PCE-PH20S pH meter dengan elektroda terhubung untuk mengukur pH wine di laboratorium.

pH Rendah pada Anggur Belum Tentu Berarti Bebas dari Risiko Mikroba

Daftar Isi

pH yang rendah pada anggur memang membantu menekan laju pertumbuhan sebagian besar khamir dan bakteri perusak, tetapi angka itu sendiri tidak pernah bekerja sendirian sebagai jaminan keamanan. Yang benar-benar menentukan besarnya perlindungan yang diperoleh adalah seberapa besar proporsi sulfur dioksida (SO2) yang berada dalam bentuk molekul aktifnya pada pH tersebut, dan proporsi ini bisa berubah signifikan hanya karena pergeseran pH yang di layar alat ukur terlihat kecil, misalnya dari 3,4 ke 3,7.

Persoalannya menjadi lebih rumit karena pH dan total keasaman (titratable acidity/TA) tidak selalu bergerak searah. Dua sampel dengan pH yang sama bisa terasa sangat berbeda tingkat keasamannya di lidah, tergantung komposisi asam dan kandungan mineral di dalamnya. Pembuat wine skala kecil maupun rumahan yang hanya mengandalkan satu angka pH sebagai indikator “aman atau tidak” berisiko salah membaca situasi produknya, baik dengan menambahkan SO2 secara berlebihan maupun kurang melindungi hasil fermentasinya dari kontaminasi.

Daftar Isi

Kenapa pH Begitu Menentukan Mutu Anggur?

pH memengaruhi hampir semua aspek anggur yang bisa dirasakan maupun yang tidak terlihat langsung: rasa, warna, laju oksidasi, hingga daya tahan produk terhadap mikroorganisme perusak. Must dan wine pada umumnya berada pada rentang pH 3,0 sampai 4,0, sementara total keasamannya biasanya berkisar 0,3 sampai 1,5 gram per 100 ml, menurut catatan enologi dari Virginia Tech Department of Food Science and Technology.

Pengaruh pH tidak berhenti pada rasa. Kecepatan pertumbuhan khamir pun berbeda cukup jauh hanya karena selisih satu unit pH: sel khamir tumbuh kira-kira dua kali lebih cepat pada pH 4 dibandingkan pH 3, meskipun laju fermentasinya sendiri relatif mirip pada rentang tersebut. Bakteri asam laktat (lactic acid bacteria/LAB) punya pola berbeda lagi — pertumbuhannya justru terstimulasi pada pH yang lebih tinggi dan umumnya baru tertekan mendekati pH 3,2, sementara enzim yang bertanggung jawab pada fermentasi malolaktik justru bekerja optimal pada pH sekitar 5,6, jauh di atas pH wine itu sendiri.

Implikasinya, pH bukan sekadar angka kosmetik di label analisis. Ia menjadi salah satu pengungkit utama yang menentukan bagaimana proses fermentasi berjalan, seberapa besar risiko kontaminasi selama penyimpanan, dan seberapa efektif bahan tambahan seperti SO2 bekerja melindungi produk — tiga hal yang akan dibahas lebih rinci pada bagian berikutnya.

Apakah pH Rendah Otomatis Berarti Aman dari Kontaminasi Mikroba?

Tidak selalu. pH yang rendah memang menciptakan kondisi yang kurang bersahabat bagi banyak mikroorganisme, tetapi perlindungan nyata terhadap kontaminasi sebagian besar datang dari interaksi pH dengan SO2, bukan dari pH itu sendiri sebagai angka tunggal. Ketika SO2 dilarutkan dalam wine, ia berada dalam kesetimbangan antara tiga bentuk: molekul (SO2), bisulfit (HSO3-), dan sulfit (SO32-). Hanya bentuk molekul yang memiliki daya antimikroba paling signifikan, dan proporsi bentuk ini sangat bergantung pada pH larutan.

Semakin rendah pH, semakin besar porsi SO2 bebas yang berada dalam bentuk molekul aktif. Pada pH 3,0, jumlah SO2 bebas dalam bentuk molekul bisa sekitar sepuluh kali lebih banyak dibandingkan pada pH 4,0 untuk konsentrasi SO2 bebas yang sama. Konsekuensinya, wine dengan pH tinggi kehilangan SO2 bebas lebih cepat dan membutuhkan penambahan SO2 dalam jumlah lebih besar untuk mencapai tingkat perlindungan yang setara.

