Angka pH yang muncul stabil di layar pH meter tanah tidak otomatis berarti angka itu sama dengan pH “sebenarnya” dari sampel yang diuji. Stabil hanya berarti elektroda sudah berhenti merespons perubahan tegangan — bukan berarti tegangan itu sudah dikonversi dengan benar ke nilai pH yang setara dengan hasil laboratorium. Dua hal yang paling menentukan kesetaraan itu adalah kondisi sampel saat probe ditancapkan (terutama kadar air) dan cara alat dikalibrasi sebelum dipakai.
Ini penting karena pH meter tanah dengan elektroda tusuk biasanya dipakai untuk mengambil keputusan cepat di lapangan: apakah lahan perlu dikapur, apakah media tanam sudah sesuai untuk tanaman tertentu, atau apakah lumpur/limbah berada dalam rentang yang aman. Jika teknisi menganggap satu angka di layar sudah setara dengan hasil uji laboratorium, keputusan yang diambil bisa meleset — bukan karena alatnya rusak, tapi karena caranya membaca angka tersebut yang keliru.
Metode rujukan untuk pH tanah di laboratorium sendiri sudah dibakukan secara internasional melalui ISO 10390:2021, yang menetapkan pengukuran pH tanah memakai elektroda kaca dalam suspensi tanah-air dengan perbandingan volume 1:5 — bukan dengan menusukkan probe langsung ke tanah padat. Perbedaan protokol ini, ditambah cara kalibrasi elektroda, adalah dua faktor yang akan dibahas tuntas di artikel ini.
Bagaimana Elektroda Kaca pada pH Meter Bekerja Mengukur Keasaman?
pH meter dengan elektroda kaca mengukur beda potensial listrik yang timbul antara membran kaca tipis pada ujung probe dan larutan referensi di dalamnya, dibandingkan dengan larutan atau media yang diuji. Beda potensial ini berbanding lurus secara logaritmik dengan konsentrasi ion hidrogen (H+) pada sampel, mengikuti prinsip persamaan Nernst. Semakin tinggi konsentrasi H+ (semakin asam), semakin tinggi pula potensial yang dihasilkan.
Karena hubungan antara tegangan dan pH bersifat linear-logaritmik, alat memerlukan dua parameter untuk menerjemahkan tegangan menjadi angka pH: titik nol (offset, potensial elektroda pada pH netral) dan kemiringan/slope (seberapa besar tegangan berubah setiap kenaikan satu satuan pH). Elektroda kaca yang ideal punya slope sekitar 59,16 mV per satuan pH pada suhu 25°C, tetapi elektroda nyata jarang persis sama — dan nilai ini bergeser seiring pemakaian, kontaminasi, serta usia membran kaca.
Apa Bedanya Kalibrasi Satu Titik dengan Kalibrasi Dua atau Tiga Titik?
Kalibrasi adalah proses menetapkan ulang kedua parameter tersebut — titik nol dan slope — memakai larutan buffer yang nilai pH-nya sudah diketahui. Pada pH meter dengan trimmer kalibrasi tunggal, elektroda dicelupkan ke buffer pH 6,86 (mendekati netral), lalu trimmer diputar sampai layar menunjukkan angka itu. Ini menetapkan titik nol. Elektroda kemudian dicelupkan ke buffer kedua (pH 4,01 untuk rentang asam atau pH 9,18 untuk rentang basa) sebagai langkah pemeriksaan, bukan penyesuaian tambahan, karena hanya tersedia satu trimmer pada alat semacam ini — slope-nya tetap memakai nilai teoretis/pabrikan, tidak ikut dikoreksi ulang.
Konsekuensinya: kalibrasi satu titik hanya menjamin akurasi di sekitar nilai buffer yang dipakai untuk mengatur titik nol tersebut. Semakin jauh pH sampel dari titik itu, semakin besar potensi kesalahan akibat slope elektroda yang sebenarnya sudah menyimpang dari nilai teoretis — tetapi penyimpangan ini tidak terlihat di layar, karena alat tidak sedang mengukur slope, hanya menerapkannya. Penjelasan teknis mengenai hal ini mencatat bahwa hanya kalibrasi dua titik atau lebih yang benar-benar mengukur slope aktual elektroda; kalibrasi satu titik “meminjam” slope teoretis dan tetap bisa memberi pembacaan yang tampak masuk akal di sekitar titik kalibrasi, meski elektroda sebenarnya sudah menurun performanya.
