PCE-PH20S pH meter untuk mengukur akurasi pH pada rentang 0–14 dengan buffer kalibrasi

Akurasi pH Meter Tidak Sama di Seluruh Skala 0–14: Ini yang Perlu Dipahami Sebelum Membaca Hasil Ukur

Daftar Isi

Angka ±0,07 pH yang tercantum sebagai akurasi pada sebuah pH meter portabel sering dibaca sebagai toleransi tunggal yang berlaku di seluruh rentang 0–14. Anggapan ini keliru. Pada rentang mendekati netral, toleransi tersebut memang berlaku, tetapi begitu pembacaan bergeser ke ujung asam (di bawah pH 4) atau ujung basa (di atas pH 10), toleransi kesalahan bisa melebar dua hingga tiga kali lipat. Penyebabnya bukan cacat produksi, melainkan karakteristik dasar elektroda kaca yang dipakai hampir semua pH meter portabel, ditambah pengaruh suhu sampel yang sering tidak diperhitungkan saat alat tidak memiliki kompensasi suhu otomatis.

Bagi teknisi maupun pengelola akuarium, kolam budidaya, atau instalasi pengolahan air yang mengandalkan satu angka akurasi untuk menilai kelayakan hasil ukur, pemahaman ini menentukan apakah data yang dicatat benar-benar bisa dipertanggungjawabkan atau justru berada di luar toleransi yang dikira berlaku. Artikel ini membahas mengapa toleransi akurasi pH meter bertingkat, bagaimana suhu ikut berperan, dan bagaimana membaca spesifikasi tersebut secara praktis di lapangan.

Daftar Isi

Mengapa Satu Angka Akurasi Tidak Menggambarkan Seluruh Performa pH Meter?

Lembar spesifikasi pH meter hampir selalu menampilkan satu angka akurasi yang paling mencolok, misalnya ±0,07 pH. Namun angka itu biasanya hanya berlaku pada rentang tertentu, umumnya di sekitar pH netral, karena di titik itulah elektroda kaca bekerja paling ideal. Begitu pembacaan menjauh dari titik tersebut, sinyal listrik yang dihasilkan elektroda tidak lagi berbanding lurus secara sempurna dengan konsentrasi ion hidrogen, sehingga toleransi kesalahan yang realistis juga ikut berubah.

Ini bukan fenomena khusus satu merek atau satu model. Hampir seluruh pH meter berbasis elektroda kaca kombinasi mengalami pola yang sama: akurasi terbaik di rentang tengah, dan melebar di kedua ujung skala. Yang membedakan hanya pada pH berapa pelebaran itu mulai terasa signifikan, dan seberapa besar pelebarannya.

Apa yang Menyebabkan Akurasi Menurun di Ujung Skala Asam dan Basa?

Elektroda kaca mengukur pH melalui potensial listrik yang timbul pada membran kaca tipis yang selektif terhadap ion H⁺. Pada rentang pH menengah, membran ini merespons hampir murni terhadap ion hidrogen. Namun pada larutan sangat basa, ion natrium dan ion alkali lain di dalam larutan mulai menggantikan sebagian ion H⁺ pada lapisan gel di permukaan kaca. Akibatnya elektroda ikut “membaca” ion natrium seolah-olah itu ion hidrogen, sehingga pembacaan pH menjadi lebih rendah dari nilai sebenarnya. Fenomena ini dikenal sebagai alkaline error atau sodium ion error, dan secara historis mulai terasa di sekitar pH 9–10 pada kaca generasi lama, meski formulasi kaca modern menggeser titik itu ke pH yang lebih tinggi.

Pada sisi yang berlawanan, di larutan yang sangat asam, elektroda kaca juga mengalami acid error yang membuat pembacaan cenderung sedikit lebih tinggi dari pH sebenarnya. Sumber independen yang membahas pengukuran pH pada larutan asam dan basa pekat menegaskan bahwa penggunaan elektroda kaca konvensional sebaiknya dibatasi pada rentang tertentu saja bila akurasi tinggi dibutuhkan, karena di luar rentang itu koreksi terhadap error tersebut sulit dilakukan secara langsung. Kajian yang membandingkan slope dan karakteristik elektroda pada pH tinggi juga menunjukkan bahwa efek ini membesar seiring naiknya suhu dan pH larutan, yang berarti dua faktor ini —posisi pada skala pH dan suhu— saling memperkuat, bukan berdiri sendiri-sendiri.