Masalahnya, tidak ada satu ambang SO2 bebas yang berlaku untuk semua organisme maupun semua kondisi wine. Sebagai gambaran umum dari sumber yang sama, level SO2 bebas untuk menahan pertumbuhan khamir pada wine meja dengan kadar alkohol sekitar 12% dan pH di bawah 3,4 berada di kisaran 35 mg/L, sementara bakteri asam asetat umumnya sudah tertekan dengan sekitar 20 mg/L SO2 bebas, dan bakteri asam laktat mati pada kisaran 25–45 mg/L tergantung genus, spesies, serta strainnya.

MikroorganismePerkiraan Kebutuhan SO2 BebasCatatan Kondisi
Khamir liar dan Saccharomyces± 35 mg/LWine meja, alkohol ± 12%, pH < 3,4
Bakteri asam asetat (Acetobacter)± 20 mg/LUmumnya sensitif terhadap SO2 bebas
Bakteri asam laktat (LAB)25–45 mg/LBervariasi menurut genus, spesies, strain
Target praktis saat pembotolan± 30 mg/LKebiasaan umum di industri, disesuaikan dengan pH dan kimia wine

Sumber: Zoecklein, B.W., Virginia Tech Enology — Controlling Microbial Growth in Wine.

Karena hubungan pH dan efektivitas SO2 ini bersifat eksponensial, bukan linear, kesalahan pembacaan pH sebesar 0,2–0,3 unit saja — yang bisa terjadi akibat kalibrasi kurang tepat atau suhu sampel yang tidak konsisten — dapat membuat perhitungan kebutuhan SO2 meleset cukup jauh dari kondisi sebenarnya.

Kenapa pH dan Total Keasaman (TA) Bisa Menunjukkan Arah yang Berbeda?

pH mengukur konsentrasi ion hidrogen bebas dalam larutan, sedangkan total keasaman (TA) mengukur jumlah keseluruhan asam yang dapat dititrasi, termasuk bagian yang belum terdisosiasi. Keduanya berasal dari kimia yang berbeda, sehingga tidak ada hubungan langsung yang bisa diprediksi begitu saja antara satu dengan yang lain.

Wine dengan TA tinggi ternyata bisa saja tetap memiliki pH yang tinggi pula — kondisi yang sering ditemukan pada wine dengan kandungan kalium tinggi. Pada kasus seperti ini, anion asam organik jumlahnya jauh melebihi proton bebas, sehingga fraksi proton yang benar-benar terdisosiasi menjadi kecil meski total asamnya besar. Artinya, mengukur TA saja tidak bisa menggantikan pengukuran pH, dan sebaliknya, karena keduanya menjawab pertanyaan yang berbeda: TA lebih menggambarkan rasa tajam yang dirasakan lidah dan kebutuhan penyesuaian asam, sementara pH lebih menentukan stabilitas kimia dan mikrobiologis.

Pengaruh pH pada stabilitas ini terbukti bukan sekadar soal mikroba. Penelitian pada wine merah tropis yang dipublikasikan di jurnal OENO One tahun 2025 menemukan bahwa must dengan pH tinggi yang mengalami maserasi singkat menghasilkan ekstraksi senyawa fenolik yang lebih rendah, sehingga potensi antioksidan dan stabilitas kimianya ikut menurun; kadar asetaldehida yang berkorelasi kuat dengan konsumsi SO2 bebas dan perubahan warna turut menjadi indikator proses oksidatif yang berjalan lebih cepat pada wine dengan pH lebih tinggi. Studi ini bisa dibaca selengkapnya melalui OENO One.

Dengan kata lain, pH yang tidak terkontrol berdampak jauh melampaui urusan mikroba — ia ikut menentukan seberapa cepat warna memudar dan seberapa stabil wine tersebut selama penyimpanan.

Studi Kasus: Bagaimana pH Menentukan Ambang Perlindungan terhadap Brettanomyces

Salah satu ilustrasi paling konkret tentang bagaimana pH bukan angka yang berdiri sendiri datang dari model probabilistik yang dipublikasikan di International Journal of Food Microbiology pada 2014. Penelitian ini membangun model pertumbuhan/tidak-tumbuh untuk khamir perusak Dekkera/Brettanomyces bruxellensis berdasarkan kombinasi kadar alkohol (10–15% v/v), pH (3,4–4,0), dan SO2 bebas (0–50 mg/L), menggunakan waktu (7, 14, 21, dan 30 hari) sebagai variabel tambahan, dari total 756 data pertumbuhan/tidak-tumbuh pada media serupa wine.