Artinya bagi pengguna: kalibrasi rutin memakai buffer yang mendekati rentang pH sampel yang akan diuji jauh lebih penting daripada sekadar “sudah dikalibrasi tadi pagi”. Kalibrasi dengan buffer pH 6,86 lalu langsung dipakai mengukur tanah masam pH 4-5 akan membawa risiko kesalahan yang lebih besar dibanding jika elektroda dalam kondisi baik dan slope-nya mendekati ideal.
Kenapa Kadar Air Sampel Saat Pengukuran Bisa Mengubah Angka yang Terbaca?
Faktor kedua yang sama pentingnya, dan sering luput dari perhatian, adalah kondisi fisik sampel itu sendiri saat probe ditancapkan langsung — bukan masalah pada elektrodanya, melainkan pada media yang diukur. Ion H+ perlu medium berair untuk bergerak menuju membran kaca; pada tanah atau lumpur yang kering atau setengah lembap, mobilitas ion ini jauh lebih rendah dibanding pada suspensi cair standar.
Studi Kasus: Pengaruh Kadar Air terhadap Pembacaan Elektroda Tusuk Langsung
Peneliti dari Leibniz Institute for Agricultural Engineering and Bioeconomy (ATB) Jerman menguji dua jenis elektroda ion-selektif yang dirancang untuk pengukuran langsung di dalam tanah — salah satunya elektroda kaca berujung tombak (epoxy-body) dan satunya elektroda antimon — pada sepuluh jenis tekstur tanah dengan kadar pasir, debu, dan liat yang bervariasi luas. Elektroda ditekan langsung ke sampel tanah selama 30 detik pada berbagai tingkat kadar air, mulai dari kering hingga mendekati kapasitas lapang, lalu dibandingkan dengan pH standar laboratorium yang diukur memakai suspensi 1:2,5 dalam larutan CaCl2 0,01 M.
Hasilnya: pada kondisi kering, pembacaan kedua elektroda berkisar antara pH 4 hingga 5,5 (masam), sementara pada kadar air mendekati kapasitas lapang, angka yang sama untuk sampel yang sama naik menjadi pH 5,2 hingga 7,4. Kenaikan maksimum akibat kadar air ini mencapai sekitar 1,5 satuan pH, dan besarnya bergantung pada tekstur — tanah berliat menunjukkan kenaikan yang lebih tajam dibanding tanah berpasir. Semakin tinggi kadar air, semakin dekat pula pembacaan elektroda tusuk terhadap nilai standar laboratorium; pada kadar air di atas sekitar 11%, penyimpangan dan variasi antar-pengulangan pengukuran baru mulai stabil. Studi ini dipublikasikan di jurnal SOIL (2024).
Pelajaran bagi pengguna pH meter tusuk di lapangan: dua pembacaan yang berbeda dari sampel yang berasal dari lokasi sama bisa jadi bukan menandakan variasi pH tanah yang nyata, melainkan sekadar perbedaan kadar air saat probe ditancapkan. Membandingkan angka pH antar-titik pengambilan sampel tanpa memperhatikan kondisi kelembapannya berisiko salah tafsir.
Apakah Metode Tusuk Langsung Berbeda dari Metode Standar Laboratorium?
Ya, dan perbedaan ini bersifat mendasar, bukan sekadar soal alat. Metode rujukan ISO 10390:2021 menetapkan pengukuran pH tanah dalam suspensi 1:5 (volume) antara tanah kering-udara dengan air, larutan KCl 1 mol/l, atau larutan CaCl2 0,01 mol/l, dengan rentang pengukuran pH 2 hingga pH 12. Proses pengenceran dan pengadukan ini menyeragamkan kontak antara ion H+ dan elektroda, sehingga hasilnya lebih reprodusibel dan bisa dibandingkan antar-laboratorium.
