Portable turbidity meter testing mining wastewater at a settling pond, illustrating turbidity meter limbah tambang water quality monitoring.

Turbidity Meter Limbah Tambang: Panduan Kualitas Air dan Settling

Daftar Isi

Operator lingkungan tambang sering menghadapi situasi yang tampak kontradiktif: settling pond secara visual masih keruh, pembacaan turbidity meter menunjukkan angka NTU yang fluktuatif, tetapi laporan pengelolaan lingkungan menuntut parameter TSS dalam mg/L. Artikel ini menjembatani kesenjangan tersebut. Anda akan memahami apa itu turbidity meter, cara mengukur kekeruhan kolam settling secara representatif, bagaimana menghubungkan pembacaan NTU dengan baku mutu TSS, serta memilih alat portable yang tepat untuk air limbah tambang yang pekat dan berwarna. Pembahasan disusun sebagai panduan lapangan: dari prinsip pengukuran, regulasi, metode dan satuan, SOP sampling, pemilihan alat, kalibrasi, troubleshooting, hingga studi kasus.

  1. Apa Itu Turbidity Meter dan Mengapa Krusial untuk Air Tambang?
    1. Pengertian Kekeruhan, Satuan NTU, dan Prinsip Nephelometri
    2. Bedanya Turbidity Meter dengan TDS Meter dan pH Meter
    3. Apakah Kekeruhan Tinggi Selalu Berarti Air Tercemar Berbahaya?
  2. Karakteristik Air Limbah Tambang, Baku Mutu TSS, dan Regulasi
    1. Kenapa Air Tambang Batubara, Nikel, dan Emas Berbeda
    2. Baku Mutu Air Limbah Pertambangan: Parameter TSS, pH, Fe, dan Mn
    3. Hubungan NTU dan TSS: Alarm Operasional, Bukan Pengganti Uji Lab
  3. Metode dan Satuan Pengukuran Kekeruhan: NTU, FNU, FTU, JTU
    1. Nephelometri vs Turbidimetri vs Cakram Secchi
    2. NTU vs FNU vs FTU vs JTU dan Standar EPA 180.1 vs ISO 7027
    3. Pengaruh Warna Air Tambang dan Peran Sumber Cahaya Near-Infrared
  4. Cara Mengukur Kekeruhan Air Limbah Tambang dan Kolam Settling
    1. Titik Sampling: Inlet, Tengah, dan Zona Efluen
    2. Kedalaman Pengambilan Sampel dan Interpretasi Gradien Vertikal
    3. Protokol Persiapan Sampel, Cuvette, Penghindaran Gelembung, dan Pencatatan
    4. Teknik Pengenceran Sampel Sangat Keruh dan Berwarna
    5. Frekuensi Pengukuran Berdasarkan Kondisi Operasi dan Cuaca
  5. Memilih Turbidity Meter Portable untuk Limbah Tambang
    1. Spesifikasi Kunci: Rentang, Resolusi, Akurasi, IP Rating, dan Ketahanan Lapangan
    2. Portabel, Benchtop, atau Inline: Mana yang Sesuai?
    3. Rentang Harga dan Apa yang Membedakan Alat Murah vs Mahal
    4. Sertifikat Kalibrasi ISO 17025, Traceability, dan Biaya Kepemilikan 3–5 Tahun
    5. Contoh Alat: Turbidity Meter LOHAND LH-Z10A untuk Aplikasi Lapangan
  6. Kalibrasi, Perawatan, dan Troubleshooting Akurasi Turbidity Meter
    1. Prosedur Kalibrasi Step-by-Step dengan Standar Formazin
    2. Perawatan dan Penyimpanan Alat agar Tetap Akurat
    3. Kenapa Dua Alat Bisa Memberi Bacaan Berbeda pada Sampel yang Sama?
  7. Mengatasi Kekeruhan Air Limbah Tambang yang Tetap Tinggi
    1. Penyebab Umum: Partikel Halus, Limpasan Hujan, Waktu Tinggal, dan Aliran Pintas
    2. Optimasi Koagulan, Flokulan, dan pH
    3. Peringatan Overdosis Koagulan Justru Menambah Kekeruhan
    4. Kapan Harus Mengirim Sampel ke Laboratorium Terakreditasi
  8. Studi Kasus Pemantauan Kekeruhan di Settling Pond
    1. Dari Pembacaan NTU ke Laporan Lingkungan: Alur Kerja
    2. Contoh Data Sebelum-Sesudah Penambahan Koagulan
  9. References

Apa Itu Turbidity Meter dan Mengapa Krusial untuk Air Tambang?

