Infografis tentang pentingnya pH dalam produksi makanan, menampilkan pH meter yang mengukur yoghurt dengan pembahasan keamanan pangan, fermentasi, rasa, tekstur, warna, efektivitas pengawet, dan batas pH 4,6.

Mengapa Tingkat Keasaman Penting dalam Produksi Makanan?

Daftar Isi
Tingkat keasaman penting dalam produksi makanan karena pH memengaruhi jauh lebih banyak hal daripada rasa asam. Nilai pH dapat menentukan apakah mikroorganisme tertentu mampu tumbuh, bagaimana proses fermentasi berlangsung, seberapa efektif pengawetan bekerja, kapan yoghurt membentuk gel, bagaimana warna produk bertahan, serta apakah satu batch mempunyai karakter yang sama dengan batch sebelumnya.Karena itu, pH dalam industri makanan bukan sekadar parameter laboratorium. Pada beberapa proses, pH merupakan critical process parameter. FDA, misalnya, menggunakan pH 4,6 sebagai garis pemisah penting dalam regulasi acidified food dan low-acid canned food. Di Indonesia, Peraturan BPOM tentang Program Manajemen Risiko juga mendefinisikan pangan olahan berasam rendah sebagai pangan dengan pH lebih besar dari 4,6 dan aktivitas air lebih besar dari 0,85 dalam konteks regulasi tersebut.Namun pH 4,6 bukan berarti semua makanan dengan pH 4,5 otomatis aman dan semua makanan pH 4,7 otomatis berbahaya. Keamanan pangan ditentukan bersama oleh suhu, aktivitas air, proses panas, kadar garam, gula, pengawet, kemasan, mikroorganisme target, dan kondisi penyimpanan. pH adalah salah satu bagian dari sistem kendali tersebut.

Apa Sebenarnya pH Makanan?

pH menggambarkan aktivitas ion hidrogen dalam suatu sistem. Secara umum, nilai lebih rendah menunjukkan kondisi lebih asam, sedangkan nilai lebih tinggi menunjukkan kondisi lebih basa.

Skala pH bersifat logaritmik. Perubahan dari pH 5 menjadi pH 4 tidak sekadar turun satu angka. Aktivitas ion hidrogennya berubah sekitar sepuluh kali. Karena itu, perubahan kecil pada display pH meter dapat mempunyai arti proses yang besar.

Dalam produksi makanan, pH dapat digunakan untuk memantau:

  • fermentasi susu, sayuran, daging, atau ikan;
  • acidification saus, acar, sambal, dan condiment;
  • stabilitas minuman;
  • pengolahan keju;
  • produk daging olahan;
  • selai dan fruit preparation;
  • produk bakery tertentu;
  • produk kaleng;
  • raw material dan rinse/process water tertentu.

Nilai pH juga dapat berubah selama penyimpanan karena aktivitas mikroorganisme, reaksi kimia, pelepasan atau penyerapan CO2, perubahan buffer, dan interaksi antar-ingredient.

pH dan Titratable Acidity Bukan Hal yang Sama

Dalam industri makanan, istilah “keasaman” dapat merujuk ke dua parameter berbeda: pH dan titratable acidity atau TA.

pH

pH menggambarkan aktivitas ion hidrogen pada saat pengukuran. Parameter ini sangat berguna untuk memahami lingkungan yang dialami mikroorganisme dan berbagai reaksi kimia.

Titratable Acidity

TA mengukur jumlah basa standar yang dibutuhkan untuk menetralkan asam dalam sampel sampai endpoint tertentu. Pada yoghurt, hasil sering dinyatakan sebagai persentase lactic acid. Pada buah, dapat dinyatakan berdasarkan acid dominan seperti citric acid atau malic acid.

Review mengenai sensor kualitas buah menjelaskan bahwa pH lebih mudah diukur secara langsung, sedangkan titratable acidity membutuhkan titrasi dengan larutan basa sampai endpoint tertentu. Keduanya memberikan informasi berbeda mengenai sistem asam dan kapasitas buffer makanan.

