Apa Sebenarnya Medan Elektromagnetik?
Medan elektromagnetik atau electromagnetic field merupakan istilah luas yang mencakup medan listrik dan medan magnet. Medan listrik berkaitan dengan keberadaan tegangan listrik, sedangkan medan magnet terutama berkaitan dengan pergerakan muatan atau arus listrik. Pada frekuensi radio, kedua komponen tersebut membentuk gelombang elektromagnetik yang dapat merambat membawa energi.
Sumber elektromagnetik sehari hari dapat dikelompokkan secara sederhana berdasarkan frekuensinya. Jaringan listrik rumah di Indonesia bekerja pada frekuensi daya sekitar 50 Hz. Radio, Wi-Fi, Bluetooth, jaringan seluler, dan radar bekerja pada rentang frekuensi yang jauh lebih tinggi. Perbedaan tersebut bukan sekadar soal angka. Frekuensi menentukan bagaimana medan berinteraksi dengan tubuh dan menentukan besaran serta metode pengukuran yang tepat.
| Contoh sumber | Kelompok umum | Besaran yang sering diukur |
|---|---|---|
| Magnet permanen, magnet industri | Medan magnet statis | Magnetic flux density, T, mT, µT, atau Gauss |
| Kabel listrik, transformator, motor, peralatan listrik | Extremely low frequency atau ELF | Medan listrik V/m dan medan magnet µT atau mG |
| Radio, TV, komunikasi seluler | Radiofrequency atau RF | Electric field V/m, magnetic field A/m, power density W/m² |
| Wi-Fi dan Bluetooth | RF | V/m atau W/m², tergantung instrumen dan metode |
| 5G | RF, bergantung pita frekuensi | V/m, W/m², dan parameter dosimetri tertentu |
Apakah Semua “Radiasi Elektromagnetik” Sama?
Tidak. Istilah radiasi elektromagnetik mencakup spektrum yang sangat luas. Cahaya tampak sendiri merupakan bagian dari spektrum elektromagnetik. Pada energi yang lebih tinggi terdapat ultraviolet tertentu, sinar-X, dan sinar gamma. Di sisi energi yang lebih rendah terdapat radiofrequency, microwave, serta medan frekuensi rendah dari sistem tenaga listrik.
Perbedaan pentingnya adalah antara radiasi pengion dan radiasi nonpengion. Sinar-X dan sinar gamma termasuk radiasi pengion karena mempunyai energi foton yang cukup untuk melakukan ionisasi. Medan listrik 50 Hz, Wi-Fi, Bluetooth, radio, dan sinyal telekomunikasi termasuk radiasi atau medan elektromagnetik nonpengion.
Konsekuensi praktisnya sederhana: EMF meter untuk medan listrik, medan magnet, atau RF tidak dapat digunakan untuk mengukur sinar-X atau sinar gamma. Pengukuran radiasi pengion membutuhkan instrumen dan metode dosimetri yang berbeda. Kesalahan ini cukup umum ketika semua jenis “radiasi” dianggap dapat dibaca dengan satu alat.
Besaran Apa Saja yang Sebenarnya Dapat Diukur?
Hasil pengukuran EMF dapat muncul dalam beberapa satuan. Membaca angka tanpa mengetahui besaran dan frekuensinya dapat menghasilkan interpretasi yang keliru.
1. Kuat Medan Listrik dalam Volt per Meter
Kuat medan listrik biasanya dinyatakan dalam volt per meter atau V/m. Besaran ini dapat digunakan pada pengukuran medan listrik frekuensi rendah maupun RF, tetapi sensor, respons frekuensi, dan metode evaluasinya berbeda.
Dua alat yang sama sama menampilkan V/m belum tentu dapat digunakan untuk sumber yang sama. Satu alat mungkin dirancang untuk jaringan listrik 50 Hz, sedangkan alat lain dirancang untuk radiofrequency pada puluhan megahertz hingga beberapa gigahertz.
2. Magnetic Flux Density dalam Tesla, Microtesla, atau Gauss
Medan magnet sering dinyatakan sebagai magnetic flux density dengan satuan tesla. Karena nilai lingkungan biasanya jauh lebih kecil, alat sering menggunakan millitesla atau mT, microtesla atau µT, serta Gauss atau milliGauss.
