Close-up of surgical instruments on a tray with surface wear patterns and measurement tools, illustrating the impact of surface roughness on corrosion.

Pengaruh Kekasaran Permukaan terhadap Korosi Alat Bedah: Panduan Teknis dan Praktis

Daftar Isi

Korosi pada alat bedah bukan sekadar masalah estetika atau keausan biasa. Ini adalah kegagalan fungsi yang mengancam langsung keamanan pasien dan kesehatan finansial fasilitas layanan kesehatan. Di balik kegagalan ini, tersembunyi satu faktor kritis yang sering diabaikan: kekasaran permukaan. Artikel komprehensif ini dirancang untuk menghubungkan titik-titik antara ilmu material yang mendalam dan protokol kerja harian di Departemen Layanan Sterilisasi Pusat (CSSD) serta Teknik Biomedis. Kami akan mengungkap bagaimana kekasaran permukaan secara langsung memicu korosi, menyajikan panduan berbasis standar industri (ASTM, AAMI, ISO) untuk pengukuran dan kontrol, serta memberikan langkah-langkah praktis yang dapat segera diterapkan untuk memperpanjang masa pakai alat, meminimalkan risiko infeksi nosokomial, dan mengoptimalkan investasi institusi Anda.

  1. Hubungan Ilmiah: Bagaimana Kekasaran Permukaan Memicu Korosi Alat Bedah

    1. Mekanisme Elektrokimia: Sel Galvanik pada Permukaan Kasar
    2. Kekasaran, Biofilm, dan Risiko Infeksi Nosokomial
    3. Peran Kritis Material: Lapisan Pasif pada Stainless Steel 316/316L
  2. Standar, Pengukuran, dan Kontrol Kualitas Kekasaran

    1. Standar Industri yang Mengatur: ASTM F899, AAMI ST79, dan ISO 13402
    2. Teknik Akurat untuk Mengukur Kekasaran Permukaan (Ra dan Rz)
    3. Rentang Kekasaran Optimal untuk Berbagai Jenis Alat Bedah
  3. Protokol Praktis Pencegahan Korosi: Dari Finishing Hingga Penyimpanan

    1. Teknik Finishing dan Perlakuan Permukaan: Electropolishing hingga Peening
    2. Prosedur Pembersihan, Pengeringan, dan Sterilisasi yang Tidak Merusak
    3. Praktik Penyimpanan yang Ideal untuk Lingkungan Kering dan Aman
  4. Identifikasi, Pemantauan, dan Manajemen Risiko Korosi

    1. Jenis-Jenis Korosi pada Alat Bedah dan Ciri-Ciri Visualnya
    2. Checklist Inspeksi Visual dan Interval Pengujian Rutin
    3. Opsi untuk Alat yang Terkorosi: Restorasi, Pasivasi Ulang, atau Pengafkiran
  5. Dampak Klinis dan Ekonomi: Mengapa Pencegahan Korosi adalah Investasi

    1. Mata Rantai yang Hilang: Dari Kekasaran Permukaan ke Infeksi Nosokomial
    2. Analisis Biaya-Benefit: Pemeliharaan Preventif vs. Penggantian Alat
    3. Membangun Budaya Keselamatan: Integrasi ke dalam Program Mutu Fasilitas Kesehatan
  6. Kesimpulan
  7. References

1. Hubungan Ilmiah: Bagaimana Kekasaran Permukaan Memicu Korosi Alat Bedah

Kekasaran permukaan bukanlah karakteristik statis; ia adalah panggung mikroskopis di mana drama korosi elektrokimia berlangsung. Memahami hubungan sebab-akibat ini adalah langkah pertama dalam membangun strategi pencegahan yang efektif. Semakin tinggi nilai kekasaran, semakin besar area permukaan yang terekspos dan semakin kompleks topografinya, menciptakan kondisi ideal untuk inisiasi dan percepatan kerusakan material [1].

1.1. Mekanisme Elektrokimia: Sel Galvanik pada Permukaan Kasar

Pada tingkat mikro, permukaan alat bedah yang kasar terdiri dari puncak (crest) dan lembah (valley). Perbedaan geometri ini menciptakan variasi dalam akses terhadap oksigen dan elektrolit (seperti sisa cairan pembersih atau saline). Area yang lebih rendah atau terlindungi (lembah) menjadi kekurangan oksigen dan bertindak sebagai anoda, di mana logam terlarut (terkorosi). Sementara itu, area yang lebih tinggi (puncak) yang terpapar lebih banyak oksigen menjadi katoda. Perbedaan potensial listrik antara anoda dan katoda ini membentuk sel galvanik mikro, menggerakkan aliran elektron dan mempercepat reaksi korosi secara lokal. Penelitian menunjukkan bahwa permukaan logam yang lebih kasar menimbulkan beda potensial yang lebih besar antar area permukaannya, secara signifikan meningkatkan kecenderungan area tertentu menjadi anoda yang terkorosi lebih cepat [2].

