Digital moisture meter testing cocoa beans on stainless steel lab bench for ISO 22000 and HACCP quality control monitoring.

Panduan Monitoring Kadar Air Biji Kakao untuk Sertifikasi ISO 22000 & HACCP

Daftar Isi

Dalam industri kakao Indonesia, pengendalian mutu bukan sekadar formalitas—melainkan penentu daya saing di pasar global. Salah satu parameter yang paling kritis dan sering menjadi titik lemah dalam rantai produksi adalah kadar air biji kakao. Standar nasional dan internasional telah menetapkan batas maksimum 7,5% [1], namun data lapangan menunjukkan banyak biji kakao domestik masih memiliki kadar air di atas ambang tersebut, mencapai 9–10% [2]. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan risiko kontaminasi jamur dan mikotoksin, tetapi juga menjadi hambatan signifikan dalam memperoleh sertifikasi sistem manajemen keamanan pangan seperti ISO 22000:2018 dan HACCP. Artikel ini menyajikan panduan praktis dan terintegrasi—yang pertama menghubungkan secara langsung parameter kadar air biji kakao dengan persyaratan dokumentasi dan verifikasi audit—mulai dari standar, alat ukur, langkah monitoring, hingga strategi pengendalian di seluruh rantai produksi. Tujuannya: membantu manajer mutu, auditor internal, dan pemilik fasilitas produksi kakao (dari UKM hingga menengah) untuk memenuhi persyaratan sertifikasi secara efisien dan meningkatkan daya saing ekspor.

  1. Mengapa Kadar Air Biji Kakao Adalah Critical Control Point (CCP) dalam ISO 22000 dan HACCP

    1. Standar Nasional dan Internasional Kadar Air Kakao
    2. Risiko Kontaminasi Mikotoksin Akibat Kadar Air Tinggi
  2. Langkah-Langkah Monitoring Kadar Air di Fasilitas Produksi Kakao

    1. Penerimaan Bahan Baku: Pengukuran Awal dengan Alat Portable
    2. Selama Fermentasi dan Pengeringan: Pengendalian Suhu dan Waktu
    3. Penyimpanan dan Pengemasan: Menjaga Kadar Air Stabil
    4. Monitoring Real-Time dengan Sistem IoT: Opsi untuk Fasilitas Modern
  3. Perbandingan Alat Monitoring Kadar Air untuk Berbagai Skala Produksi

    1. CERRA TESTER: Keandalan Teruji untuk QC Ekspor
    2. Digimost: Alternatif Digital Buatan Puslitkoka
    3. Sistem IoT: Investasi untuk Monitoring Real-Time
  4. Panduan Dokumentasi Monitoring Kadar Air untuk Audit ISO 22000 dan HACCP
  5. Kendala Umum dan Solusi dalam Adopsi Sistem Monitoring Kadar Air
  6. Kesimpulan
  7. Referensi

Mengapa Kadar Air Biji Kakao Adalah Critical Control Point (CCP) dalam ISO 22000 dan HACCP

Dalam kerangka ISO 22000 dan HACCP, setiap titik yang berpotensi menimbulkan bahaya keamanan pangan harus diidentifikasi sebagai Critical Control Point (CCP). Kadar air biji kakao memenuhi kriteria tersebut karena pengaruhnya langsung terhadap pertumbuhan mikroorganisme patogen dan produksi mikotoksin. Dr. Ir. Sri Mulato, M.Sc., pakar teknologi pascapanen kakao nasional dan pendiri Coffee & Cacao Training Center (CCTCID), menegaskan bahwa SNI 2323-2008 membatasi kandungan air maksimum 7,50% [1]. “Di atas nilai ini, biji akan mudah diserang jamur,” jelasnya. Penelitian peer-reviewed yang diterbitkan di Brazilian Journal of Microbiology (2024) mengonfirmasi bahwa okratoksin A (OTA) terdeteksi pada 30% sampel biji kakao yang diuji, dan semua sampel positif berasal dari tahap pengeringan—tahap di mana kadar air mulai menurun dan aktivitas air (Aw) menjadi kritis [3]. Sementara itu, studi dari Universitas Padjadjaran yang diterbitkan di MDPI Horticulturae (2023) melaporkan bahwa sampel dengan kadar air 8% atau lebih sangat rentan berjamur [4]. Di Indonesia, data Foodreview Indonesia menunjukkan populasi jamur pada biji kakao kering berkisar antara 2×10⁴ hingga 7×10⁶ koloni per gram, dengan dominasi Aspergillus flavus (penghasil aflatoksin) dan Aspergillus niger (penghasil okratoksin A), serta kontaminasi mikotoksin hingga 4 µg/kg [5]. Dengan demikian, penetapan kadar air sebagai CCP bukan sekadar rekomendasi—melainkan keharusan untuk melindungi kesehatan konsumen dan memenuhi persyaratan regulator, baik domestik maupun internasional.