ParameterApa yang dijelaskanContoh kegunaan
pHAktivitas ion hidrogen saat pengukuranFood safety, fermentation endpoint, process control
Titratable acidityTotal kapasitas asam yang dapat dititrasi sampai endpointRasa asam, fermentasi, standardisasi produk

Dua produk bisa mempunyai pH hampir sama tetapi TA berbeda karena kapasitas buffer dan jumlah total asamnya berbeda. Ini menjelaskan mengapa dua yoghurt sama-sama pH 4,3 belum tentu mempunyai rasa asam yang identik.

Mengapa pH Penting untuk Keamanan Pangan?

Mikroorganisme mempunyai rentang pH minimum, optimum, dan maksimum untuk pertumbuhan. Lingkungan asam dapat menghambat banyak bakteri patogen, meskipun beberapa yeast, mold, dan acid-tolerant organisms tetap dapat tumbuh.

FDA menggunakan pH 4,6 sebagai batas penting karena spora Clostridium botulinum tidak germinate dan tumbuh pada kondisi makanan dengan pH 4,6 atau lebih rendah dalam konteks regulasi acidified food. Karena itu, acidified food yang diatur FDA harus mencapai finished equilibrium pH 4,6 atau lebih rendah.

Di Indonesia, konsep serupa terlihat dalam definisi pangan olahan berasam rendah pada regulasi BPOM, yaitu pH di atas 4,6 dan aktivitas air di atas 0,85. Peraturan BPOM Nomor 27 Tahun 2021 tentang pangan olahan berasam rendah dikemas hermetis juga masih berlaku dan telah diubah melalui Peraturan BPOM Nomor 14 Tahun 2025.

pH Rendah Bukan Pengganti Higiene

Walaupun pH dapat menghambat pertumbuhan banyak bakteri, proses produksi tetap membutuhkan higiene, sanitasi, suhu, dan pengendalian proses yang benar. Produk asam masih dapat mengalami spoilage oleh yeast atau mold, dan contamination dapat terjadi setelah proses.

Karena itu, pengendalian pH tidak menggantikan program kebersihan permukaan. Untuk aspek tersebut, lihat artikel Bagaimana Industri Memastikan Permukaan Peralatan Makanan Sudah Bersih?.

Mengapa Fermentasi Selalu Memantau pH?

Pada fermentasi lactic acid bacteria, mikroorganisme mengubah gula menjadi lactic acid. Akibatnya, pH turun dan titratable acidity meningkat.

Perubahan pH menjadi indikator proses karena memberi informasi tentang aktivitas kultur starter dan perkembangan fermentasi.

Jika pH turun terlalu lambat, beberapa kemungkinan adalah:

  • starter culture lemah;
  • temperatur fermentasi tidak tepat;
  • substrat tidak mendukung;
  • terdapat inhibitor;
  • dosis starter kurang;
  • kontaminasi atau kompetisi mikroba;
  • kesalahan formulasi.

Sebaliknya, jika fermentasi berjalan terlalu jauh, produk dapat menjadi terlalu asam, tekstur berubah, syneresis meningkat, dan sensory acceptance menurun.

Review terbaru tentang yoghurt menjelaskan bahwa LAB memetabolisme lactose menjadi lactic acid, sehingga pH menurun dan titratable acidity meningkat selama fermentasi.

Bagaimana Keasaman Membentuk Rasa?

Sourness adalah salah satu sensasi utama yang berkaitan dengan acid. Tetapi perceived acidity tidak ditentukan hanya oleh angka pH.

Jenis acid mempunyai karakter sensory berbeda. Acetic acid memberi karakter tajam khas vinegar. Citric acid memberi acidity yang sering diasosiasikan dengan citrus. Lactic acid pada yoghurt memberikan karakter lebih lembut dibandingkan sebagian acid lain.

Selain itu, gula, garam, fat, protein, aroma, suhu penyajian, dan buffer matrix makanan memengaruhi bagaimana acidity dirasakan.

Karena itu, formulator sering menggunakan pH dan titratable acidity bersama sensory evaluation. pH membantu mengendalikan proses dan safety, sementara TA sering lebih dekat dengan jumlah total acid yang memengaruhi sourness.

Mengapa pH Bisa Mengubah Tekstur Makanan?