1.2. Kekasaran, Biofilm, dan Risiko Infeksi Nosokomial

Lembah-lembah pada permukaan kasar berfungsi sebagai tempat perlindungan ideal bagi residu protein, lemak, dan material biologis lainnya. Residu ini tidak hanya dapat menghalangi proses sterilisasi tetapi juga menjadi nutrisi bagi mikroorganisme. Sebuah studi in vitro yang diterbitkan dalam Ceramics International (2020) memberikan bukti kuat: jumlah perlekatan bakteri pada permukaan dengan kekasaran (Ra) 205 nanometer bisa mencapai 50 kali lipat lebih banyak dibandingkan pada permukaan dengan kekasaran 1 nanometer [3]. Sekali biofilm terbentuk, ia menjadi sangat resisten terhadap proses pembersihan dan sterilisasi standar. Ditambah lagi, kombinasi antara waktu sterilisasi yang diperpanjang (misalnya, siklus autoklaf yang terlalu lama) dan kekasaran permukaan dapat secara sinergis meningkatkan laju degradasi material hingga 2000 kali lipat pada beberapa polimer medis [4]. Koneksi ini menjadikan kekasaran permukaan sebagai mata rantai kritis antara kegagalan material dan risiko infeksi pasca-bedah. Untuk konteks klinis yang lebih luas, WHO’s global guidelines for surgical site infection prevention menekankan pentingnya dekontaminasi perangkat medis yang efektif.

1.3. Peran Kritis Material: Lapisan Pasif pada Stainless Steel 316/316L

Mayoritas alat bedah reusable terbuat dari baja tahan karat austenitik, terutama grade AISI 316 atau 316L. Ketahanan korosinya berasal dari lapisan pasif tipis yang kaya akan kromium oksida (Cr₂O₃) yang terbentuk secara alami di permukaannya. Kekasaran permukaan mengancam integritas lapisan pelindung ini dalam dua cara: (1) memberikan lebih banyak titik inisiasi (seperti mikrocacat) di mana lapisan pasif dapat rusak, dan (2) memudahkan akumulasi spesies korosif seperti ion klorida pada satu lokasi. Ion klorida, yang umum ditemukan dalam saline, darah, dan beberapa deterjen, dapat menembus lapisan pasif dan menyebabkan korosi pitting—korosi lokal yang sangat dalam dan berbahaya. Penting untuk dicatat, baja tahan karat 316L (dengan kandungan karbon maksimum 0.03%) umumnya lebih disukai daripada 316 (karbon ~0.08%) karena ketahanan yang lebih baik terhadap korosi di area sensitif akibat pengelasan atau pengerjaan, berkat penurunan risiko pembentukan karbida kromium yang dapat menguras kromium dari lapisan pasif di sekitarnya [5].

2. Standar, Pengukuran, dan Kontrol Kualitas Kekasaran

Mengelola kekasaran permukaan memerlukan kerangka kerja yang objektif dan terstandarisasi. Tanpa acuan numerik dan metode pengukuran yang valid, upaya pencegahan korosi hanya bersifat spekulatif. Bagian ini memberikan landasan operasional berdasarkan standar dan praktik terbaik industri.

2.1. Standar Industri yang Mengatur: ASTM F899, AAMI ST79, dan ISO 13402

Tiga standar utama membentuk pilar pengendalian kualitas untuk alat bedah. ASTM F899 adalah standar spesifikasi yang mengatur komposisi kimia, sifat mekanik, dan persyaratan pemrosesan untuk baja tahan karat tempa yang digunakan terutama dalam pembuatan instrumen bedah [6]. Standar ini memastikan material dasar memiliki ketahanan korosi, kekerasan, dan kekuatan tarik yang memadai untuk lingkungan medis, dan seringkali mencakup persyaratan untuk kondisi akhir permukaan. AAMI ST79 adalah panduan komprehensif untuk sterilisasi uap dan sterilisasi sentral, yang mencakup aspek penanganan, pembersihan, dan inspeksi alat—semua faktor yang mempengaruhi kekasaran dan korosi permukaan. Sementara itu, ISO 13402:2025 – Surgical and dental hand instruments — Determination of resistance against autoclaving, corrosion and thermal exposure menyediakan metode pengujian standar untuk mengevaluasi ketahanan korosi alat bedah, termasuk paparan terhadap kondisi yang mensimulasikan proses reprocessing berulang [7].