Dengan latar belakang ini, tabel akurasi bertingkat yang biasa dicantumkan pada pH meter portabel sebenarnya adalah cara produsen mengomunikasikan batas fisik dari teknologi elektroda kaca itu sendiri, bukan sekadar angka pemasaran.

Bagaimana Suhu Ikut Menentukan Seberapa Akurat Pembacaan pH?

Selain posisi pada skala pH, suhu sampel adalah variabel kedua yang memengaruhi keandalan hasil ukur. Elektroda pH mengikuti persamaan Nernst, yang menyatakan bahwa besarnya perubahan potensial listrik untuk setiap satu unit pH (disebut slope) bergantung pada suhu absolut larutan. Pada suhu 25°C, slope ideal sebuah elektroda adalah sekitar 59,16 mV per unit pH; nilai ini berubah mengikuti suhu, sehingga pH meter dengan kompensasi suhu otomatis (ATC) menghitung ulang slope tersebut secara real-time agar pembacaan tetap merujuk pada suhu kalibrasi yang benar.

Titik pada kurva slope-temperatur yang secara teoritis tidak terpengaruh suhu disebut isopotential point, dan produsen elektroda umumnya mengusahakan agar titik ini berada dekat pH 7. Konsekuensinya, semakin jauh pH sampel dari titik isopotential, semakin besar potensi kesalahan akibat selisih suhu antara saat kalibrasi dan saat pengukuran. Pembacaan pH 7 relatif tidak terpengaruh perbedaan suhu, tetapi pembacaan pH 3 atau pH 11 pada sampel yang jauh lebih panas atau dingin dibanding larutan buffer saat kalibrasi bisa menyimpang cukup jauh dari nilai sebenarnya.

Yang penting dipahami, kompensasi suhu tidak pernah sempurna bahkan pada instrumen kelas atas. Hamilton Company mencatat bahwa sensor pH modern dengan kompensasi suhu otomatis masih menyisakan galat kompensasi hingga sekitar 0,1 pH ketika kalibrasi dilakukan pada 25°C lalu pengukuran dilakukan pada larutan 60°C, karena posisi isopotential point pada elektroda nyata tidak pernah tepat berada di pH 7. Jika instrumen dengan ATC saja masih menyisakan galat sebesar itu, instrumen tanpa ATC jelas membutuhkan perhatian ekstra terhadap suhu sampel.

Apa Artinya Jika pH Meter Tidak Memiliki Kompensasi Suhu Otomatis?

Sejumlah pH meter portabel kelas dasar—termasuk tipe yang dirancang khusus untuk media berair umum seperti akuarium, kolam, atau pengecekan cepat kualitas air—tidak dilengkapi sensor suhu terpisah maupun fungsi ATC. Ini bukan berarti alat tersebut tidak layak dipakai, tetapi berarti tanggung jawab mengelola pengaruh suhu berpindah dari elektronik alat ke prosedur kerja penggunanya. Kalibrasi dan pengukuran idealnya dilakukan pada suhu yang berdekatan, dan suhu sampel sebaiknya dicatat sebagai bagian dari data hasil ukur, bukan diabaikan.

Standar Nasional Indonesia yang mengatur cara uji derajat keasaman air dan air limbah, SNI 6989.11:2019, secara eksplisit mengantisipasi kondisi ini. Standar tersebut mencantumkan catatan bahwa apabila pH meter yang digunakan belum dilengkapi Automatic Temperature Compensation, nilai pH pada larutan penyangga harus dikompensasi lebih dulu terhadap suhu pengukuran sebelum dipakai sebagai acuan kalibrasi. Artinya, ketiadaan ATC pada sebuah instrumen sudah menjadi skenario yang diakomodasi oleh metode uji resmi, selama penggunanya menjalankan langkah kompensasi manual tersebut.

Ilustrasi: Seberapa Besar Pengaruh Selisih Suhu terhadap Hasil Ukur?

Untuk memberi gambaran kasar—bukan nilai standar atau klaim produk tertentu—berikut ilustrasi sederhana berdasarkan kemiringan Nernst ideal, dengan asumsi titik isopotential tepat di pH 7 dan kalibrasi dilakukan pada 25°C. Angka pada tabel ini adalah perkiraan matematis untuk membantu intuisi, bukan hasil pengujian aktual terhadap satu produk tertentu, karena posisi isopotential point setiap elektroda nyata dapat sedikit bergeser dari pH 7.