Protein sangat sensitif terhadap pH. Ketika pH mendekati isoelectric point suatu protein, muatan neto protein berkurang dan kecenderungan agregasi meningkat.

Contoh pada Yoghurt

Casein micelles pada susu mulai membentuk jaringan gel ketika fermentation menurunkan pH mendekati sekitar 4,6. Struktur inilah yang membuat susu berubah menjadi yoghurt yang lebih kental.

Jika fermentasi dihentikan terlalu cepat, gel dapat lemah. Jika acidification berlebihan, jaringan protein dapat mengerut dan meningkatkan whey separation atau syneresis.

Studi yoghurt modern secara rutin memantau pH bersama viscosity, syneresis, dan rheological properties karena keempatnya saling terkait.

Contoh pada Keju

Acidification memengaruhi coagulation, mineral balance, moisture retention, curd handling, dan final texture. Karena itu, cheesemaker tidak hanya mengandalkan waktu. pH pada tahapan tertentu digunakan sebagai process marker.

Bagaimana pH Memengaruhi Warna Produk?

Banyak pigmen pangan sensitif terhadap pH.

Anthocyanin pada buah dan sayur merah-ungu dapat berubah struktur dan warna ketika pH berubah. Chlorophyll pada sayuran hijau juga dapat berubah ketika berada dalam kondisi asam dan panas, menghasilkan warna olive yang kurang menarik.

pH juga memengaruhi browning reaction, stabilitas natural colorant, dan reaksi ingredient tertentu.

Karena itu, perubahan pH batch saus buah atau beverage tidak hanya berpotensi mengubah rasa, tetapi juga tampilan produk di rak.

Efektivitas Asam Organik Bergantung pada pH

Acetic, lactic, citric, sorbic, dan benzoic acid banyak digunakan dalam sistem pangan. Efektivitas antimicrobial acid organik berkaitan dengan proporsi acid yang berada dalam bentuk tidak terdisosiasi.

FDA menjelaskan bahwa menurunkan pH meningkatkan efektivitas preservative organic acid tertentu karena bentuk undissociated dapat lebih efektif menghambat mikroorganisme. Jenis acid yang digunakan juga berpengaruh besar terhadap microbiological keeping quality.

Artinya, menambahkan jumlah preservative yang sama pada dua produk dengan pH berbeda belum tentu menghasilkan efektivitas yang sama.

Studi Kasus Indonesia 2025: pH Menjadi Indikator Keberhasilan Fermentasi Yoghurt Sinbiotik

Penelitian Aulia Hidayati, Desniar, dan Joko Santoso yang diterbitkan pada Oktober 2025 dalam Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia mengembangkan yoghurt sinbiotik dengan Lactobacillus plantarum lokal dan hidrolisat Kappaphycus alvarezii.

Peneliti membandingkan tiga starter treatment dengan waktu fermentasi 0, 12, dan 24 jam. Parameter yang dianalisis meliputi:

  • jumlah lactic acid bacteria;
  • pH;
  • total titratable acidity;
  • reducing sugar.

Jenis starter, waktu fermentasi, dan interaksi keduanya memberikan pengaruh signifikan terhadap seluruh parameter tersebut.

Treatment terbaik adalah yoghurt dengan L. plantarum SK(5) selama 24 jam. Hasilnya:

  • LAB: 9,27 log10 CFU/mL;
  • titratable acidity: 0,74%;
  • pH: 4,33;
  • reducing sugar: 0,25%.

Studi ini menunjukkan bahwa pH bukan sekadar quality check pada produk akhir. pH digunakan bersama TTA dan jumlah LAB untuk memahami bagaimana fermentation berjalan dan menentukan kondisi proses yang menghasilkan karakter yang diinginkan.

Apa Maknanya untuk Produksi?

Jika pabrik hanya menggunakan timer “fermentasi selalu 24 jam”, hasil masih bisa berubah karena starter potency, milk composition, ambient condition, dan inoculum. Monitoring pH memberi feedback langsung tentang perkembangan acidification pada batch aktual.

Kasus Nyata 2024: Kesalahan Mengukur pH Dapat Menjadi Temuan Regulasi

Contoh nyata mengenai pentingnya prosedur pengukuran datang dari warning letter FDA kepada Brewing Market Coffee pada April 2024.

