Teknisi melakukan pengukuran kekerasan logam dengan Leeb hardness tester pada posisi vertikal dan horizontal

Hasil Hardness Berubah Saat Posisi Alat Diubah? 5 Hal tentang Arah Tumbukan Leeb yang Sering Terlewat

Daftar Isi

Pengukuran pertama dilakukan dari atas dan hasil hardness terlihat normal. Ketika alat digunakan pada sisi komponen yang sama dalam posisi horizontal, nilainya berubah. Apakah materialnya tidak seragam, atau justru ada faktor lain yang belum diperhitungkan?

Pada pengujian kekerasan menggunakan metode Leeb, posisi dan arah tumbukan bukan sekadar soal kenyamanan operator. Metode ini bekerja secara dinamis melalui tumbukan dan pantulan impact body. Karena itu, arah pengujian menjadi salah satu parameter yang perlu diperhatikan ketika hasil digunakan untuk keputusan quality control.

Hal ini sangat relevan ketika inspeksi dilakukan langsung pada komponen yang tidak dapat dipindahkan, seperti shaft, struktur baja, mesin, pipa, atau komponen besar lainnya. Operator mungkin harus mengukur dari atas, samping, bahkan pada posisi yang tidak sama dengan pengujian sebelumnya.

Jawaban singkat: arah tumbukan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan pada Leeb hardness testing. SNI 8461:2017 menyediakan ketentuan dan tabel koreksi arah tumbukan untuk beberapa jenis impact device. Karena itu, ketika posisi pengujian berubah, operator perlu memastikan pengaturan alat, tipe impact device, kondisi benda kerja, dan prosedur koreksi sesuai metode yang digunakan.

Kenapa Arah Tumbukan Bisa Menjadi Penting pada Metode Leeb?

Leeb hardness testing menggunakan prinsip rebound.

Secara sederhana, impact body bergerak menuju permukaan benda uji, mengenai material, kemudian memantul kembali. Hubungan antara kecepatan sebelum dan setelah tumbukan digunakan sebagai dasar untuk menentukan nilai hardness Leeb.

Karena terdapat pergerakan impact body, orientasi pengujian terhadap gravitasi menjadi salah satu bagian yang perlu dipertimbangkan dalam metode ini.

Inilah yang membedakan pengujian dari atas dengan pengukuran pada posisi lain.

SNI 8461:2017 tentang Metode Uji Kekerasan Leeb untuk Besi dan Baja bahkan menyediakan tabel koreksi arah tumbukan untuk beberapa perangkat, antara lain tipe D, D+15, E, C, G, DL, dan S.

Artinya, arah tumbukan bukan detail yang boleh diabaikan ketika prosedur memang mensyaratkan koreksi.

5 Hal tentang Arah Tumbukan Leeb yang Sering Terlewat

1. Posisi Alat Bukan Hanya Masalah Ergonomi Operator

Di lapangan, posisi pengukuran sering ditentukan oleh bentuk komponen.

Misalnya:

  • bagian atas shaft dapat diukur dari atas;
  • sisi housing harus diukur horizontal;
  • bagian bawah struktur mungkin mengharuskan pengujian dari arah berbeda;
  • komponen yang sudah terpasang tidak selalu dapat diputar.

Jika operator menganggap semua posisi identik tanpa melihat pengaturan metode, maka perubahan pembacaan dapat langsung dianggap sebagai variasi material.

Padahal sebelum sampai pada kesimpulan tersebut, arah pengujian perlu dicatat dan dievaluasi.

Prinsip sederhananya:

jika kondisi pengukuran berubah, catat perubahan tersebut sebelum membandingkan angka.

2. Tipe Impact Device Menentukan Acuan yang Digunakan

Tidak semua impact device Leeb identik.

Beberapa tipe yang dikenal dalam pengujian Leeb antara lain:

  • Type D;
  • DC;
  • D+15;
  • DL;
  • C;
  • G;
  • E;
  • dan tipe lainnya sesuai sistem instrumen.

Masing-masing dirancang untuk karakter aplikasi tertentu.

SNI 8461:2017 juga tidak memberikan satu tabel koreksi yang digunakan secara sembarangan untuk semua impact device. Tabel koreksi dibedakan menurut jenis perangkat.

Karena itu, QC perlu mengetahui impact device apa yang sebenarnya sedang digunakan.

Untuk pembahasan lebih spesifik mengenai karakteristik perangkat Type D, baca artikel Alat-Test.com tentang Leeb Probe Type D untuk hardness tester.

3. Material yang Sama Bisa Terlihat Berbeda Jika Kondisi Pengukurannya Tidak Sama

Misalnya QC melakukan pengukuran ilustratif pada area yang relatif berdekatan.