Standar Nasional dan Internasional Kadar Air Kakao

SNI 2323-2008 merupakan satu-satunya standar yang berlaku secara nasional untuk biji kakao, baik untuk transaksi domestik maupun global. Standar ini menetapkan kadar air maksimum 7,5% [1]. Badan Standardisasi Nasional (BSN) melalui SNI ini juga mengatur klasifikasi ukuran biji (AA: maks 85 biji/100g, A: maks 100, B: maks 110, C: maks 120, S: >120) serta persyaratan lain seperti bebas smoky, bebas bau asing, dan bebas serangga hidup [6]. Pada tingkat internasional, International Cocoa Organization (ICCO)—organisasi antar-pemerintah di bawah PBB—juga mengadopsi ambang 7,5% sebagai standar mutu untuk perdagangan kakao global [7]. Bagi eksportir yang menargetkan pasar Uni Eropa dan Amerika Serikat, kepatuhan terhadap batas ini menjadi prasyarat dasar. FDA Amerika Serikat, misalnya, telah menetapkan action level aflatoksin pada biji kakao sebesar 0,5 ppm, dan kadar air yang tidak terkontrol secara langsung meningkatkan risiko melampaui batas tersebut [8]. Kementerian Perdagangan RI melalui portal LAMANSITU juga mendaftarkan parameter uji kadar air biji kakao berdasarkan SNI 2323:2008/Amd1:2010 sebagai acuan resmi pengujian mutu [9]. Dengan demikian, setiap fasilitas produksi yang ingin mendapatkan sertifikasi ISO 22000 atau HACCP harus mampu mendokumentasikan bahwa kadar air biji kakao yang diproses selalu berada di bawah atau sama dengan 7,5%.

Risiko Kontaminasi Mikotoksin Akibat Kadar Air Tinggi

Korelasi antara kadar air tinggi dan kontaminasi mikotoksin bersifat kausal dan telah dibuktikan secara ilmiah. Penelitian dari Brazilian Journal of Microbiology menegaskan bahwa “keberadaan OTA dapat dikaitkan dengan tahap pengeringan biji kakao, yang menyebabkan penurunan aktivitas air (Aw)… hanya sampel dari tahap pengeringan yang menunjukkan hasil positif (1,08 dan 1,17 µg/kg)” [3]. Artinya, jika kadar air tidak dikendalikan secara ketat selama dan setelah pengeringan, risiko kontaminasi okratoksin A meningkat drastis. Studi dari MDPI Horticulturae menambahkan bahwa “sampel dengan kadar air 8% atau lebih lebih mungkin menjadi berjamur” [4]. Aspergillus flavus, yang setengah dari strainnya merupakan penghasil aflatoksin—karsinogen yang sangat berbahaya—menjadi ancaman utama. Selain itu, Aspergillus niger menghasilkan okratoksin A yang bersifat nefrotoksik. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan konsumen, tetapi juga pada kelangsungan bisnis: produk yang terkontaminasi dapat ditolak di pelabuhan tujuan, merusak reputasi, dan menyebabkan kerugian finansial yang signifikan. Oleh karena itu, pengendalian kadar air bukan lagi pilihan, melainkan investasi strategis untuk keberlanjutan usaha.

Langkah-Langkah Monitoring Kadar Air di Fasilitas Produksi Kakao

Implementasi monitoring kadar air yang efektif membutuhkan pendekatan sistematis di setiap titik kritis rantai produksi. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diterapkan di fasilitas produksi kakao, dari penerimaan bahan baku hingga penyimpanan akhir.