FDA menemukan perusahaan tidak menjalankan kontrol yang cukup untuk memastikan finished equilibrium pH acidified beverages berada tidak lebih dari 4,6. Salah satu masalah yang dicatat adalah pengukuran pH final dilakukan segera setelah produk panas, sementara buffer kalibrasi berada pada suhu ruang. Perusahaan juga dinilai belum menunggu produk mencapai equilibrium pH sebelum mengukur final pH.

Kasus ini penting karena menunjukkan bahwa memiliki pH meter saja tidak cukup.

Kesalahan dapat berasal dari:

  • temperatur sampel;
  • kalibrasi;
  • waktu mencapai equilibrium;
  • sampling yang tidak representatif;
  • electrode yang tidak sesuai;
  • record keeping yang tidak memadai.

Untuk acidified food, FDA mewajibkan frequent testing dan recording agar finished equilibrium pH tidak lebih tinggi dari 4,6.

Catatan: persyaratan FDA tersebut adalah regulasi Amerika Serikat dan relevan untuk produsen yang masuk ke pasar tersebut. Untuk produksi di Indonesia, gunakan persyaratan BPOM, SNI, dan ketentuan produk yang berlaku.

Konteks Indonesia: pH Masuk dalam Sistem Standardisasi dan Manajemen Risiko

Dalam regulasi Indonesia, pH muncul pada beberapa konteks keamanan dan mutu.

Peraturan BPOM Nomor 10 Tahun 2023 mengenai Program Manajemen Risiko Keamanan Pangan mendefinisikan pangan olahan berasam rendah sebagai pangan dengan pH lebih besar dari 4,6 dan aktivitas air lebih besar dari 0,85. Peraturan BPOM Nomor 27 Tahun 2021 beserta perubahan 2025 mengatur pangan olahan berasam rendah yang dikemas hermetis.

Untuk yoghurt, katalog BSN saat ini mencantumkan SNI 2981:2025 Yogurt berstatus berlaku. Katalog juga masih menampilkan SNI 2981:2009 sebagai berlaku. Karena isi teknis dokumen standar tidak terbuka penuh pada halaman katalog, produsen sebaiknya menggunakan dokumen standar resmi yang sesuai dengan lingkup produk dan kebutuhan sertifikasinya, bukan mengambil persyaratan dari artikel sekunder.

Bagaimana Mengukur pH Makanan dengan Benar?

Pengukuran pH yang baik membutuhkan lebih dari sekadar menekan tombol.

  1. Pilih elektroda sesuai matriks. Cairan jernih, saus, daging, keju, yoghurt, dan adonan membutuhkan desain probe berbeda.
  2. Kalibrasi menggunakan buffer yang tepat. Gunakan minimal dua titik yang mengapit rentang sampel bila dibutuhkan oleh SOP.
  3. Perhatikan suhu. Gunakan automatic temperature compensation jika tersedia dan pastikan sampel tidak ekstrem dibandingkan buffer.
  4. Homogenkan sampel bila sesuai metode. Produk heterogen dapat mempunyai local pH berbeda.
  5. Tunggu pembacaan stabil. Jangan mencatat angka saat display masih drift.
  6. Bilas elektroda antar-sampel. Hindari carry-over dan cross-contamination.
  7. Gunakan cleaning solution yang sesuai. Lemak, protein, dan carbohydrate dapat melapisi glass bulb dan junction.
  8. Simpan elektroda dalam storage solution. Jangan menyimpan glass pH electrode kering atau dalam air deionisasi kecuali instruksi produsennya berbeda.
  9. Catat lot, waktu, suhu, pH, dan status kalibrasi. Data tanpa traceability sulit digunakan untuk investigasi.

Mengapa Makanan Semi-Padat Membutuhkan Elektroda Khusus?

Elektroda standar untuk air biasanya mempunyai bulb yang rapuh dan junction yang dirancang untuk liquid sample. Ketika digunakan pada cheese, meat, dough, fruit pulp, atau yoghurt kental, beberapa masalah dapat muncul:

  • probe sulit masuk ke sampel;
  • glass bulb berisiko pecah;
  • junction cepat tersumbat oleh protein dan lemak;
  • response time menjadi lambat;
  • cleaning lebih sulit;
  • sampling antaroperator tidak konsisten.