Konversi dasar yang berguna adalah:
- 1 tesla = 10.000 Gauss
- 1 microtesla = 10 milliGauss
- 1 milliGauss = 0,1 microtesla
Besaran ini sangat umum digunakan untuk memeriksa medan di sekitar motor listrik, transformator, panel, kabel berarus tinggi, magnet, dan berbagai peralatan laboratorium.
3. Kuat Medan Magnet dalam Ampere per Meter
Selain magnetic flux density, medan magnet dapat dinyatakan sebagai kuat medan magnet H dengan satuan ampere per meter atau A/m. Hubungan antara H dan B bergantung pada sifat medium. Dalam pengukuran lingkungan, pengguna lebih sering menemukan µT, mG, atau A/m tergantung jenis alat dan standar yang diterapkan.
4. Power Density dalam Watt per Meter Persegi
Pada radiofrequency, terutama ketika kondisi pengukuran memenuhi asumsi medan jauh, paparan juga dapat dinyatakan sebagai densitas daya atau power density dalam watt per meter persegi atau W/m². Alat broadband tertentu dapat menampilkan V/m sekaligus menghitung atau menampilkan W/m².
Namun konversi antara V/m dan W/m² tidak boleh diterapkan tanpa memahami kondisi propagasi. Di dekat antena, hubungan antara medan listrik dan medan magnet dapat lebih kompleks daripada kondisi medan jauh.
5. Frekuensi dalam Hertz
Frekuensi adalah informasi fundamental. Nilai 5 V/m pada 50 Hz dan 5 V/m pada 2,4 GHz bukan dua paparan yang dapat langsung diperlakukan sama. Pedoman internasional menetapkan batas yang bergantung pada frekuensi karena mekanisme interaksi dengan tubuh berubah sepanjang spektrum.
6. SAR Tidak Diukur dengan EMF Meter Biasa
Specific Absorption Rate atau SAR menggunakan satuan watt per kilogram dan menggambarkan laju energi RF yang diserap jaringan tubuh. SAR biasanya digunakan dalam pengujian perangkat yang dipakai dekat tubuh, seperti telepon seluler.
Pengujian SAR membutuhkan sistem laboratorium khusus, phantom yang mensimulasikan jaringan tubuh, probe, cairan dengan sifat dielektrik tertentu, dan prosedur standar. Membaca V/m menggunakan EMF meter genggam tidak sama dengan mengukur SAR.
Mengapa Alat untuk Listrik 50 Hz Berbeda dari Alat Wi-Fi atau BTS?
Inilah salah satu prinsip terpenting dalam pengukuran EMF. Setiap sensor mempunyai rentang frekuensi. Jika sumber berada di luar rentang tersebut, angka yang muncul tidak dapat diasumsikan mewakili medan secara akurat.
Gauss meter atau magnetometer yang dirancang untuk medan AC 50 atau 60 Hz cocok untuk memeriksa medan magnet di sekitar sistem tenaga listrik. Alat tersebut belum tentu dapat mengukur sinyal Wi-Fi pada 2,4 atau 5 GHz.
Sebaliknya, RF meter dengan probe isotropik yang dirancang untuk puluhan MHz hingga beberapa GHz cocok untuk pemantauan broadband radiofrequency, tetapi bukan otomatis instrumen terbaik untuk medan magnet 50 Hz.
ICNIRP Guidelines 2020 secara khusus mencakup paparan radiofrequency pada rentang 100 kHz sampai 300 GHz. Untuk medan berfrekuensi lebih rendah, ICNIRP memiliki pedoman tersendiri. Pemisahan tersebut menunjukkan mengapa “satu batas EMF universal” tidak ada.
Mengapa Jarak dari Sumber Sangat Berpengaruh?
WHO menyebutkan bahwa medan listrik dan medan magnet di sekitar banyak peralatan rumah tangga turun dengan cepat ketika jarak dari sumber bertambah. Fenomena tersebut menjelaskan mengapa pengukuran tepat menempel pada motor, adaptor, transformator, atau kabel dapat berbeda jauh dari pengukuran pada posisi tubuh pengguna.
Karena itu, ketika melakukan survei, jarak harus dicatat. Angka tanpa informasi “diukur pada jarak berapa?” sering kehilangan makna teknisnya.
Untuk peralatan listrik, pola penurunan medan dapat cukup tajam. Untuk pemancar radiofrequency, pola medan juga dipengaruhi karakter antena, arah pancaran, refleksi, penghalang, kondisi medan dekat atau jauh, serta beban trafik. Pada sistem modern dengan beamforming, nilai dapat berubah seiring waktu dan arah layanan.
