Di banyak laboratorium dan instalasi pengolahan air, tembaga (Cu) adalah parameter yang sering muncul di laporan namun tidak selalu mudah dikendalikan. Di instalasi air minum, kadar tembaga terlalu tinggi dapat menimbulkan rasa pahit dan berpotensi mengganggu kesehatan jika terpapar dalam jangka panjang. Di air limbah industri seperti pelapisan logam (plating/galvanis), kadar tembaga yang melampaui baku mutu berarti risiko sanksi regulatori dan biaya pengolahan tambahan. Di akuakultur, tembaga berlebih bisa menekan pertumbuhan ikan dan udang, bahkan memicu kematian massal.
Masalah bertambah ketika metode analisis yang digunakan tidak stabil atau terlalu rumit. Banyak laboratorium QA/QC masih mengandalkan metode destruktif seperti spektrofotometri dengan banyak tahap preparasi, atau harus mengirim sampel ke laboratorium pusat yang berjarak puluhan kilometer. Hasil baru keluar satu atau dua hari kemudian, sementara proses produksi sudah berjalan jauh, dan bila ada deviasi, koreksi jadi terlambat.
Di sisi lain, tim lapangan di WTP/WWTP, pabrik minuman, hingga laboratorium kampus membutuhkan cara yang lebih cepat dan praktis untuk memantau ion tembaga langsung di lokasi:
-
Pengujian harus bisa dilakukan dengan peralatan portabel.
-
Waktu tunggu hasil diharapkan hanya beberapa menit.
-
Kalibrasi dan perawatan sebaiknya tidak menyita banyak waktu teknisi.
-
Data harus cukup andal untuk keperluan audit dan pelaporan ke regulator.
Ketika elektroda konvensional mudah rusak, respons lambat, atau sensitif terhadap perubahan pH dan ion lain, hasil pengukuran jadi membingungkan. Operator terpaksa melakukan pengulangan berkali-kali, menghabiskan waktu, reagen, dan tenaga. Di sinilah elektroda ion selektif tembaga seperti ISE-Cu menjadi solusi yang menarik: sensor yang khusus dirancang untuk mengukur ion Cu²⁺ di larutan berair dengan cara yang cepat, relatif sederhana, dan dapat diandalkan.
Teknologi Elektroda Ion Selektif: Cara Sederhana Mengukur Ion Tembaga
Prinsip Kerja ISE-Cu dalam Bahasa Sederhana
ISE-Cu adalah elektroda ion selektif (ion selective electrode) yang dirancang khusus untuk mendeteksi ion tembaga (Cu²⁺) dalam larutan berair. Di ujung elektroda terdapat membran ion-sensitif yang hanya “merespons” keberadaan ion Cu²⁺. Ketika elektroda dicelupkan ke dalam sampel, ion tembaga akan berinteraksi dengan membran ini dan menimbulkan perbedaan potensial listrik (tegangan) antara elektroda dan referensi di dalam bodinya.
Ion meter yang terhubung dengan ISE-Cu kemudian membaca perbedaan potensial tersebut (dalam milivolt) dan, berdasarkan kurva kalibrasi Nernst, mengubahnya menjadi satuan konsentrasi seperti ppm (mg/L). Menurut spesifikasi resmi, ISE-Cu memiliki slope sekitar 23 hingga 29 mV per dekade perubahan konsentrasi, yang menunjukkan sensitivitasnya terhadap perubahan kadar tembaga dalam sampel .
Prinsip ini membuat pengukuran tembaga menjadi relatif cepat:
-
Kalibrasi dengan beberapa larutan standar (misalnya 1 ppm, 10 ppm, 100 ppm).
-
Celupkan elektroda ke sampel.
-
Tunggu hingga pembacaan stabil.
-
Ion meter langsung menampilkan hasil dalam ppm tanpa perhitungan manual rumit.