2.2. Teknik Akurat untuk Mengukur Kekasaran Permukaan (Ra dan Rz)

Pengukuran kekasaran permukaan alat bedah memerlukan alat yang presisi. Dua parameter umum adalah Ra (Roughness average), yaitu rata-rata aritmatika deviasi absolut profil dari garis tengah, dan Rz (Average maximum height), yang mengukur perbedaan antara lima puncak tertinggi dan lima lembah terendah dalam panjang sampling. Metode pengukuran utama meliputi:

  • Profilometer Kontak: Menggunakan stylus berlian yang bergerak di atas permukaan. Sangat akurat untuk pengukuran Ra dan Rz secara langsung, tetapi berisiko menyebabkan goresan pada permukaan yang sangat halus jika tidak dilakukan dengan hati-hati.
  • Profilometer Optik/Non-Kontak: Menggunakan teknik seperti interferometri atau confocal microscopy. Ideal untuk permukaan yang sangat halus atau rapuh karena tidak ada kontak fisik, dan dapat memberikan pemetaan topografi 3D. Pemilihan metode harus mempertimbangkan akurasi yang dibutuhkan, geometri alat, dan apakah pengukuran bersifat destruktif atau non-destruktif.

2.3. Rentang Kekasaran Optimal untuk Berbagai Jenis Alat Bedah

Tidak ada angka “satu untuk semua”. Nilai kekasaran optimal (Ra) bergantung pada fungsi alat. Berdasarkan praktik industri dan Instruksi Penggunaan (IFU) dari berbagai pabrikan, rentang umum dapat dijadikan panduan:

  • Pisau Bedah (Scalpel Blades) & Mata Bor: Memerlukan permukaan terhalus untuk ketajaman dan minim gesekan. Nilai Ra target seringkali di bawah 0.2 μm.
  • Gunting, Forsep, dan Penjepit: Untuk kenyamanan genggaman dan fungsi mekanis yang baik, rentang Ra antara 0.4 μm hingga 0.8 μm umumnya dapat diterima dan masih memberikan ketahanan korosi yang baik.
  • Retractor dan Alat Berukuran Besar: Dapat mentolerir kekasaran yang sedikit lebih tinggi, biasanya dalam rentang 0.8 μm hingga 1.6 μm, selama tidak ada cacat tajam atau goresan dalam.

Penting untuk selalu merujuk pada spesifikasi pabrikan alat tertentu, karena proses coating atau perlakuan khusus dapat mempengaruhi rentang yang disarankan.

3. Protokol Praktis Pencegahan Korosi: Dari Finishing Hingga Penyimpanan

Pengetahuan teknis harus ditranslasikan ke dalam tindakan preventif harian. Bagian ini merangkum langkah-langkah kritis dalam siklus hidup alat bedah untuk mempertahankan integritas permukaan.

3.1. Teknik Finishing dan Perlakuan Permukaan: Electropolishing hingga Peening

Sebelum penggunaan, kualitas permukaan awal ditentukan oleh teknik finishing. Electropolishing adalah proses elektrokimia yang melarutkan lapisan permukaan terluar secara selektif, menghasilkan permukaan yang sangat halus, bulat (tajam tepi berkurang), dan lapisan pasif yang lebih kaya kromium. Ini secara signifikan meningkatkan ketahanan terhadap korosi pitting. Di sisi lain, Shot Peening adalah proses mekanis yang menembakkan butiran kecil ke permukaan untuk menginduksi tegangan tekan sisa di lapisan permukaan. Tegangan tekan ini sangat bermanfaat karena melawan pembentukan dan propagasi retak korosi tegangan (stress corrosion cracking) [8]. Tegangan tarik sisa, yang sering dihasilkan dari proses machining atau grinding yang tidak tepat, justru akan mempercepat korosi retak tegangan.

