetapi karena sensor tidak lagi membaca komponen medan yang dominan pada titik itu. Ini salah satu alasan mengapa dua orang yang mengukur magnet yang sama bisa mendapatkan hasil berbeda meski jaraknya sama persis: sudut probe terhadap permukaan magnet ikut menentukan hasil akhir.
Kenapa dua unit magnet dari batch produksi yang sama bisa berbeda hasil ukurnya?
Variasi antar-unit adalah kenyataan dalam produksi magnet permanen, bukan tanda kegagalan proses. Pada pengukuran pemetaan medan radial di sekeliling rakitan magnet permanen menggunakan probe Hall tiga sumbu, ditemukan variasi pada nilai puncak dan lembah medan akibat perbedaan kecil antar-blok magnet dalam satu rakitan, meski seluruhnya berasal dari proses produksi yang sama (Booth dkk., 2013). Studi yang sama juga mencatat bahwa jarak probe ke permukaan magnet yang bergeser hanya beberapa puluh mikrometer saja sudah cukup menghasilkan perbedaan pembacaan medan yang signifikan, karena medan meluruh cepat terhadap jarak di dekat permukaan.
Untuk kebutuhan quality control di jalur produksi, ini berarti menetapkan satu angka tunggal sebagai ambang lolos/tidak lolos untuk seluruh unit dalam satu batch berisiko tinggi salah klasifikasi, kecuali variasi wajar antar-unit dan toleransi posisi pengukuran sudah diperhitungkan sejak awal.
Apa kata standar pengukuran magnet permanen tentang variasi ini?
IEC 60404-5, standar internasional untuk metode pengukuran sifat magnetik material magnet permanen, secara eksplisit menegaskan bahwa performa sebuah sistem magnetik tidak hanya bergantung pada material magnetnya sendiri, tetapi juga pada dimensi sistem, celah udara (air gap), dan elemen rangkaian magnetik lain di sekitarnya. Dengan kata lain, bahkan pada level standar internasional, konteks pengukuran—bukan cuma nilai remanensi atau koersivitas material di atas kertas—diakui sebagai bagian yang menentukan hasil akhir.
Prinsip ini relevan untuk pengukuran lapangan yang jauh lebih sederhana sekalipun. Meski gauss meter genggam tidak mengikuti rangkaian tertutup seperti pada pengujian laboratorium sesuai standar tersebut, semangatnya tetap sama: nilai yang terbaca hanya bermakna jika kondisi pengukurannya—jarak, posisi, orientasi—dijaga konsisten dan diketahui, bukan diabaikan.
Studi kasus: variasi pembacaan akibat jarak dan posisi kutub
Sebuah studi rekayasa instrumentasi membangun sistem pengukuran kekuatan kutub magnet permanen berbasis sensor efek Hall, dengan nilai jarak dijadikan sebagai acuan yang kemudian diumpankan ke aktuator motor servo. Pengujian dilakukan pada variasi jarak 1 cm sampai 5 cm dari permukaan magnet, dan hasilnya dibandingkan dengan alat ukur yang telah terkalibrasi.
Pada jarak 1 cm, sensor menunjukkan nilai 46,94 Gauss, sangat dekat dengan 46,8 Gauss dari alat ukur terkalibrasi—selisih yang wajar untuk sensor jenis ini. Namun ketika pengujian dilanjutkan ke kutub yang berbeda pada magnet yang sama, muncul perbedaan yang jauh lebih besar: 44,04 Gauss pada kutub utara berbanding 36,41 Gauss pada kutub selatan (Bilal, Syifa, & Yuliantoro, 2024). Artinya, variasi akibat kutub dan posisi pengukuran bisa jauh lebih besar dibanding selisih antara sensor dan alat ukur kalibrasi itu sendiri.
Temuan ini konsisten dengan pengujian pada rakitan magnet permanen presisi tinggi yang dipakai pada aplikasi riset. Pada rakitan tersebut, ketidakpastian posisi probe sebesar kurang lebih 1 mm saja terbukti menghasilkan ketidakpastian pengukuran medan sekitar 5%, jauh lebih besar dibanding ketidakpastian instrumen probe Hall itu sendiri yang hanya sekitar 0,2% (Bjørk, Bahl, Smith, & Pryds, 2014). Pelajaran yang bisa diambil: pada pengukuran medan magnet, sumber ketidakpastian terbesar biasanya bukan akurasi alat, melainkan konsistensi posisi dan orientasi probe saat pengukuran dilakukan berulang kali.
Bagaimana prosedur pengukuran medan magnet permanen yang tepat di lapangan?
Karena posisi dan orientasi probe terbukti menjadi sumber variasi terbesar, prosedur pengukuran perlu dirancang untuk mengunci kedua faktor tersebut, bukan sekadar mencatat satu angka lalu selesai.