Hasilnya menunjukkan bahwa pada kadar alkohol 12,5% dan pH 3,7, dibutuhkan sekitar 30 mg/L SO2 bebas untuk menekan probabilitas pertumbuhan khamir tersebut hingga 0,01 dalam jangka waktu 7 hari. Namun, untuk mencapai probabilitas tidak-tumbuh sebesar 0,99 selama 30 hari pada kondisi pH dan alkohol yang sama, konsentrasi SO2 bebas yang dibutuhkan naik menjadi sekitar 48 mg/L.

Artinya, angka pH 3,7 yang sama bisa terasa “aman” atau “berisiko”, tergantung berapa lama perlindungan itu harus bertahan dan berapa target tingkat kepastian yang diinginkan. Ini menegaskan bahwa pH hanyalah satu variabel dalam model risiko, bukan ambang tunggal yang berdiri sendiri. Detail metodologi dan hasil lengkapnya dapat dilihat melalui jurnal aslinya.

Studi Kasus Lokal: pH Awal Fermentasi dan Mutu Wine Salak Bali

Konteks pH juga relevan bagi produsen wine buah lokal di Indonesia, bukan hanya wine anggur. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Teknologi Industri & Hasil Pertanian menguji pengaruh pH awal fermentasi terhadap karakteristik wine salak Bali, dengan lima level pH awal yang diuji: 3,5; 4; 4,5; 5; dan 5,5, dikombinasikan dengan tiga merek ragi kering yang berbeda.

Interaksi antara jenis ragi dan pH awal fermentasi terbukti berpengaruh sangat nyata terhadap kadar etanol, kadar gula reduksi, dan pH akhir, serta berpengaruh nyata terhadap kadar total asam. Perlakuan terbaik diperoleh pada pH awal 4, dengan hasil akhir berupa kadar etanol 12,40%, kandungan metanol negatif, gula reduksi 5,87%, total asam 0,20%, dan pH akhir turun menjadi 3,5 setelah fermentasi selesai.

Temuan ini memperlihatkan dua hal penting. Pertama, pH bukan kondisi statis — nilainya bergeser selama proses fermentasi berlangsung, sehingga pengukuran satu kali di awal tidak cukup untuk menggambarkan kondisi produk di akhir proses. Kedua, penyesuaian pH awal yang tepat justru menjadi salah satu variabel kunci yang menentukan hasil akhir fermentasi, bukan sekadar angka yang dicatat untuk dokumentasi. Ringkasan penelitian ini dapat ditelusuri melalui basis data AGRIS FAO.

Kenapa Kalibrasi Menentukan Apakah Angka pH Bisa Dipercaya?

Prinsip pengukuran pH pada dasarnya sederhana: alat mengukur beda potensial antara dua elektroda yang tercelup dalam larutan uji, di mana satu elektroda memiliki potensial yang berfungsi terhadap pH larutan, sementara elektroda satunya berfungsi sebagai referensi dengan potensial tetap dan diketahui. Namun, beda potensial ini hanya bisa diterjemahkan menjadi angka pH yang akurat apabila alat sudah dikalibrasi dengan larutan buffer yang diketahui nilainya secara pasti.

Metode acuan internasional untuk penentuan pH pada wine dan must, OIV-MA-AS313-15 yang diterbitkan oleh International Organisation of Vine and Wine (OIV), mensyaratkan kalibrasi dilakukan pada suhu 20°C menggunakan larutan buffer yang tertelusur ke standar internasional (SI). Menariknya, salah satu buffer acuan yang diperbolehkan dalam metode ini adalah larutan kalium hidrogen tartrat dengan pH sekitar 3,57 pada 20°C — nilai yang jauh lebih dekat ke rentang pH wine dibanding buffer netral pH 7 yang lebih umum digunakan untuk kalibrasi harian.