Mengapa Teknologi ISE Penting dalam Jangka Panjang
Dibanding beberapa metode analisis lain, teknologi ISE menawarkan kombinasi antara kecepatan, kemudahan penggunaan, dan biaya operasional yang relatif rendah. Untuk laboratorium yang rutin mengukur Cu²⁺—misalnya di pengolahan air limbah industri, pemantauan air minum, atau riset lingkungan—teknologi ini memberikan beberapa keuntungan jangka panjang:
-
Pengurangan biaya reagen dan sampel dibanding metode spektroskopi yang sering membutuhkan banyak bahan kimia.
-
Waktu analisis yang lebih singkat, mendukung keputusan cepat di lapangan.
-
Prosedur yang lebih ramah untuk teaching lab dan operator baru.
-
Potensi integrasi ke sistem online/otomasi melalui ion meter yang mendukung perekaman dan ekspor data.
Selain itu, ISE-Cu bekerja langsung di larutan tanpa harus melakukan destruksi sampel, sehingga mendukung konsep green lab: lebih sedikit limbah kimia dan langkah preparasi.
Keunggulan Pendekatan ISE Dibanding Metode Konvensional
Metode seperti AAS (Atomic Absorption Spectroscopy) atau ICP-OES punya keunggulan dari sisi limit deteksi yang sangat rendah dan multi-elemen. Namun untuk banyak aplikasi rutin, pendekatan ISE justru jauh lebih praktis:
-
Peralatan lebih kompak dan bisa dibawa ke lapangan, cocok untuk inspeksi WTP/WWTP, budidaya ikan, atau inspeksi instalasi industri.
-
Tidak memerlukan sumber listrik besar atau gas khusus.
-
Waktu pemanasan/penyiapan instrumen jauh lebih pendek.
-
Cocok untuk screening cepat sebelum sampel penting dikirim ke laboratorium rujukan.
Dengan kata lain, ISE-Cu tidak dimaksudkan menggantikan sepenuhnya metode spektroskopi, tetapi menjadi “garda depan” monitoring harian, sehingga laboratorium dapat fokus menggunakan alat besar hanya untuk verifikasi dan analisis lanjutan.
ISE-Cu: Elektroda Praktis untuk Pengukuran Ion Tembaga di Lapangan dan Laboratorium
ISE-Cu adalah elektroda kombinasi (combination electrode), artinya dalam satu bodi sudah terdapat sensor ion tembaga dan elektroda referensi, sehingga tidak memerlukan elektroda referensi terpisah. Ini mempermudah setup, terutama ketika digunakan pada meter portabel atau di lapangan.
Brochure ion selective electrode menjelaskan bahwa lini elektroda ini menggunakan desain solid-state dan tidak memerlukan pengisian larutan referensi berkala . Untuk pengguna, hal ini berarti:
-
Tidak repot mengisi atau mengganti larutan dalam tubuh elektroda.
-
Perawatan lebih sederhana, cocok untuk laboratorium dengan banyak pengguna bergantian.
-
Risiko kebocoran elektrolit ke dalam sampel menjadi sangat kecil.
ISE-Cu dirancang untuk mengukur konsentrasi Cu²⁺ dalam rentang 0,06 hingga 6400 ppm pada pH antara 2 hingga 7 dan suhu operasi 5 hingga 50 °C . Rentang ini sudah mencakup sebagian besar kebutuhan QA/QC di:
-
Pengolahan air minum (kadar Cu biasanya < 1 ppm).
-
Air limbah industri plating/galvanis (kadar Cu bisa puluhan hingga ratusan ppm).
-
Laboratorium riset yang mempelajari toksisitas tembaga bagi organisme air.
-
Teaching lab kimia analitik yang mengenalkan konsep elektroda ion selektif.
Keistimewaan lain adalah kemampuannya bekerja pada sampel dengan matriks berbeda, selama pH dikondisikan antara 2–7 dan tidak mengandung detergen kuat, larutan sangat asam/alkalis, atau pelarut organik yang dapat merusak membran .