Ini berarti pengukuran EMF bukan sekadar menyalakan meter dan mencari angka tertinggi. Posisi, waktu, orientasi sensor, jarak, frekuensi, serta kondisi operasi sumber perlu didokumentasikan.
Apa Arti Angka EMF bagi Kesehatan?
Hasil pengukuran merupakan data fisik, bukan diagnosis medis. Untuk menilai kepatuhan terhadap batas paparan, angka tersebut harus dibandingkan dengan pedoman yang sesuai terhadap frekuensi, kelompok populasi, durasi rata-rata, dan besaran pengukuran.
WHO menjelaskan bahwa efek biologis utama yang telah mapan berbeda menurut frekuensi. Pada frekuensi rendah, medan eksternal dapat menginduksi arus di tubuh. Pada radiofrequency, mekanisme yang menjadi dasar utama pedoman adalah pemanasan jaringan pada tingkat paparan yang cukup tinggi. WHO menyatakan bahwa penelitian yang tersedia hingga kini belum mengonfirmasi efek kesehatan merugikan akibat paparan elektromagnetik tingkat rendah yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari hari, walaupun penelitian terhadap kemungkinan efek jangka panjang tetap berlanjut.
Per 2026, WHO juga masih menjalankan penilaian risiko kesehatan radiofrequency melalui program Environmental Health Criteria. WHO menjelaskan bahwa penilaian tersebut memanfaatkan serangkaian systematic review mengenai beberapa outcome kesehatan dan biologis.
Dengan demikian, pembacaan meter sebaiknya tidak ditafsirkan dengan dua ekstrem, yaitu menganggap setiap angka nonnol sebagai berbahaya atau menganggap semua kondisi pasti aman tanpa melihat besarnya paparan dan pedoman yang berlaku.
Studi Kasus Indonesia: Medan Elektromagnetik dari Peralatan Listrik di Universitas PGRI Palembang
Contoh yang relevan mengenai pentingnya jarak dan jenis sumber berasal dari penelitian Jumingin, Atina, Joni Iswan, Nur Haziza, dan Balina Ashari yang dipublikasikan pada 2022 dalam Journal Online of Physics. Ringkasan penelitian tersedia melalui Garba Rujukan Digital Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Penelitian tersebut mengukur medan listrik dan medan magnet yang dihasilkan berbagai peralatan listrik di lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas PGRI Palembang. Pengukuran dilakukan secara langsung selama 12 hari kerja dengan dua jarak, yaitu tepat di dekat sumber pada 0 cm dan pada jarak 15 cm.
Pada jarak 0 cm, peneliti melaporkan rentang kuat medan listrik sekitar 14 sampai 2.000 V/m dan medan magnet sekitar 0 sampai 677 µT. Pada jarak 15 cm, rentang yang dilaporkan menjadi sekitar 101 sampai 721 V/m untuk medan listrik dan 0 sampai 17,03 µT untuk medan magnet.
Temuan medan magnet memperlihatkan perubahan yang sangat besar ketika titik pengukuran dijauhkan hanya 15 cm dari sumber tertentu. Hal ini mendukung satu prinsip praktis: jarak pengukuran harus selalu dicatat ketika mengevaluasi medan di sekitar perangkat listrik.
Peneliti juga membandingkan hasil dengan nilai ambang yang mereka gunakan dan melaporkan beberapa sumber tertentu memerlukan perhatian. Namun temuan tersebut tidak boleh digeneralisasi menjadi pernyataan bahwa semua komputer, televisi, atau kipas menghasilkan paparan berbahaya. Nilai bergantung pada tipe peralatan, beban, jarak, orientasi, respons alat, dan standar pembanding yang digunakan.
Apa pelajarannya? Angka EMF tidak boleh dilepaskan dari kondisi pengukurannya. Pembacaan 0 cm lebih menggambarkan medan sangat dekat dengan perangkat, sedangkan paparan tubuh pengguna harus dinilai pada posisi penggunaan yang sebenarnya. Pengukuran yang baik karena itu membutuhkan dokumentasi jarak dan skenario, bukan hanya pencatatan nilai maksimum.
Studi Kasus RF: Pengukuran Base Station 5G pada 29,5 GHz
Untuk melihat bagaimana pengukuran berbeda pada radiofrequency, studi Wali, Sali, Allami, dan Osman yang diterbitkan di IEEE Access pada 2022 dapat menjadi contoh. Informasi artikel tersedia melalui Directory of Open Access Journals.
