pH meter mengukur pH dan suhu wine merah dalam lingkungan laboratorium winery

pH Rendah pada Wine Belum Tentu Berarti SO2 yang Ditambahkan Sudah Cukup Melindunginya

Daftar Isi

pH yang rendah pada must atau wine memang berkorelasi dengan risiko spoilage mikroba yang lebih kecil, tetapi angka pH itu sendiri tidak menjamin apa pun jika belum dihubungkan dengan kadar SO2 bebas yang tersedia. Dari total SO2 bebas yang terkandung dalam wine, hanya sebagian yang berada dalam bentuk molekul aktif yang benar-benar mampu menekan mikroorganisme perusak seperti Brettanomyces dan Pediococcus, dan proporsi tersebut berubah tajam mengikuti kesetimbangan asam-basa SO2 yang sangat dipengaruhi oleh pH. Akibatnya, dua wine dengan kadar SO2 bebas yang persis sama dapat memiliki tingkat proteksi yang jauh berbeda hanya karena selisih pH sekitar 0,3–0,4 unit.

Bagi laboratorium kecil, produsen wine skala menengah, atau siapa pun yang mengelola quality control minuman fermentasi, ini berarti akurasi pH meter — mulai dari kalibrasi hingga kompensasi suhunya — berdampak langsung pada keputusan dosis SO2, penilaian risiko mikrobiologis, dan interpretasi status oksidasi-reduksi wine. Kesalahan pembacaan yang terlihat kecil di layar meter dapat berujung pada keputusan dosis yang meleset cukup jauh dari target.

Daftar Isi

Bagaimana pH Menentukan Proporsi SO2 yang Benar-Benar Aktif?

SO2 dalam wine tidak berada dalam satu bentuk tunggal. Sebagian berada sebagai molekul SO2 bebas yang bersifat antimikroba paling kuat, sebagian lain berada sebagai ion bisulfit yang jauh kurang efektif melawan mikroba. Kedua bentuk ini berada dalam kesetimbangan kimia yang bergantung pada konsentrasi ion hidrogen — dengan kata lain, pada pH larutan. Semakin rendah pH (semakin asam), semakin besar porsi SO2 bebas yang berada dalam bentuk molekul aktif; semakin tinggi pH, porsi tersebut menyusut drastis.

Pada rentang pH wine yang umum, yaitu sekitar 3,0 hingga 4,0, kurang dari 10% dari SO2 bebas biasanya berada dalam bentuk molekul aktif, sementara sisanya berupa bisulfit. Karena hubungan ini bersifat eksponensial terhadap pH, perubahan kecil pada angka pH dapat mengubah jumlah SO2 molekuler secara signifikan meskipun kadar SO2 bebas tidak berubah sama sekali. Prinsip kesetimbangan ini dijelaskan secara teknis dalam artikel yang diterbitkan di American Journal of Enology and Viticulture mengenai metode penentuan SO2 molekuler dan bebas pada wine.

Mengapa Wine dengan pH Berbeda Membutuhkan Dosis SO2 yang Sangat Berbeda?

Implikasi praktis dari kesetimbangan di atas cukup besar bagi keputusan dosis di lapangan. Salah satu laboratorium analisis wine independen menunjukkan bahwa untuk mencapai target 0,8 mg/L SO2 molekuler — angka yang umum dipakai sebagai patokan proteksi antimikroba pada wine putih — kebutuhan SO2 bebas berubah drastis hanya karena perbedaan pH sekitar 0,4 unit, sebagaimana dijelaskan dalam pustaka teknis ETS Labs mengenai pengendalian mikroba melalui SO2 molekuler.

pH WineTarget SO2 MolekulerPerkiraan SO2 Bebas yang Dibutuhkan
3,50,8 mg/L~40 mg/L
3,90,8 mg/L~99 mg/L

Angka ini adalah ilustrasi dari data yang dipublikasikan, bukan hasil pengujian terhadap produk tertentu, namun cukup menggambarkan bahwa selisih pH yang terlihat kecil di layar meter dapat mengubah kebutuhan dosis SO2 hingga lebih dari dua kali lipat. Pada wine dengan pH tinggi, mencapai target SO2 molekuler yang memadai kadang menjadi sulit dilakukan tanpa memengaruhi rasa, karena kadar SO2 bebas yang sangat tinggi dapat tercium di hidung.