3.2. Prosedur Pembersihan, Pengeringan, dan Sterilisasi yang Tidak Merusak

Tindakan pencegahan korosi dimulai di meja operasi dan berlanjut ke CSSD:

  1. Pembersihan Segera: Bilas dan rendam alat dengan air suling atau demineralisasi segera setelah penggunaan untuk mencegah pengeringan darah dan debris.
  2. Pembersihan Ultrasonik: Gunakan larutan pembersih enzimatik netral (pH mendekati 7) yang dirancang khusus untuk alat bedah. Hindari deterjen dengan klorida tinggi atau pemutih (bleach), karena klorida adalah penyebab utama korosi pitting [9].
  3. Pembilasan Menyeluruh: Bilas dengan air berkualitas tinggi (air suling, RO, atau air dengan kemurnian tinggi) untuk menghilangkan semua residu kimia pembersih. Air keran dengan mineral tinggi dapat meninggalkan deposit yang memicu korosi.
  4. Pengeringan Sempurna: Gunakan pengering bertekanan udara atau kompresor dengan filter untuk memastikan tidak ada kelembaban yang tersisa, terutama di engsel dan area sempit.
  5. Sterilisasi Uap yang Optimal: Ikuti parameter siklus autoklaf yang direkomendasikan pabrikan. Hindari siklus yang terlalu panjang atau suhu berlebih yang tidak perlu, karena panas dan kelembapan berlebih dapat mempercepat degradasi material. Protokol lengkap dapat dirujuk dalam CDC’s official guidelines for disinfection and sterilization in healthcare facilities.

3.3. Praktik Penyimpanan yang Ideal untuk Lingkungan Kering dan Aman

Penyimpanan yang tidak tepat dapat menggagalkan semua upaya pencegahan sebelumnya. Air kondensasi yang terperangkap dalam paket plastik penyimpanan (sterile barrier) merupakan penyebab umum korosi berkelanjutan [10]. Pastikan:

  • Alat benar-benar kering sebelum dikemas.
  • Gunakan bahan kemasan yang memungkinkan penetrasi uap sterilan tetapi juga memiliki sifat penghalang kelembapan yang baik.
  • Simpan di ruangan dengan kontrol kelembaban (idealnya <70% RH) dan suhu stabil.
  • Lakukan rotasi stok untuk mencegah alat disimpan terlalu lama tanpa digunakan.

4. Identifikasi, Pemantauan, dan Manajemen Risiko Korosi

Program pencegahan yang efektif membutuhkan sistem deteksi dini dan kerangka pengambilan keputusan yang jelas untuk menangani alat yang terpengaruh korosi.

4.1. Jenis-Jenis Korosi pada Alat Bedah dan Ciri-Ciri Visualnya

Mengenali tanda-tanda awal sangat penting. Panduan edukasi dari Purdue University, dirancang untuk spesialis instrumen bersertifikat, mengklasifikasikan jenis korosi umum sebagai berikut [11]:

  • Korosi Pitting: Tampak sebagai lubang kecil atau titik gelap, sering dikelilingi oleh deposit karat berwarna coklat kemerahan. Penyebab utama adalah paparan klorida.
  • Korosi Retak Tegangan (Stress Corrosion Cracking): Retakan halus yang berasal dari area dengan tegangan tinggi (seperti engsel), diperparah oleh lingkungan korosif.
  • Korosi Celah (Crevice Corrosion): Terjadi di celah sempit (misalnya, di bawah plakat identifikasi yang longgar) di mana pertukaran cairan terbatas.
  • Korosi Galvanik: Terjadi ketika dua logam berbeda (misalnya, gunting stainless dengan sisipan tungsten carbide) bersentuhan di hadapan elektrolit, menyebabkan logam yang kurang mulia terkorosi lebih cepat.
  • Korosi Seragam (Uniform Etching): Permukaan yang umumnya kusam atau berubah warna, seringkali akibat paparan berulang terhadap larutan kimia yang terlalu agresif.

4.2. Checklist Inspeksi Visual dan Interval Pengujian Rutin

Setiap alat harus diperiksa secara visual di bawah pencahayaan yang baik dan dengan kaca pembesar setelah pembersihan dan sebelum pengepakan. Checklist harus mencakup: keausan pada ujung fungsional, ketajaman, kelurusan, fungsi engsel, dan—yang paling relevan di sini—tanda-tanda korosi atau noda. Untuk alat bernilai tinggi atau kritis, pertimbangkan program pengujian berbasis risiko. Sebagai contoh, pengujian salt spray (sesuai standar seperti ASTM B117) dapat dilakukan secara berkala (misalnya, tahunan) pada sample alat atau material dari batch yang sama untuk mengevaluasi ketahanan lapisan atau finishing. Tanya Ahli: “Kapan alat harus ditarik dari sirkulasi?” Aturan praktisnya: alat dengan korosi pitting aktif, retak, atau korosi di area fungsional (ujing pemotong, permukaan gigi) harus segera ditarik. Noda permukaan ringan yang tidak mengganggu fungsi dapat dipantau, tetapi memerlukan evaluasi oleh teknisi yang kompeten.