Penerimaan Bahan Baku: Pengukuran Awal dengan Alat Portable

Saat biji kakao basah masuk ke fasilitas, pengukuran kadar air awal sangat penting untuk menentukan grading dan keputusan penanganan selanjutnya. Alat portable seperti CERRA TESTER menjadi pilihan utama karena keandalannya yang telah teruji selama lebih dari 40 tahun di industri kakao global. Alat ini bekerja berdasarkan prinsip kapasitansi (capacitance), memiliki sertifikasi dari Balai Metrologi Indonesia, memerlukan sampel seberat 100 gram, dan dijual dengan harga sekitar Rp12,6 juta 10]. Meskipun hasil pengukurannya analog dan membutuhkan tabel konversi untuk setiap jenis bijian, [CERRA TESTER tetap menjadi standar de facto di banyak fasilitas QC ekspor. Alternatif lain adalah Digimost, alat digital buatan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) yang memiliki rentang pengukuran 5–15% untuk kakao, lebih portabel (690 gram), dan tidak memerlukan tabel konversi [11]. Kedua alat ini memungkinkan operator di lini penerimaan untuk memperoleh data kadar air secara cepat dan akurat, sehingga keputusan grading dapat dilakukan secara objektif dan terdokumentasi.

Selama Fermentasi dan Pengeringan: Pengendalian Suhu dan Waktu

Tahap fermentasi dan pengeringan merupakan titik kritis yang paling menentukan kadar air akhir biji kakao. Studi MDPI merekomendasikan suhu pengeringan maksimum 70°C, dengan target akhir kadar air sekitar 7,5% untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme 4]. Penelitian dari Universitas Pattimura (UNPATTI) menunjukkan bahwa metode oven suhu tinggi (130°C selama 2 jam) lebih efektif untuk uji kadar air dibandingkan suhu rendah (103°C selama 17 jam) [2]. Dalam praktiknya, pengeringan bertahap—misalnya 6 jam pertama pada 70°C, 4 jam berikutnya pada 60°C, dan 2 jam akhir pada 55°C—dapat mencapai kadar air 6–7% dalam waktu total sekitar 12 jam, tergantung pada kondisi awal biji dan jenis pengering yang digunakan. Jika menggunakan mesin pengering mekanis, target kadar air sekitar 5,7% dapat dicapai dalam 27 jam dengan suhu akhir 53–64,5°C [12]. Pada tahap ini, penggunaan alat portable seperti CERRA TESTER atau [Digimost secara periodik sangat dianjurkan untuk memverifikasi bahwa proses berjalan sesuai target. Dokumentasi suhu dan waktu pengeringan harus dicatat untuk keperluan audit HACCP dan ISO 22000.

Penyimpanan dan Pengemasan: Menjaga Kadar Air Stabil

Biji kakao bersifat higroskopis dan rekalsitran—mudah menyerap uap air dari lingkungan sekaligus rentan terhadap perubahan kadar air yang ekstrem 5]. Oleh karena itu, kondisi penyimpanan harus dikontrol secara ketat. Kelembaban relatif (RH) ruang penyimpanan idealnya di bawah 75% untuk menjaga kadar air tetap stabil di sekitar 7,5% [4]. Suhu penyimpanan tidak boleh melebihi 30°C. Pengemasan menggunakan karung bersih (bukan bekas pestisida atau pupuk) dengan pori-pori udara yang cukup untuk sirkulasi namun tidak terlalu besar sehingga memungkinkan masuknya uap air. Selama penyimpanan, monitoring periodik menggunakan alat portable atau [sistem IoT sangat disarankan, terutama jika fasilitas berlokasi di daerah dengan kelembaban tinggi seperti Indonesia. Data dari Foodreview Indonesia menunjukkan bahwa peningkatan kadar air selama penyimpanan sering terjadi akibat sifat higroskopis biji kakao [5]. Dengan demikian, pemeriksaan rutin dan pencatatan kondisi lingkungan menjadi bagian integral dari sistem manajemen keamanan pangan.