Desain Fisik dan Ketahanan untuk Kebutuhan Sehari-Hari
Dari sisi fisik, ISE-Cu menggunakan bodi epoxy berbentuk silinder dengan diameter sekitar 12 mm dan panjang total 150 mm . Material epoxy membuat elektroda ini lebih tahan benturan dibanding elektroda berbahan kaca, sehingga aman dibawa ke lapangan atau digunakan di teaching lab dengan banyak mahasiswa.
Beberapa poin desain penting:
-
Panjang bagian sensitif sekitar 120 mm, memudahkan pencelupan ke dalam beaker atau botol sampel yang agak dalam.
-
Kabel sepanjang 1 meter dengan konektor BNC standar memudahkan koneksi ke berbagai ion meter dan pH/ISE meter yang umum di pasaran.
-
Berat sekitar 60 gram (berdasarkan data produk) sehingga cukup ringan untuk digunakan berulang kali tanpa membuat operator cepat lelah.
ISE-Cu dirancang untuk bekerja pada suhu lingkungan 5 hingga 50 °C. Rentang ini cukup luas untuk kondisi laboratorium umum, ruang proses di pabrik, maupun instalasi pengolahan air yang tidak dikondisikan suhu ruangnya secara ketat. Untuk penggunaan di luar rentang tersebut, biasanya sampel perlu didinginkan atau dihangatkan terlebih dahulu agar pengukuran stabil.
Tidak terdapat informasi resmi mengenai IP rating (misalnya IP67 atau sejenisnya). Dengan demikian, pengguna sebaiknya menganggap elektroda ini sebagai peralatan laboratorium biasa: hindari perendaman konektor, jangan biarkan bagian sambungan kabel terpapar air berlebih, dan simpan di tempat kering setelah digunakan.
Pengalaman Pengguna: Dari Persiapan Hingga Pembacaan Stabil
Dokumen panduan pengguna memberikan beberapa langkah penting sebelum pemakaian. Sebelum elektroda digunakan pertama kali, tutup pelindung pada ujung elektroda dilepas, kemudian elektroda direndam dalam larutan standar tembaga 100 ppm selama sekitar 10 menit . Proses ini membantu membran mencapai kondisi kerja yang stabil.
Beberapa kiat praktis dari panduan tersebut:
-
Gunakan air suling atau deionisasi untuk membilas elektroda di antara pengukuran, menghindari kontaminasi silang antar sampel.
-
Tambahkan ionic strength adjuster (ISA-Cu) pada standar dan sampel untuk menjaga kekuatan ionik latar belakang tetap konstan. Rekomendasinya adalah penambahan sekitar 2 mL ISA ke 100 mL larutan standar atau sampel.
-
Pastikan pH sampel berada antara 2–7. Di luar rentang ini, respon elektroda dapat terganggu dan membran berisiko rusak.
-
Selama kalibrasi dan pengukuran, usahakan suhu semua larutan sama, karena perubahan suhu memengaruhi potensial elektroda.
Pengadukan juga berperan penting. Panduan menyebutkan bahwa larutan standar dan sampel sebaiknya diaduk pada laju yang seragam untuk meningkatkan akurasi pengukuran . Pengadukan magnetik dengan stirrer kecepatan rendah hingga sedang biasanya cukup. Hindari pengadukan terlalu keras yang dapat menimbulkan gelembung udara di sekitar membran.
Dengan mengikuti langkah ini, pembacaan ion meter menjadi lebih cepat stabil, sehingga operator tidak perlu menunggu terlalu lama di tiap titik sampel. Ini sangat berguna untuk jalur sampling panjang, misalnya saat mengecek beberapa titik di jaringan distribusi air minum atau beberapa bak pada instalasi WWTP.