PengukuranPosisiHasil
1Dari atas520 HL
2Dari atas522 HL
3Horizontal508 HL
4Horizontal510 HL

Angka pada tabel di atas hanya contoh ilustrasi, bukan nilai koreksi atau acceptance criteria.

Kesalahan yang mungkin terjadi adalah langsung mengatakan:

“Bagian samping material lebih lunak.”

Padahal sebelum membuat kesimpulan tersebut, QC perlu memastikan:

  • apakah arah pengukuran sudah diatur dengan benar;
  • apakah alat melakukan kompensasi sesuai desainnya;
  • apakah tipe impact device sama;
  • apakah permukaan kedua titik sebanding;
  • apakah benda kerja sama-sama stabil;
  • dan apakah titik tersebut memang mewakili material yang ingin dibandingkan.

Jika faktor pengukuran belum dibuat setara, selisih angka belum cukup untuk membuktikan adanya variasi sifat material.

4. Fitur Koreksi pada Alat Tidak Berarti Operator Boleh Mengabaikan Arah

Beberapa instrumen modern dapat menyediakan pengaturan atau kompensasi terkait arah pengujian. Namun keberadaan fitur tersebut tidak menghilangkan tanggung jawab operator untuk memahami posisi pengukurannya.

Ada beberapa risiko yang tetap mungkin terjadi:

  • arah yang dipilih pada alat tidak sama dengan arah pengukuran sebenarnya;
  • operator lupa mengubah setting setelah berpindah posisi;
  • data lama dibandingkan dengan data baru tanpa mencatat orientasi;
  • perangkat tumbukan diganti tetapi parameter belum diperiksa kembali.

Karena itu, sebelum melakukan satu rangkaian pengujian, QC sebaiknya memastikan seluruh pengaturan penting telah dikonfirmasi.

Untuk alat yang tidak melakukan kompensasi secara otomatis, ikuti prosedur koreksi dari standar atau manual yang berlaku.

Jangan membuat angka koreksi sendiri berdasarkan perkiraan.

5. Jangan Menyalahkan Arah Tumbukan untuk Semua Perbedaan Hasil

Arah pengukuran memang penting, tetapi bukan satu-satunya penyebab variasi hardness.

Jika dua hasil berbeda, QC juga perlu memeriksa faktor lain seperti:

  • kondisi permukaan;
  • karat, scale, coating, atau minyak;
  • kekasaran area uji;
  • massa benda kerja;
  • ketebalan material;
  • stabilitas benda ketika terkena impact;
  • geometri permukaan;
  • jarak antar titik;
  • kondisi impact body;
  • pemilihan kelompok material;
  • dan kondisi hardness tester.

Dengan kata lain, arah tumbukan sebaiknya menjadi bagian dari troubleshooting, bukan satu-satunya tersangka.

SNI 8461:2017 Mengatur Apa Saja?

Indonesia mempunyai acuan nasional untuk metode Leeb melalui SNI 8461:2017 – Metode Uji Kekerasan Leeb untuk Besi dan Baja.

Standar tersebut merupakan adopsi identik ASTM A956-12 dan mencakup beberapa bagian penting, termasuk:

  • penentuan nilai kekerasan Leeb;
  • persyaratan benda uji;
  • perangkat tumbukan;
  • arah tumbukan dan koreksinya;
  • verifikasi perangkat;
  • serta kalibrasi blok standar.

Dalam dokumen tersebut terdapat tabel koreksi arah tumbukan untuk beberapa jenis impact device.

Artikel ini sengaja tidak menyalin tabel tersebut secara lengkap. Untuk pekerjaan yang membutuhkan angka koreksi, operator sebaiknya merujuk langsung pada standar dan manual instrumen yang digunakan.

Apakah Semua Hasil Harus Dikonversi?

Tidak selalu.

Leeb menghasilkan nilai hardness dalam skala HL sesuai tipe impact device. Banyak instrumen kemudian menyediakan konversi ke skala lain seperti:

  • HRC;
  • HRB;
  • HRA;
  • HB;
  • HV;
  • atau HS.

Namun koreksi arah tumbukan dan konversi skala adalah dua hal yang berbeda.

Koreksi arah berkaitan dengan kondisi pengujian Leeb.

Konversi hardness berkaitan dengan penyajian hasil dalam skala kekerasan lainnya berdasarkan hubungan yang berlaku untuk material tertentu.

Keduanya jangan dicampur menjadi satu langkah tanpa memahami fungsi masing-masing.

Apa yang Harus Dicatat Saat Menguji dari Beberapa Posisi?