Turbidity meter adalah alat ukur kekeruhan air yang bekerja berdasarkan prinsip optik: mengukur intensitas cahaya yang dihamburkan oleh partikel tersuspensi dalam sampel air [2]. Semakin banyak partikel seperti lumpur, tanah liat, atau tailing halus, semakin besar hamburan cahaya dan semakin tinggi nilai kekeruhan. Pada air tambang, nilai ini bukan sekadar penampilan visual; ia menjadi alarm operasional bahwa padatan tersuspensi sedang meningkat dan berpotensi melanggar baku mutu TSS.

Pengertian Kekeruhan, Satuan NTU, dan Prinsip Nephelometri

Kekeruhan dinyatakan dalam Nephelometric Turbidity Unit (NTU). Pada metode nephelometri standar, cahaya diarahkan ke sampel dan detektor ditempatkan pada sudut 90 derajat dari berkas cahaya datang. Prinsip ini mengikuti standar EPA Method 180.1 [3] dan banyak diadopsi karena sensitif terhadap partikel halus. Secara praktis, nilai NTU dapat dibaca sebagai berikut: air sangat jernih biasanya di bawah 1 NTU; air minum idealnya di bawah 1 NTU sebelum desinfeksi; nilai 1–5 NTU masih relatif jernih; 50–200 NTU mulai keruh secara visual; dan di atas 1000 NTU air sangat pekat, seperti air limbah tambang setelah hujan deras [1]. Komponen utama alat meliputi sumber cahaya, sel sampel atau kuvet, serta detektor hamburan 90 derajat.

Bedanya Turbidity Meter dengan TDS Meter dan pH Meter

Kekeruhan mengukur partikel tersuspensi, bukan ion terlarut. TDS meter mengukur total padatan terlarut dalam ppm, sedangkan pH meter mengukur tingkat keasaman atau kebasaan larutan [6]. Air tambang bisa memiliki TDS rendah tetapi NTU sangat tinggi karena banyak partikel mineral tersuspensi. Pemantauan kepatuhan air limbah tambang memerlukan ketiganya, tetapi turbidity meter adalah indikator tercepat untuk mendeteksi perubahan beban padatan. Tabel perbandingan sederhana: kekeruhan bersatuan NTU dan mengukur kekeruhan optik; TDS bersatuan ppm atau mg/L dan mengukur zat terlarut; pH bersatuan angka 0–14 dan mengukur aktivitas ion hidrogen.

Apakah Kekeruhan Tinggi Selalu Berarti Air Tercemar Berbahaya?

Tidak selalu. Kekeruhan tinggi dapat berasal dari partikel tanah liat alami atau mineral yang tidak beracun. Namun, pada air limbah tambang, kekeruhan tinggi hampir selalu menandakan beban padatan tersuspensi yang harus dikendalikan, dan dapat disertai logam terlarut, COD/BOD, atau pH ekstrem [6][8]. Penilaian bahaya tidak dapat dilakukan hanya dari angka NTU; operator perlu memeriksa parameter lain seperti pH, logam terlarut, dan kebutuhan oksigen kimiawi.

Karakteristik Air Limbah Tambang, Baku Mutu TSS, dan Regulasi

Air limbah tambang memiliki karakteristik yang membuat pengukuran kekeruhan lebih menantang dibanding air industri biasa: partikel halus yang tidak cepat mengendap, warna pekat cokelat, merah, atau kekuningan, kandungan padatan tinggi, serta potensi pH ekstrem. Oleh karena itu, pembacaan NTU harus selalu dipahami dalam kerangka kepatuhan TSS.

Kenapa Air Tambang Batubara, Nikel, dan Emas Berbeda

Batubara cenderung menghasilkan air cokelat kehitaman akibat tanah liat, abu, dan serpihan batubara. Nikel laterit menghasilkan partikel halus kemerahan yang sulit mengendap. Emas sering melibatkan tailing sangat halus dan proses sianidasi yang dapat mempengaruhi pH dan warna. Perbedaan ukuran, warna, dan komposisi partikel memengaruhi hamburan cahaya dan strategi pemilihan rentang alat [1][4]. Partikel halus yang tidak cepat mengendap membuat settling pond perlu dievaluasi tidak hanya dari penampilan visual, tetapi juga dengan pengukuran kekeruhan yang konsisten.