Monitoring Real-Time dengan Sistem IoT: Opsi untuk Fasilitas Modern

Untuk fasilitas produksi skala menengah ke atas yang memerlukan pemantauan multi-titik secara real-time, sistem Internet of Things (IoT) menawarkan solusi yang semakin terjangkau. Penelitian dari Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) dan Universitasitas (Unitas) telah mengembangkan sistem berbasis mikrokontroler ESP8266 yang terhubung dengan sensor soil moisture dan DHT11 untuk mengukur suhu, kelembaban, dan kadar air secara nirkabel, dengan data dikirim ke platform cloud atau website monitoring 13][14]. Keunggulan utama [sistem IoT adalah kemampuan memberikan peringatan dini (early warning) jika kadar air mendekati batas kritis, serta kemudahan dalam dokumentasi data historis untuk audit. Namun, investasi awal yang lebih tinggi dan kebutuhan akan kalibrasi berkala membuat sistem ini lebih cocok untuk fasilitas yang telah memiliki infrastruktur digital dan sumber daya teknis yang memadai. Bagi UKM, kombinasi alat portable seperti CERRA TESTER untuk pengukuran harian dan pencatatan manual yang terstruktur masih menjadi solusi paling cost-effective.

Perbandingan Alat Monitoring Kadar Air untuk Berbagai Skala Produksi

Pemilihan alat monitoring yang tepat sangat bergantung pada skala produksi, anggaran, dan kebutuhan dokumentasi. Berikut perbandingan tiga kategori alat yang paling relevan untuk industri kakao di Indonesia.

CERRA TESTER: Keandalan Teruji untuk QC Ekspor

CERRA TESTER telah menjadi standar di banyak laboratorium QC eksportir kakao selama puluhan tahun. Keunggulannya meliputi: prinsip pengukuran kapasitansi yang akurat untuk berbagai jenis bijian, sertifikasi dari Balai Metrologi Indonesia, dan kemudahan penggunaan tanpa memerlukan listrik (menggunakan 6 baterai 1,5V). Dimensi alat 210×200 mm dengan berat 3,3 kg menjadikannya portable namun tetap kokoh untuk penggunaan harian di area produksi. Kekurangan utamanya adalah hasil pengukuran analog yang memerlukan tabel konversi, sehingga operator harus terlatih untuk membaca dan menginterpretasikan data. Harga sekitar Rp12,6 juta merupakan investasi yang wajar untuk fasilitas yang menangani volume ekspor rutin [10].

Digimost: Alternatif Digital Buatan Puslitkoka

Digimost merupakan inovasi dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) yang dirancang khusus untuk biji kakao. Dengan tampilan digital langsung, rentang pengukuran 5–15%, dan berat hanya 690 gram, alat ini menawarkan kemudahan dan portabilitas yang lebih baik dibandingkan CERRA TESTER. Tanpa memerlukan tabel konversi, Digimost sangat cocok untuk operator lapangan yang membutuhkan hasil cepat tanpa proses interpretasi tambahan. Sebagai produk riset nasional, alat ini juga mendukung program peningkatan mutu kakao dalam negeri [11]. Namun, ketersediaan di pasar dan dukungan purna jual mungkin masih terbatas dibandingkan CERRA TESTER yang telah memiliki jaringan distributor luas.

Sistem IoT: Investasi untuk Monitoring Real-Time

Sistem monitoring berbasis IoT mewakili loncatan teknologi untuk fasilitas yang menginginkan otomatisasi dan visibilitas data secara real-time. Komponen utamanya meliputi mikrokontroler ESP8266, sensor soil moisture, sensor suhu/kelembaban DHT11, dan platform cloud (misalnya Firebase, website monitoring) [13][14]. Keunggulan sistem ini meliputi: pemantauan multi-titik, peringatan otomatis jika melebihi batas kritis, dan dokumentasi data yang langsung terintegrasi dengan sistem manajemen mutu. Namun, investasi awal untuk pengembangan dan instalasi dapat mencapai puluhan juta rupiah, ditambah biaya pemeliharaan rutin dan kalibrasi sensor. Sistem IoT paling cocok untuk fasilitas besar dengan volume produksi tinggi dan tim teknis yang mampu mengelola infrastruktur digital. Bagi UKM, kombinasi alat portable (CERRA TESTER atau Digimost) dengan pencatatan manual yang rapi tetap menjadi pilihan paling praktis dan ekonomis.

Panduan Dokumentasi Monitoring Kadar Air untuk Audit ISO 22000 dan HACCP

Salah satu aspek paling krusial dalam sertifikasi adalah kemampuan menunjukkan bahwa proses monitoring kadar air telah dilakukan secara konsisten dan terdokumentasi dengan baik. Berdasarkan prinsip HACCP dari Codex Alimentarius [15], setiap CCP harus memiliki: (1) batas kritis (critical limit), (2) prosedur monitoring, (3) tindakan koreksi jika terjadi penyimpangan, (4) prosedur verifikasi, dan (5) dokumentasi/rekaman.