Dimensi lain yang berkaitan adalah risiko mikrobiologis itu sendiri. Mikroorganisme perusak seperti Brettanomyces dan Pediococcus diketahui kurang toleran terhadap kondisi asam dibandingkan mikroorganisme yang diinginkan dalam proses fermentasi, seperti Saccharomyces cerevisiae dan Oenococcus oeni — sehingga pH yang lebih rendah pada umumnya ikut menekan risiko pertumbuhan mikroba perusak tersebut, sebagaimana diuraikan dalam panduan praktik laboratorium wine dari layanan ekstensi Oregon State University. Karena itu, pH dan SO2 bebas seharusnya selalu dievaluasi bersama-sama, bukan dibaca sebagai dua angka yang berdiri sendiri.

Berapa Rentang pH yang Umum Ditemukan pada Must dan Wine?

Tidak ada satu angka pH “ideal” yang berlaku universal untuk semua wine. Yang ada adalah rentang operasional yang umum ditemukan di lapangan, yaitu sekitar pH 3,0 hingga 4,0, dengan sebagian besar pengukuran rutin dilakukan pada kisaran tersebut. Variabilitas di dalam rentang ini dipengaruhi oleh varietas anggur, tingkat kematangan buah saat panen, kondisi iklim, serta praktik pengolahan seperti penambahan asam atau deasidifikasi.

Karena rentang yang relevan justru sempit dan berada di ujung asam skala pH 0–14, akurasi pengukuran pada rentang ini menjadi jauh lebih penting dibandingkan akurasi pada rentang netral atau basa. Inilah salah satu alasan mengapa pemilihan titik kalibrasi buffer — dan bukan sekadar rentang ukur maksimum alat — perlu diperhatikan saat memilih pH meter untuk aplikasi wine.

Mengapa Kalibrasi dan Kompensasi Suhu Sangat Menentukan Akurasi pH?

Pembacaan elektroda pH bersifat sensitif terhadap suhu, bukan hanya karena suhu memengaruhi sampel yang diukur, tetapi juga karena nilai pH dari larutan buffer kalibrasi itu sendiri berubah seiring suhu. Metode resmi International Organisation of Vine and Wine (OIV) untuk penentuan pH pada wine dan must mencontohkan hal ini secara eksplisit: larutan buffer kalium hidrogen tartrat yang umum dipakai memiliki nilai pH 3,57 pada 20°C, namun turun menjadi 3,56 pada 25°C dan 3,55 pada 30°C. Standar tersebut juga mensyaratkan kalibrasi pH meter dilakukan pada suhu 20°C menggunakan buffer yang tertelusur ke satuan SI.

Artinya, jika kalibrasi dilakukan pada suhu ruang yang berbeda dari suhu saat pengukuran sampel tanpa kompensasi yang tepat, hasil pembacaan dapat menyimpang meski elektroda dalam kondisi baik. Panduan praktik laboratorium wine yang sama dari Oregon State University Extension menekankan bahwa kalibrasi idealnya dilakukan setiap hari sebelum pemakaian, menggunakan buffer segar yang cocok dengan titik kalibrasi bawaan meter — umumnya pH 4,01 dan 7,01, dengan opsi titik ketiga pada 10,01 — dan bahwa kemiringan (slope) kalibrasi yang menyimpang lebih dari ±10% dari kondisi ideal sudah dianggap di luar rentang yang dapat diandalkan.

Pada instrumen yang dilengkapi sensor suhu terpisah, kompensasi suhu otomatis akan menyesuaikan pembacaan pH secara real-time mengikuti suhu sampel yang terukur. Jika sensor suhu tersebut dilepas, kompensasi harus dilakukan secara manual berdasarkan suhu sampel yang diketahui — sebuah detail teknis yang sering luput diperhatikan, terutama saat pengukuran dilakukan di lapangan pada suhu yang berbeda jauh dari suhu kalibrasi di laboratorium.

Bagaimana Prosedur Pengukuran pH, ORP, dan Suhu yang Tepat?