4.3. Opsi untuk Alat yang Terkorosi: Restorasi, Pasivasi Ulang, atau Pengafkiran

Tidak semua alat yang ternoda harus dibuang. Untuk korosi superfisial, proses pasivasi ulang dapat diterapkan. Proses ini biasanya melibatkan pembersihan menyeluruh untuk menghilangkan kontaminan, diikuti dengan perendaman dalam larutan asam (seperti asam nitrat) untuk menghilangkan besi bebas dan mendorong pembentukan kembali lapisan pasif kromium oksida yang seragam. Namun, proses ini harus dilakukan oleh layanan perbaikan alat bedah bersertifikat yang memahami material dan spesifikasi pabrikan. Alat dengan kerusakan fisik (retak, deformasi) atau korosi pitting yang dalam umumnya harus diafkirkan, karena integritas struktural dan kemampuan sterilisasinya sudah tidak terjamin. Pedoman dari asosiasi seperti AKI (Association of the Medical Device Industry) dan IFU pabrikan harus menjadi acuan utama.

5. Dampak Klinis dan Ekonomi: Mengapa Pencegahan Korosi adalah Investasi

Mengelola kekasaran permukaan dan mencegah korosi bukanlah beban biaya, melainkan investasi strategis dalam keselamatan pasien dan keberlanjutan operasional.

5.1. Mata Rantai yang Hilang: Dari Kekasaran Permukaan ke Infeksi Nosokomial

Hubungannya jelas: Kekasaran Permukaan (Ra tinggi) → Meningkatkan Akumulasi Residu & Pembentukan Biofilm → Potensi Kegagalan SterilisasiKontaminasi Luka BedahRisiko Infeksi Pasca-Operasi (SSI). Dengan mengontrol kekasaran permukaan, fasilitas kesehatan secara langsung menyerang salah satu faktor fisik yang berkontribusi terhadap infeksi terkait alat. Ini selaras dengan tujuan global untuk mengurangi infeksi nosokomial, seperti yang digariskan dalam WHO’s global guidelines for surgical site infection prevention.

5.2. Analisis Biaya-Benefit: Pemeliharaan Preventif vs. Penggantian Alat

Mari kita pertimbangkan angka: satu set forsep bedah berkualitas tinggi bisa berharga ratusan dolar hingga ribuan dolar untuk instrumen spesialis. Biaya untuk mengimplementasikan program kontrol kualitas permukaan—termasuk pelatihan staf, inspeksi rutin, dan penggunaan bahan kimia pembersih yang tepat—pada dasarnya tetap. Korosi dikatakan sebagai jenis kerusakan yang menyebabkan kerugian finansial terbesar pada alat bedah karena mengarah pada keusangan dini [12]. Investasi dalam pencegahan dapat memperpanjang masa pakai alat secara signifikan, menunda pengeluaran modal besar untuk penggantian, dan yang terpenting, menghindari biaya jauh lebih tinggi yang terkait dengan penanganan infeksi nosokomial (perpanjangan rawat inap, antibiotik, litigasi).

5.3. Membangun Budaya Keselamatan: Integrasi ke dalam Program Mutu Fasilitas Kesehatan

Pencegahan korosi harus menjadi bagian integral dari Program Jaminan Mutu dan Keselamatan Pasien rumah sakit. Ini memerlukan kolaborasi antara:

  • CSSD: Melaksanakan protokol penanganan, pembersihan, dan inspeksi yang benar.
  • Departemen Teknik Biomedis: Melakukan audit teknis berkala, kalibrasi alat ukur, dan validasi proses.
  • Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI): Memasukkan aspek kualitas permukaan alat ke dalam surveilans infeksi.
  • Manajemen Pengadaan: Mempertimbangkan spesifikasi kekasaran permukaan dan ketahanan korosi saat membeli alat baru.

Dokumen seperti CDC’s official guidelines for disinfection and sterilization dapat menjadi dasar kebijakan tertulis.