Prinsip inilah yang mendasari praktik “kalibrasi mengapit” (bracket calibration): titik kalibrasi sebaiknya berada di sekitar rentang nilai yang akan diukur, bukan sekadar titik pH 7 yang netral. Pada alat dengan tiga titik kalibrasi otomatis di pH 4, 7, atau 10, titik pH 4 menjadi acuan yang paling relevan untuk pengukuran wine, karena posisinya paling dekat dengan rentang pH sampel yang sebenarnya dibandingkan titik 7 atau 10. Larutan buffer yang sudah lama terbuka, terkontaminasi, atau melewati masa simpannya juga perlu diganti sebelum kalibrasi ulang dilakukan, karena buffer yang sudah menyerap CO2 dari udara atau tercemar sisa sampel sebelumnya akan menggeser titik acuan tanpa disadari.

Kenapa Suhu Memengaruhi Pembacaan pH?

Respons elektroda kaca terhadap ion hidrogen bersifat bergantung suhu — inilah salah satu alasan mengapa OIV secara khusus menetapkan suhu kalibrasi standar di 20°C dalam metode acuannya, dan bukan suhu ruang yang bisa berubah-ubah. Jika suhu saat kalibrasi berbeda jauh dari suhu saat sampel diukur, potensi elektroda yang terbaca ikut bergeser meskipun pH larutan yang sebenarnya tidak berubah.

Pada alat pH meter portabel dengan elektroda eksternal seperti yang umum dipakai untuk wine, kompensasi suhu otomatis (ATC) sering kali tidak tersedia sebagai fitur bawaan — kondisi ini juga berlaku pada seri Environmental Meter PCE-PH20WINE. Tanpa ATC, konsistensi suhu menjadi tanggung jawab operator: idealnya kalibrasi dan pengukuran sampel dilakukan pada rentang suhu ruang yang relatif serupa, umumnya di kisaran 15–35°C, agar kedua pembacaan berada pada kondisi yang sebanding.

Implikasinya, dua hasil pengukuran tidak boleh dibandingkan begitu saja jika salah satunya diambil dari sampel yang baru keluar dari pendingin dan satunya dari sampel bersuhu ruang. Selisih yang muncul bisa jadi murni akibat perbedaan suhu, bukan perubahan pH yang sesungguhnya. Praktik yang lebih aman adalah mencatat suhu sampel bersamaan dengan nilai pH, dan membiarkan sampel menyesuaikan diri ke suhu ruang sebelum diukur apabila presisi tinggi dibutuhkan.

Berapa Selisih pH yang Benar-Benar Bermakna?

Resolusi dan akurasi adalah dua hal berbeda yang sering tertukar. Resolusi 0,01 pH berarti alat mampu menampilkan angka hingga dua desimal, tetapi itu tidak sama dengan tingkat kepastian bahwa angka tersebut benar hingga dua desimal itu juga. Akurasi instrumen biasanya berbeda-beda tergantung rentang pH yang sedang diukur, seperti terlihat pada tabel berikut untuk pH meter tipe elektroda eksternal dengan rentang pengukuran 0,00–14,00 pH dan resolusi 0,01 pH.

Rentang pHAkurasi
1,00 – 3,90 pH± 0,2 pH
4,00 – 4,90 pH± 0,1 pH
5,00 – 9,00 pH± 0,07 pH
9,10 – 10,00 pH± 0,1 pH
10,00 – 13,00 pH± 0,2 pH

Perhatikan bahwa rentang pH wine (kira-kira 2,9–4,0) sebagian besar berada di zona akurasi ± 0,2 pH, bukan di zona paling presisi ± 0,07 pH yang justru berlaku untuk larutan mendekati netral. Sebagai ilustrasi saja — bukan hasil pengujian nyata — bayangkan dua pengukuran pada sampel yang sama: pembacaan pertama menunjukkan 3,24 dan pembacaan kedua, setelah kalibrasi ulang pada hari berikutnya, menunjukkan 3,31. Selisih 0,07 unit ini berada jauh di dalam rentang ketidakpastian instrumen pada pH di bawah 3,9, sehingga belum tentu mencerminkan perubahan nyata pada wine tersebut.

Implikasinya, perbedaan kecil antar-pengukuran sebaiknya tidak langsung diartikan sebagai tren atau perubahan nyata, kecuali didukung pengukuran berulang, kalibrasi yang konsisten, dan kondisi suhu yang sebanding satu sama lain.

Bagaimana Prosedur Pengukuran pH Anggur yang Tepat?