Fitur Kunci ISE-Cu yang Mendukung Efisiensi Kerja
Meskipun tidak memiliki “fitur digital” seperti memori atau layar (karena ia adalah sensor murni), ISE-Cu memiliki beberapa karakteristik teknis yang langsung berdampak pada kenyamanan kerja:
-
Rentang konsentrasi luas, 0,06–6400 ppm
Rentang ini memungkinkan satu jenis elektroda digunakan dari aplikasi air minum yang kadar Cu-nya rendah hingga air limbah industri yang konsentrasinya jauh lebih tinggi . Dalam praktiknya, pengguna cukup menyesuaikan konsentrasi standar kalibrasi sesuai rentang kerja yang dibutuhkan. -
Sensitivitas (slope) 23–29 mV/decade
Slope ini menandakan respons elektroda terhadap perubahan logaritmik konsentrasi tembaga. Slope yang konsisten mendekati nilai teoritis memudahkan kalibrasi, mengurangi kebutuhan pengulangan, dan mendukung konsistensi data dari hari ke hari. -
Desain kombinasi, tanpa reference electrode terpisah
Dengan hanya satu elektroda yang perlu ditangani, risiko salah memasang atau mencampur kabel ke meter menjadi lebih kecil. Ini sangat membantu di laboratorium dengan banyak pengguna dan beban kerja tinggi. -
Tidak memerlukan larutan pengisi
Tidak ada kewajiban mengisi ulang elektrolit di dalam elektroda, sehingga pemeliharaan harian lebih sederhana dan risiko kebocoran cairan ke sampel menjadi rendah . -
Bodi epoxy yang tangguh
Ketahanan mekanik penting di lingkungan industri dan teaching lab, di mana elektroda bisa saja tidak sengaja terbentur beaker atau jatuh di meja. Bodi epoxy mengurangi peluang kerusakan dibanding bodi kaca.
Secara keseluruhan, fitur-fitur ini membantu menghemat waktu dan mengurangi potensi kesalahan akibat faktor manusia, sehingga tim QA/QC dapat lebih fokus pada interpretasi data dibanding mengurusi peralatan.
Integrasi dengan Sistem Pengukuran dan Otomasi
ISE-Cu menggunakan konektor BNC standar pada ujung kabelnya. Ini berarti elektroda cocok dipasangkan dengan berbagai model:
-
Ion meter portabel untuk kerja lapangan.
-
Benchtop pH/ISE meter di laboratorium QC.
-
Titrator otomatis yang memiliki input BNC untuk elektroda indikator.
-
Sistem akuisisi data yang memerlukan masukan sinyal potensial.
Karena sensor ini sendiri tidak menyimpan data, fungsi transfer ke PC atau LIMS ditangani oleh instrumen meter yang terhubung. Banyak meter modern menyediakan port USB atau RS-232 untuk ekspor data ke perangkat lunak pengolah seperti Excel atau sistem informasi laboratorium. Dalam workflow seperti ini, ISE-Cu berfungsi sebagai sensor front-end yang mengubah aktivitas ion tembaga menjadi sinyal listrik yang dapat direkam.
Bagi laboratorium yang sering diaudit, integrasi ini penting. Data hasil pengukuran dapat:
-
Disimpan secara kronologis beserta informasi waktu, operator, dan titik sampling.
-
Dibuatkan tren jangka panjang untuk memantau stabilitas proses, misalnya di air limbah hasil electroplating.
-
Menjadi dasar pengambilan keputusan cepat bila terjadi lonjakan kadar tembaga.
Dengan memanfaatkan kombinasi ISE-Cu dan meter yang mendukung ekspor data, institusi dapat membangun sistem monitoring tembaga yang skalabel tanpa harus langsung berinvestasi pada sistem online yang sangat kompleks.