Selisih suhu sampel dari suhu kalibrasiPerkiraan deviasi tambahan di sekitar pH 7Perkiraan deviasi tambahan di sekitar pH 3 atau pH 11
±5°CDapat diabaikan≈ 0,07 unit pH
±10°CDapat diabaikan≈ 0,13 unit pH

Pola yang muncul konsisten dengan penjelasan pada bagian sebelumnya: semakin jauh pembacaan dari pH netral dan semakin besar selisih suhu antara kalibrasi dan pengukuran, semakin besar pula deviasi tambahan yang perlu diperhitungkan di luar angka akurasi yang tercantum pada lembar spesifikasi. Pada rentang mendekati netral, efek suhu jauh lebih kecil dan sering tidak signifikan secara praktis.

Bagaimana Membaca Tabel Toleransi Akurasi Secara Praktis?

Sebagai contoh konkret, sebuah pH meter portabel dengan elektroda kaca eksternal berkonektor BNC dan rentang ukur 0,00–14,00 pH pada resolusi 0,01 pH biasa mencantumkan toleransi akurasi bertingkat seperti berikut:

Rentang pHToleransi akurasi
5,00 – 9,00 pH± 0,07 pH
4,00 – 4,90 pH dan 9,10 – 10,00 pH± 0,10 pH
1,00 – 3,90 pH dan 10,00 – 13,00 pH± 0,20 pH

Cara membacanya di lapangan cukup sederhana: jika hasil ukur berada di kisaran 5–9 (rentang yang mencakup mayoritas air tawar, air kolam, dan air limbah domestik pada kondisi normal), toleransi ±0,07 pH berlaku langsung. Namun jika hasil ukur mendekati atau berada di luar rentang itu—misalnya saat memeriksa air asam tambang, limbah proses tertentu, atau larutan basa pekat—toleransi yang relevan naik menjadi ±0,1 hingga ±0,2 pH. Pada titik itu, keputusan seperti “apakah sampel ini masih memenuhi ambang baku mutu” perlu memperhitungkan rentang toleransi yang lebih lebar, bukan angka ±0,07 pH yang sering dikutip sebagai representasi tunggal.

Berapa Toleransi yang Dianggap Cukup untuk Kebutuhan Pengukuran Air Sehari-hari?

Tidak ada satu angka toleransi yang berlaku universal untuk semua kebutuhan. Untuk pemantauan rutin non-regulasi—memastikan air akuarium, kolam budidaya, atau larutan nutrisi hidroponik berada pada rentang yang wajar bagi organisme yang dipelihara—toleransi ±0,07 hingga ±0,2 pH umumnya masih memadai, karena keputusan yang diambil (menambah buffer, mengganti sebagian air, menyesuaikan dosis nutrisi) tidak bergantung pada perbedaan sepersekian pH.

Situasi berbeda untuk pengujian yang harus dipertanggungjawabkan secara formal, seperti pelaporan baku mutu air limbah atau data yang akan diaudit. Pada konteks ini, laboratorium biasanya merujuk pada kriteria keberterimaan metode uji yang divalidasi menurut ISO/IEC 17025, bukan sekadar angka akurasi dari lembar spesifikasi alat. Bagian studi kasus berikut menunjukkan bagaimana kriteria itu diterapkan pada beberapa jenis pH meter digital.

Studi Kasus: Bagaimana Performa pH Meter Digital Diverifikasi Berdasarkan ISO/IEC 17025:2017?

Sebuah verifikasi metode yang dilakukan pada tiga jenis pH meter digital di laboratorium kimia, kesuburan, dan biologi tanah, serta laboratorium kimia dan biokimia hasil perikanan di sebuah fakultas pertanian, memberikan gambaran konkret tentang bagaimana angka akurasi pada spesifikasi diperlakukan di dunia kerja laboratorium. Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian Sains (Ismaini, Tosani, & Sutanto, 2023) ini menguji akurasi dan presisi tiga tipe pH meter digital pada sampel tanah dan air, mengacu pada kerangka validasi metode ISO/IEC 17025:2017.