Penelitian dilakukan pada sebuah base station 5G millimeter wave yang beroperasi pada 29,5 GHz. Berbeda dari studi peralatan listrik 50 Hz, tim peneliti menggunakan scanner RF, perangkat lunak analisis, down converter, GPS, antena omnidirectional, dan perangkat pengguna. Mereka melakukan enam skenario pengujian dengan variasi waktu, arah antena, dan aktivitas perangkat pengguna.
Hasil penelitian menunjukkan nilai medan listrik maksimum sebesar 5,71 V/m dan nilai rata-rata tertinggi sebesar 2,02 V/m. Peneliti menyatakan nilai tersebut berada di bawah batas paparan ICNIRP yang digunakan untuk frekuensi tersebut.
Studi ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, pengukuran RF modern dapat membutuhkan peralatan dan metode yang jauh lebih kompleks daripada meter broadband sederhana. Kedua, sinyal 5G dapat berubah mengikuti trafik dan beamforming, sehingga pengukuran sesaat tidak selalu mewakili paparan maksimum yang mungkin terjadi.
Karena itulah survei screening menggunakan meter broadband dan evaluasi kepatuhan teknis merupakan dua level pekerjaan yang berbeda. Meter broadband berguna untuk mengetahui apakah medan RF hadir dan memetakan besar relatifnya, sedangkan evaluasi kepatuhan pada sistem telekomunikasi tertentu dapat memerlukan analisis frekuensi dan prosedur yang lebih spesifik.
Bagaimana Mengukur Medan Elektromagnetik Secara Lebih Benar?
Langkah paling penting dilakukan sebelum alat dinyalakan, yaitu menentukan pertanyaan pengukuran.
- Identifikasi sumber. Apakah sumbernya panel listrik, motor, transformator, magnet, Wi-Fi, telepon seluler, BTS, atau pemancar radio?
- Ketahui rentang frekuensinya. Pilih sensor yang benar-benar mencakup frekuensi sumber.
- Tentukan besaran yang diperlukan. Medan listrik, medan magnet, power density, atau parameter lain tidak dapat dipertukarkan tanpa dasar teknis.
- Catat jarak. Lakukan pengukuran pada posisi yang relevan terhadap pengguna serta beberapa jarak pembanding.
- Gunakan sensor tiga sumbu jika diperlukan. Medan memiliki arah. Probe isotropik atau triaxial membantu mengurangi ketergantungan hasil terhadap orientasi alat.
- Catat kondisi sumber. Peralatan mati, standby, beban penuh, panggilan telepon aktif, transfer data, atau motor yang sedang bekerja dapat menghasilkan kondisi berbeda.
- Lakukan pengukuran berulang. Nilai sesaat tidak selalu mewakili paparan selama satu jam atau satu hari.
- Jangan mencampur batas dari frekuensi berbeda. Bandingkan hasil dengan reference level yang berlaku untuk frekuensi dan kondisi pengukuran yang sesuai.
- Pastikan kalibrasi jika hasil dipakai secara profesional. Untuk audit, penelitian, QA, atau kepatuhan, keterlacakan kalibrasi menjadi penting.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Mengukur EMF
- Menggunakan aplikasi ponsel lalu menganggapnya setara dengan EMF meter terkalibrasi.
- Mengukur Wi-Fi dengan gauss meter 50 Hz.
- Mengukur medan 50 Hz menggunakan RF meter yang rentangnya dimulai pada MHz.
- Menganggap semua angka dalam V/m mempunyai batas yang sama.
- Tidak mencatat jarak antara sensor dan sumber.
- Membandingkan nilai sesaat dengan batas yang sebenarnya menggunakan rata-rata waktu tertentu.
- Menyamakan EMF meter dengan alat ukur radiasi ionisasi.
- Menggunakan satu pembacaan untuk membuat kesimpulan kesehatan pribadi.
Instrumen yang Berkaitan dengan Pengukuran Medan Elektromagnetik
Karena tidak ada satu alat yang ideal untuk seluruh spektrum, pemilihan instrumen harus mengikuti sumber dan frekuensi.
1. PCE-EM 29 untuk Radiofrequency hingga 3,5 GHz
PCE-EM 29 merupakan EMF meter dengan probe tiga sumbu yang dirancang untuk pengukuran medan radiofrequency. Rentang frekuensinya mencakup 50 MHz sampai 3,5 GHz sehingga dapat digunakan untuk screening berbagai sumber RF yang berada di dalam rentang tersebut.