Pengukuran langsung di lapangan — menusukkan probe ke tanah, lumpur, atau media padat/kental lainnya tanpa pengenceran — memang jauh lebih cepat dan praktis, dan justru itulah kegunaan utama elektroda berujung tombak seperti ini. Namun, sebagaimana ditunjukkan pada studi kasus di atas, hasilnya secara sistematis bisa lebih rendah (lebih asam) dibanding metode standar, terutama pada sampel yang kering atau baru saja diambil dari kondisi lapangan yang tidak jenuh air. Ini bukan berarti metode tusuk langsung “salah” — untuk keperluan pemantauan cepat, deteksi area bermasalah, atau perbandingan relatif antar-titik pada kondisi kelembapan yang sama, metode ini tetap sangat berguna. Yang perlu dihindari adalah membandingkan angkanya secara langsung dengan ambang baku mutu yang disusun berdasarkan metode suspensi standar, tanpa penyesuaian.
Bagaimana Praktik Ini Dijaga di Laboratorium Terakreditasi?
Kekhawatiran soal akurasi pH meter bukan hal baru di lingkungan laboratorium — bahkan pada instrumen kelas laboratorium yang lebih canggih dari pH meter genggam sekalipun, verifikasi berkala tetap menjadi syarat wajib.
Studi Kasus: Uji Akurasi dan Presisi pH Meter di Laboratorium Terakreditasi Indonesia
Penelitian yang dilakukan di Laboratorium Kimia, Kesuburan dan Biologi Tanah serta Laboratorium Kimia dan Biokimia Hasil Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, menguji kinerja tiga tipe pH meter digital yang dipakai untuk praktikum dan penelitian pada sampel tanah dan air. Pengujian mengacu pada metode SNI 6989.11 dan disusun untuk memenuhi persyaratan ISO/IEC 17025:2017 — standar akreditasi laboratorium pengujian dan kalibrasi. Ketiga alat diuji nilai akurasi (bias) dan presisinya terhadap larutan buffer acuan.
Hasilnya menunjukkan ketiga pH meter tersebut memiliki kinerja baik, dengan nilai bias rata-rata di bawah 10% dan presisi di bawah 25%, memenuhi batas keberterimaan akurasi ±0,05 yang ditetapkan peneliti. Namun poin pentingnya bukan pada angka itu sendiri, melainkan pada praktiknya: pengujian akurasi dan presisi semacam ini dilakukan secara berkala, bukan sekali saat alat dibeli, justru karena performa elektroda kaca memang bisa bergeser seiring waktu dan pemakaian. Studi ini dipublikasikan di Jurnal Penelitian Sains, Universitas Sriwijaya.
Prinsip yang sama berlaku untuk pH meter genggam yang dipakai di lapangan, meski tanpa sertifikasi formal. Panduan dari Oregon State University Extension Service turut mencatat bahwa dalam sebuah studi nasional Amerika Serikat yang membandingkan empat metode pengujian pH tanah di lapangan terhadap rerata hasil 82 laboratorium, pH meter genggam memberikan hasil paling mendekati rerata laboratorium — tetapi akurasinya sangat bergantung pada kondisi elektroda dan konsistensi kalibrasi memakai buffer yang segar setiap kali dipakai, bukan pada merek atau harga alatnya semata.
Faktor yang Memengaruhi Pembacaan pH pada Elektroda Tusuk Langsung
| Faktor | Efek pada Pembacaan | Implikasi Praktis |
|---|---|---|
| Kadar air sampel | Sampel kering cenderung terbaca lebih asam dibanding sampel yang sama saat lembap/jenuh air; selisih dapat mencapai sekitar 1,5 satuan pH | Catat kondisi kelembapan sampel; hindari membandingkan pembacaan dari sampel dengan kadar air yang jauh berbeda |
| Jarak pH sampel dari titik kalibrasi | Pada kalibrasi satu titik, kesalahan slope yang tidak terkoreksi makin besar seiring pH sampel menjauh dari buffer kalibrasi | Kalibrasi ulang dengan buffer yang mendekati rentang pH sampel yang akan diuji |
| Usia dan kondisi membran elektroda | Slope elektroda menurun akibat kontaminasi, goresan, atau pengeringan membran kaca | Bersihkan dan rendam elektroda sesuai prosedur; kalibrasi ulang bila alat sudah lama tidak dipakai atau habis dipakai pada kondisi yang berat |
| Metode pengukuran (tusuk langsung vs suspensi standar) | Metode tusuk langsung bisa memberi hasil sistematis lebih rendah dibanding metode suspensi 1:5 ISO 10390 | Gunakan metode tusuk langsung untuk pemantauan relatif/cepat, bukan sebagai pengganti mutlak uji laboratorium saat dibutuhkan kepastian nilai baku |
Bagaimana Prosedur Pengukuran yang Tepat?