Parameter yang diuji adalah bias (selisih hasil ukur terhadap nilai acuan) dan presisi (konsistensi antar-pengulangan pengukuran), dengan batas keberterimaan akurasi yang ditetapkan sebesar ±0,05 unit pH. Hasilnya, ketiga instrumen yang diuji menunjukkan nilai uji bias di bawah 10% dan nilai uji presisi di bawah 25%, sehingga dinyatakan layak dipakai untuk keperluan pengujian, praktikum, dan layanan pelanggan di laboratorium tersebut.

Yang bisa dipelajari dari studi ini: batas keberterimaan ±0,05 pH yang dipakai laboratorium tersebut sebenarnya lebih ketat daripada toleransi ±0,07 pH yang tercantum pada rentang terbaik banyak pH meter portabel kelas lapangan. Ini menunjukkan bahwa kelayakan sebuah pH meter tidak ditentukan oleh angka akurasi pada lembar spesifikasi semata, melainkan oleh kesesuaian antara toleransi tersebut dengan kebutuhan pengujian yang sedang dijalankan—dan oleh proses verifikasi berkala yang membuktikan alat masih bekerja sesuai kriteria itu, bukan sekadar mengandalkan klaim awal saat alat baru dibeli.

Kesalahan Umum yang Membuat Hasil Ukur pH Tampak Akurat Padahal Menyimpang

Sejumlah kebiasaan pengukuran membuat angka yang tampil di layar terlihat presisi—karena resolusinya 0,01 pH—padahal secara akurasi sudah menyimpang jauh dari toleransi yang seharusnya berlaku. Pembahasan lebih rinci tentang kesalahan-kesalahan ini juga bisa dilihat pada ulasan mengenai lima kesalahan fatal dalam menggunakan pH meter. Beberapa yang paling relevan dengan pembahasan akurasi bertingkat dan suhu:

KesalahanMengapa memengaruhi hasil
Tidak mencatat suhu sampel saat pengukuranHasil tidak bisa dibandingkan secara adil dengan pengukuran lain, terutama pada sampel yang pH-nya jauh dari netral
Mengasumsikan ±0,07 pH berlaku di semua rentangPadahal toleransi itu hanya berlaku pada rentang 5–9 pH; di luar itu toleransi riil lebih lebar
Kalibrasi hanya pada satu titik (pH 7) untuk sampel yang rutin berada di ekstremSlope elektroda tidak terverifikasi pada rentang yang sebenarnya relevan dengan sampel
Membandingkan hasil pagi (dingin) dan siang (panas) tanpa kompensasi suhuPerbedaan yang terlihat sebagai tren nyata bisa jadi sebagian besar berasal dari efek suhu pada elektroda
Elektroda tidak dibilas dengan air deion antar sampelSisa ion dari sampel sebelumnya mengganggu lapisan gel membran kaca dan menggeser pembacaan berikutnya

Bagaimana Prosedur Pengukuran pH Air yang Memperhitungkan Kalibrasi Bertingkat dan Suhu?

Prosedur berikut mengadaptasi praktik umum kalibrasi dan pengukuran pH untuk media berair, dengan penekanan pada dua faktor yang sudah dibahas di atas. Langkah kalibrasi yang lebih rinci juga bisa dilihat pada panduan cara mengkalibrasi pH meter untuk hasil pengukuran yang tepat.

  1. Siapkan larutan buffer pH 4, 7, dan 10 yang masih dalam masa pakai dan relevan dengan rentang sampel yang akan diuji.
  2. Biarkan buffer dan sampel menyesuaikan suhu yang saling berdekatan sebelum pengukuran dimulai.
  3. Bilas elektroda dengan air deion dan keringkan perlahan tanpa menggosok membran kaca.
  4. Lakukan kalibrasi otomatis mulai dari buffer pH 7, kemudian pH 4 atau pH 10 sesuai kecondongan rentang sampel yang diperkirakan.
  5. Catat suhu buffer saat kalibrasi dan suhu sampel saat pengukuran, terutama bila alat yang dipakai tidak memiliki kompensasi suhu otomatis.
  6. Celupkan elektroda ke sampel dan tunggu pembacaan stabil; fungsi data hold membantu membekukan angka begitu stabilitas tercapai.
  7. Jika suhu sampel berbeda signifikan dari suhu kalibrasi, perlakukan hasil dengan toleransi tambahan sesuai ilustrasi pada bagian sebelumnya, atau samakan suhu sebelum mengukur ulang.
  8. Bilas kembali elektroda setelah selesai dan simpan dalam larutan penyimpanan elektroda, bukan air suling, agar membran tidak mengalami dehidrasi.
  9. Jika hasil berada dekat ujung rentang ekstrem (di bawah pH 4 atau di atas pH 10), gunakan toleransi ±0,1 hingga ±0,2 pH sebagai acuan interpretasi, bukan ±0,07 pH.
  10. Simpan hasil ukur beserta suhu sampel dan tanggal kalibrasi terakhir sebagai rekaman mutu yang bisa ditelusuri kembali.