  • Penetapan batas kritis: Untuk kadar air biji kakao, batas kritis yang disarankan adalah 6–8%, dengan target operasional 7,0–7,5% [4]. Batas ini selaras dengan SNI 2323-2008 dan persyaratan ekspor.
  • Prosedur monitoring: Pengukuran kadar air dilakukan pada setiap titik kritis (penerimaan bahan baku, akhir fermentasi, setelah pengeringan, dan sebelum pengemasan) menggunakan alat terkalibrasi seperti CERRA TESTER atau Digimost. Frekuensi minimal: setiap batch produksi.
  • Template CCP record yang perlu disiapkan untuk audit mencakup kolom: tanggal dan jam, nomor batch, nama operator, kadar air terukur, batas kritis (6–8%), status (pass/fail), tindakan koreksi (jika fail), tanda tangan supervisor. Contoh tindakan koreksi untuk kadar air >8%: perpanjangan waktu pengeringan, pemisahan batch, atau pengembalian ke tahap pengeringan. Tindakan koreksi untuk kadar air <6%: pelembaban terkontrol atau penggunaan biji untuk produk yang tidak mensyaratkan kadar air minimal.
  • Verifikasi: Secara periodik (misal mingguan), bandingkan hasil pengukuran alat portable dengan metode oven laboratorium (SNI) untuk memastikan akurasi alat. Catat hasil verifikasi dan tindakan kalibrasi jika diperlukan.

Dengan dokumentasi yang lengkap dan sistematis, fasilitas produksi dapat dengan percaya diri menghadapi audit sertifikasi ISO 22000 dan HACCP.

Kendala Umum dan Solusi dalam Adopsi Sistem Monitoring Kadar Air

Meskipun manfaat monitoring kadar air sudah jelas, adopsinya di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Penelitian dari UNPATTI pada tiga klon kakao (AP, M01, Sul 01) menemukan bahwa kadar air biji kering masih berkisar 7,57–9,74%, banyak yang melebihi batas SNI [2]. Penyebab utamanya beragam: fermentasi berlebih, pengeringan yang tidak optimal, kondisi lingkungan lembab, dan yang paling mendasar—keengganan petani untuk mengeringkan biji terlalu kering karena khawatir bobot berkurang, padahal pembeli memberikan insentif harga untuk kualitas standar ekspor.

Solusi untuk mengatasi kendala ini memerlukan pendekatan multi-pihak. Pertama, edukasi berkelanjutan kepada petani tentang hubungan kadar air dengan harga jual dan akses pasar. Kedua, penyediaan alat ukur yang sederhana dan terjangkau seperti CERRA TESTER atau Digimost di tingkat koperasi atau kelompok tani. Ketiga, penerapan sistem insentif harga yang transparan untuk biji dengan kadar air optimal (<7,5%). Keempat, pelatihan teknis bagi operator fasilitas produksi tentang SOP pengeringan dan monitoring yang benar. Dengan mengatasi kendala ini secara sistemik, industri kakao Indonesia dapat meningkatkan konsistensi mutu dan daya saing di pasar global.

Kesimpulan

Monitoring kadar air biji kakao bukan sekadar aktivitas teknis—melainkan fondasi sistem manajemen keamanan pangan yang kokoh. Dengan memahami standar nasional dan internasional, memilih alat monitoring yang tepat sesuai skala produksi, menerapkan langkah-langkah pengendalian di setiap titik kritis, serta mendokumentasikan semuanya secara sistematis, fasilitas produksi kakao dapat memenuhi persyaratan sertifikasi ISO 22000 dan HACCP dengan lebih efisien. Panduan ini telah menunjukkan bahwa kunci keberhasilan terletak pada integrasi antara parameter teknis (kadar air) dengan kebutuhan audit—sesuatu yang belum banyak dibahas dalam literatur yang ada. Mulailah dengan mengevaluasi sistem monitoring di fasilitas Anda hari ini, dan ambil langkah nyata menuju sertifikasi yang akan membuka pintu pasar ekspor yang lebih luas.