Jika pengujian dilakukan sebagai bagian dari quality control atau inspeksi yang perlu ditelusuri kembali, hasil sebaiknya tidak hanya ditulis sebagai satu angka.

Contoh pencatatan yang lebih informatif:

DataContoh Informasi
ID KomponenShaft-02
TitikP1
MaterialSesuai dokumen material
Impact DeviceType D
ArahDicatat sesuai posisi pengujian
SkalaHL / skala yang digunakan
HasilNilai aktual pengujian
OperatorID atau nama operator
CatatanKondisi permukaan atau informasi relevan

Dengan data seperti ini, jika dua hasil terlihat berbeda, QC mempunyai konteks untuk menelusuri penyebabnya.

Contoh Kasus: Mengukur Shaft yang Sudah Terpasang

Bayangkan sebuah shaft besar masih terpasang pada mesin sehingga tidak memungkinkan seluruh permukaan diuji dari posisi yang sama.

QC ingin memeriksa beberapa titik:

  • bagian atas;
  • sisi kiri;
  • sisi kanan;
  • dan area tertentu yang dicurigai mengalami perubahan.

Workflow yang lebih aman adalah:

  1. Tentukan tujuan pemeriksaan.
    Apakah mencari variasi hardness, memverifikasi hasil proses, atau melakukan maintenance inspection?
  2. Identifikasi impact device.
    Pastikan tipe perangkat diketahui.
  3. Tentukan titik uji.
    Buat kode P1, P2, P3, dan seterusnya.
  4. Catat arah pada setiap titik.
    Jangan mengandalkan ingatan operator setelah pengujian selesai.
  5. Periksa kondisi permukaan.
    Pastikan area yang dibandingkan mempunyai kondisi yang layak diuji.
  6. Pastikan pengaturan alat sesuai.
    Ikuti manual dan prosedur metode Leeb yang digunakan.
  7. Lakukan pengukuran sesuai prosedur.
    Jaga konsistensi kondisi sebanyak mungkin.
  8. Review hasil bersama konteksnya.
    Jangan langsung menyimpulkan sifat material hanya dari perbedaan satu atau dua angka.

Kapan Perbedaan Angka Perlu Diinvestigasi Lebih Lanjut?

Setelah arah, kondisi benda, permukaan, dan pengaturan alat sudah dipastikan benar, variasi hardness yang masih muncul dapat menjadi informasi yang layak diperiksa lebih lanjut.

Misalnya terdapat:

  • satu area yang terus menunjukkan nilai lebih rendah;
  • perbedaan konsisten antara area hasil heat treatment dan area lainnya;
  • anomali dekat sambungan las;
  • atau pola perubahan pada beberapa titik yang berdekatan.

Penelitian Universitas Negeri Surabaya yang menggunakan Leeb hardness tester pada spesimen baja juga melakukan pengukuran pada titik-titik yang telah ditentukan, bukan memperlakukan seluruh permukaan sebagai satu nilai tunggal.

Dalam inspeksi bejana tekan, penelitian Universitas Sriwijaya pada 2026 juga menggunakan Leeb hardness testing sebagai salah satu bagian dari asesmen kondisi material bersama metode pemeriksaan lainnya.

Hal tersebut memperlihatkan bahwa hardness menjadi lebih bermakna ketika lokasi, metode, dan tujuan pengujiannya jelas.

PCE-2500N untuk Pengujian Kekerasan Logam dengan Type D

Untuk kebutuhan pengujian kekerasan logam secara portabel menggunakan metode rebound, salah satu perangkat yang tersedia di Alat-Test.com adalah Durometer for Metals PCE-2500N.

PCE-2500N menggunakan Type D striker dengan prinsip pengukuran rebound. Berdasarkan halaman produknya, perangkat ini mendukung pengukuran pada sejumlah kelompok logam seperti baja, tool steel, stainless steel, besi cor, aluminium cor, kuningan, perunggu, dan tembaga.

Skala hasil yang tersedia meliputi:

  • HLD;
  • HRC;
  • HRB;
  • HRA;
  • HB;
  • HV;
  • dan HS.

Desainnya yang portabel membuat perangkat seperti ini relevan ketika inspeksi harus dilakukan langsung pada komponen atau area produksi.

Namun seperti alat Leeb lainnya, penggunaan yang baik tidak berhenti pada menekan impact device dan membaca angka.

Jenis material, kondisi benda kerja, permukaan, titik pengujian, serta prosedur pengukuran tetap perlu diperhatikan.