Food pH electrode biasanya mempunyai ujung conical atau spear, body food-grade, dan junction yang lebih tahan terhadap clogging.

Karena itu, pilihan meter tidak boleh hanya berdasarkan “akurasi 0,01 pH”. Desain elektroda sering lebih menentukan keberhasilan pengukuran pada matriks makanan.

Untuk perbandingan kebutuhan portable dan benchtop di lingkungan produksi, alat-test.com juga memiliki artikel Perbandingan pH Meter Portable vs Benchtop untuk Pabrik Kelapa.

Kesalahan Umum Saat Mengukur pH Produk Makanan

1. Menggunakan Elektroda Air untuk Semua Produk

Probe general-purpose mungkin bekerja pada beberapa sampel cair, tetapi cepat bermasalah pada produk berlemak, protein tinggi, atau semi-solid.

2. Kalibrasi Hanya Ketika Angka Terlihat Aneh

Drift electrode berlangsung bertahap. QC sebaiknya mempunyai calibration frequency berbasis SOP dan risk, bukan menunggu hasil ekstrem.

3. Buffer Sudah Terkontaminasi

Menuangkan kembali buffer bekas ke botol dapat mengubah kualitas larutan. Gunakan aliquot bersih dan tutup buffer setelah digunakan.

4. Sampel Panas Diukur Langsung untuk Final Release

Temperature compensation memperbaiki response electrode terhadap suhu, tetapi tidak otomatis mengubah chemistry produk panas menjadi chemistry pada kondisi final/equilibrium.

5. Tidak Menunggu Equilibrium pH pada Produk Partikulat

Pada pickled vegetable atau produk dengan potongan besar, acid membutuhkan waktu untuk berdifusi ke seluruh bahan. Liquid phase dapat mencapai pH target lebih dulu dibandingkan bagian dalam solid.

6. Hanya Mengukur Satu Titik Batch

Mixing yang tidak homogen dapat menghasilkan variasi lokal. Sampling plan perlu mempertimbangkan tank size, mixing efficiency, dan proses filling.

7. Tidak Membersihkan Protein dan Lemak dari Probe

Deposit dapat mengganggu response dan junction. Rinsing dengan air saja tidak selalu cukup.

Bagaimana pH Digunakan dalam Quality Control Produksi?

TahapContoh fungsi pH
Raw materialMemeriksa variasi bahan awal
FormulationMenentukan penambahan acid atau buffer
FermentationMenentukan progress dan endpoint
Before heat treatmentMemastikan kondisi proses sesuai scheduled process
FillingMengecek homogenitas batch
Final productRelease specification dan traceability
Shelf-lifeMonitoring drift selama penyimpanan
Complaint investigationMembandingkan produk bermasalah dengan retained sample

Gunakan Control Limit, Bukan Hanya Specification Limit

Misalnya specification produk adalah pH 4,0 sampai 4,4. Jika proses normal selalu menghasilkan 4,18 sampai 4,25, munculnya tiga batch berturut-turut pada 4,38 tetap patut diperiksa meskipun semuanya masih “pass”.

Trend seperti ini dapat menunjukkan:

  • starter activity berubah;
  • acid dosing bergeser;
  • sensor dosing bermasalah;
  • ingredient lot berbeda;
  • mixing tidak konsisten;
  • pH electrode drift.

Statistical Process Control atau trend monitoring membuat pH jauh lebih berguna daripada sekadar checkbox QC.

pH yang Sama Belum Tentu Menghasilkan Produk yang Sama

Dua produk sama-sama pH 4,2 dapat tetap mempunyai rasa dan stabilitas berbeda jika:

  • jenis acid berbeda;
  • titratable acidity berbeda;
  • water activity berbeda;
  • salt dan sugar berbeda;
  • buffer capacity berbeda;
  • preservative berbeda;
  • thermal process berbeda.

Karena itu, pH tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya data untuk menyatakan dua formula ekuivalen.

Dalam product development, kombinasi pH, TA, aw, sensory, microbiology, viscosity, dan shelf-life sering dibutuhkan untuk mendapatkan gambaran lengkap.