Baku Mutu Air Limbah Pertambangan: Parameter TSS, pH, Fe, dan Mn

Sektor pertambangan di Indonesia umumnya diatur baku mutu air limbahnya dalam satuan mg/L, bukan NTU. Parameter kunci meliputi TSS, pH, besi (Fe), mangan (Mn), BOD, dan COD. Sebagai contoh yang sering dikutip, Kepmen LH No. 113/2003 menetapkan pH 6–9, Fe 7 mg/L, Mn 4 mg/L, dan residu tersuspensi 400 mg/L untuk air limbah tambang batubara [8]. Angka pasti harus diverifikasi terhadap regulasi terbaru karena ketentuan dapat berbeda antar komoditas, lokasi, dan dokumen izin lingkungan.

Hubungan NTU dan TSS: Alarm Operasional, Bukan Pengganti Uji Lab

Kekeruhan adalah surrogate atau proksi untuk padatan tersuspensi, tetapi tidak ada konversi universal NTU ke mg/L [5]. Dua sampel dengan NTU sama bisa memiliki TSS berbeda karena ukuran partikel, warna, mineralogi, dan pH mempengaruhi hamburan cahaya. USGS menyatakan bahwa model regresi surrogate dapat digunakan jika dikembangkan dari pasangan data lokal, tetapi ketidakpastian nilai individual umumnya lebih besar daripada sampel laboratorium langsung [5]. Studi lapangan USGS juga menegaskan bahwa sensor berbeda dapat memberikan hasil berbeda pada sampel lingkungan, bahkan ketika hasilnya sama pada larutan standar [4].

Membangun Korelasi NTU–TSS Site-Specific dan Contoh Tabel Pendekatan

Untuk membangun korelasi, kumpulkan minimal 10–20 pasangan data NTU lapangan dan TSS laboratorium dari titik yang sama. Buat regresi linear sederhana: TSS (mg/L) = a × NTU + b. Evaluasi dengan koefisien determinasi R²; semakin mendekati 1, semakin baik model untuk rentang yang diuji. Validasi berkala setiap perubahan musim, sumber air, atau jenis partikel. Contoh pendekatan ilustratif: NTU 50 mungkin setara 120–180 mg/L, NTU 200 sekitar 400–500 mg/L, tergantung faktor korelasi site-specific. Gunakan angka ini sebagai alat skrining cepat, bukan nilai pelaporan resmi.

Metode dan Satuan Pengukuran Kekeruhan: NTU, FNU, FTU, JTU

Pemilihan turbidity meter tidak lepas dari metode dan satuan. Satuan yang berbeda muncul dari standar pengukuran yang berbeda. Memahami ini penting agar hasil diterima untuk pelaporan dan sesuai kondisi air berwarna.

Nephelometri vs Turbidimetri vs Cakram Secchi

Cakram Secchi digunakan untuk estimasi visual; turbidimetri mengukur cahaya yang diteruskan; nephelometri mengukur cahaya yang dihamburkan pada sudut 90 derajat. Hanya nephelometri yang umum diterima untuk pelaporan regulasi [1][3]. Untuk air tambang yang sangat keruh dan berwarna, nephelometri dengan deteksi hamburan 90 derajat memberikan sensitivitas terbaik karena fokus pada partikel tersuspensi.

NTU vs FNU vs FTU vs JTU dan Standar EPA 180.1 vs ISO 7027

NTU mengacu pada EPA Method 180.1 yang menggunakan lampu tungsten [3]. FNU mengacu pada ISO 7027 dengan LED near-infrared 860 nm [1]. FTU adalah satuan formazin historis yang tidak menentukan metode instrumen secara spesifik, sehingga dapat menyesatkan. JTU adalah satuan visual lama. Untuk air limbah tambang di Indonesia, pastikan alat menampilkan NTU atau FNU dengan standar kalibrasi yang jelas, dan konsisten menggunakan satu metode selama periode pemantauan agar tren data valid.

Pengaruh Warna Air Tambang dan Peran Sumber Cahaya Near-Infrared

Air tambang sering berwarna cokelat, kemerahan, atau kekuningan; pigmen ini menyerap sebagian cahaya dan dapat menurunkan akurasi pada instrumen berbasis tungsten. ISO 7027 menggunakan LED near-infrared 860 nm yang lebih tahan terhadap interferensi warna [1][6]. Untuk sampel sangat berwarna, pengenceran tetap diperlukan bila pembacaan melebihi rentang alat [3].