Prosedur berikut merangkum praktik umum yang berlaku untuk pengukuran pH, ORP, dan suhu pada must maupun wine di laboratorium kecil atau ruang produksi:

  1. Siapkan larutan buffer kalibrasi segar sesuai titik kalibrasi bawaan meter (umumnya pH 4,01 dan 7,01, dengan opsi titik ketiga 10,01), dan pastikan suhunya mendekati suhu ruang pengukuran.
  2. Lakukan kalibrasi otomatis tiga titik menggunakan elektroda pH yang memang dirancang untuk sampel wine, bukan elektroda pH umum yang berisiko cepat kotor oleh partikel dan senyawa fenolik dalam wine.
  3. Pasang sensor suhu bawaan dan aktifkan kompensasi suhu otomatis; jika sensor dilepas, masukkan nilai suhu sampel secara manual agar pembacaan pH tetap terkoreksi dengan benar.
  4. Bilas elektroda dengan air deionisasi, lalu celupkan ke sampel sambil diaduk perlahan hingga pembacaan stabil sebelum dicatat.
  5. Catat suhu sampel bersamaan dengan nilai pH pada setiap pengukuran, karena data suhu dibutuhkan bila hasil akan dibandingkan dengan pengukuran pada batch atau hari lain.
  6. Simpan hasil pengukuran sebagai bagian dari catatan kalibrasi dan pengukuran harian, sehingga tren pH dari waktu ke waktu dapat ditelusuri kembali.
  7. Setelah selesai, bilas elektroda kembali dan simpan dalam larutan penyimpanan elektrode — bukan air murni — agar membran elektroda tetap terhidrasi untuk pengukuran berikutnya.

Untuk pengukuran ORP, elektroda redoks perlu dibersihkan dan dibilas dengan cara yang sama, namun tanpa proses kalibrasi buffer seperti pH — pembacaan ORP umumnya diverifikasi terhadap larutan standar redoks yang nilainya sudah diketahui, dan hasil akhirnya selalu perlu dibaca bersama informasi jenis elektroda referensi yang digunakan.

Apa Kesalahan Umum yang Membuat Hasil Pengukuran Menyesatkan?

Beberapa kesalahan berikut cukup sering terjadi dan dapat membuat data pH atau ORP kehilangan makna praktisnya:

  • Menggunakan elektroda pH umum yang tidak dirancang untuk cairan dengan kandungan partikel dan senyawa organik seperti wine, sehingga junction elektroda lebih cepat kotor dan responsnya melambat.
  • Memakai buffer kalibrasi yang sudah lama dibuka atau terkontaminasi, tanpa menggantinya secara berkala.
  • Tidak mencatat suhu sampel bersamaan dengan pH, sehingga hasil dari waktu ke waktu sulit dibandingkan secara adil.
  • Menyimpan elektroda dalam keadaan kering atau di dalam air murni, yang justru mempercepat penurunan performa membran elektroda.
  • Menganggap satu angka pH sebagai jaminan keamanan mikrobiologis tanpa mengevaluasinya bersama kadar SO2 bebas.
  • Menyamakan ORP dengan pH — menganggap kondisi redoks yang tampak “normal” otomatis berarti wine aman dari risiko oksidasi atau reduksi berlebih, padahal keduanya mengukur aktivitas kimia yang sepenuhnya berbeda.

Bagaimana ORP Melengkapi Informasi yang Tidak Terlihat dari pH?

pH mengukur aktivitas ion hidrogen dalam larutan, sementara ORP (oxidation-reduction potential atau potensial redoks) mengukur kecenderungan larutan untuk melepas atau menyerap elektron dalam reaksi kimia. Keduanya adalah parameter elektrokimia yang berbeda dan tidak saling menggantikan — dua wine dengan pH identik bisa memiliki status oksidasi-reduksi yang sangat berbeda tergantung paparan oksigen, aktivitas ragi, dan cara pengelolaan tutup fermentasi.

Dalam konteks winemaking, ORP banyak dipakai untuk memantau risiko pembentukan hidrogen sulfida (H2S) yang menyebabkan off-flavor “reduktif” selama fermentasi. Saat kondisi menjadi terlalu reduktif — ditandai dengan ORP yang turun terlalu rendah — ragi cenderung memproduksi H2S dari metabolisme asam amino, dan senyawa ini dapat terakumulasi jika tidak ada intervensi. Karena mekanisme ini tidak tercermin dari nilai pH sama sekali, ORP menjadi parameter pemantauan yang saling melengkapi, bukan pengganti, dari pH.

Studi Kasus: Mengendalikan ORP untuk Mencegah Off-Flavor Sulfur

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Fermentation menguji sistem pemantauan dan pengendalian ORP secara real-time pada fermentasi wine, mulai dari skala riset 100 liter hingga skala komersial. Probe ORP yang direferensikan terhadap elektroda perak/perak klorida (Ag/AgCl) ditempatkan langsung di dalam tangki fermentasi untuk merekam potensial redoks secara kontinu ke basis data.