Perangkat ini relevan untuk pemeriksaan lingkungan RF seperti sistem komunikasi tertentu, Wi-Fi pada pita yang tercakup, perangkat nirkabel, serta berbagai sumber RF industri. Karena batas atasnya 3,5 GHz, pengguna tetap harus memeriksa frekuensi sumber terlebih dahulu. Sumber yang bekerja di atas rentang alat tidak boleh diasumsikan dapat dinilai secara benar.
Lihat PCE-EM 29 di Alat-Test.Com
2. PCE-MFM 4000 untuk Medan Magnet AC dan DC
Untuk pengukuran medan magnet, PCE-MFM 4000 dirancang sebagai gauss meter untuk medan magnet AC dan DC. Perangkat ini menggunakan sensor standar dan sensor presisi, mendukung satuan microtesla, millitesla, milliGauss, dan Gauss, serta menyediakan pencatatan data.
Pada mode AC, alat menyediakan pengukuran medan magnet 50 atau 60 Hz sehingga lebih sesuai untuk pemeriksaan sumber seperti motor listrik, transformator, komponen listrik, dan aplikasi laboratorium yang menghasilkan medan magnet frekuensi daya. Ini merupakan aplikasi yang berbeda dari pengukuran RF dengan PCE-EM 29.
Lihat PCE-MFM 4000 di Alat-Test.Com
Catatan pemilihan alat: sebelum membeli EMF meter, tentukan rentang frekuensi sumber yang akan diperiksa. Istilah “EMF meter” pada nama produk tidak berarti alat tersebut dapat mengukur seluruh spektrum elektromagnetik.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Kita Dapat dari Pengukuran EMF?
Pengukuran memberikan jawaban objektif terhadap pertanyaan yang sering tidak dapat dijawab dengan indra manusia. Kita dapat mengetahui apakah medan meningkat ketika sebuah mesin menyala, seberapa cepat medan berkurang ketika menjauh dari perangkat, apakah suatu area mempunyai sumber RF yang dominan, serta apakah hasil survei berada di bawah atau mendekati reference level yang relevan.
Pengukuran juga berguna untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah perubahan. Misalnya, teknisi dapat mengukur medan magnet sebelum dan sesudah relokasi transformator, membandingkan area kerja pada beberapa jarak, atau memetakan RF pada beberapa titik sebuah fasilitas.
Namun data EMF mempunyai batas interpretasi. Satu meter broadband tidak selalu mampu mengidentifikasi pemancar mana yang menghasilkan sinyal. Satu pembacaan tidak menggambarkan paparan selama berjam-jam. Dan satu nilai yang berada di bawah reference level bukan berarti instrumen dapat digunakan untuk menyimpulkan semua aspek kesehatan manusia.
Dalam pekerjaan teknis, kualitas hasil justru ditentukan oleh pertanyaan yang spesifik: apa sumbernya, berapa frekuensinya, apa besaran yang diukur, pada jarak berapa, selama berapa lama, menggunakan instrumen apa, dan dibandingkan dengan standar yang mana?
Kesimpulan
Radiasi dan medan elektromagnetik memang menjadi bagian dari lingkungan modern, tetapi istilah tersebut mencakup banyak fenomena yang berbeda. Instalasi listrik 50 Hz, magnet permanen, Wi-Fi, telepon seluler, dan BTS tidak seharusnya diperiksa menggunakan asumsi dan instrumen yang sama.
Besaran yang dapat diukur antara lain kuat medan listrik dalam V/m, magnetic flux density dalam µT atau Gauss, kuat medan magnet dalam A/m, power density dalam W/m², serta frekuensi dalam Hz. Parameter seperti SAR memerlukan sistem pengujian laboratorium tersendiri dan tidak dapat digantikan dengan pembacaan EMF meter genggam.
Studi pada peralatan listrik di Palembang memperlihatkan bahwa jarak beberapa sentimeter saja dapat mengubah pembacaan medan magnet secara besar. Sementara itu, studi 5G pada 29,5 GHz menunjukkan bahwa evaluasi RF dapat memerlukan scanner, antena, analisis frekuensi, dan skenario trafik. Dua penelitian tersebut menegaskan bahwa pengukuran EMF harus selalu dilakukan sesuai karakter sumber.