Instrumen yang Sesuai untuk Pengukuran pH Rutin pada Media Berair

Untuk kebutuhan pengukuran pH rutin pada larutan berair umum—air akuarium, kolam budidaya, larutan nutrisi hidroponik, air proses ringan, atau pengecekan lapangan sebelum sampel dikirim ke laboratorium—karakteristik yang paling relevan adalah elektroda eksternal yang bisa dicelupkan langsung, kalibrasi otomatis multititik, serta bodi yang tahan terhadap kondisi basah di lapangan.

Environmental Meter PCE-PH20-ICA dirancang untuk menentukan pH pada media akuatik dan larutan berbasis air. Alat ini mengukur pH pada rentang 0,00–14,00 dengan resolusi 0,01 pH, dan menerapkan toleransi akurasi bertingkat seperti yang dibahas di atas: ±0,07 pH pada rentang 5–9, ±0,1 pH pada 4,0–4,9 dan 9,1–10,0, serta ±0,2 pH di luar rentang tersebut. Kalibrasi dilakukan otomatis pada pH 4, 7, atau 10 menggunakan larutan buffer yang sudah disertakan dalam paket pembelian.

Elektroda yang digunakan adalah elektroda kaca eksternal berkonektor BNC yang terhubung lewat kabel, sehingga bisa dicelupkan langsung ke wadah sampel tanpa harus mencelupkan bodi utama alat. Bodi utama sendiri memiliki tingkat perlindungan air IP67, dilengkapi fungsi data hold untuk membekukan pembacaan yang stabil dan auto-power-off untuk menghemat daya empat baterai AAA yang menjadi sumber tenaganya. Sesuai pembahasan sebelumnya, alat ini tidak dilengkapi sensor suhu terpisah maupun kompensasi suhu otomatis, sehingga mencatat suhu sampel secara manual—seperti dijelaskan pada bagian prosedur—tetap menjadi langkah penting agar interpretasi hasil ukur tetap sesuai dengan toleransi akurasi yang berlaku.

Karena media yang disasar adalah larutan berair (bukan padatan tanah), pengukuran pada sampel tanah langsung membutuhkan elektroda dan mekanisme kontak yang berbeda; kebutuhan seperti itu lebih sesuai ditangani oleh varian yang memang dirancang untuk tanah, seperti dibahas pada ulasan PCE-PH20S untuk pengukuran pH tanah. Untuk sampel air dengan konduktivitas sangat rendah yang membutuhkan elektroda dengan karakteristik junction khusus, pertimbangan tambahan mengenai pemilihan elektroda dibahas pada ulasan elektroda pH untuk air rendah konduktivitas.

Setiap unit PCE-PH20-ICA disertai sertifikat kalibrasi ISO yang diterbitkan khusus untuk unit tersebut, memberikan rujukan tertelusur pada saat alat diterima—berguna sebagai dokumen awal untuk keperluan pencatatan mutu maupun audit internal, sebelum verifikasi rutin selanjutnya dilakukan sesuai kebutuhan laboratorium atau lapangan masing-masing.

Kesimpulan

Akurasi ±0,07 pH yang sering dikutip dari lembar spesifikasi pH meter hanyalah representasi dari rentang terbaik alat tersebut, bukan gambaran tunggal untuk seluruh skala 0–14. Karakteristik elektroda kaca membuat toleransi kesalahan melebar secara alami di ujung asam dan ujung basa, dan efek ini diperkuat lagi oleh selisih suhu antara saat kalibrasi dan saat pengukuran—terutama pada instrumen yang belum memiliki kompensasi suhu otomatis.

Memahami hal ini bukan berarti meragukan kelayakan sebuah pH meter, melainkan mengetahui cara membaca hasil ukurnya dengan proporsional. Pada rentang mendekati netral, satu angka akurasi memang cukup mewakili. Pada rentang ekstrem, angka itu perlu dilengkapi dengan toleransi yang lebih lebar dan pencatatan suhu sampel yang konsisten.