- Buka penutup pelindung elektroda, bilas ujung elektroda kaca dengan air suling, lalu keringkan permukaannya dengan kertas saring atau tisu lembut tanpa menggosok.
- Kalibrasi elektroda memakai larutan buffer fosfat pH 6,86 (mendekati pH 7,00): celupkan elektroda, tunggu pembacaan stabil, lalu putar trimmer kalibrasi hingga layar menunjukkan angka buffer tersebut.
- Bilas elektroda dengan air suling, lalu celupkan ke buffer kedua (pH 4,01 untuk rentang asam atau pH 9,18 untuk rentang basa) sebagai pemeriksaan kondisi elektroda, tunggu sekitar satu menit.
- Bilas kembali elektroda dengan air suling sebelum menyentuh sampel yang sebenarnya, untuk menghindari kontaminasi silang dari larutan buffer.
- Tancapkan elektroda ke sampel tanah, lumpur, atau cairan kental yang akan diuji hingga bagian sensitif kaca tertutup sampel, lalu aduk perlahan agar kontak dengan sampel merata.
- Tunggu hingga pembacaan stabil, lalu tekan tombol HOLD untuk mengunci angka di layar.
- Catat kondisi sampel saat pengukuran (kering, lembap, atau jenuh air) di samping angka pH — informasi ini penting untuk interpretasi lebih lanjut.
- Setelah selesai, bilas elektroda dengan air bersih, keringkan, dan pasang kembali penutup pelindung sebelum menyimpan alat.
Apa Kesalahan Umum yang Membuat Hasil Menyimpang?
- Mengalibrasi alat hanya dengan satu buffer yang jauh dari rentang pH sampel yang sebenarnya akan diukur.
- Membandingkan pembacaan dari sampel kering dan sampel basah seolah keduanya setara.
- Tidak membilas elektroda antar-pengukuran, sehingga terjadi kontaminasi silang antar-titik sampel.
- Menyimpan elektroda dalam kondisi kering dalam waktu lama tanpa perawatan, yang mempercepat penurunan slope membran kaca.
- Menganggap satu angka pembacaan lapangan setara dengan hasil uji laboratorium bersertifikat tanpa penyesuaian metode.
- Menekan probe terlalu cepat lalu langsung mencatat angka sebelum pembacaan benar-benar stabil.
Bagaimana Menafsirkan Hasil pH Tanah dengan Tepat?
Satu angka pH dari pengukuran tusuk langsung paling tepat digunakan sebagai indikator relatif dan cepat — misalnya untuk membandingkan beberapa titik dalam satu lahan yang diukur pada hari dan kondisi kelembapan yang sama, atau memantau tren dari waktu ke waktu pada titik yang sama. Untuk keputusan yang berimplikasi besar, seperti dosis kapur pertanian dalam skala luas atau kepatuhan terhadap ambang regulasi tertentu, hasil pengukuran cepat sebaiknya dikonfirmasi dengan sampel yang dikirim ke laboratorium memakai metode standar, terutama bila pembacaan lapangan berada dekat batas ambang yang menentukan tindakan.
Instrumen yang Sesuai untuk Pengukuran pH Tanah, Lumpur, dan Cairan Kental
Environmental Meter PCE-PH 18 adalah pH meter genggam dengan elektroda kaca berujung runcing yang dirancang khusus untuk ditancapkan langsung ke tanah, lumpur, dan cairan kental seperti larutan basa pekat — sesuai dengan konteks pengukuran tusuk langsung yang dibahas di atas. Rentang pengukurannya mencakup 0,00 hingga 14,00 pH dengan resolusi 0,01 pH, dan akurasinya dinyatakan ±0,1 pH pada suhu acuan 20°C, melebar menjadi ±0,2 pH di luar kondisi tersebut.