Spesifikasi Teknis ISE-Cu
Tabel Spesifikasi Utama
| Parameter | Nilai ISE-Cu |
|---|---|
| Model | ISE-Cu |
| Jenis | Elektroda ion selektif kombinasi untuk Cu²⁺ |
| Rentang konsentrasi | 0,06 – 6400 ppm |
| Slope | 23 – 29 mV per dekade |
| Rentang pH operasi sampel | 2 – 7 |
| Suhu operasi | 5 – 50 °C (41 – 122 °F) |
| Interferensi utama | Hg²⁺, Ag⁺, S²⁻ |
| Material bodi | Epoxy |
| Dimensi | 150 (L) × 12 (Ø) mm |
| Panjang kabel | 1 m |
| Konektor | BNC |
| Berat | ± 60 g |
| Aksesori opsional | ION-Cu larutan standar Cu 1000 ppm (480 mL); ISA-Cu ionic strength adjuster (480 mL) |
Membaca Angka Spesifikasi dengan Kacamata Pemula
Bagi pengguna yang baru mengenal elektroda ion selektif, angka-angka di atas bisa terlihat kering. Cara mudah memahaminya adalah sebagai berikut:
-
Rentang konsentrasi 0,06–6400 ppm berarti elektroda dapat mengukur dari sekitar 0,06 mg/L hingga 6400 mg/L. Di sisi rendah, nilai ini sudah cukup untuk memantau air minum dan lingkungan. Di sisi tinggi, cukup untuk banyak air limbah industri sebelum atau sesudah proses treatment tertentu.
-
Rentang pH 2–7 memberi sinyal bahwa sampel tidak boleh terlalu basa. Jadi, jika bekerja dengan air limbah sangat alkalis, pH perlu disesuaikan dulu menggunakan asam yang sesuai.
-
Interferensi Hg²⁺, Ag⁺, dan S²⁻ berarti bila sampel mengandung ion-ion tersebut dalam konsentrasi cukup tinggi, pembacaan Cu²⁺ bisa terganggu. Dalam kasus seperti ini, perlu dipertimbangkan teknik pemisahan atau koreksi.
-
Bodi epoxy dan kabel 1 m menunjukkan elektroda ini didesain untuk penggunaan praktis di laboratorium maupun lapangan tanpa terlalu sensitif terhadap benturan ringan.
Memilih Larutan Standar, ISA, dan Komponen Pendukung
Rentang Konsentrasi dan Contoh Aplikasi
Tabel berikut membantu memilih rentang standar dan pendekatan pengukuran sesuai jenis aplikasi:
| Aplikasi | Perkiraan kadar Cu²⁺ umum | Rentang standar kalibrasi yang disarankan | Catatan praktis |
|---|---|---|---|
| Air minum, air baku WTP | < 1 ppm | 0,1 – 1 – 10 ppm | Gunakan pengenceran bila mendekati batas deteksi |
| Monitoring jaringan distribusi | 0,1 – 2 ppm | 0,1 – 1 – 10 ppm | Cocok untuk inspeksi rutin lapangan |
| Air limbah domestik | 0,1 – 5 ppm | 0,1 – 1 – 10 – 100 ppm | Tambahkan ISA-Cu untuk stabilitas |
| Air limbah plating/galvanis | 1 – 500 ppm | 1 – 10 – 100 – 1000 ppm | Kadang perlu pengenceran bertahap |
| Kontrol proses di industri kimia | 10 – 1000 ppm | 10 – 100 – 1000 – 5000 ppm | Sesuaikan dengan titik kendali proses |
| Riset toksisitas organisme air | 0,05 – 5 ppm | 0,1 – 1 – 10 ppm | Perhatikan pH dan kondisi buffering |
Selain elektroda, komponen pendukung penting meliputi:
-
Larutan standar Cu 0,1 M dan 1000 ppm yang dapat disiapkan dari Cu(NO₃)₂·3H₂O sesuai panduan, atau menggunakan larutan siap pakai ION-Cu .
-
ISA-Cu untuk menjaga kekuatan ionik dan pH.
-
Beaker plastik atau kaca, volumetric flask, dan stirrer magnetik.