Tingkatkan sistem monitoring kadar air di fasilitas produksi Anda dengan alat ukur terpercaya. Kunjungi Alat Ukur Kadar Air Bijian CERRA TESTER untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan.

CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor alat ukur dan instrumen pengujian, bukan penyedia jasa pengujian, kontraktor konstruksi, atau konsultan teknik. Kami berspesialisasi dalam melayani kebutuhan bisnis dan aplikasi industri, termasuk penyediaan alat monitoring kadar air untuk industri kakao. Hubungi tim kami untuk konsultasi solusi bisnis dan diskusikan kebutuhan perusahaan Anda melalui halaman kontak kami.

Panduan ini bersifat informatif dan tidak menggantikan audit resmi. Konsultasikan dengan auditor atau lembaga sertifikasi untuk persyaratan spesifik.

Rekomendasi Data Loggers

Referensi

  1. Sri Mulato, Dr. Ir., M.Sc. (2023). Standar Penilaian Mutu Biji Kakao. Coffee & Cacao Training Center (CCTCID). Retrieved from https://www.cctcid.com/2023/09/29/standar-penilaian-mutu-biji-kakao/
  2. Jurnal Pertanian Kepulauan, Universitas Pattimura. (2022). Pengujian Kadar Air Biji Kakao dengan Suhu Tinggi dan Rendah pada Tiga Klon Kakao. Retrieved from https://ojs3.unpatti.ac.id/index.php/…
  3. Brazilian Journal of Microbiology. (2024). Occurrence of ochratoxin A in cocoa beans and bean-to-bar chocolates. PubMed Central. Retrieved from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11711976/
  4. Subroto, E., et al. (2023). Microbiological Activity Affects Post-Harvest Quality of Cocoa (Theobroma cacao L.) Beans. Horticulturae, 9(7), 805. MDPI. Retrieved from https://www.mdpi.com/2311-7524/9/7/805
  5. Foodreview Indonesia. (N.D.). Safety of Cocoa Products. Retrieved from https://m.foodreview.co.id/…
  6. Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2008, diamandemen 2010). SNI 2323-2008: Biji Kakao. Jakarta: BSN.
  7. International Cocoa Organization (ICCO). (N.D.). FAQ – Cocoa Quality and Moisture Standards. Retrieved from https://www.icco.org/faq/
  8. U.S. Food and Drug Administration (FDA). (N.D.). Guidance for Industry: Action Levels for Poisonous or Deleterious Substances in Human Food and Animal Feed. Retrieved from https://www.fda.gov/regulatory-information/search-fda-guidance-documents/guidance-industry-action-levels-poisonous-or-deleterious-substances-human-food-and-animal-feed
  9. Kementerian Perdagangan RI – LAMANSITU. (N.D.). Parameter Uji Kadar Air Biji Kakao Berdasarkan SNI 2323:2008. Retrieved from https://lamansitu.kemendag.go.id/domestic-lpk-kemendag/detail/balai-pengujian
  10. MC-Tester.com. (N.D.). CERRA TESTER – Alat Ukur Kadar Air Bijian. Informasi produk dan spesifikasi. (Data dari distributor resmi).
  11. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka). (N.D.). Digimost – Alat Ukur Kadar Air Digital untuk Kakao. Informasi riset dan pengembangan.
  12. Jurnal Industri Hasil Perkebunan, Balai Besar Industri Hasil Perkebunan. (N.D.). Pengeringan Mekanis Biji Kakao: Parameter Suhu dan Waktu Optimal. (Referensi data pengeringan mesin).
  13. Jurnal Ilmiah Ilmu Komputer, Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman). (N.D.). Sistem Pengukuran Kadar Air Biji Kakao Berbasis IoT dengan Metode VDI 2206. Retrieved from https://ejournal.fikom-unasman.ac.id/…
  14. Universitasitas (Unitas) Padang. (N.D.). Sistem Monitoring Kadar Air Biji Kakao Berbasis IoT untuk Fasilitas Produksi. Retrieved from https://sisfo.unitas-pdg.ac.id/ejournal/index.php/eduscience/article/view/1234
  15. Codex Alimentarius. (2013). CAC/RCP 72-2013: Code of Practice for the Prevention and Reduction of Ochratoxin A Contamination in Cocoa. Food and Agriculture Organization (FAO). Retrieved from https://www.fao.org/input/download/standards/13601/CXP_072e.pdf

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.