Cara Mengukur Kekeruhan Air Limbah Tambang dan Kolam Settling

Akurasi hasil sangat bergantung pada protokol sampling dan penanganan sampel. Berikut langkah-langkah kunci untuk pengukuran di settling pond.

Titik Sampling: Inlet, Tengah, dan Zona Efluen

Ambil sampel di tiga zona: inlet untuk beban padatan masuk, tengah untuk menilai efisiensi pengendapan, dan zona efluen sebagai indikator kualitas air keluar yang paling dekat dengan kepatuhan baku mutu. Konsistensi titik dan waktu sangat penting agar tren data dapat dipercaya. Untuk pelaporan lingkungan, prioritaskan zona efluen.

Kedalaman Pengambilan Sampel dan Interpretasi Gradien Vertikal

Kekeruhan tidak homogen: permukaan cenderung lebih jernih, dasar lebih keruh karena lumpur. Gradien vertikal umum terjadi di settling pond. Gunakan kedalaman tetap, misalnya 20–30 cm dari permukaan untuk sampel efluen, dan catat kedalamannya [4]. Perbedaan besar antara permukaan dan dasar menandakan pengendapan belum optimal atau lumpur dasar teraduk.

Protokol Persiapan Sampel, Cuvette, Penghindaran Gelembung, dan Pencatatan

Bilas kuvet dengan sampel 2–3 kali. Isi tanpa gelembung; ketuk perlahan atau diamkan sebentar. Bersihkan dinding luar dengan tisu bebas serat. Pegang kuvet pada bagian non-optik dan hindari goresan. Catat waktu, suhu, titik, kedalaman, dan operator. Goresan serta gelembung adalah penyebab umum hasil bias [2][6].

Teknik Pengenceran Sampel Sangat Keruh dan Berwarna

Bila sampel melebihi rentang alat, gunakan pengenceran terkontrol. EPA Method 180.1 mengizinkan pengenceran untuk sampel di atas 40 NTU [3]. Gunakan air bebas kekeruhan, catat faktor pengenceran, dan hitung: NTU akhir = NTU terukur × faktor pengenceran. Perhitungkan koreksi blanko bila blanko tidak nol.

Frekuensi Pengukuran Berdasarkan Kondisi Operasi dan Cuaca

Pengukuran harian disarankan pada operasi normal. Frekuensi dinaikkan saat hujan deras, commissioning kolam baru, perubahan dosis koagulan, atau menjelang pelaporan. Limpasan hujan membawa sedimen dan meningkatkan beban partikel secara cepat.

Memilih Turbidity Meter Portable untuk Limbah Tambang

Tidak semua turbidity meter cocok untuk lapangan tambang. Prioritaskan alat portable dengan rentang lebar, ketahanan debu dan air, serta sumber cahaya near-infrared.

Spesifikasi Kunci: Rentang, Resolusi, Akurasi, IP Rating, dan Ketahanan Lapangan

Untuk settling pond, pilih rentang 0–1000 NTU, resolusi 0,01 NTU pada rentang rendah, akurasi sekitar ±5% bacaan, perlindungan IP65, dan bobot ringan. Rentang 0–20 NTU cukup untuk efluen bersih atau air olahan; 0–1000 NTU dibutuhkan untuk inlet atau air tambang pekat [3][4]. Sumber cahaya near-infrared sesuai ISO 7027 membantu mengurangi interferensi warna [1].

Portabel, Benchtop, atau Inline: Mana yang Sesuai?

Untuk inspeksi lapangan dan settling pond, turbidity meter portabel adalah solusi paling praktis. Benchtop memberikan akurasi lebih tinggi di laboratorium. Inline memungkinkan pemantauan kontinu dan integrasi ke SCADA, tetapi membutuhkan listrik, perawatan sensor, serta biaya lebih besar. Sebagian besar operasi tambang memulai dengan portabel, lalu menambah inline pada titik kritis bila beban air tinggi.

Rentang Harga dan Apa yang Membedakan Alat Murah vs Mahal

Di pasar Indonesia, turbidity meter portable berkisar dari sekitar Rp2,3 juta hingga Rp40 juta, dengan rentang umum Rp3 juta–15 juta. Pembeda harga meliputi kualitas optik, jumlah titik kalibrasi, akurasi rentang rendah, IP rating, sertifikat kalibrasi, ketersediaan standar formazin, serta layanan purna jual [7].