Kalibrasinya bersifat satu titik secara manual melalui trimmer, sehingga — sebagaimana dibahas pada bagian kalibrasi di atas — akurasi terbaik dicapai ketika buffer kalibrasi dipilih mendekati rentang pH sampel yang akan diuji, dan elektroda dikalibrasi ulang secara rutin, terutama setelah dipakai pada kondisi tanah yang berat (berlumpur, berpasir kasar, atau mengandung bahan organik tinggi). Elektroda pada alat ini dapat dilepas-pasang melalui konektor BNC, sehingga bisa diganti dengan elektroda alternatif dari seri yang sama tanpa mengganti seluruh unit meter.
Alat ini dilengkapi fungsi HOLD untuk mengunci pembacaan, ditenagai tiga baterai kancing 1,5V tipe LR44/AG-13, dan bekerja pada rentang suhu lingkungan 0–50°C. Dimensinya yang ringkas (175 x 51 x 25 mm, sekitar 57 gram) membuatnya mudah dibawa untuk pengecekan pH di beberapa titik lahan dalam satu kali kunjungan lapangan.
| Parameter | Spesifikasi |
|---|---|
| Rentang pengukuran | 0,00 – 14,00 pH |
| Resolusi | 0,01 pH |
| Akurasi | ±0,1 pH (pada 20°C), ±0,2 pH di luar itu |
| Jenis elektroda | Elektroda kaca berujung runcing, dapat dilepas-pasang (konektor BNC) |
| Kalibrasi | Manual, satu titik melalui trimmer |
| Objek pengujian | Tanah, lumpur, dan cairan kental |
| Catu daya | 3 x baterai 1,5V LR44/AG-13 |
| Lingkungan kerja | 0 – 50°C |
| Dimensi & berat | 175 x 51 x 25 mm, ± 57 gram |
| Fitur tambahan | Fungsi HOLD |
Bagi yang membutuhkan pH meter dengan ujung probe berbeda untuk konteks pengukuran lain — misalnya permukaan rata untuk cairan encer atau probe recessed untuk keperluan edukasi — tim alat-test.com dapat membantu menyesuaikan pilihan elektroda dengan objek pengujian yang dihadapi.
Kesimpulan
Angka pH yang stabil di layar bukan jaminan bahwa nilai itu setara dengan hasil laboratorium. Kesetaraan itu ditentukan oleh dua hal yang sering diabaikan: seberapa dekat kondisi kalibrasi elektroda dengan rentang pH sampel yang diuji, dan seberapa jauh kondisi fisik sampel — terutama kadar air — dari kondisi standar yang dipakai sebagai acuan metode laboratorium.
Kalibrasi satu titik, sebagaimana yang dipakai pada pH meter genggam jenis ini, sudah cukup untuk kebutuhan pemantauan cepat dan perbandingan relatif, asalkan buffer yang dipakai mendekati rentang pH sampel dan dilakukan secara rutin. Pengukuran tusuk langsung ke tanah atau lumpur, di sisi lain, memang cepat dan praktis, tetapi hasilnya bisa berbeda secara sistematis dari metode suspensi standar terutama pada sampel yang kering.
Bukan berarti metode ini tidak dapat diandalkan — justru sebaliknya, memahami batasannya membuat hasil pengukurannya lebih bisa dipercaya untuk keperluan yang memang sesuai dengan desainnya: pemantauan lapangan yang cepat, perbandingan antar-titik pada kondisi yang setara, dan deteksi dini area bermasalah sebelum sampel dikirim untuk konfirmasi laboratorium bila diperlukan.
Nilai pengukuran adalah data. Kondisi peralatan, cara kalibrasinya, dan kondisi sampel saat diukur adalah konteks yang menentukan apakah data itu bisa dipercaya sebagai representasi kondisi sebenarnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah PCE-PH 18 bisa dipakai untuk mengukur pH air biasa, bukan hanya tanah atau lumpur?
Bisa, karena prinsip kerja elektroda kacanya sama untuk semua media cair maupun semi-padat. Namun ujung probe yang runcing memang dioptimalkan untuk menembus tanah, lumpur, atau cairan kental; untuk cairan encer biasa, probe dengan ujung membulat pada seri yang sama umumnya lebih mudah dibersihkan dan disimpan.
Seberapa sering elektroda perlu dikalibrasi ulang?