  1. Siapkan sampel pada suhu yang stabil — idealnya mendekati suhu ruang tempat kalibrasi dilakukan, sekitar 15–35°C.
  2. Gunakan larutan buffer kalibrasi yang masih segar, dan pilih titik kalibrasi yang paling dekat dengan rentang pH sampel, misalnya buffer pH 4 untuk pengukuran wine.
  3. Bilas elektroda dengan air suling atau air deionisasi sebelum elektroda pertama kali digunakan dan setiap kali berpindah larutan.
  4. Lakukan kalibrasi sesuai urutan titik buffer yang tersedia pada alat, dan bilas elektroda kembali di antara setiap perpindahan larutan buffer untuk mencegah kontaminasi silang.
  5. Celupkan elektroda ke dalam sampel hingga bagian sensor benar-benar terendam, tanpa menyentuh dasar atau dinding wadah.
  6. Tunggu hingga pembacaan stabil sebelum mencatat nilai — pada elektroda eksternal untuk wine, pembacaan umumnya mulai stabil dalam waktu kurang dari 30 detik pada sebagian besar sampel, meski beberapa larutan dengan konduktivitas sangat rendah bisa membutuhkan waktu sedikit lebih lama.
  7. Catat suhu sampel bersamaan dengan nilai pH, agar hasil dapat dibandingkan secara valid dengan pengukuran lain di kemudian hari.
  8. Bersihkan elektroda setelah selesai dan simpan sesuai anjuran agar sensor tidak mengering, karena elektroda glass yang mengering dapat kehilangan respons dan memerlukan waktu perendaman ulang sebelum bisa dipakai kembali secara akurat.

Apa Kesalahan Umum saat Mengukur pH Anggur?

  • Tidak membilas elektroda antar-larutan — sisa buffer atau sampel sebelumnya yang menempel bisa mencemari larutan berikutnya dan menggeser hasil pembacaan.
  • Mengabaikan perbedaan suhu antara kalibrasi dan pengukuran sampel, terutama pada alat tanpa kompensasi suhu otomatis, sehingga selisih yang muncul disalahartikan sebagai perubahan pH yang sesungguhnya.
  • Membandingkan dua hasil pengukuran dari kondisi kalibrasi yang berbeda seolah keduanya setara, padahal masing-masing bisa memiliki bias kalibrasi yang berbeda pula.
  • Menganggap pH sebagai pengganti pengukuran total keasaman (TA), padahal keduanya menjawab pertanyaan teknis yang berbeda dan sama-sama dibutuhkan untuk gambaran yang lengkap.
  • Menggunakan larutan kalibrasi yang sudah lama terbuka atau terkontaminasi, yang menggeser titik acuan kalibrasi tanpa disadari oleh operator.
  • Mencatat angka yang masih bergerak sebagai hasil akhir, padahal pembacaan belum benar-benar stabil.

Instrumen yang Cocok untuk Mengukur pH Anggur secara Konsisten

Mengukur pH wine secara konsisten membutuhkan elektroda yang memang dirancang untuk karakteristik cairan tersebut. Wine dan bir tergolong larutan dengan konduktivitas rendah, berbeda dari larutan akuatik pada umumnya, sehingga elektroda kombinasi generik yang lebih ditujukan untuk air atau larutan konduktif lain sering kali kurang optimal digunakan pada wine dalam jangka panjang.

Environmental Meter PCE-PH20WINE menggunakan elektroda eksternal PCE-PH-WINE dengan konektor BNC yang secara khusus ditujukan untuk wine, bir, dan larutan berkonduktivitas rendah lainnya. Elektroda ini memiliki badan kaca dengan sistem referensi AgCl (silver chloride) berlapis ganda, diafragma keramik, panjang batang 120 mm, diameter 12 mm, kabel sepanjang 1 meter, serta mampu bekerja pada rentang suhu 0–80°C dengan waktu respons di bawah 30 detik untuk mencapai 95% dari nilai akhirnya.

Unit ini mengukur pH pada rentang penuh 0,00–14,00 pH dengan resolusi 0,01 pH, dan akurasi yang bervariasi mengikuti tabel pada bagian sebelumnya — sesuatu yang penting dipahami saat menginterpretasikan hasil di rentang pH wine. Kalibrasi dilakukan secara otomatis pada tiga titik pilihan, yaitu pH 4, 7, atau 10, menggunakan larutan kalibrasi tanpa memerlukan sekrup penyetelan manual — seluruh proses kalibrasi dilakukan lewat keypad. Seperti dibahas pada bagian suhu, unit ini tidak dilengkapi kompensasi suhu otomatis, sehingga menjaga kesamaan suhu antara sesi kalibrasi dan pengukuran sampel tetap menjadi langkah penting untuk hasil yang bisa dibandingkan secara konsisten.