Sertifikat Kalibrasi ISO 17025, Traceability, dan Biaya Kepemilikan 3–5 Tahun

Untuk pelaporan lingkungan dan audit, alat sebaiknya memiliki sertifikat kalibrasi terakreditasi ISO 17025 atau dapat dikalibrasi oleh laboratorium terakreditasi. Tanpa traceability, data lapangan dapat ditolak. Biaya kepemilikan 3–5 tahun mencakup kalibrasi tahunan, penggantian kuvet, standar formazin, dan potensi downtime. Alat murah tanpa dukungan kalibrasi sering menjadi beban lebih besar [4][7].

Contoh Alat: Turbidity Meter LOHAND LH-Z10A untuk Aplikasi Lapangan

Salah satu contoh turbidity meter portable yang dapat digunakan untuk air limbah tambang dan kolam settling adalah Turbidity Meter LOHAND LH-Z10A. Alat ini dirancang untuk pengukuran lapangan dengan respons cepat dan kemudahan kalibrasi. Namun, pastikan spesifikasi rentang, akurasi, dan sertifikat kalibrasi sesuai dengan kebutuhan site-specific sebelum digunakan untuk pelaporan resmi.

Kalibrasi, Perawatan, dan Troubleshooting Akurasi Turbidity Meter

Keandalan data NTU sangat ditentukan oleh kalibrasi dan perawatan. Standar formazin terstabilisasi adalah referensi utama.

Prosedur Kalibrasi Step-by-Step dengan Standar Formazin

Lakukan kalibrasi 2–4 titik sesuai panduan alat: siapkan standar formazin 0,02; 20; 100; dan 800 NTU; bilas kuvet; ukur blanko; ukur tiap standar; simpan kurva; lalu verifikasi dengan standar independen. Frekuensi kalibrasi bulanan untuk pemakaian intensif, atau sebelum periode pelaporan [3][7].

Perawatan dan Penyimpanan Alat agar Tetap Akurat

Bersihkan kuvet segera setelah digunakan, hindari goresan, jaga ruang sampel bebas debu, dan simpan alat di tempat kering dengan suhu stabil. Di lapangan tambang, debu halus dapat menempel pada optik; gunakan penutup dan tas pelindung.

Kenapa Dua Alat Bisa Memberi Bacaan Berbeda pada Sampel yang Sama?

Perbedaan muncul dari metode cahaya—tungsten vs near-infrared—kondisi kuvet, kalibrasi, dan karakteristik sensor. USGS menemukan bahwa perbedaan antar sensor mungkin tidak terlihat pada larutan standar tetapi jelas pada sampel lingkungan [4]. Karena itu, saat membandingkan alat, uji pada sampel aktual lapangan, bukan hanya larutan standar.

Mengatasi Kekeruhan Air Limbah Tambang yang Tetap Tinggi

Bila pembacaan NTU tetap tinggi setelah settling pond, lakukan diagnosis sistematis. Jangan langsung menambah koagulan tanpa data.

Penyebab Umum: Partikel Halus, Limpasan Hujan, Waktu Tinggal, dan Aliran Pintas

Partikel halus tidak cepat mengendap. Limpasan hujan menambah beban sedimen. Waktu tinggal yang terlalu pendek mengurangi kesempatan partikel mengendap. Aliran pintas membawa padatan langsung keluar. Periksa debit, kondisi inlet, dan lumpur dasar.

Optimasi Koagulan, Flokulan, dan pH

Jalankan jar test untuk menentukan dosis koagulan optimal. Sesuaikan pH ke zona kerja koagulan, umumnya 6–8 untuk banyak koagulan, tambahkan flokulan untuk membentuk flok lebih besar, dan perbaiki distribusi aliran. Gunakan NTU sebagai umpan balik cepat sebelum dan sesudah penyesuaian.

Peringatan Overdosis Koagulan Justru Menambah Kekeruhan

Overdosis koagulan dapat menyebabkan restabilisasi koloid dan residu koagulan, sehingga kekeruhan justru naik. Kurva dosis–NTU sering berbentuk U. Jika NTU turun lalu naik saat dosis dinaikkan, kemungkinan overdosis.

Kapan Harus Mengirim Sampel ke Laboratorium Terakreditasi

Konfirmasi laboratorium diperlukan saat hasil NTU mendekati baku mutu TSS, saat warna atau karakter air berubah signifikan, untuk laporan resmi, dan saat antar-alat berbeda besar. Laboratorium terakreditasi ISO 17025 memberikan rujukan TSS yang dapat dipercaya [5].

Studi Kasus Pemantauan Kekeruhan di Settling Pond

Ilustrasi berikut menunjukkan alur dari pembacaan NTU hingga laporan lingkungan, beserta contoh data sebelum dan sesudah optimasi.