-
Ion meter yang kompatibel dengan input BNC dan mode pengukuran ISE.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Hasil Pengukuran
Beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan agar hasil pengukuran konsisten:
-
pH sampel: harus berada di rentang 2–7. Di luar ini, respons elektroda tidak lagi mengikuti kurva kalibrasi.
-
Suhu: usahakan standar dan sampel berada pada suhu yang mirip, karena perubahan suhu memengaruhi potensial Nernst.
-
Kekuatan ionik: gunakan ISA-Cu untuk menstabilkan kondisi matriks larutan.
-
Waktu kontak: tunggu hingga pembacaan meter benar-benar stabil, terutama pada konsentrasi rendah.
-
Kebersihan membran: hindari menyentuh atau menggosok membran dengan benda keras; bilas dengan air deionisasi dan, bila respon mulai lambat, rendam elektroda dalam larutan standar 100 ppm selama minimal satu jam untuk “merefresh” membran .
Studi Kasus: ISE-Cu dalam Dua Skenario Aplikasi
Studi Kasus 1 – Pengolahan Air Limbah Pelapisan Logam Mengurangi Downtime 20%
Sebuah pabrik pelapisan logam di kawasan industri menghadapi masalah fluktuasi kadar tembaga di air limbah. Sebelumnya, mereka mengandalkan analisis bulanan di laboratorium eksternal menggunakan AAS. Saat hasil analisis menunjukkan pelampauan baku mutu, perbaikan proses selalu terlambat. Instalasi pengolahan air limbah terpaksa dimatikan berkala untuk penyesuaian dosis koagulan dan precipitant, menyebabkan downtime yang mahal.
Tim QA/QC kemudian memutuskan menggunakan ion meter dengan elektroda ISE-Cu di area WWTP. Operator melakukan pengukuran pada beberapa titik: effluent bak equalization, outlet reaktor presipitasi, dan effluent akhir. Dengan pengukuran harian menggunakan ISE-Cu, mereka mulai melihat pola—misalnya lonjakan Cu selepas shift malam ketika produksi tertentu meningkat.
Data tren ini digunakan untuk menyesuaikan dosis bahan kimia secara proaktif. Dalam enam bulan, frekuensi incident pelampauan baku mutu turun drastis dan downtime proses pengolahan berkurang sekitar 20%, karena operator dapat bereaksi sebelum konsentrasi tembaga melewati batas yang mengganggu performa sistem.
Studi Kasus 2 – Laboratorium Air Minum Daerah Meningkatkan Layanan Riset Mahasiswa
Di sebuah kampus teknik lingkungan, laboratorium air awalnya hanya melakukan analisis tembaga menggunakan spektrofotometer manual. Prosesnya cukup panjang, mulai dari pengambilan sampel, penambahan reagen, inkubasi, hingga pembacaan absorbansi. Ketika jumlah praktikum meningkat dan mahasiswa melakukan banyak percobaan terkait korosi pipa dan pelindian tembaga dari instalasi, staf laboratorium kewalahan.
Elektroda ISE-Cu kemudian digunakan bersama ion meter benchtop. Mahasiswa dapat melakukan kalibrasi sendiri, kemudian mengukur langsung kadar Cu²⁺ dari beberapa sampel (air sumur, air ledeng, air simulasi korosi) dalam satu sesi praktikum. Waktu analisis per sampel menjadi jauh lebih singkat, sehingga praktikum yang sebelumnya hanya bisa mengakomodasi beberapa titik data kini dapat berkembang menjadi percobaan dengan variasi lebih kaya.
Selain itu, hasil pengukuran ISE-Cu digunakan sebagai data cepat, sementara beberapa sampel representatif tetap dikirim ke laboratorium pusat untuk dianalisis dengan metode spektroskopi sebagai pembanding. Mahasiswa jadi memahami kelebihan dan keterbatasan masing-masing metode secara lebih nyata.
Panduan Langkah demi Langkah: Mengukur Cu²⁺ di Air Limbah Plating dengan ISE-Cu
Skenario berikut menggambarkan penggunaan ISE-Cu di instalasi pengolahan air limbah industri pelapisan logam, mulai dari pengambilan sampel sampai pencatatan hasil.