Fitur pendukung lain mencakup rumah unit tahan air dengan rating IP67, fungsi data-hold untuk mengunci angka pembacaan, layar yang dapat diputar untuk memudahkan pembacaan dari berbagai posisi, dan mode auto power-off untuk menghemat baterai. Alat ini beroperasi dengan empat baterai AAA 1,5V dan berdimensi ringkas 180 x 40 mm dengan bobot 220 gram, sehingga cukup portabel untuk dibawa berpindah antar-tangki maupun digunakan langsung di area produksi. Paket penjualan sudah mencakup elektroda PCE-PH-WINE, satu set baterai, kit kalibrasi berisi larutan pH 4 dan pH 7 (masing-masing 75 ml), serta buku petunjuk penggunaan, sehingga unit dapat langsung dipakai begitu diterima.

Karena elektrodanya memang ditujukan untuk larutan berkonduktivitas rendah secara umum, alat yang sama juga relevan bagi pelaku usaha yang memproduksi bir atau minuman fermentasi buah lain selain wine anggur, termasuk produsen wine buah lokal seperti yang dibahas pada studi kasus wine salak sebelumnya.

Kesimpulan

pH rendah membantu, tetapi tidak pernah berdiri sendiri sebagai jaminan keamanan sebuah wine. Perlindungan nyata terhadap kontaminasi ditentukan oleh interaksi pH dengan SO2 bebas, oleh konsistensi metode pengukuran, dan oleh bagaimana hasil itu dibandingkan dari waktu ke waktu.

Studi kasus internasional pada Brettanomyces menunjukkan bahwa angka pH yang sama bisa berarti “cukup aman” atau “masih berisiko” tergantung berapa lama perlindungan itu harus bertahan. Studi kasus lokal pada wine salak Bali menunjukkan bahwa pH bergeser sepanjang proses fermentasi, sehingga satu kali pengukuran di awal tidak cukup untuk menyimpulkan hasil akhir. Keduanya mengarah pada kesimpulan yang sama: pH adalah variabel yang harus dipantau secara konsisten, bukan angka yang cukup dicatat sekali lalu dilupakan.

Kalibrasi yang tepat, kesadaran terhadap pengaruh suhu, dan pemahaman soal akurasi versus resolusi instrumen adalah tiga hal yang membuat angka pH benar-benar bisa dipercaya sebagai dasar pengambilan keputusan — mulai dari penentuan waktu panen, penyesuaian SO2, hingga evaluasi stabilitas produk sebelum pembotolan.

Nilai pH adalah data. Seberapa aman dan seberapa stabil wine tersebut ditentukan oleh bagaimana data itu diukur, dibandingkan, dan dipahami dalam konteks yang tepat.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah alat ini cocok dipakai untuk mengukur pH must (sari buah) sebelum difermentasi, atau hanya untuk wine jadi?

Elektroda eksternal untuk larutan berkonduktivitas rendah ini dapat digunakan baik pada must maupun wine jadi, selama sampel dalam bentuk cair dan elektroda dapat tercelup dengan baik. Untuk must yang masih mengandung banyak padatan atau ampas, menyaring sebagian sampel terlebih dahulu membantu menjaga kebersihan sensor.

Berapa lama sebaiknya elektroda direndam sebelum pembacaan dianggap stabil?

Pada elektroda jenis ini, pembacaan umumnya mulai stabil dalam waktu kurang dari 30 detik untuk mencapai 95% nilai akhirnya. Namun, pada larutan dengan konduktivitas sangat rendah atau suhu yang jauh dari suhu kalibrasi, waktu stabilisasi bisa sedikit lebih lama.

Apakah pH meter ini perlu dikalibrasi ulang setiap kali sebelum dipakai?

Untuk pengukuran rutin harian pada kondisi kerja yang stabil, kalibrasi tidak selalu harus diulang setiap sesi, tetapi kalibrasi ulang secara berkala tetap dianjurkan untuk menjaga akurasi, terutama setelah elektroda disimpan dalam waktu lama, digunakan pada sampel dengan pH yang jauh berbeda, atau ketika hasil pengukuran terasa tidak konsisten dengan ekspektasi.

Kenapa dua sampel dari batch yang sama bisa menunjukkan pH sedikit berbeda?