Ambang batas ORP sekitar −40 mV dipilih sebagai titik pemicu injeksi udara singkat ke dalam tangki. Nilai ini didasarkan pada perhitungan bahwa pada potensial tersebut, pasangan redoks sulfur–hidrogen sulfida (S/H2S) diperkirakan berada hampir seluruhnya (99,9%) dalam bentuk elemental sulfur yang tidak berbau, sehingga akumulasi H2S yang menyebabkan bau reduktif dapat dicegah tanpa harus menunggu bau tersebut tercium di kemudian hari. Pendekatan berbasis ORP semacam ini memungkinkan intervensi dilakukan berdasarkan data elektrokimia real-time, bukan berdasarkan deteksi sensorik yang biasanya sudah terlambat.

Pelajaran pentingnya: ambang ORP seperti ini selalu relatif terhadap jenis elektroda referensi yang dipakai dan spesies redoks dominan dalam larutan, sehingga angka −40 mV pada satu sistem pengukuran tidak serta-merta bisa disamakan dengan pembacaan pada sistem elektroda yang berbeda tanpa penyesuaian. Ini menegaskan bahwa interpretasi ORP membutuhkan konteks pengukuran yang jelas, sama seperti interpretasi pH membutuhkan konteks suhu dan kalibrasi.

Instrumen yang Sesuai untuk Pengukuran pH, ORP, dan Suhu pada Wine

Kebutuhan untuk mengukur pH, ORP, dan suhu secara konsisten — lengkap dengan pencatatan yang bisa ditelusuri kembali — dijawab oleh instrumen kombinasi seperti Environmental Meter PCE-228WINE. Alat ini mengukur pH pada rentang 0,00–14,00 pH dengan resolusi 0,01 pH dan akurasi ±(0,02 pH + 2 digit), cukup presisi untuk kebutuhan pengukuran wine yang justru terkonsentrasi pada rentang sempit 3,0–4,0.

ParameterRentang UkurResolusiAkurasi
pH0,00 – 14,00 pH0,01 pH±(0,02 pH + 2 digit)
ORP (Redoks)-1999 … 1999 mV1 mV±(0,5% + 2 digit)
Suhu0,0 – 65,0 °C0,1 °C±0,5 °C (pada 20°C)

Untuk kanal pH, alat ini menggunakan elektroda pH PCE-PH-WINE yang sudah termasuk dalam paket penjualan bersama sensor suhu berbahan stainless steel — relevan mengingat pentingnya memakai elektroda yang memang cocok untuk sampel wine, bukan elektroda pH umum. Kalibrasi dilakukan secara otomatis tiga titik, dengan kompensasi suhu otomatis pada rentang 0–65°C, atau kompensasi manual hingga 100°C apabila sensor suhu dilepas dari rangkaian pengukuran.

Untuk kanal ORP, perlu dicatat bahwa elektroda redoks tidak termasuk dalam paket standar dan dipesan terpisah dari unit dasar — paket bawaan hanya menyertakan elektroda pH dan sensor suhu. Setelah elektroda redoks terpasang, hasil pengukuran ORP tetap perlu dibaca dengan mempertimbangkan jenis elektroda referensi yang dipakai, sebagaimana dibahas pada studi kasus di atas.

Fitur lain yang relevan untuk kebutuhan ketertelusuran data adalah penyimpanan langsung ke SD card dalam format Excel serta antarmuka RS-232 untuk transfer ke PC. Kecepatan pengukuran juga dapat diatur mulai dari 1 detik hingga hampir 9 jam, sehingga alat dapat dipakai untuk pencatatan berkala pada interval tertentu — misalnya saat memantau pH atau suhu tangki selama proses stabilisasi dingin. Kombinasi ini mendukung praktik pencatatan kalibrasi dan pengukuran harian yang konsisten dari waktu ke waktu, sesuatu yang secara berulang ditekankan sebagai kunci keandalan data pH pada laboratorium wine skala kecil.

Alat ini dioperasikan dengan baterai (6 x AA 1,5V, dengan opsi adaptor 9V), memiliki layar LCD berukuran 52 x 38 mm, serta dirancang untuk kondisi operasional 0–50°C dengan kelembapan maksimum 85% RH — cukup untuk penggunaan di ruang laboratorium kecil maupun area produksi. Detail spesifikasi dan kelengkapan paket selengkapnya dapat dilihat pada halaman produk Environmental Meter PCE-228WINE.