Checklist Cepat Sebelum Mengukur dari Arah Berbeda

PemeriksaanPertanyaan
Impact deviceApakah tipe perangkat sudah diketahui?
ArahApakah orientasi setiap pengukuran sudah dicatat?
Setting alatApakah pengaturan sesuai posisi pengukuran dan manual?
KoreksiJika diperlukan, apakah menggunakan acuan yang benar?
MaterialApakah kelompok material yang dipilih sesuai?
PermukaanApakah area pengujian bersih dan layak?
StabilitasApakah benda kerja stabil ketika menerima impact?
TitikApakah lokasi pengukuran representatif?
Verifikasi alatApakah pemeriksaan alat sudah dilakukan sesuai prosedur?
DokumentasiApakah hasil memiliki konteks yang cukup untuk ditelusuri?

FAQ tentang Arah Tumbukan Leeb Hardness Tester

Apakah arah pengukuran memengaruhi hasil Leeb hardness test?

Arah tumbukan merupakan salah satu parameter yang diatur dalam metode Leeb. SNI 8461:2017 menyediakan koreksi arah tumbukan untuk beberapa jenis impact device. Pengguna perlu mengikuti manual instrumen serta standar yang digunakan.

Apakah pengukuran horizontal selalu salah?

Tidak. Leeb hardness testing dapat dilakukan pada berbagai orientasi sesuai kemampuan perangkat dan prosedur yang berlaku. Yang penting adalah kondisi dan pengaturan pengujian sesuai dengan metode.

Kenapa hasil dari atas dan dari samping bisa berbeda?

Perbedaan dapat berkaitan dengan arah tumbukan, tetapi juga dapat berasal dari kondisi permukaan, variasi material, stabilitas benda kerja, pemilihan titik, atau kondisi instrumen. Karena itu, faktor-faktor tersebut perlu diperiksa secara sistematis.

Apakah semua Leeb hardness tester memakai koreksi yang sama?

Tidak sebaiknya diasumsikan demikian. SNI 8461:2017 membedakan koreksi berdasarkan jenis impact device. Selalu identifikasi tipe perangkat yang digunakan.

Apakah Type D dapat digunakan untuk semua pekerjaan hardness?

Tidak. Type D merupakan salah satu impact device Leeb yang umum digunakan, tetapi kesesuaian tetap bergantung pada karakter benda kerja, material, geometri, massa, ketebalan, kondisi permukaan, dan kebutuhan inspeksi.

Apakah hasil Leeb harus selalu dikonversi ke HRC atau HB?

Tidak. HL merupakan nilai hardness Leeb. Konversi ke skala lain dilakukan ketika memang diperlukan dan harus memperhatikan material serta hubungan konversi yang relevan.

Kesimpulan

Jika hasil hardness berubah ketika posisi alat berubah, jangan langsung menyimpulkan bahwa material bermasalah.

Dalam metode Leeb, arah tumbukan merupakan salah satu parameter pengujian yang perlu diperhatikan. SNI 8461:2017 menyediakan ketentuan koreksi untuk beberapa tipe impact device, sehingga operator perlu mengetahui perangkat yang digunakan dan mengikuti prosedur yang sesuai.

Pada saat yang sama, arah bukan satu-satunya faktor. Permukaan, massa, ketebalan, kestabilan benda, lokasi titik, kelompok material, dan kondisi instrumen juga dapat memengaruhi kualitas data.

Untuk kebutuhan pengujian kekerasan logam secara portabel dengan Type D striker, PCE-2500N dapat dipertimbangkan sesuai karakter material dan kondisi inspeksi.

Prinsip akhirnya sederhana: ketika posisi pengukuran berubah, jangan hanya mencatat angkanya. Catat juga bagaimana angka tersebut diperoleh.

Referensi

  1. Badan Standardisasi Nasional / Direktorat Jenderal Bina Marga.
    SNI 8461:2017 – Metode Uji Kekerasan Leeb untuk Besi dan Baja (ASTM A956-12, IDT).
    Standar mencakup metode pengujian, perangkat tumbukan, koreksi arah tumbukan, verifikasi alat, dan kalibrasi blok standar.
    Lihat sumber resmi.
  2. Irfandi, T. A. (2023).
    Analisis Variasi Jarak Anoda Katoda dan Waktu Pelapisan Hardchrome terhadap Kekerasan dan Ketebalan Lapisan.
    Jurnal Teknik Mesin, Universitas Negeri Surabaya.
    Penelitian menggunakan Leeb hardness tester pada beberapa lokasi pengujian spesimen baja ST41.
    Lihat referensi.
  3. Analisis Perhitungan Kekuatan Konstruksi Bejana Tekan Berdasarkan Hasil Inspeksi.
    Jurnal Rekayasa Mesin, Universitas Sriwijaya, 2026.
    Penelitian menggunakan Leeb Hardness Tester sebagai salah satu metode dalam asesmen kondisi material bejana tekan.
    Lihat referensi.

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.