Selisih kecil bisa muncul dari beberapa sumber sekaligus: perbedaan suhu sampel, kondisi kalibrasi yang tidak identik, homogenitas larutan yang belum merata, atau memang berada dalam rentang ketidakpastian akurasi instrumen itu sendiri. Selisih di bawah 0,1–0,2 unit pada rentang pH wine perlu dibaca dengan hati-hati, bukan langsung disimpulkan sebagai perubahan nyata.

Apakah alat ini bisa dipakai untuk mengukur pH bir, bukan hanya wine?

Bisa. Elektroda PCE-PH-WINE memang ditujukan untuk wine, bir, dan larutan akuatik berkonduktivitas rendah lainnya, sehingga cocok dipakai lintas produk bagi pelaku usaha yang memproduksi lebih dari satu jenis minuman fermentasi.

Bagaimana cara menyimpan elektroda agar tidak cepat rusak?

Elektroda glass sebaiknya tidak dibiarkan mengering; simpan sesuai anjuran penyimpanan pada buku petunjuk, umumnya dalam kondisi lembap atau terendam larutan penyimpanan yang sesuai. Elektroda yang mengering dapat kehilangan respons sementara dan memerlukan waktu perendaman ulang sebelum kembali akurat.

Apakah pH meter ini bisa menggantikan pengujian total keasaman (TA)?

Tidak. pH dan TA mengukur aspek kimia yang berbeda dan sama-sama dibutuhkan untuk gambaran yang lengkap — pH lebih menentukan stabilitas kimia dan mikrobiologis, sementara TA lebih menggambarkan tingkat keasaman yang dirasakan serta kebutuhan penyesuaian asam.

Kapan sebaiknya memilih versi dengan sertifikat kalibrasi ISO dibanding versi standar?

Versi dengan sertifikat kalibrasi ISO relevan bagi laboratorium atau fasilitas produksi yang memerlukan dokumentasi ketertelusuran kalibrasi formal untuk keperluan audit, akreditasi, atau sistem mutu internal. Untuk penggunaan rutin di lapangan atau skala produksi kecil, unit standar dengan kalibrasi tiga titik yang dilakukan sendiri secara berkala umumnya sudah memadai.

Rekomendasi Environmental Meter Unggulan untuk Kebutuhan Anda

Sumber dan Referensi

  1. International Organisation of Vine and Wine (OIV). pH (Method OIV-MA-AS313-15), Compendium of International Methods of Wine and Must Analysis. oiv.int
  2. Zoecklein, B.W. Controlling Microbial Growth in Wine (Wine Microbiology, Section 1), Virginia Tech Department of Food Science and Technology – Enology. enology.fst.vt.edu
  3. Sturm, M.E., Arroyo López, F.N., Garrido Fernández, A., Querol, A., Mercado, L.A., Ramírez, M.L., & Combina, M. (2014). A probabilistic model for the spoilage wine yeast Dekkera/Brettanomyces bruxellensis as a function of pH, ethanol and free SO2 using time as dummy variable. International Journal of Food Microbiology, 170, 83–90. doi.org/10.1016/j.ijfoodmicro.2013.10.019
  4. Alves, C.A.N., Biasoto, A.C.T., Nunes, G. da S., Nascimento, H.O. do, Nascimento, R.F. do, Oliveira, I.G. de, Leão, P.C. de S., & Vasconcelos, L.B. de (2025). Exploring the impact of elevated pH and short maceration on the deterioration of red wines: physical and chemical perspectives. OENO One, 59(1), 8111. doi.org/10.20870/oeno-one.2025.59.1.8111
  5. Oklahoma State University Extension. Understanding Free Sulfur Dioxide (FSO2) in Wine. extension.okstate.edu
  6. Lohenapessy, S., Gunam, I.B.W., & Arnata, I W. (2017). Pengaruh Berbagai Merek Dried Yeast (Saccharomyces sp.) dan pH Awal Fermentasi terhadap Karakteristik Wine Salak Bali. Jurnal Teknologi Industri & Hasil Pertanian, 22(2), 63–72. agris.fao.org

Bagikan artikel ini

Butuh Bantuan Pilih Alat?

Author picture

Tim customer service CV. Java Multi Mandiri siap melayani Anda!

Konsultasi gratis alat ukur dan uji yang sesuai kebutuhan Anda. Segera hubungi kami.