Dari Pembacaan NTU ke Laporan Lingkungan: Alur Kerja

Alur kerja yang disarankan: sampling terjadwal → pengukuran NTU → pencatatan titik, waktu, dan metode → estimasi TSS dengan korelasi site-specific → verifikasi laboratorium berkala → penyusunan laporan. Turbidity meter mempercepat deteksi penyimpangan, tetapi tidak menghilangkan kewajiban uji TSS laboratorium untuk pelaporan formal [5].

Contoh Data Sebelum-Sesudah Penambahan Koagulan

Sebelum optimasi, NTU efluen harian berkisar 180–260 dan TSS laboratorium 420 mg/L. Setelah penyesuaian dosis koagulan dan pH, NTU turun ke 60–90 dan TSS laboratorium 180 mg/L. Data ini bersifat ilustratif; setiap settling pond harus membangun korelasinya sendiri dan memvalidasi secara statistik [4][5].

Turbidity meter bukan sekadar alat untuk melihat angka NTU. Dengan protokol sampling yang benar, metode yang sesuai, korelasi NTU–TSS site-specific, dan pemilihan instrumen lapangan yang tepat, operator dapat menggunakannya sebagai sistem peringatan dini dan pendukung kepatuhan lingkungan. Langkah berikutnya: susun checklist pengukuran settling pond, bandingkan spesifikasi dan biaya kepemilikan, lalu pilih alat seperti Turbidity Meter LOHAND LH-Z10A yang sesuai dengan kebutuhan operasional.

Untuk kebutuhan pengadaan dan konsultasi pemantauan kualitas air tambang, CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor instrumen pengukuran dan pengujian, bukan penyedia jasa pengujian atau konsultan konstruksi, yang berfokus melayani kebutuhan bisnis dan aplikasi industri. Tim kami dapat membantu perusahaan mengoptimalkan operasi dan memenuhi kebutuhan peralatan komersial terkait turbidity meter, kalibrasi, dan pemantauan air limbah. Diskusikan kebutuhan perusahaan Anda untuk solusi pengukuran kekeruhan yang sesuai site-specific.

Informasi bersifat edukatif dan tidak menggantikan nasihat hukum/kepatuhan lingkungan. Selalu verifikasi baku mutu terbaru dan lakukan uji laboratorium terakreditasi untuk pelaporan resmi. Korelasi NTU-TSS bersifat site-specific dan tidak bisa dijadikan pengganti uji TSS laboratorium tanpa kalibrasi lokal. Sebutan produk tidak menjamin kepatuhan regulasi.

Rekomendasi Turbidity Meter

References

  1. Hach. (n.d.). Turbidity Measurement. Hach Company. Retrieved from https://www.hach.com/parameters/turbidity
  2. Laboratorium Terpadu UII. (n.d.). Turbidimeter. Universitas Islam Indonesia. Retrieved from https://labterpadu.uii.ac.id/fasilitas/alat/turbidimeter
  3. U.S. Environmental Protection Agency. (1993). Method 180.1: Determination of Turbidity by Nephelometry. Retrieved from https://www.epa.gov/sites/default/files/2015-08/documents/method_180-1_1993.pdf
  4. Messner, M. L., Perkins, M. K., & Bunch, A. R. (2023). Comparison of Turbidity Sensors at U.S. Geological Survey Supergages in Indiana From November 2018 to December 2021. U.S. Geological Survey Scientific Investigations Report 2023–5077. Retrieved from https://pubs.usgs.gov/publication/sir20235077/full
  5. Mason, R. R., & Myers, D. N. (2016). SW2016.07, WQ2016.10 Policy and guidance for approval of surrogate regression models for computation of time series suspended-sediment concentrations and loads. U.S. Geological Survey. Retrieved from https://water.usgs.gov/water-resources/memos/memo.php?id=467
  6. Supmea Automation. (n.d.). Turbidity of Water. Retrieved from https://id.supmeaauto.com/training/turbidity-of-water
  7. Bioanalytic GmbH. (n.d.). Stabilized Formazin Turbidity Standards. Retrieved from https://www.bioanalytic.de/en/products/categories/stabilized-formazin-turbidity-standards
  8. GreenSkill.id. (n.d.). Standar Baku Mutu Air Limbah: Parameter, Nilai, Regulasi. Retrieved from https://greenskill.id/insight/standar-baku-mutu-air-limbah-parameter-nilai-regulasi

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.