- Jauhkan area pengukuran dari sumber medan magnet lain di sekitarnya—motor, speaker, benda ferromagnetik besar—yang berpotensi mengganggu pembacaan.
- Periksa kondisi probe Hall transversal dan kabel penghubungnya sebelum digunakan, pastikan tidak ada kerusakan pada sensor atau sambungan kabel.
- Tentukan titik referensi pengukuran secara eksplisit, misalnya pusat permukaan kutub, dan gunakan penanda fisik agar titik yang sama dapat ditemukan kembali pada pengukuran berikutnya.
- Tentukan pula kutub mana (utara atau selatan) yang akan dijadikan acuan, lalu gunakan kutub yang sama untuk seluruh unit yang dibandingkan.
- Posisikan permukaan sensor tegak lurus terhadap arah medan yang ingin diukur, sesuai arah pengukuran transversal alat, agar komponen medan yang dominan benar-benar terbaca.
- Tempelkan probe pada titik referensi dengan jarak dan tekanan kontak yang konsisten setiap kali pengukuran diulang.
- Tunggu hingga angka pada layar stabil sebelum mencatat nilai; hindari mencatat angka yang masih bergerak naik-turun.
- Gunakan mode hold ketika posisi probe sulit dipantau bersamaan dengan layar, agar nilai puncak tetap terkunci saat dibaca kemudian.
- Ukur beberapa titik—bukan hanya satu—terutama jika tujuannya adalah menilai homogenitas medan pada satu unit atau membandingkan beberapa unit sekaligus.
- Bandingkan hasil dengan data desain atau baseline pengukuran sebelumnya pada titik dan kondisi yang sama, bukan dengan angka umum yang dianggap “aman” tanpa sumber yang jelas.
Kesalahan umum yang membuat hasil pengukuran menyesatkan
- Probe tidak tegak lurus terhadap kutub. Sudut yang miring membuat sensor hanya membaca sebagian komponen medan, sehingga angka tampak lebih rendah dari kondisi sebenarnya.
- Jarak pengukuran tidak konsisten antar-unit. Membandingkan unit yang diukur pada jarak 1 mm dengan unit lain yang diukur pada jarak 3 mm dari permukaan akan menghasilkan kesimpulan yang tidak adil.
- Membandingkan hasil dari kutub berbeda seolah setara. Seperti dibahas pada studi kasus di atas, kutub utara dan selatan pada magnet yang sama dapat menunjukkan nilai yang berbeda secara wajar.
- Mengukur di dekat benda ferromagnetik atau sumber medan lain. Medan dari luar dapat menambah atau mengurangi nilai yang terbaca tanpa disadari operator.
- Menganggap satu angka sebagai ambang universal “aman” atau “rusak”. Tanpa mengetahui baseline desain magnet yang bersangkutan, angka tunggal tidak punya arti diagnostik yang kuat.
- Tidak mencatat titik dan kutub acuan pengukuran. Tanpa dokumentasi ini, hasil pengukuran hari ini tidak dapat dibandingkan secara valid dengan hasil di masa depan.
Instrumen apa yang sesuai untuk pengukuran ini?
Untuk kebutuhan mengukur kerapatan fluks magnet statis pada permukaan magnet permanen maupun komponen bermagnet seperti relay, Electromagnetic Field Meter PCE-MFM 2400 dirancang dengan sensor Hall transversal beserta kabel probe sepanjang sekitar 1 meter, sehingga probe dapat diposisikan secara presisi pada titik acuan yang sama meski unit utamanya dipegang terpisah dari titik ukur—berguna saat titik pengujian berada di celah sempit atau posisi yang sulit dijangkau langsung oleh badan alat.
Rentang ukurnya mencakup 0–200 mT dan 200–2.400 mT (setara 0–2.000 G dan 2.000–24.000 G), dengan akurasi ±1% dari pembacaan dan resolusi 0,01 mT atau 0,1 G. Rentang selebar ini membuatnya relevan untuk berbagai jenis material magnet permanen yang umum dipakai di industri, mulai dari ferrite, Alnico, samarium cobalt, hingga neodymium (NdFeB), serta untuk pengujian relay dan pemeriksaan magnet permanen dalam proses produksi maupun kontrol kualitas.
Mode hold pada alat ini relevan langsung dengan praktik yang dibahas di bagian prosedur: nilai dapat dikunci begitu pembacaan stabil, sehingga operator tidak perlu menatap layar dan probe secara bersamaan saat mengukur di posisi yang sulit. Fitur backlight menjaga keterbacaan di area kerja dengan pencahayaan minim, sementara automatic shutdown setelah 5 menit tanpa aktivitas membantu menghemat baterai 9V saat alat dipakai bergantian oleh beberapa operator dalam satu shift.