-
Persiapan awal
-
Pastikan ion meter berada pada mode ISE dengan satuan ppm.
-
Lepas tutup pelindung ujung elektroda dan bilas dengan air deionisasi.
-
Bila pertama kali digunakan hari itu, rendam ISE-Cu dalam larutan standar 100 ppm tembaga selama 10 menit.
-
-
Menyiapkan larutan standar dan ISA
-
Siapkan beberapa standar, misalnya 1 ppm, 10 ppm, dan 100 ppm dari larutan stok 1000 ppm.
-
Tambahkan 2 mL ISA-Cu ke setiap 100 mL standar.
-
Tambahkan juga 2 mL ISA-Cu ke setiap sampel air limbah yang akan diuji.
-
-
Kalibrasi meter
-
Masukkan elektroda ke standar konsentrasi terendah (misalnya 1 ppm).
-
Aduk perlahan, tunggu sampai pembacaan stabil, lalu set sebagai titik kalibrasi pertama.
-
Bilas elektroda dengan air deionisasi, blot kering dengan tisu bebas serat.
-
Ulangi untuk standar 10 ppm dan 100 ppm, selalu dari konsentrasi terendah ke tertinggi untuk menghindari kontaminasi silang.
-
-
Pengukuran sampel
-
Ambil sampel dari bak equalization, reaktor presipitasi, dan effluent akhir.
-
Pastikan pH sampel sudah disesuaikan di rentang 2–7 bila diperlukan.
-
Aduk sampel dengan stirrer magnetik pada kecepatan moderat.
-
Celupkan ISE-Cu, tunggu hingga pembacaan stabil, lalu catat nilai.
-
Bilas elektroda di antara sampel.
-
-
Evaluasi dan dokumentasi data
-
Masukkan hasil ke lembar kerja atau ke software meter bila tersedia.
-
Bandingkan konsentrasi Cu²⁺ di tiap titik dengan baku mutu internal maupun regulasi.
-
Gunakan data tren harian untuk menyesuaikan dosis bahan kimia dan setpoint proses.
-
-
Perawatan setelah penggunaan
-
Bilas elektroda dengan air deionisasi.
-
Keringkan perlahan badan elektroda (tanpa menggosok membran).
-
Pasang kembali tutup pelindung dan simpan di tempat kering, sejuk, dan berventilasi baik .
-
Dengan alur ini, tim operasi WWTP dapat melakukan kontrol proses yang lebih responsif tanpa perlu menunggu hasil dari laboratorium eksternal.
Kesimpulan dan Rekomendasi
ISE-Cu adalah elektroda ion selektif tembaga yang dirancang untuk memberikan pengukuran Cu²⁺ yang cepat dan cukup andal pada rentang konsentrasi luas, dari air minum hingga air limbah industri. Desain kombinasi dengan bodi epoxy, rentang pH dan suhu yang praktis, serta pemakaian yang tidak membutuhkan reference electrode terpisah membuatnya cocok untuk:
-
Laboratorium QA/QC di industri plating, kimia, dan pengolahan air.
-
Instalasi WTP/WWTP yang membutuhkan pemantauan tembaga secara rutin.
-
Laboratorium kampus dan teaching lab yang ingin mengajarkan konsep ISE secara langsung.
-
Aplikasi lapangan di sektor lingkungan dan akuakultur, selama kondisi pH dan matriks sampel dikendalikan.
Bagi organisasi yang menginginkan pemantauan tembaga harian tanpa investasi besar pada instrumen spektroskopi, kombinasi ISE-Cu dan ion meter yang tepat bisa menjadi solusi yang efisien. Sementara itu, untuk kebutuhan analisis sangat rinci atau limit deteksi ultraringan, metode spektroskopi tetap dapat digunakan sebagai pelengkap dan verifikasi.