Nilai pengukuran adalah data mentah. Seberapa jauh data itu bisa dipercaya ditentukan oleh konteks pengukurannya—posisi pada skala pH, suhu saat itu, dan riwayat kalibrasi alat—bukan oleh satu angka toleransi yang berdiri sendiri.

FAQ

Apakah Environmental Meter PCE-PH20-ICA cocok untuk mengukur pH tanah secara langsung?

Alat ini dirancang untuk media berair atau larutan berbasis air. Untuk pengukuran pH tanah secara langsung, elektroda dan mekanisme kontak yang dibutuhkan berbeda, dan biasanya ditangani oleh varian khusus tanah seperti PCE-PH20S.

Kenapa akurasi pH meter bisa berbeda-beda tergantung rentang pH yang diukur?

Karena elektroda kaca merespons ion hidrogen paling ideal di rentang mendekati netral. Di rentang sangat asam atau sangat basa, ion lain seperti natrium ikut memengaruhi sinyal elektroda, sehingga toleransi kesalahan yang realistis menjadi lebih lebar.

Apakah PCE-PH20-ICA memiliki kompensasi suhu otomatis?

Tidak. Alat ini tidak dilengkapi sensor suhu terpisah maupun fungsi ATC, sehingga suhu sampel sebaiknya dicatat secara manual, khususnya saat mengukur pada rentang pH yang jauh dari netral.

Apa beda PCE-PH20-ICA dengan PCE-PH20 versi biasa?

Secara spesifikasi pengukuran, keduanya identik. Perbedaannya terletak pada penyertaan sertifikat kalibrasi ISO yang diterbitkan khusus untuk unit PCE-PH20-ICA, yang berguna sebagai dokumen rujukan awal untuk keperluan mutu atau audit.

Apakah larutan buffer pH 4 dan pH 7 yang disertakan cukup untuk kalibrasi awal?

Untuk kalibrasi dua titik pada rentang mendekati netral, buffer tersebut sudah cukup. Jika sampel rutin berada pada rentang basa, larutan buffer pH 10 tambahan sebaiknya disiapkan agar slope elektroda terverifikasi pada rentang yang relevan.

Bagaimana jika suhu sampel jauh berbeda dari suhu ruang saat kalibrasi?

Idealnya sampel dibiarkan menyesuaikan suhu yang berdekatan dengan suhu kalibrasi sebelum diukur. Jika tidak memungkinkan, catat selisih suhunya dan perlakukan hasil dengan toleransi tambahan, terutama bila pembacaan berada jauh dari pH netral.

Apakah alat ini bisa dipakai untuk pemantauan berkelanjutan selama berjam-jam?

Alat ini lebih sesuai untuk pengukuran spot-check yang dilakukan secara berkala, bukan pemantauan kontinu dengan logging otomatis jangka panjang. Kebutuhan pemantauan berkelanjutan dengan pencatatan data otomatis biasanya ditangani oleh instrumen dengan fitur logging dan antarmuka data tambahan.

Rekomendasi Environmental Meter Unggulan untuk Kebutuhan Anda

Referensi

  1. Hamilton Company. Alkaline Error. Knowledge Center. hamiltoncompany.com
  2. Hamilton Company. The Isopotential Point. Knowledge Center. hamiltoncompany.com
  3. Hamilton Company. Temperature Influence and Compensation of pH. Knowledge Base. hamiltoncompany.com
  4. HORIBA. Automatic Temperature Compensation in pH Measurement. horiba.com
  5. Metrohm. How Temperature Influences the pH Value. (2023). metrohm.com
  6. Mantech. Why is the pH Electrode Slope and Measuring Characteristics Different for Higher pH Values, for ex pH 13? mantech-inc.com
  7. Lab-training.com. pH Measurements of Uncommon Solutions. (2014). lab-training.com
  8. Badan Standardisasi Nasional. SNI 6989.11:2019 – Air dan air limbah – Bagian 11: Cara uji derajat keasaman (pH) dengan menggunakan pH meter. pesta.bsn.go.id
  9. Ismaini, Tosani, N., & Sutanto, D. (2023). Perbandingan Unjuk Kinerja Berbagai Tipe pH Meter Digital Pada Pengujian Sampel Tanah dan Air Berdasarkan ISO 17025:2017. Jurnal Penelitian Sains, 25(1), 24–28. ejurnal.mipa.unsri.ac.id

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.