Sebagai catatan konteks, PCE-MFM 2400 dirancang untuk medan magnet statis (DC). Untuk kebutuhan mendeteksi magnet sisa yang jauh lebih lemah pada komponen otomotif—misalnya gangguan magnetis pada sensor ABS—karakteristik pengukurannya berbeda dan biasanya memakai instrumen dengan rentang lebih rendah serta probe yang lebih fleksibel, seperti yang dibahas pada penerapan magnetometer NOVOTEST MF-1M. Selain itu, mengukur kerapatan fluks seperti yang dilakukan PCE-MFM 2400 juga berbeda tujuan dengan mengukur gaya koersif material magnet, yang lebih relevan ketika pertanyaannya adalah seberapa tahan sebuah material terhadap demagnetisasi—topik yang lebih dalam dibahas pada pembahasan gaya koersif dan pada standar pengujian sejenis yang diterapkan pada analyzer material berbasis IEC 60404-7. Keduanya adalah parameter magnetik yang berbeda dan saling melengkapi, bukan saling menggantikan.
| Spesifikasi | Nilai |
|---|---|
| Rentang ukur | 0–200 mT, 200–2.400 mT (setara 0–2.000 G, 2.000–24.000 G) |
| Akurasi | ± 1% dari pembacaan |
| Resolusi | 0,01 mT / 0,1 G |
| Arah pengukuran | Transversal |
| Jenis medan | Statis (DC) |
| Satuan | mT, G |
| Catu daya | 1 x baterai 9V |
| Automatic shutdown | Otomatis mati setelah 5 menit idle |
| Mode | Hold, pengukuran |
| Display | Digital 4 digit dengan backlight |
| Suhu operasi | 0–50°C |
| Suhu penyimpanan | -20–50°C |
| Dimensi | 185 x 97 x 40 mm |
| Berat | 310 g |
| Sensor | Hall transversal, panjang kabel ± 1 m |
Untuk kebutuhan pengujian magnet permanen atau relay di lini produksi maupun laboratorium kontrol kualitas, Electromagnetic Field Meter PCE-MFM 2400 tersedia dan dapat dikonsultasikan lebih lanjut sesuai kebutuhan aplikasi spesifik Anda.
Kesimpulan
Nilai gauss atau tesla yang muncul di layar bukan properti tetap dari sebuah magnet, melainkan hasil interaksi antara medan magnet objek uji dengan posisi, jarak, dan orientasi sensor pada saat pengukuran dilakukan. Mengubah salah satu variabel ini sudah cukup mengubah angka yang terbaca, meski kondisi magnetnya sama sekali tidak berubah.
Standar pengukuran magnet permanen maupun berbagai penelitian instrumentasi secara konsisten menunjukkan hal yang sama: variasi akibat posisi dan orientasi probe umumnya jauh lebih besar dibanding akurasi instrumen itu sendiri. Karena itu, keandalan sebuah pengukuran medan magnet lebih banyak ditentukan oleh konsistensi prosedur—titik acuan yang sama, kutub yang sama, jarak yang sama—dibanding oleh angka akurasi yang tertulis di spesifikasi alat.
Dengan prosedur yang konsisten dan pemahaman tentang faktor-faktor ini, gauss meter seperti PCE-MFM 2400 dapat menjadi alat bantu quality control yang andal untuk magnet permanen dan relay. Namun keandalan itu bergantung pada bagaimana alat tersebut digunakan, bukan semata pada angka akurasi yang tertera di spesifikasinya.
Nilai pengukuran adalah data. Kondisi magnet ditentukan melalui interpretasi data tersebut dalam konteks pengukuran yang benar.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah PCE-MFM 2400 bisa digunakan untuk mengukur medan magnet AC atau dinamis?
Tidak. Alat ini dirancang khusus untuk medan magnet statis (DC), sehingga cocok untuk magnet permanen dan komponen sejenis, bukan untuk medan yang berubah terhadap waktu seperti pada kumparan yang dialiri arus bolak-balik.
Kenapa hasil pengukuran bisa berubah hanya karena probe digeser sedikit?
Karena medan magnet di sekitar magnet permanen meluruh cepat terhadap jarak dan bervariasi terhadap sudut. Pergeseran kecil pada posisi atau orientasi probe dapat mengubah komponen medan yang tertangkap sensor, sehingga angka yang terbaca ikut berubah meski magnetnya tidak berubah.
Apakah akurasi ±1% berarti hasil pengukuran selalu presisi di semua titik?