Jadi, ketika ingin mengetahui “berapa radiasi di sekitar kita”, langkah pertama bukan membeli alat secara acak. Langkah pertama adalah mengenali sumber dan frekuensinya. Dari situlah jenis instrumen, satuan, metode pengukuran, dan standar pembanding dapat ditentukan secara benar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah EMF meter bisa mengukur radiasi dari Wi-Fi?
Bisa jika EMF meter memang mempunyai rentang frekuensi yang mencakup pita Wi-Fi yang ingin diperiksa. Alat yang hanya dirancang untuk medan magnet 50 atau 60 Hz tidak cocok untuk mengukur sinyal Wi-Fi pada GHz.
Apakah gauss meter bisa mengukur radiasi BTS?
Tidak selalu. Gauss meter umumnya digunakan untuk medan magnet statis atau frekuensi rendah. Pengukuran BTS membutuhkan RF field meter atau sistem analisis yang rentang frekuensinya sesuai dengan pita telekomunikasi yang digunakan.
Apa beda µT dan V/m?
µT atau microtesla digunakan untuk magnetic flux density, sedangkan V/m digunakan untuk kuat medan listrik. Keduanya adalah besaran fisik berbeda dan tidak dapat dibandingkan sebagai angka yang sama.
Apakah nilai EMF yang lebih tinggi selalu berarti berbahaya?
Tidak dapat disimpulkan hanya dari besar angkanya. Frekuensi, durasi, jenis besaran, posisi tubuh, dan reference level yang berlaku harus diperhitungkan. Angka yang sama pada frekuensi berbeda dapat memiliki interpretasi berbeda.
Apakah aplikasi smartphone dapat menggantikan EMF meter?
Smartphone memiliki sensor tertentu seperti magnetometer, tetapi sensor tersebut dirancang terutama untuk fungsi perangkat seperti kompas. Aplikasi tidak otomatis menjadikannya instrumen pengukuran EMF profesional dengan rentang frekuensi, kalibrasi, isotropi, dan ketidakpastian yang diketahui.
Apakah EMF meter bisa mengukur sinar-X dan gamma?
Tidak. Sinar-X dan gamma merupakan radiasi pengion dan membutuhkan instrumen deteksi serta dosimetri yang berbeda. EMF meter nonpengion bukan pengganti Geiger counter, ionization chamber, atau dosimeter radiasi pengion.
Mengapa hasil pengukuran berubah ketika alat digeser beberapa sentimeter?
Medan di dekat sumber dapat berubah sangat cepat terhadap jarak dan posisi. Orientasi sensor, kabel, benda logam, distribusi arus, serta arah antena juga dapat memengaruhi pembacaan. Karena itu posisi dan jarak harus dicatat.
Sumber dan Referensi
- World Health Organization. Electromagnetic Fields: Public Health and Environment.
- World Health Organization. Electromagnetic Fields.
- World Health Organization. Radiation: Electromagnetic Fields, Questions and Answers.
- World Health Organization. Research on Radiofrequency Fields and Environmental Health Criteria Monograph.
- International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection. 2020. Guidelines for Limiting Exposure to Electromagnetic Fields, 100 kHz to 300 GHz. Health Physics, 118(5), 483–524.
- International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection. Publications and Exposure Guidelines.
- Jumingin, Atina, Iswan, J., Haziza, N., dan Ashari, B. 2022. Radiasi Gelombang Elektromagnetik yang Ditimbulkan Peralatan Listrik di Lingkungan Universitas PGRI Palembang. Journal Online of Physics, 7(2).
- Wali, S. Q., Sali, A., Allami, J. K., dan Osman, A. F. 2022. RF-EMF Exposure Measurement for 5G Over Mm-Wave Base Station With MIMO Antenna. IEEE Access, 10, 9048–9058.
-

Electromagnetic Field (EMF) Meter PCE-MFM 3000
Lihat Produk★★★★★ -

Electromagnetic Field (EMF) Meter PCE-EM 30
Lihat Produk★★★★★ -

Electromagnetic Field (EMF) Meter PCE-EM 29-ICA incl ISO Calibration Certificate
Lihat Produk★★★★★ -

Electromagnetic Field (EMF) Meter PCE-EM 29
Lihat Produk★★★★★ -

Electromagnetic Field (EMF) Meter PCE-SFS 10
Lihat Produk★★★★★





