Instrumen yang Berkaitan dengan Pengukuran Keasaman Makanan

Untuk produksi makanan, desain elektroda harus sesuai dengan matriks. Produk semi-solid seperti yoghurt, cheese, meat, dan fruit pulp membutuhkan probe yang lebih tahan clogging dan mudah dipenetrasi dibandingkan elektroda air biasa.

1. HANNA HI98161 untuk Food and Dairy pH

HANNA Instruments HI98161 merupakan pH meter portable yang dipasangkan dengan FC2023 Foodcare pH/temperature electrode.

Probe mempunyai:

  • body PVDF food-grade;
  • ujung conical untuk penetrasi semi-solid;
  • open junction yang lebih tahan clogging oleh food solids;
  • sensor suhu terintegrasi;
  • rentang pH luas dengan resolusi sampai 0,001 pH;
  • kalibrasi sampai lima titik;
  • log-on-demand dan GLP data.

Konfigurasi tersebut relevan untuk dairy, yoghurt, cheese, sauce, meat preparation, dan aplikasi QC makanan lain yang tidak ideal diukur menggunakan glass bulb general-purpose.

Lihat HANNA HI98161 di Alat-Test.Com

2. PH200 Portable Meter Kit for Food & Dairy

PH200 Portable Meter Kit for Food & Dairy menggunakan spear pH/temperature electrode yang dirancang untuk meat, cheese, dairy, fruit, dan solid/semi-solid food.

Spesifikasi produk mencantumkan akurasi sekitar ±0,01 pH, automatic temperature compensation 0 sampai 100°C, auto calibration, stable reading/auto-hold, serta penyimpanan sampai 500 data set.

Probe menggunakan food-grade stainless steel sheath dan solid electrolyte sehingga ditujukan untuk aplikasi penetrasi pada matriks makanan.

Lihat PH200 Food & Dairy pH Meter di Alat-Test.Com

Catatan: pH meter mengukur pH, bukan titratable acidity. Jika specification produk menggunakan kedua parameter, TA tetap perlu diuji melalui titrasi atau metode analitik yang sesuai. Untuk regulatory critical limit, gunakan prosedur sampling, calibration, electrode, dan record keeping yang divalidasi.

Kesimpulan

Tingkat keasaman penting dalam produksi makanan karena pH memengaruhi keamanan, fermentasi, rasa, tekstur, warna, efektivitas preservative, serta konsistensi antar-batch.

Dalam food safety, pH 4,6 mempunyai arti khusus pada kategori acidified dan low-acid food tertentu. Dalam fermentasi, penurunan pH menunjukkan aktivitas kultur dan membantu menentukan endpoint. Dalam yoghurt, acidification juga membentuk gel protein dan memengaruhi syneresis. Dalam formulation, pH menentukan bagaimana organic acid dan preservative bekerja.

Studi yoghurt sinbiotik Indonesia tahun 2025 menunjukkan treatment fermentation terbaik mencapai pH 4,33 dengan TTA 0,74% dan LAB 9,27 log10 CFU/mL. Kasus FDA 2024 menunjukkan sisi lain: pengukuran pH yang dilakukan sebelum produk mencapai equilibrium dan pada kondisi suhu yang tidak tepat dapat menjadi masalah serius dalam process control.

Karena itu, pH tidak boleh diperlakukan sebagai angka yang sekadar dicatat pada akhir produksi. Pengukuran harus menggunakan probe yang sesuai, calibration yang benar, sampling representatif, kondisi suhu yang terkendali, dan trend data yang dapat ditelusuri.

Dalam produksi pangan, acidity bukan hanya rasa. Acidity adalah bagian dari desain proses.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa beda pH dan tingkat keasaman?

Dalam penggunaan sehari-hari, tingkat keasaman sering merujuk pada pH. Dalam analisis pangan, keasaman juga dapat berarti titratable acidity. pH mengukur aktivitas ion hidrogen, sedangkan TA mengukur total acid yang dapat dititrasi sampai endpoint tertentu.

Apakah pH 4,6 berarti makanan pasti aman?