Akurasi ±1% dari pembacaan menggambarkan kontribusi kesalahan dari instrumen itu sendiri, bukan kesalahan akibat posisi atau orientasi probe saat pengukuran. Berdasarkan penelitian pada pengukuran medan magnet presisi, kontribusi kesalahan akibat posisi probe justru dapat jauh lebih besar dibanding akurasi bawaan instrumennya.
Bisakah alat ini dipakai untuk berbagai jenis material magnet permanen?
Ya. Dengan rentang ukur hingga 2.400 mT atau 24.000 G, alat ini mencakup rentang kerapatan fluks yang relevan untuk material seperti ferrite, Alnico, samarium cobalt, maupun neodymium (NdFeB) yang umum dipakai pada relay, motor kecil, dan komponen bermagnet lain di industri.
Apa bedanya mengukur kerapatan fluks dengan mengukur gaya koersif magnet?
Kerapatan fluks menggambarkan kekuatan medan magnet pada satu titik pengukuran, sementara gaya koersif menggambarkan seberapa tahan material magnet tersebut terhadap demagnetisasi oleh medan magnet lawan. Keduanya adalah parameter yang berbeda dan biasanya diukur dengan pendekatan serta instrumen yang berbeda pula.
Apakah alat ini cocok untuk mendeteksi magnet sisa pada komponen otomotif?
PCE-MFM 2400 lebih ditujukan untuk mengukur medan magnet permanen yang relatif kuat pada rentang mT hingga ribuan Gauss. Untuk mendeteksi magnet sisa yang jauh lebih lemah pada komponen kendaraan, biasanya dibutuhkan instrumen dengan sensitivitas dan bentuk probe yang berbeda, yang dirancang khusus untuk aplikasi tersebut.
Bagaimana memastikan hasil pengukuran konsisten antar-operator?
Dengan menetapkan SOP tertulis yang mencantumkan titik acuan pengukuran, kutub yang dijadikan patokan, jarak atau kontak probe terhadap permukaan, serta kondisi lingkungan pengukuran, sehingga setiap operator mengikuti langkah yang sama persis setiap kali mengukur.
Berapa lama baterai 9V pada alat ini dapat bertahan?
Fitur automatic shutdown setelah 5 menit tanpa aktivitas dirancang untuk mencegah baterai terkuras habis saat alat lupa dimatikan, sehingga membantu memperpanjang masa pakai baterai pada pemakaian sehari-hari di lini produksi maupun laboratorium.
Rekomendasi Electromagnetic Field Meter Unggulan untuk Kebutuhan Anda
-

Electromagnetic Field Meter PCE-PSM 10
Lihat Produk★★★★★ -

Electromagnetic Field Meter PCE-MFM 2400-ICA incl. ISO Calibration Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Electromagnetic Field Meter PCE-MFM 4000-ICA Incl. ISO Calibration Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Electromagnetic Field Meter PCE-MFM 2400
Lihat Produk★★★★★ -

Electromagnetic Field Meter PCE-MFM 4000
Lihat Produk★★★★★ -

Electromagnetic Field Meter PCE-FRQ 500
Lihat Produk★★★★★ -

Electromagnetic Field Meter PCE-MFM 3800
Lihat Produk★★★★★ -

Electromagnetic Field Meter PCE-EMF 40
Lihat Produk★★★★★
Referensi
- International Electrotechnical Commission. (2015). IEC 60404-5:2015 – Magnetic materials – Part 5: Permanent magnet (magnetically hard) materials – Methods of measurement of magnetic properties. https://webstore.iec.ch/en/publication/22142
- Bilal, M., Syifa, F. T., & Yuliantoro, P. (2024). Unjuk Kerja Sensor Hall Effect untuk Penentuan Kuat Medan Magnet Acuan Jarak. Jurnal SINTA: Sistem Informasi dan Teknologi Komputasi. https://jurnalsinta.id/index.php/sinta/article/view/24
- Sumanti, J. A., Sasono, A. E., George, A. L., Lumembang, M. M., & Kolibu, H. S. (2026). Analisis Kuantitatif Hubungan Jarak–Besar Medan Magnet Menggunakan Sensor PS-2112. Inovasi Fisika Indonesia, 15(1), 61–67. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-fisika-indonesia/article/view/73611
- Bjørk, R., Bahl, C. R. H., Smith, A., & Pryds, N. (2014). Comparison of adjustable permanent magnetic field sources. arXiv:1410.2681. https://arxiv.org/abs/1410.2681
- Booth, C. N., Hodgson, P., Howlett, L., Nicholson, R., Overton, E., Robinson, M., Smith, P. J., et al. (2013). The design, construction and performance of the MICE target. arXiv:1211.6343. https://arxiv.org/abs/1211.6343

