Kesimpulan

Angka pH yang tertera di layar meter hanyalah data mentah. Bagaimana angka itu diinterpretasikan — apakah SO2 yang ditambahkan sudah cukup melindungi wine, apakah risiko pertumbuhan mikroba perusak meningkat, apakah status oksidasi-reduksi mendukung munculnya off-flavor sulfur — bergantung pada seberapa akurat data itu diperoleh dan seberapa lengkap konteks pengukurannya.

Kalibrasi harian, elektroda yang sesuai untuk wine, kompensasi suhu yang tepat, serta pencatatan yang konsisten bukan langkah opsional dalam proses ini, melainkan bagian yang menentukan valid tidaknya angka pH yang dihasilkan. ORP menambahkan dimensi lain yang tidak bisa digantikan oleh pH, karena keduanya mengukur aktivitas kimia yang berbeda dalam larutan yang sama.

Instrumen kombinasi seperti Environmental Meter PCE-228WINE menyatukan pengukuran pH, ORP, dan suhu dalam satu alur kerja, lengkap dengan penyimpanan data yang mendukung ketertelusuran hasil dari waktu ke waktu.

Pada akhirnya, wine yang stabil bukan hasil dari satu angka pH yang terlihat aman, melainkan dari serangkaian pengukuran yang saling melengkapi dan diinterpretasikan dengan benar.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Apakah pH wine yang rendah otomatis berarti wine tersebut aman dari kontaminasi mikroba?
Tidak sepenuhnya. pH rendah menurunkan risiko pertumbuhan mikroba perusak, tetapi tingkat proteksi sebenarnya juga bergantung pada kadar SO2 molekuler yang aktif, yang nilainya berubah mengikuti pH.

2. Berapa pH normal untuk must dan wine?
Sebagian besar pengukuran rutin berada pada rentang 3,0 hingga 4,0, meski nilai pastinya bervariasi tergantung varietas anggur, tingkat kematangan, dan praktik pengolahan.

3. Mengapa pH meter perlu dikalibrasi setiap kali dipakai?
Karena performa elektroda dapat berubah dari waktu ke waktu akibat kontaminasi atau penuaan, dan nilai pH buffer kalibrasi sendiri berubah mengikuti suhu, sehingga kalibrasi rutin memastikan pembacaan tetap dapat diandalkan.

4. Apa perbedaan mendasar antara ORP dan pH?
pH mengukur aktivitas ion hidrogen (tingkat keasaman), sedangkan ORP mengukur potensial larutan untuk melepas atau menyerap elektron dalam reaksi oksidasi-reduksi. Keduanya parameter yang berbeda dan tidak saling menggantikan.

5. Apakah elektroda ORP sudah termasuk dalam paket Environmental Meter PCE-228WINE?
Tidak. Paket standar hanya menyertakan elektroda pH PCE-PH-WINE dan sensor suhu; elektroda redoks untuk fungsi ORP dipesan terpisah.

6. Bagaimana cara menyimpan elektroda pH agar tidak cepat rusak?
Elektroda sebaiknya disimpan dalam larutan penyimpanan elektrode (biasanya berbasis KCl), bukan air murni, karena air murni dapat melarutkan elektrolit di dalam elektroda dan mempercepat penurunan performa.

7. Apakah kompensasi suhu otomatis selalu diperlukan?
Kompensasi suhu diperlukan setiap kali suhu sampel berbeda dari suhu kalibrasi, karena pembacaan pH bersifat sensitif terhadap suhu. Bila sensor suhu dilepas, kompensasi manual berdasarkan suhu sampel yang diketahui tetap perlu dilakukan.

Rekomendasi Environmental Meter Unggulan untuk Kebutuhan Anda

Referensi

  1. James Osborne, “Winemaking basics: Can you trust your pH meter?”, Oregon State University Extension Service, EM 9478 (2021, ditinjau 2026). extension.oregonstate.edu
  2. International Organisation of Vine and Wine (OIV), “Compendium of International Methods of Wine and Must Analysis – pH (OIV-MA-AS313-15)”. oiv.int
  3. E. Coelho et al., “Determination of Molecular and ‘Truly’ Free Sulfur Dioxide in Wine: A Comparison of Headspace and Conventional Methods,” American Journal of Enology and Viticulture, 71(3), 2020. ajevonline.org
  4. ETS Labs, “Controlling microbial growth with Molecular SO2,” ETS Labs Technical Library. etslabs.com
  5. Nelson, dkk., “Advanced Monitoring and Control of Redox Potential in Wine Fermentation across Scales,” Fermentation, 9(1):7, 2023. doi.org/10.3390/fermentation9010007

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.