Idealnya setiap kali sebelum dipakai, terutama jika elektroda sudah lama tidak digunakan atau baru saja dipakai pada kondisi tanah yang berat. Semakin sering elektroda terpapar kontaminan atau kondisi ekstrem, semakin cepat pula slope-nya bergeser dari nilai kalibrasi sebelumnya.
Kenapa hasil pengukuran di tanah kering bisa berbeda jauh dari hasil uji laboratorium untuk sampel yang sama?
Karena mobilitas ion H+ menuju membran elektroda jauh lebih rendah pada sampel dengan kadar air rendah dibanding pada suspensi cair standar yang dipakai laboratorium. Selisihnya bisa mencapai sekitar 1,5 satuan pH pada kondisi paling kering menurut studi yang dibahas di atas.
Apakah alat ini memiliki kompensasi suhu otomatis?
Akurasinya dinyatakan secara spesifik pada suhu acuan 20°C dengan toleransi melebar di luar itu, berbeda dari beberapa model lain dalam seri PCE-PH yang mencantumkan fitur kompensasi suhu otomatis. Praktisnya, sebaiknya kalibrasi dan pengukuran dilakukan pada rentang suhu yang berdekatan untuk hasil yang lebih konsisten.
Bisakah elektroda diganti jika rusak atau sudah aus?
Bisa. Elektroda terhubung melalui konektor BNC sehingga dapat dilepas dan diganti dengan elektroda lain dari seri yang sama tanpa perlu mengganti seluruh unit meter.
Apakah hasil dari pH meter genggam seperti ini bisa dipakai untuk pelaporan resmi atau sertifikasi lingkungan?
Untuk kebutuhan pemantauan internal, riset lapangan, atau pertanian, hasilnya cukup memadai selama prosedur kalibrasi dan pengukuran diikuti dengan benar. Untuk pelaporan yang mensyaratkan metode baku tertentu (misalnya mengacu pada ISO 10390 atau SNI 6989.11), sampel biasanya tetap perlu dikonfirmasi melalui laboratorium terakreditasi yang mengikuti protokol tersebut.
Apa beda PCE-PH 15, 16, 17, dan 18?
Keempatnya berbeda pada bentuk ujung probe: PCE-PH 15 memakai probe plastik recessed (cocok untuk keperluan edukasi), PCE-PH 16 memakai probe kaca recessed, PCE-PH 17 memakai probe kaca membulat, sedangkan PCE-PH 18 memakai probe kaca runcing yang paling sesuai untuk ditusukkan ke tanah, lumpur, dan cairan kental.
Rekomendasi Environmental Meter Unggulan untuk Kebutuhan Anda
-

Environmental Meter PCE-SLM 50-ICA incl. ISO-Calibration Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-RCM 12
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-PHM 12-ICA Incl. ISO Calibration Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-PH 26F-ICA incl. ISO Calibration Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-VA 20
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-THB 40
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-ST 1-ICA incl. ISO-Calibration Cerificate
Lihat Produk★★★★★ -

Environmental Meter PCE-SLM 50
Lihat Produk★★★★★
Referensi
- Vogel, S., Emmerich, K., Schröter, I., Bönecke, E., Schwanghart, W., Rühlmann, J., Kramer, E., Gebbers, R. (2024). “The effect of soil moisture content and soil texture on fast in situ pH measurements with two types of robust ion-selective electrodes.” SOIL, 10, 321–333. https://doi.org/10.5194/soil-10-321-2024
- International Organization for Standardization. ISO 10390:2021 — Soil, treated biowaste and sludge – Determination of pH. https://www.iso.org/standard/75243.html
- Ismaini, dkk. (2023). “Perbandingan Unjuk Kinerja Berbagai Tipe pH Meter Digital Pada Pengujian Sampel Tanah dan Air Berdasarkan ISO 17025:2017.” Jurnal Penelitian Sains, Universitas Sriwijaya. https://doi.org/10.56064/jps.v25i1.727
- Oregon State University Extension Service. “Measuring Soil pH.” https://extension.oregonstate.edu/measuring-soil-ph
- ICS Schneider Messtechnik GmbH. “Assessing a pH electrode: identifying slope, zero point and aging from calibration.” https://www.ics-schneider.de/ph-elektrode-beurteilen-steilheit-nullpunkt-und-alterung-aus-der-kalibrierung-erkennen/?lang=en

