FAQ Singkat
-
Apakah ISE-Cu bisa digunakan langsung di air limbah yang sangat basa?
Tidak disarankan. Sampel perlu disesuaikan pH-nya ke rentang 2–7 sebelum pengukuran agar respon elektroda tetap akurat dan membran tidak cepat rusak. -
Seberapa sering ISE-Cu perlu dikalibrasi?
Sebaiknya dikalibrasi setiap hari penggunaan atau setiap kali diperlukan akurasi tinggi, terutama jika digunakan di rentang konsentrasi berbeda dari hari sebelumnya. -
Apa yang harus dilakukan bila respon elektroda mulai lambat?
Bilas elektroda, lalu rendam dalam larutan standar tembaga 100 ppm selama minimal satu jam. Ini biasanya membantu mengembalikan sensitivitas membran. -
Bisakah satu ISE-Cu dipakai di beberapa meter berbeda?
Bisa, selama meter memiliki input BNC dan fungsi pengukuran ISE. Namun, pastikan elektroda dikalibrasi ulang pada masing-masing meter. -
Apakah elektroda ini bisa mengukur tembaga di sampel air laut?
Secara prinsip bisa, tetapi matriks air laut yang kompleks dan tinggi ion lain dapat mempengaruhi hasil. Penggunaan ISA dan, bila perlu, teknik pengenceran atau pemisahan perlu dipertimbangkan. -
Berapa lama usia pakai ISE-Cu?
Umumnya beberapa tahun dengan perawatan yang baik, namun usia aktual sangat tergantung pada frekuensi pemakaian, jenis sampel, dan cara penyimpanan.
Sebagai pemasok dan distributor alat laboratorium, CV. Java Multi Mandiri memahami pentingnya pemantauan ion tembaga yang andal dalam mendukung berbagai proses penelitian dan produksi Anda. Kami melayani kebutuhan klien bisnis dan aplikasi industri, menyediakan instrumen berkualitas seperti elektroda ion selektif ISE-Cu beserta perangkat laboratorium lainnya untuk membantu perusahaan Anda mengoptimalkan kontrol kualitas air, memastikan kepatuhan terhadap regulasi, dan menjaga keandalan proses. Jika Anda ingin meningkatkan akurasi dan efisiensi pengujian tembaga pada utilitas dan proses produksi, mari diskusikan kebutuhan perusahaan Anda bersama kami untuk menemukan solusi yang paling sesuai.
Rekomendasi Ion Selective Electrode Unggulan untuk Kebutuhan Anda
-

ISE NH4 – Ammonium Electrode
Rp9.410.000Lihat Produk★★★★★ -

ISE Na – Sodium Electrode
Rp9.410.000Lihat Produk★★★★★ -

ISE Cu – Copper Electrode
Rp9.410.000Lihat Produk★★★★★ -

ISE Cl – Chloride Electrode
Rp9.410.000Lihat Produk★★★★★ -

ISE Cd – Cadmium Electrode
Rp9.410.000Lihat Produk★★★★★ -

ISE Ca – Calcium Electrode
Rp9.410.000Lihat Produk★★★★★ -

ISE Br Bromide Electrode
Rp9.410.000Lihat Produk★★★★★ -

ISE Ag – Silver Electrode
Rp9.410.000Lihat Produk★★★★★
Referensi
-
Manne, R., Muthu Kumaradoss, M. M. R., Iska, R. S. R., Devarajan, A., & Mekala, N. (2022). Water quality and risk assessment of copper content in drinking water stored in copper container. Applied Water Science, 12, 27. Retrieved from https://link.springer.com/content/pdf/10.1007/s13201-021-01542-x.pdf
-
Mustapha, M. K., & Agunloye, J. T. (2016). Copper toxicity of four different aquaculture ponds. Journal of Tropical Life Science, 6(3), 155–159. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/95583-copper-toxicity-of-four-different-aquacu.pdf