Kesimpulan

Kekasaran permukaan alat bedah jauh lebih dari sekadar angka teknis; ia adalah penentu fundamental dari ketahanan korosi, masa pakai alat, dan—yang paling krusial—keamanan pasien. Dengan memahami mekanisme elektrokimia di baliknya, berpedoman pada standar industri seperti ASTM F899 dan AAMI ST79, serta menerapkan protokol pencegahan yang ketat dalam setiap tahap—dari finishing, pembersihan, sterilisasi, hingga penyimpanan—fasilitas kesehatan dapat mengambil kendali proaktif. Menginvestasikan waktu dan sumber daya dalam mengendalikan faktor yang sering diabaikan ini bukan hanya keputusan finansial yang bijak, tetapi juga wujud nyata dari komitmen terhadap keselamatan dan kualitas pelayanan. Mulailah dengan mengevaluasi program pencegahan korosi Anda hari ini, tinjau ulang Instruksi Penggunaan (IFU) alat kritis, dan pertimbangkan untuk melakukan audit teknis terhadap kondisi permukaan alat bedah Anda.

Sebagai mitra teknis bagi industri, CV. Java Multi Mandiri memahami kompleksitas tantangan operasional dalam manajemen alat kesehatan. Kami berdedikasi untuk menyediakan instrumen pengukuran dan pengujian yang presisi serta solusi teknis yang mendukung program jaminan kualitas dan pemeliharaan preventif di fasilitas kesehatan. Jika institusi Anda memerlukan konsultasi mengenai alat ukur terkait atau solusi untuk mendukung program pengendalian kualitas permukaan dan korosi, tim ahli kami siap membantu. Silakan hubungi kami melalui halaman konsultasi solusi bisnis untuk mendiskusikan kebutuhan spesifik perusahaan Anda.

Disclaimer: Informasi ini ditujukan untuk tujuan edukasi dan profesional dalam konteks manajemen alat kesehatan. Selalu ikuti Instruksi Penggunaan (IFU) dari pabrikan alat dan regulasi setempat yang berlaku. Konsultasikan dengan ahli sterilisasi atau insinyur biomedis untuk keputusan spesifik.

Rekomendasi Roughness Tester

References

  1. Daniel, dkk. (N.D.). Pengaruh Kekasaran Permukaan terhadap Laju Korosi.
  2. Data riset kata kunci. (N.D.). Permukaan logam yang lebih kasar menimbulkan beda potensial yang lebih besar.
  3. Authors of Ceramics International study. (2020). Effects of surface roughness and texture on the bacterial adhesion on the bearing surface of bio-ceramic joint implants: An in vitro study. Ceramics International, Volume 46, Issue 5. Retrieved from https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0272884219333292
  4. Data riset kata kunci. (N.D.). Kombinasi waktu sterilisasi yang diperpanjang dan kekasaran permukaan dapat meningkatkan laju keausan material hingga 2000 kali lipat.
  5. Data riset kata kunci. (N.D.). Baja tahan karat 316L memiliki kandungan karbon di bawah 0,03%, sedangkan 316 sekitar 0,08%.
  6. Feng, J. (N.D.). Introduction to ASTM F899. BM Stainless. Retrieved from https://bmstainless.com/h1-introduction-to-astm-f899/
  7. ISO. (2025). ISO 13402:2025 – Surgical and dental hand instruments — Determination of resistance against autoclaving, corrosion and thermal exposure. International Organization for Standardization.
  8. Data riset kata kunci. (N.D.). Tegangan tarik sisa dari lapisan permukaan akan menghasilkan korosi retak tegangan, sedangkan tegangan tekan sisa dapat mencegahnya.
  9. Wall, M. (N.D.). Eliminating Corrosion on Surgical Instruments. Certified Instrument Specialist (CIS) Self-Study Lesson Plan, Purdue University. Retrieved from https://www.eventreg.purdue.edu/info/central-service/pdf/cis/CIS280.pdf
  10. Data riset kata kunci. (N.D.). Air kondensasi dalam paket plastik penyimpanan dapat menyebabkan korosi berlanjut.
  11. Wall, M. (N.D.). Eliminating Corrosion on Surgical Instruments. Certified Instrument Specialist (CIS) Self-Study Lesson Plan, Purdue University. Retrieved from https://www.eventreg.purdue.edu/info/central-service/pdf/cis/CIS280.pdf
  12. Data riset kata kunci. (N.D.). Korosi adalah jenis kerusakan yang menyebabkan kerugian paling besar pada alat bedah.

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.