Tidak. pH 4,6 merupakan batas penting dalam konteks mikrobiologi dan regulasi tertentu, tetapi keamanan juga bergantung pada aw, proses panas, suhu penyimpanan, packaging, hygiene, dan hazard lain.

Kenapa yoghurt harus diukur pH-nya?

pH membantu memantau fermentation progress, pembentukan tekstur, stabilitas, dan konsistensi produk. Fermentasi yang terlalu pendek atau terlalu panjang dapat menghasilkan karakter yang berbeda.

Apakah rasa asam bisa menentukan pH?

Tidak secara akurat. Sweetness, salt, fat, aroma, jenis acid, dan buffer matrix memengaruhi persepsi acidity. Gunakan pH meter untuk angka objektif.

Apakah pH meter air bisa digunakan untuk yoghurt atau keju?

Meter secara elektronik mungkin dapat membaca sinyal, tetapi elektrodanya belum tentu sesuai. Produk semi-solid lebih baik menggunakan food electrode dengan ujung conical/spear dan junction yang tahan clogging.

Apakah pH dan titratable acidity harus selalu diuji bersama?

Tidak untuk semua produk, tetapi keduanya memberikan informasi berbeda dan sering digunakan bersama pada yoghurt, juice, sauce, dan fermented food untuk memahami proses serta sensory profile.

Kenapa pH berubah selama penyimpanan?

Aktivitas mikroorganisme, post-acidification, reaksi ingredient, perubahan CO2, hydrolysis, dan perubahan buffer dapat menyebabkan pH drift selama shelf-life.

Apakah automatic temperature compensation membuat suhu sampel tidak penting?

Tidak. ATC mengoreksi response electrode terhadap suhu. ATC tidak mengubah perubahan kimia produk akibat suhu dan tidak menggantikan kebutuhan mengukur equilibrium pH pada kondisi yang ditetapkan metode.

Berapa sering pH meter harus dikalibrasi?

Tergantung SOP, frekuensi penggunaan, criticality, dan performa electrode. Untuk process control penting, kalibrasi biasanya dilakukan secara rutin dan diverifikasi dengan buffer sebelum atau selama periode pengujian.

Kenapa pembacaan pH makanan lambat stabil?

Penyebabnya dapat berupa electrode kotor, junction tersumbat, matriks kental, suhu berbeda, ionic strength rendah, atau probe yang tidak sesuai. Cleaning dan pemilihan electrode perlu diperiksa.

Sumber dan Referensi

  1. U.S. Food and Drug Administration. Acidified & Low-Acid Canned Foods Guidance Documents & Regulatory Information.
  2. U.S. Food and Drug Administration. Hazard Analysis and Risk-Based Preventive Controls for Human Food Guidance.
  3. U.S. Food and Drug Administration. Evaluation and Definition of Potentially Hazardous Foods.
  4. U.S. Food and Drug Administration. 2024. Warning Letter: Brewing Market Coffee.
  5. Badan Pemeriksa Keuangan. Peraturan BPOM Nomor 10 Tahun 2023 tentang Penerapan Program Manajemen Risiko Keamanan Pangan di Sarana Produksi Pangan Olahan.
  6. Badan Pengawas Obat dan Makanan. Peraturan BPOM Nomor 27 Tahun 2021 tentang Persyaratan Pangan Olahan Berasam Rendah Dikemas Hermetis.
  7. Badan Pengawas Obat dan Makanan. Peraturan BPOM Nomor 14 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Peraturan BPOM Nomor 27 Tahun 2021.
  8. Badan Standardisasi Nasional. Katalog SNI Produk Susu, termasuk SNI 2981:2025 Yogurt.
  9. Hidayati, A., Desniar, dan Santoso, J. 2025. Synbiotic Yogurt Based on Local Lactobacillus plantarum and Hydrolysate of Kappaphycus alvarezii: Effect of Different Starters and Fermentation Time. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, 28(9), 789–814.
  10. Chemical Sensors for Farm-to-Table Monitoring of Fruit Quality. Sensors, 2021. Section on pH and Titratable Acidity.
  11. Influence of Coriander Seed Powder on Texture, Rheological Properties, and Sensory Quality of Spoonable Yoghurt. Foods.

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.